
Tristan menggandeng Crystal berjalan menyusuri paving block, berbaur bersama dengan orang-orang yang beraktivitas di jalanan menuju pantai. Ada yang berjemur, bersantai bersama keluarga atau berjalan-jalan bersama anjingnya.
"Kamu mau foto disana?" Tristan menawari spot foto dengan background toko-toko dengan bangunan aesthetic berjajar di sepanjang jalan itu.
Crystal mengangguk, dan melepaskan genggaman tangan mereka kemudian setengah berlari pergi kearah spot foto. Lagi-lagi Tristan berubah menjadi fotographer pribadi Crsytal. Galeri fotonya penuh dengan foto-foto Crystal dengan berbagai pose angle.
"Aku mau foto sama Kak Tristan." ajak Crystal bersemangat. Tristan mendekat pada Crystal lalu mengarahkan kamera pada mereka berdua.
"Heii... Need some help?" Seorang laki-laki yang sedang berjalan bersama anjingnya berhenti di depan mereka. Tangannya memberi kode untuk memotret mereka.
"Oh, thank you." Tristan menyodorkan ponselnya.
"Heiiii... don't forget to say cheese. Don't be shy to show your teeth!" Pria itu terkekeh.
(Jangan lupa bilang cheese. Jangan malu-malu, tunjukin gigimu.)
Tristan dan Crystal tertawa dan berbarengan berkata, "Cheese."
Pria dengan tubuh penuh tatoo itu mengembalikan ponsel Tristan.
"What a gorgeous couple! Honeymoon?" katanya dengan aksen Australia.
"No, we're on vacation." Tristan menggeleng sambil tertawa.
"Can I touch him?" Crystal tertarik pada anjing golden retriever yang dibawa pria tadi.
"Sure. This is hero. You can come to my house to see the female one."
"Thanks. Maybe next time." Tristan menolak secara halus.
"Where is your home?" tanyanya sambil berjongkok dan mengelus anjing jinak tersebut. Crystal malah kepo.
"Just come to my shop." Pria itu menunjuk sebuah tattoo parlor di ujung jalan sana. Di bahkan menunjukkan beberapa tattoo di tubuhnya.
*Tattoo parlor \= tempat bikin tatoo
"Wow! Kamu punya toko tattoo?" pekik Crystal happy dan lupa seketika dengan tujuan awal mereka yaitu pergi ke pantai.
Hm-hm, pria itu mengangguk. "Do you have tattoo?"
"Nope. But I'm sure, I must have one. Can you draw one for me?" Crystal menjawab dengan sangat meyakinkan.
UHUK! Tristan tersedak air liurnya sendiri. Apalagi sih maunya si Crystal ini? Astaga! Tristan heran setiap kali selalu saja muncul ide "out of the box".
"Hey! Hey! Katanya mau ke pantai." Tristan mencoba mengembalikan Crystal ke tujuan awal.
"No! Aku mau tattoo dulu." Crystal ngotot.
Hmm... selalu begini. Kalau sudah ada maunya, sulit untuk dilarang.
"Let's talk first." bujuk Tristan kepada Crystal.
"I'll go there later." kata Tristan kemudian pada pria pemilik toko tattoo. Dia berjanji akan menghubungi mereka kalau sudah mendapat kesepakatan dengan gadis bandel dihadapannya.
***
"Kamu mau tattoo?" tanya Tristan setelah mereka menemukan spot terbaik di dekat pantai.
Mereka duduk di rumput-rumput agak jauh dari orang-orang. Udara yang tidak terlalu terik membuat nyaman untuk bersantai di tempat terbuka.
"Yup. Aku mau satu." Crystal lagi-lagi menjawab dengan mantap. Tangannya mengeluarkan makanan dari kantong yang tadi sempat dibeli Tristan saat mereka menuju tempat ini.
"Wah! Ternyata ada orange juice juga." pekik Crystal senang sekali, seperti orang menemukan harta karun.
