
"I love you as a lover, a man to a woman, no more sister. I want you to be my wife. Will you marry me?"
Setetes air mata mengalir saat Crystal mengangguk. "Yes, I will."
Sesuatu yang dari tadi menekan dada Tristan seperti terangkat. Napasnya terasa lega dan perasaannya ringan seperti melambung tinggi. Dia mengulurkan tangannya, mengusap air mata Crystal sambil tertawa pelan.
Sejenak mereka bertatapan. Crystal ikut tertawa bersamanya, mengerjapkan matanya dan tersenyum saat Tristan menariknya ke dalam pelukan eratnya.
"You're crazy."
"Because of you."
"Aku benar - benar ketakutan tadi." ucap Crystal pelan.
"Maaf. Ide tenggelam itu terlintas begitu saja saat melihat air terjun." katanya sambil terkekeh.
Ha?
Crystal tak percaya. Mungkinkah lamaran ini terjadi begitu saja, tanpa rencana? Lalu bagaimana dengan cincin?
"Lho? Jadi tadi itu dadakan?" tanya Crystal. Dia melepaskan pelukannya.
"Nope. Aku sudah merencanakannya." kata Tristan. Dia melepaskan pelukannya, kemudian tangannya menunjuk ke batu besar yang diduduki oleh Crystal.
"Look!" perintahnya lembut.
Wow! Tulisannya -- MARRY ME?
Crystal melotot. "You're.... "
"Crazy... " sahut Tristan cepat sebelum Crystal menyelesaikan kalimatnya. Tristan tertawa, Crystal pun tersenyum malu, wajahnya semakin cantik saat malu seperti ini.
Tristan memandangi dengan seksama, mengelus pipinya. Dia tak akan pernah bisa jauh dari wanita ini, entah sebandel atau seburuk apa pun kelakuannya. Segala tingkah Crystal-lah yang membuat hidup Tristan menjadi berwarna. Berapa lama pun bersamanya, tak akan pernah cukup.
He wants a life time to be with her.
"I do love you." bisik Tristan diantara deru air terjun yang deras. Tapi bagi Crystal, suara Tristan lebih keras dari pada suara air terjun, bergema di relung hatinya yang paling dalam.
"Me, too."
Tristan mengecup kening Crystal dengan penuh perasaan, lalu berkata, "Change your cloth. You're soaking wet."
(Ganti baju. Basah kuyub.)
Tristan mengulurkan tangannya untuk mengajak Crytal menuju bilik kecil yang fungsinya sebagai. ganti. Saat tangan mereka bertautan, tatapan Crystal jatuh pada cincin yang berkilau ditangannya.
Sebuah cincin model simple dengan berlian berukuran kecil berderet melingkar ke seluruh permukaan cincin dan senada. Diamond yang menjadi inspirasi seorang designer terkenal, Calvin Klein, saat menciptakan parfum eternity yang terkenal hingga saat ini.
"Kenapa eternity, Kak?" tanyanya.
Tristan tersenyum. "Kamu tau makna dari eternity ring?"
"Ya?"
"Timeless, everlasting. Lingkar cincinnya terbuat dari berlian yang tak terputus dan akan terhubung selamanya." jawab Tristan sambil mengelus cincin yang ada di jari Crystal.
Dia telah memeras otaknya untuk menemukan batu yang cocok dan memiliki makna yang dalam hingga akhirnya memutuskan untuk memilih eternity diamond ring.
Cinta abadi tiada batas.
Jantung Crystal berdegup lebih cepat saat melihat Tristan tersenyum sendiri mengingat setiap kenangan yang dilaluinya bersama Crystal dari kecil hingga saat ini.
'Everlasting and endless love.' bisiknya dalam hati, terharu biru dengan ketulusan cinta Tristan padanya selama ini. Terus berputar, tak berujung dan tak pernah berhenti. Tristan tak pernah main - main dengan perasaannya.
Oh, Crystal tak bisa menemukan kata - kata lagi yang lebih tepat, selain in love with him.
***
"Gimana kalau kita nikah disini aja sekalian?"
WOAAAH!!!
Crystal hampir saja menyemburkan air yang sedang diminumnya. Dia menoleh ke Tristan, memastikan Tristan tak salah bicara. Mereka sedang istirahat sebelum kembali ke Villa. Dan, Tristan ngomong apa? Astaga!
