I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 44 -- Here Is The Storm



Pemandangan di hadapannya, membuat Bianca membelalakkan mata. Begitu Bianca mendengar Nyonya Harrison sakit dari Mamanya, dia langsung berinisiatif untuk berkunjung ke rumah keluarga Harrison. Harapannya adalah Tristan senang karena dia memperhatikan Mamanya.


Tapi, siapa sangka dia akan mendapatkan sebuah "kejutan".


Bagaikan slow motion seperti di film-film. Tristan memeluk Crystal, menangkup pipinya dengan lembut dan menempelkan bibirnya ke bibir Crystal.


Bianca hanya bisa terpaku memandang sepasang kakak beradik, yang sedang duduk di sofa, nampak saling mencintai.


Bianca menggelengkan kepala tak percaya. Dua manusia di hadapannya lebih pantas disebut sebagai sepasang kekasih dari pada kakak beradik.


Oh! Bianca langsung teringat bukan saja kata-kata Santy tapi juga Mamanya. Santi pernah keceplosan berkata kalau Crystal adalah anak angkat dan juga nyawanya Tristan. Dan kemarin, Mamanya juga bercerita kalau chemistry antara Tristan dan Crystal begitu kuat.


What the hell!


"TRISTAN!" pekik Bianca saat akhirnya dia bisa mengeluarkan suara.


Sepasang kekasih itu serempak menoleh ke arah sumber suara.


"Tristan... kamu...." Bianca bolak balik menatap Crystal dan Tristan bergantian. Mulutnya terbuka dan tertutup, "Kalian... "


Saking shock-nya, Bianca tidak mampu menyebutkan satu kalimat secara utuh.


Tristan berdiri, tangannya masih terus menggenggam tangan Crystal seolah mengatakan Let's get ready for the next session.


(Ayo bersiap untuk sesi berikutnya)


Bianca menghadang langkah Tristan dan Crystal, banyak yang ingin ditanyakan. Tapi Tristan nampak mengatupkan bibirnya, merasa tak perlu menjelaskan apa pun pada Bianca.


"Aku tak yakin Mamamu tau semua ini." Bianca bergumam saat Tristan hendak melewatinya. Dia masih menolak percaya pada apa yang dilihatnya.


"Mamaku sudah tau semuanya. Dan apa yang kamu lihat sangat sesuai dengan apa yang kamu pikirkan." kata Tristan dengan nada datar.


Tristan sebenarnya kasihan pada Bianca yang terombang ambing dalam perjodohan mereka. Namun inilah yang terbaik, Tristan sudah menentukan sikap.


"Maaf." Tristan membungkuk dan meninggalkan Bianca yang nampak kecewa. Crystal mengekor tanpa banyak bicara.


***


Pagi itu lelaki yang sudah berusia diatas enam puluh tahun itu tengah duduk di sofa ruang keluarga. Tangannya nampak memijat-mijat pelipis kepalanya, pusing.


Matanya bergerak ke arah sepasang kakak beradik, ehm... maksudnya sepasang kekasih yang berjalan mendekat.


Kini sepasang mata itu menatap dengan sorot mata tajam pada lelaki tampan nan gagah, seorang yang cakap dan berbakat. Satu-satunya harapan Tuan Harrison.


Tristan Harrison, anaknya itu balas menatap dan berdiri teguh dengan sikap sempurna.


Tuan Harrison menghembuskan napas dan memberikan kode agar Tristan menghampirinya maju.


Tristan maju, tapi juga membawa Crystal bersamanya. Tangan mereka bertaut dibelakang punggung Tristan. Crystal mengikuti langkah Tristan, menunduk tak berani bertatapan dengan Papa angkatnya.


"Crystal." panggil Tuan Harrison.


Serta merta Crystal mengangkat kepalanya, "Iya, Pa... ?" Nadanya ragu-ragu. Tidak ada sedikit pun rasa percaya diri pada laki-laki yang diam-diam dikaguminya.


"Maafkan Mamamu, maafkan Papa." katanya pelan. Tangannya menepuk sisi sofa di sebelahnya, menyuruh Crystal duduk.


Crystal menoleh pada Tristan, meminta persetujuan.


Tristan mengangguk pelan.


Gadis remaja itu perlahan berjalan mendekat dan duduk di samping Tuan Harrison. Kalau boleh jujur, Crystal ingin sekali memeluk sosok pria yang biasa disebutnya Papa. Biar bagaimana pun seorang anak gadis tetap membutuhkan figure Ayah.


Tuan Harrison menoleh ke arah Crystal dan menatapnya dalam-dalam.


"Kamu bukan bayi kecil dan juga bukan anak-anak lagi, Crystal. Aku tak sadar kalau semua sudah berubah."


Crystal mengangguk, "Iya, Papa."


"Kenapa?" tanya Tuan Harrison.


Eh? Crystal dan Tristan kembali bertukar pandangan.


Lalu Crystal kembali menoleh ke arah Papanya, "Ya?" tanyanya dengan wajah tak mengerti.


"Kenapa kamu menyukai Tristan? Kalian tau... "


"Tidak ada yang salah dari perasaan kami, Papa." potong Tristan.


