
Tristan menghampiri kolam dimana Crytstal sedang berendam.
Tanpa kata, Tristan mengambil handuk lebar yang tergeletak di kursi dan merentangkannya untuk Crystal.
"Ayo pulang!" kata Tristan singkat, padat dan tak terbantah.
Crystal tahu, dia tak bisa menghindar. Bergegas dia meloncat keluar dari kolam itu. Tristan dengan sigap menutup tubuh Crystal dengan handuk.
"Aku ganti baju dulu ya Kak... " Crystal melihat Tristan dengan takut-takut.
Tristan mengangguk. Crystal pun segera pergi ke kamarnya.
"Maaf..., Om itu Kakaknya Crystal ya?" tanya Sky pada Tristan.
Tristan mendengus kesal, pandangannya diarahkan ke tempat lain. Dipanggil Om? Dasar bocah kurang ajar! Apa memang tampangnya setua itu?
"Saya Sky, Om. Sky Hartono." Remaja itu memperkenalkan dirinya dengan percaya diri.
Tristan tak merespons. Dari awal, dia sudah tak suka dengan kedekatan Crystal dan Sky. Sekarang, malah dipanggil dengan sebutan Om. Cih!
"Eheem... gini, Om. Aku... " pipi Sky memerah.
"Aku suka sama Crystal, Om."
What? Beraninya bocah ingusan ini, seketika darah naik ke kepala Tristan. Rasa tak suka menyergapnya. Tapi untuk marah terang-terangan , rasanya sungguh memalukan.
"Eh Boy, aku rasa sebaiknya kalian menyingkirkan alkohol dan obat-obatan yang kalian pakai. Sebentar lagi, polisi akan datang." akhirnya Tristan merespon.
"HAH?!?"
"Sekarang tunjukkan dimana kamar Crystal!" perintah Tristan tegas.
"Iya, Om." Sky buru-buru berjalan mendahului Tristan.
"Crystal!"
Suara Tristan dan ketukan dipintu membuat Crystal semakin terburu-buru membereskan seluruh barang-barangnya.
Tak lama Crystal keluar dari kamar.
"Sky, aku pulang duluan ya. Makasih udah ajakin aku kesini." Crystal tersenyum manis.
"Any time, Beib. Aku senang kalau kamu senang." Sky mengusap rambut Crystal yang masih basah.
Tristan benar-benar tak menyangka akan melihat adengan romance adiknya di depan mata. Lebih tak menyangka lagi saat mendengar pernyataan cinta Sky pada Crystal. Kepalanya langsung terasa panas.
"Aku menyukaimu Crystal." Sky berkata sambil menggaruk tengkuknya, malu.
Crystal menunduk, jantungnya berdentam-dentam.
"Gawat! Kenapa Sky senekat ini?"
Matanya melirik kearah Tristan yang memasang ekspresi sangat dingin. Dan Crystal langsung tahu, Kakaknya marah besar.
"Eeehmm... Aku... " Crystal ingin menyudahi semuanya itu.
"Kamu tak perlu menjawabnya sekarang. Kasih tahu nanti aja." Sky menutup mulut Crystal dengan jarinya.
"EHEM!" Tristan berdehem keras untuk menghentikan adegan yang membuatnya merasa menjadi outsider.
Tristan langsung mengambil backpack Crystal dan menarik adiknya keluar dari villa.
***
Tristan yang biasanya hangat dan lembut pada Crystal berubah menjadi sedingin kutub utara. Dari pertama mereka masuk di pesawat, Tristan tak menoleh padanya. Dia sibuk dengan dokumen dan tablet dihadapannya.
Tak terbiasa dengan suasana sedingin ini, Crystal mencoba untuk mencairkan suasana.
"Kak.... "
"Hm.... " Tristan menjawab tanpa mengangkat wajahnya dari layar tablet.
Crystal memajukan bibirnya, hatinya mencelos.
"Nona, mau minum apa?" Seorang pramugari menyapanya ramah.
"Nanti aja deh. Aku belum haus." jawab Crystal.
"Bawakan dia minuman! Dari tadi dia belum minum." kata Tristan.
Yes! Crystal lega dan menoleh kearah Tristan yang sudah mau bersuara.
Tapi ternyata yang dilihat masih tetap memasang wajah datar. Crystal mengkeret, wajahnya cemberut.
"Nggak usah cemberut. Jelek." Tristan berkata masih tanpa ekspresi. Membuat Crystal semakin serba salah. Ingin merajuk, takut dimarah. Ingin menggoda Tristan seperti biasa, tapi Tristan sedingin kutub utara. Beginilah rasanya kalau melakukan kesalahan.
Akhirnya Crystal meneguk jus yang dibawakan pramugari tadi. Lumayan, rasanya segar dan membuat perasaannya sedikit lebih enak. Dan, perjalanan terus berlanjut tanpa ada percakapan di antara mereka.
