I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 7 -- Makan Malam



"Jadi, kapan kalian akan mulai berkencan?" tanya Nyonya Harrison.


HAH?!?


Tristan sungguh tak menyukai pertanyaan Mamanya. Dia tak menjawab. Sorot matanya berubah dingin dan sikapnya pun berubah acuh tak acuh.


Mendadak Crystal merasa sedang berada di tempat dan situasi yang salah.


"Oh, Bianca... maafkan, Tristan. Dia terlalu banyak bekerja sehingga kurang luwes kalau berurusan dengan wanita." kata Nyonya Harrison pada Bianca dengan nada menyesal.


"Saya mengerti, Tante. Saya menyukai Tristan yang seperti itu, Tante." jawabnya terus terang sambil melempar senyum pada Tristan yang menanggapi dingin.


"Ayo, cepat habiskan makananmu!" perintah Tristan pada Crystal.


Ah, ternyata Tristan mengingat Crystal. Baru saja Crystal mau mengangkat sendoknya, Tristan sudah mengomel lagi.


"Ck! Lama sekali kamu makan!"


Saking kesalnya Crystal karena ditegur didepan umum, dia mengangkat wajahnya bersiap memprotes. Tapi, yang nampak adalah Tristan yang sedang memandangnya dengan tatapan dingin tanpa expresi. Crystal mengurungkan niatnya.


Ups!


Dari sudut matanya, Crystal dapat merasakan seseorang menatapnya tak suka. Mamanya menatap dengan tatapan yang berkata "dasar perusak suasana."


Ya ampun! Dalam hati Crystal berjanji tak ada dinner berikutnya setelah ini. Rasanya sungguh tak menyenangkan. Lebih baik dirumah, makan indomie bersama Suster Anna.


Tanpa mempedulikan Mamanya dan Bianca, Tristan terus melanjutkan omelannya pada Crystal. Dan puncaknya, dia berdiri sambil menarik Crystal untuk berdiri.


"Nggak usah dihabiskan! Cepat pulang!"


Crystal melongo. Pertama kali dalam hidupnya Tristan menyuruh dia meninggalkan makanannya. Belum habis rasa herannya, Tristan sudah kembali bersuara.


"Maaf, Crystal harus pulang karena besok sekolah. Saya sudah mengirim pesan supaya sopir datang kesini untuk menjemput Mama. Silahkan Mama dan Bianca melanjutkan makan malam. Kami pamit."


Tanpa menunggu jawaban, Tristan berjalan keluar sambil menarik Crystal yang terseok-seok mengikuti langkah panjang Tristan.


"Kak Tristan! Kak!" panggil Crystal sambil berusaha melepas tangan Tristan yang masih terus memegang erat lengannya.


Tristan tak menggubris Crystal hingga mereka mencapai pintu keluar. Ternyata hujan deras.


Merasa mobilnya tak jauh dari pintu keluar, Tristan kembali menarik tangan Crystal dan membawanya berlari kearah mobil. Tristan buru-buru membuka pintu mobil dan mendorong Crystal masuk. Tangannya menudungi kepala Crystal meski sia-sia, bajunya sudah basah.


"Hhh... hujannya deras juga!" kata Tristan saat masuk kedalam mobil.


"Sorry... , kamu nggak apa-apa?" Tristan bertanya pada Crystal.


Kemudian Tristan menoleh, dan tertegun. Crystal duduk dengan pakaian dan rambut yang basah malah terlihat cantik dan imut, menggemaskan. Tristan ingin memeluknya.


Hah! Cepat-cepat Tristan mengembalikan kesadarannya, mengambil jas dari kursi belakang.


"Pakai ini, nanti masuk angin." Tristan membantu Crystal memakai jas miliknya. Lalu memasangkan seatbelt untuk Crystal.


"Thank you ya." Tristan mengacak lembut rambut Crystal sambil tangan satunya memegang setir.


"Berkat kamu, aku bisa menghindari pertemuan yang menyebalkan tadi." Tristan tertawa terbahak.


Astaga! Crystal benar-benar tak menyangka.


"Jadi Kakak sengaja memarahi aku supaya kita bisa pulang?" tanyanya tak percaya.


Tristan mengangguk sambil mengulum senyum.


Apa-apaan!!


Tak tahu harus kesal atau tertawa, akhirnya, Crystal hanya bisa mendengus. Dia bersedekap, lalu membuang pandangan ke jendela melihat hujan yang masih turun dengan deras. Perutnya masih keroncongan karena hanya makan beberapa sendok.


"Kamu marah karena aku omeli?" tanya Tristan saat melihat raut wajah Crystal yang tak jelas.


"Nggak juga. Sebenarnya aku juga nggak betah disana hehehe... "


Tristan semakin gemas melihat Crystal tertawa lucu.