Ditariknya tangan Crystal untuk kembali berdiri disampingnya. "Kami tidak ada hubungan darah sama sekali." lanjut Tristan, sorot matanya penuh keyakinan.


"Kamu tau kalau kamu harus menjaga Crystal baik-baik?" Akhirnya sebuah pertanyaan muncul dan kali ini ditujukan kepada Tristan.


"Sejak hari dimana Papa memberikan Crystal padaku sebagai adik, sejak hari itu pula aku bersedia bertanggung jawab dan menjaganya. Sebelum Papa memintaku untuk melindunginya, aku sudah lebih dulu melakukannya." jawab Tristan lugas.


"Dan perlu Papa ketahui, aku tidak berubah. I used to protect her since she was a cried baby. Maka sekarang dan seterusnya pun akan tetap sama."


(Aku dulu melindunginya dari dia masih seorang bayi.)


Tuan Tristan menarik napasnya dalam-dalam, dari ekspresi wajahnya nampak sekali dia lelah karena berdebat dengan Tristan.


""Ada banyak wanita cantik di negara ini bahkan di dunia ini. Kenapa kamu malah memilih seorang gadis remaja yang tak tahu apa-apa?" keluh Tuan Harrison.


"Apa masalahnya?"


"Tentu saja masalahnya adalah dirimu sendiri. Tristan Harrison bukanlah orang biasa. Aku meminta maaf padamu kalau kamu harus hidup sebagai seorang Harrison." Tuan Harrison menghela napas.


Tristan merasakan tangan Crystal dingin dan bergetar di genggamannya.


"Membiarkan Crystal menjalin hubungan denganmu justru akan menjerumuskannya. Pernahkah kamu berpikir dengan tekanan-tekanan yang akan kalian hadapi? Kamu tak mungkin menahannya seorang diri terus menerus. Dalam sebuah hubungan dibutuhkan dua orang untuk bekerja sama mengatasi masalah." Tuan Harrison berhenti sejenak."


"Dalam kasusmu, kamu membutuhkan seorang wanita kuat dan hebat." lanjutnya dengan penuh penekanan.


Tristan diam, kalimat-kalimat Tuan Harrison sangat benar dan mengena. Efeknya benar-benar berhasil membuat hati Crystal gentar. Nyalinya menciut.


"Lalu, apa yang bisa kamu banggakan saat kamu berjalan bersama anakku?"


Lidah Crystal kelu, seketika otaknya blank. Tak menemukan jawaban apa pun di otaknya yang cerdas. Dia hanya gadis ingusan kemarin sore, uang jajan saja masih minta kepada Tristan.


Crystal mendongak menatap Tristan, bibirnya mulai bergetar menahan tangis. Matanya seolah berkata, "Here's the storm."


(Inilah badainya.)


Tristan menarik tubuh Crystal semakin mendekat, dan merangkulnya untuk berbagi kekuatan.


"Kalau kamu ingin bersama putraku, kamu harus membuktikan kalau kamu pantas bersanding dengannya. Seorang Harrison harus memiliki pendamping yang sepadan dengannya."


Mata Crystal mulai memanas, dia tak terbiasa dengan hantaman masalah dan ketegangan yang bertubi-tubi seperti ini.


"Pergilah, Crystal!" Suara Tuan Harrison terdengar lembut tapi tegas.


Final! This is the decision.


(Inilah keputusannya.)


Dari awal mengetahui kalau dirinya anak angkat, Crystal menyadari satu hal yaitu cepat atau lambat dia akan keluar dari rumah ini.


Tapi tetap saja, rasanya menyakitkan. Lengan dan tubuhnya bergetar, kakinya mulai goyah.


Tangan Tristan mengepal. "Papa!"


"TRISTAN!" Suara Tuan Harrison menggelegar. Satu tangannya terangkat ke atas, pertanda menyuruh Tristan diam.


Tristan geram tapi hanya bisa memaki dalam hati, biar bagaimana pun masih ada rasa hormat kepada lelaki di hadapannya.


"Pergi! Dan kembalilah kalau kamu sudah menjadi seorang Lady. Itu pun kalau perasaanmu masih sama terhadap puteraku."


Crystal termangu, mulutnya terbuka tapi dia kehilangan kemampuannya untuk berbicara. Sebutir air mata lolos dari sudut matanya.


Bersambung ya....


Note :


Lady yang dimaksud oleh Tuan Harrison adalah seorang wanita dewasa dengan attitude baik, berkarisma dan mengagumkan.


🌹🌹🌹Curhatan Author🌹🌹🌹


Huhuhu... akhirnya sampai part ini. Part yang dari kemarin2 selalu aku tunda. Dari awal aku nulis cerita ini beneran ga pengen pakai konflik sama sekali. Sekedar cerita unyu-unyu dan happy.


Tapi cerita tanpa konflik seperti makan tanpa garam.


Jadilah aku milih konflik klise ini. A simple problem in a family yaitu Bibit Bobot Bebet.


Semoga dapat feel-nya ya Gaes. 😊


Thank you for reading