***
Begitu mobil berhenti di halaman, Crystal langsung membuka pintu dan melesat masuk ke dalam rumah.
Crystal ngumpet di belakang punggung Suster Anna. Tristan melangkahkan kakinya lebar-lebar dan berhenti dihadapan Suster Anna.
Suster Anna tak tahu harus tertawa melihat tingkah Crystal yang kekanakan, atau prihatin melihat kemarahan Tristan.
"Sini! Aku mau ngomong!"
Crystal mere- mas pakaian Suster Anna, sambil menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Hei... aku cuma mau ngomong!" Tristan berusaha meraih tangan Crystal.
Sayangnya Crystal lebih cepat, dia menghindar. Tristan mengejar. Suster Anna yang berada ditengah-tengah sampai ikut terputar-putar dan terdorong kesana kemari.
"SINI!!!"
"NGGAK MAU!"
"CRYSTAL!!"
"ENGGAAAAAAKKKKKK"
Telinga Suster Anna terasa tuli mendengar pekikan Crystal.
"Aku nggak mau sama Kak Tristan kalau Kak Tristan marah-marah!"
"Siapa suruh bikin aku marah." Tristan melotot, gemas melihat tingkah adiknya.
"Aaaaaa.... Kak Tristan marah, Sus. Tolong aku Sus. Aku nggak mau Kak Tristan." rengek Crystal sambil terus menempel dibelakang Suster Anna.
"Kalau nggak mau dimarah, ya jangan melanggar aturan, Nona." Suster Anna menengahi.
Tristan mendengus keras, tangannya mengusap kasar rambutnya sendiri. Jadwal yang padat, menyelesaikan review laporan dari anak buahnya, meeting yang tertunda. Eeh, masih harus mengurus remaja yang banyak tingkah ini. Rasanya lelah.
"Nona, Tuan cuma mau ngomong. Nggak boleh gitu, Non. Kasihan Tuan, dia sudah capek sama urusan kantor lho." Suster Anna mencoba menasehati Crystal.
"Tapi Sus, Kak Tristan kalau marah ternyata sereeem... Gantengnya hilang, Sus." bisik Crystal.
"Heiii... hei... aku denger ya!" Tristan melengos sok jual mahal. Tristan berkacak pinggang, kepalanya pusing harus menghadapi tingkah Crystal.
"Crystal." kali ini suara Tristan tegas seperti kepada bawahannya dikantor.
"Suster Anna boleh istirahat dikamar sekarang." perintahnya.
"Nurut sama Kakak ya, Nona." bisik Suster Anna sebelum meninggalkan ruangan.
Gawat! Crystal tahu, dia sudah tak bisa menghindar lagi.
"Aku butuh penjelasan." Tristan duduk di sofa ruang keluarga, tangannya bersedekap sambil menyilangkan kakinya. Sementara Crystal berdiri dihadapannya, kepalanya menunduk sambil menggeser-geserkan kakinya ke karpet bulu yang empuk dilantai.
"Jelaskan! Kenapa kamu sampai nekat bolos?" Crystal merasa takut, mendengar nada suara Tristan yang datar dan dingin.
"Iya, maaf... Aku janji nggak bakal ngulang lagi." mata Crystal berkaca-kaca.
Tristan terus menguatkan hatinya supaya tidak luluh melihat mata bulat itu memandangnya dengan memelas.
"Kamu ngapain aja disana?"
Gagal! Nada suaranya melemah. Dia memang tak pernah bisa berlama-lama marah pada Crystal.
"Nggak ngapa-ngapain... cuma... "
"Cuma apa?" Tiba-tiba Tristan ingat pada Sky, emosinya kembali naik.
"Kamu pacaran sama Sky?" tanyanya kemudian.
"Nggak, aku nggak pacaran sama dia."
"Bener?"
"Dia bukan pacarku, Kak. Kami belum pacaran."
"Belum? Maksudmu?" Tristan memicingkan matanya. Dia tak suka setiap kali mengingat Sky mengelus rambut Crystalnya.
"Iyaaa... cuma temen, Kak."
"Kamu suka dia?"
Tangan Crystal meremas satu sama lain, dia tak berani menatap Tristan. Lebih tak berani lagi untuk menjawab pertanyaan Tristan.
"Jawab aku! Atau kamu nggak boleh nonton drakor dan baca novel lagi. Aku cabut netflix dan aplikasi novel online-mu! Dan juga, bye bye uang saku."
Bersambung ya....
Waktu nulis part ini, aku sambil bayangin Tom and Jerry kejar-kejaran lho... 😂😂😂
Aku menulis Tristan dengan perasaan bahagia, dan hari ini aku jatuh cinta sendiri pada tokohku.
Surabaya, 14 Agustus 2022
❤❤❤❤