Tristan tertawa melihat tingkah Crystal, wajahnya berbinar-binar dengan semburat pink di pipinya. Cantik!
"Crystal, duduk sini." Tristan menepuk rumput disebelahnya. Dan Crystal pun menurut.
"Tattoo itu sakit loh. Apa kamu tahan?"
"Memangnya nggak pake anestesi?" tanya Crystal.
"Hmmm... aku nggak pernah sih. Tapi kudengar rasanya sakit, jadi aku pikir tanpa bius."
Duh! Sudah dibilang kalau Tristan belum pernah membuat tattoo, eh si Crystal malah nanya bagaimana rasanya.
"Mungkin rasanya seperti ditusuk jarum." Tristan dengan sabar mencoba menggambarkan proses pembuatan tattoo.
Hmm... Crystal tampak berpikir-pikir.
"Tapi Sky punya tattoo, aku pernah lihat waktu di Bali. Aku kan jadi pengen."
"Sky?" Tristan kaget, anak SMA sudah punya tatoo. "Apa nggak ketauan guru?"
"Nggak. Kan tempatnya tersembunyi."
"HAH?! Dimana?" seru Tristan kaget.
Tattoo ditempat tersembunyi dan Crystal sudah pernah melihatnya? Wah! Ini tidak benar. Apa saja yang sudah pernah dilakukan kedua remaja badung ini. Tristan bukan hanya cemburu tapi pikirannya sudah kemana-mana.
"Di dekat tumit." jawabnya ringan.
Yaelaah... Anyway, thanks God!
Reflex Tristan menghembuskan napas lega. Crystal melongo melihat raut wajah Tristan yang menampilkan ekspresi aneh.
"Kenapa memangnya?" tanyanya polos.
"Nggak. Nggak. Mana orange juice-nya?"
Tristan blingsatan takut tertangkap basah karena sudah negatif thinking. Dia mengaduk-aduk kantong berisi makanan entah mencari apa. Dia sendiri pun tak tahu.
"Hayoooo!!! Jangan-jangan Kak Tristan tadi mikir me-- sum ya?"
Haduh! Kenapa masih dibahas? Cuping telinga Tristan sampai memerah karena malu. Aaargh, dasar Crystal!
Crystal malah tertawa terbahak-bahak, puas karena berhasil memojokkan Tristan.
"Hei... udah dong. Iya, tadi nggak sengaja mikirnya kearah sono. Aku pikir dia pasang tattoo di bagian mana gitu." keluh Tristan.
Crystal kembali tertawa terpingkal-pingkal sampai air matanya keluar. "Nggak mungkinlah dia berani tattoo di bagian tubuh yang kelihatan. Auto masuk BK."
Tristan melirik sebal ke arah gadis itu.
"Ayo pasang tattoo couple." ajak Crystal.
Ha? Serius? Tristan tercengang, Crystal malah mengajak couple tattoo.
"Yakin?"
Crystal mengangguk mantap. "King and Queen, disini." Crystal menunjuk pergelangan kakinya.
"Supaya hidup dan jalan Kak Tristan seperti raja. Raja Bisnis." Crystal menatap Tristan dengan pandangan kagum sekaligus bangga.
So sweet. Bagaimana bisa Tristan menolak permintaan Crystal kalau sudah begini?
"You're the king. My forever king." Crystal mencium pipi Tristan.
Tristan pun tersenyum dan menarik Crystal ke dalam pangkuannya. "Jadi maksudnya kamu mau jadi queen-nya?"
"Yes. I'm the queen of your heart."
Mereka berpandangan dan saling tersenyum bahagia. Matahari dibelakang mereka mulai tenggelam. Semburat senja memberikan efek romantis dan semakin membuat mereka hanyut dalam perasaan.
Yup, Couple tattoo!
King and queen berjalan bersama through the good and bad. Sepertinya bukan ide yang buruk dan Tristan menyukai filosofi-nya.
Bersambung ya....
Happy weekend ya Friends.
Semoga menghibur 🙏