"Kamu masih lapar kan? Mau mampir ke drive thru dulu?"


Tristan dan Crystal pulang setelah kenyang makan fast food. Hujan masih turun deras saat mobil berhenti di depan teras rumah mereka. Crystal turun dari mobil dengan mengenakan jas Tristan yang kebesaran.


"Kenapa bisa kehujanan Nona? Bukannya kalian naik mobil?" omel Suster Anna.


Bergegas Suster Anna mengambil dua buah handuk untuk kedua majikan kesayangannya.


"Tadi buru-buru, Sus. Malas pinjam payung di resto." jawab Tristan sambil tersenyum.


Suster Anna sampai terkesima, biasanya Tristan hanya tersenyum saat bersama Crystal.


Crystal melepas jas Tristan dan menutupi dengan handuk. Tristan memalingkan wajahnya, ada debaran yang mendadak sering muncul akhir-akhir ini setiap kali melihat Crystal.


"Aku ke kamar ya Kak."


Tristan mengangguk, "Good night, Sis!"


***


Hujan yang deras membuat suara menyeramkan di kaca jendela. Crystal menutup gorden rapat-rapat dan bergelung diselimutnya.


Waktu menunjukkan hampir tengah malam, hujan bukannya mereda tapi malah semakin deras. Petir menyambar-nyambar membuat garis tipis dilangit, disusul suara guntur.


Crystal mer- emas selimutnya. Suara hujan, petir dan guruh membuatnya gelisah.


Bzzzzt bzzzzt bzzztt!


Crystal langsung bersembunyi dibawah selimutnya. Benar saja, suara guntur langsung menggelegar membuat jantungnya berdegup kencang. Dia menutup kedua telinganya.


Namun, bunyi guntur berikutnya begitu bergelora hingga menggetarkan kaca jendela.


"HUAAAAAAAaaaaa.... "


Crystal tak tahan lagi, dia meloncat keluar dari selimut dan berlari keluar kamar.


Satu-satunya tempat paling aman baginya adalah kamar di ujung lorong. Setiap kali ketakutan karena hujan deras dan petir, kakinya pasti akan refleks menuju kamar itu.


"Kak Tristaaaaan!!!! pekiknya sambil menyerbu masuk tanpa permisi.


Dalam sekali dorong pintu terbuka, dia berlari kearah tempat tidur. Hup!! Langsung menyusup ke dalam selimut Tristan.


Seiring dengan itu, petir kembali membelah langit. Seketika langit terang, diikuti bunyi guntur yang kembali menggelegar.


Tristan kaget. Tapi yang mengalihkan perhatiannya adalah Crystal yang gemetaran didalam selimut. Sejak kecil, memang Crystal fobia terhadap suara-suara yang memekakkan telinga.


Tangan Tristan menyibak selimut, hingga kepala Crystal muncul. Kemudian meletakkan tangannya diatas kepala Crystal. Seketika Crystal merasa nyaman, degup jantungnya sedikit mereda.


"Nggak apa-apa. Kamu aman disini. Ada kakak." Tristan mengusap-usap kepala Crystal lembut.


Crystal mendongak menatap Tristan dengan mata polosnya, bibirnya bergetar. Sorot matanya tidak berbohong, Crystal memang ketakutan.


Tristan tersenyum berusaha menenangkan Crystal.


"Sini, mau peluk?"


Tanpa basa basi, Crystal menghambur ke dalam pelukan hangat Tristan. Kepalanya rebah di atas dada Tristan yang entah mulai kapan sudah bersandar di headboard tempat tidur.


"Fiuh!!" Crystal mende-s*h lega. Wajahnya sudah terlihat jauh lebih tenang, tak ada lagi raut ketakutan.


Tapi, bagaimana dengan Tristan?


Ya ampun! Tristan menyesal telah menawari Crystal sebuah pelukan. Dia menelan ludah saat menyadari tubuh Crystal sudah menempel di tubuhnya. Harumnya Crystal menyelusup ke indera penciuman dan membuainya. Tak ada lagi harum bedak bayi yang biasa dipakaikan oleh Suster Anna. Ini harum seorang wanita dewasa.


Tristan mencoba mengatur napasnya supaya bisa bernapas dengan tenang, jantungnya berdegup tak beraturan. Sebelah tangannya memegang bahu Crystal.


"Crystal.... "


Crystal mendongak dan seketika pertahanan Tristan runtuh. Wajah cantik dan polos itu menggugah sesuatu yang terpendam di dalam diri Tristan.


Tristan menyentuh dagu Crystal supaya lebih mendekat padanya, kemudian dia menunduk semakin mendekat kepada Crystal.


Bersambung ya...