"Excuse me?" tanya Crystal.
Dengan wajah polos tanpa beban, Tristan balik bertanya. "Apa aku salah ngomong?"
Crystal memutar bola matanya, tak habis pikir. Kenapa bisa Tristan menanyakan hal terpenting dalam hidupnya dengan begitu ringan tanpa beban. Mungkin dia pikir pertanyaan mau menikah itu sama saja pertanyaan apakah mereka mau berenang hari. Oh, tidak, tidak.
"You're crazy." Entahlah sudah ke berapa kalinya Crystal mengucapkan kata - kata itu kepada Tristan hari ini.
Orang yang diumpat malah tersenyum. "Crazy for you." jawabnya sambil menggenggam tangan Crystal.
"Kenapa mendadak?"
"Hey, i'm waiting for you almost a whole life. Aku udah mikirin baik - baik dan lama, jadi bukan dadakan." bantah Tristan cepat.
(Aku udah nungguin kamu hampir sepanjang hidupku.)
Crystal mendengus kesal. "It's not that easy."
"It's easy." Tristan menjentikkan jarinya santai. "Aku tinggal panggil orang yang bisa nikahin kita disini, lalu David urus surat - suratnya. Kamu juga udah empat tahun ini bukan adikku lagi. Masalahnya dimana?" tanyanya santai.
"Hiiih... tapi aku kan masih takut." Crystal sebal dengan sikap Tristan yang seolah menganggap enteng masalah ini. "Gimana dengan Mama? Papa? Belum lagi gossip - gossip... "
Aaaargh! Crystal tak mau mengulang dari awal lagi berkonfrontasi dengan Nyonya Harrison. Memikirkannya saja sudah membuatnya takut dan juga lelah.
"Kita sudah memenuhi persyaratan dari Papa." Tristan berhenti sejenak.
"Dan Mama? Dia harus menghormati keputusanku. We're adult already. You and me!" Tristan menunjuk Crystal dan dirinya secara bergantian. Tatapannya memancarkan sebuah tekad, pertanda tak seorang pun bisa mengubah keputusannya.
Crystal menghela napas, wajahnya nampak berpikir serius.
"Hey... jangan lupa kamu itu sekarang adalah owner Queen Interior! Perusahaan baru yang sedang naik daun. Selama ini mereka mikir, Karina is the boss. Sekali aja mereka tau siapa kamu, dijamin mereka semua bakal bungkam."
Tristan memang benar, situasi sudah banyak berubah sekarang. Mereka bahkan bekerja diluar circle Harrison, berdiri di kaki mereka sendiri.
Tapi apa Crystal tega kalau suatu saat melihat Tristan bertentangan dengan Nyonya Harrison? Di masa mendatang hanya karena dirinya? Biar bagaimana pun Nyonya Harrison adalah ibu kandung Tristan.
"Kamu nggak mau nikah sama aku?" Tristan mengeluarkan senjata terakhirnya.
Checkmate! Pertanyaan ini benar - benar mematikan. Crystal menggigit bibirnya, matanya masih memancarkan keraguan.
"I would love to marry you, to be with you the rest of my life. Tapi aku nggak mau hubunganmu dengan orang tuamu getting worse. Papa mungkin mengerti. Tapi Mama?"
"Dia akan mengerti dan harus mengerti." jawab Tristan tegas.
Crystal menghembuskan napas. "Iya, sih... "
"Dengar, Sayang." kata Tristan saat melihat Crystal masih tak yakin. Di tangkupnya kedua tangan Crystal.
"Kita berdua sudah dewasa dan mandiri. Setiap keputusan dan resiko ada di tangan kita. Mengenai Mama dan Papa, aku akan memberitahunya."
"Kalau ada yang keberatan?"
"Aku memberitahu mereka, bukan meminta ijin."
Crystal memandang Tristan, terlihat jelas kesungguhan di matanya. Membuat Crystal teringat bagaimana Tristan selalu berada di pihaknya, hingga rela keluar dari Harrison. Jatuh bangun memulai usahanya sendiri tanpa Harrison.
Tapi, apakah keputusan menikah disini adalah keputusan yang baik?
Bersambung ya....