I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 52 -- This Is The Answer



Hours later...


David sudah menghubungi seluruh teman-teman SMA Crystal, tapi tidak ada yang tahu dimana dia. Bahkan sebagian dari mereka sudah berangkat keluar kota atau luar negeri untuk melanjutkan kuliah. Belum ada lagi rencana untuk hang out beramai-ramai seperti sebelumnya. Semua sibuk dengan urusan masing-masing.


Sky, yang katanya teman terdekat Crystal, kabarnya juga sedang pergi berkeliling dari kota ke kota untuk bikin content akun you tube-nya. Sebaiknya coret saja kemungkinan saat ini Crystal sedang hang out bersama teman-temannya.


Waktu yang sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam ditambah ponsel Crystal yang tidak aktif, membuat Tristan jadi semakin menduga-duga. Lagipula, Crystal tahu persis jam malam yang diterapkan oleh Tristan untuknya adalah pukul sembilan malam, seharusnya dia sudah pulang.


Tristan berusaha menemukan alasan logis dibalik menghilangnya Crystal sejak siang tadi.


Seandainya dugaan Tristan benar kalau Crystal pergi ke London maka ponsel mati masih masuk akal. Bisa saja dia mematikan ponselnya atau belum sampai tujuan atau belum mengganti dengan nomer baru.


Tapi bagaimana dengan list penumpang pesawat hari ini? David sudah mengerahkan seluruh chanel Harrison untuk mendapatkan list penumpang pesawat di semua maskapai penerbangan hari ini untuk mengecek kemana tujuan Crystal pergi. Hasilnya? NIHIL. Tak ada nama Crystal, Crystalina atau pun Crystalin Harrison di dalam list penumpang pesawat.


Bagaimana dengan CCTV airport?


Jawabannya adalah sama saja! Tristan bahkan tak perlu waktu lama untuk mengetahui bahwa Crystal tak ada disana. Dari semua rekaman CCTV yang dikirimkan David kepadanya, Crystal hanya sempat tertangkap sekali saat turun dari taxi online dan berjalan menuju departure lounge. Dan setelah itu tak ada jejaknya.


"Jadi ngapain anak itu ke airport tadi?" Kepala Tristan menunduk, bertumpu di kedua tangannya. Pusing.


David menatap Tristan dengan tatapan ironi.


"Menurutku, ada beberapa macam kemungkinan, Bro!"


"Apa?"


"Yang pertama karena ada perlu."


Tristan memutar bola matanya kesal. "Kalau jawabanmu cuma seperti itu, lebih baik kamu nggak usah ngomong. Pertanyaannya itu, apa keperluan dia di airport?!"


David menggaruk kepalanya. "Dan kemungkinan lainnya, bisa jadi karena dia memang nggak pergi naik pesawat."


"Trus kemana?"


"Nah itu yang jadi pertanyaannya. Kemana dia dan kenapa sampai jam segini belum pulang." David melirik jam yang sudah semakin mendekati tengah malam.


"Silly you!" geram Tristan. Pandangannya siap menerkam David.


Keanehan lainnya adalah hasilnya pencarian akun medsos Crystal ternyata NIHIL. Seolah nama Crystal raib ditelan bumi. Berulang kali Tristan men-scroll daftar pertemanannya. Mungkin saja Crystal berganti profil atau nama. Ternyata benar kata beberapa pelayan, kalau akun Crystal NOT FOUND!


Yang lebih mengherankan lagi, Tristan tak menemukan notifikasi pembelanjaan apapun dari tagihan kartu kreditnya. Tak ada pembelian tiket pesawat ke London atau kota dan negara mana pun. Atau tiket kereta ke kota manapun.


Andaikata ke mall, tak mungkin Crystal bisa tahan untuk tidak belanja. Tristan kenal betul bagaimana borosnya Crystal. Dia paling suka berbelanja tas dan pakaian, belum lagi urusan kuliner. Mana tahan dia sekedar window shopping di mall. Dan juga, tak ada tarik tunai satu sen pun dari rekening Tristan yang dipegang oleh Crystal.


Kalau diberi pilihan, Tristan lebih suka Crystal menghabiskan uangnya supaya dia bisa tahu dimana keberadaannya. Dari pada tenang-tenang begini. It is a torture!


"Ada kemungkinan lain lagi. Dia memang nggak mau pulang."


"Karena?"


"Ngambek sama kamu!" tuduh David.


"Enak saja! Makin kesini kamu makin ngawur aja." dengus Tristan kesal.


"Lho bisa aja kan?"


David benar-benar menyebalkan. Jelas-jelas hari ini Crystal so sweet banget, sampai-sampai Tristan mabuk kepayang. Tidak ada tanda-tanda dia sedang marah atau pun ngambek.


"Get out of my home!" usir Tristan.


Dia berdiri dan membuka pintu ruang kerjanya, mempersilahkan David untuk keluar. Kepalanya semakin pusing karena diajak main tebak-tebakan oleh David.


***


Suster Anna tidak bisa tidur karena memikirkan Crystal yang tidak pulang hari ini. Kepalanya terasa cenut-cenut, migrainnya kumat gara-gara bolak balik nangis memikirkan kemana Crystal pergi.


Dari hasil menguping pembicaraan Tristan dan David, Suster Anna menarik kesimpulan kalau mereka juga tak tahu kemana Crystal pergi. Suster Anna merasa semakin nelangsa.


Dengan susah payah Suster Anna berusaha bangun, cenut-cenut di kepalanya makin terasa. Dia lupa dimana meletakkan obatnya. Di kamarnya tidak ada, bisa jadi dia menaruhnya di dapur rumah utama. Tertatih-tatih Suster Anna berjalan menuju dapur.


Rumah utama sudah gelap, perlahan Suster Anna membuka pintu dapur. Ruang tengah juga nampak gelap dan sepi. Suster Anna berjalan di dapur menuju konter dimana kotak obat berada.


"Sus?"


"Eeee... iya... iya." Suster Anna memekik tertahan, rasanya seperti maling ketangkap basah. Kaget setengah mati.


CETIK!


Lampu ruangan menyala terang.


"Sus kok belum tidur?" Tanya Tristan. Setelah David pulang, Tristan berniat mengambil minum di dapur.


"Kepala Sus sakit, cenut-cenut. Migrain."


Dia mendekat dan menggendong Suster Anna dengan tiba-tiba.


EH!?


"TUAN!"


Tristan tertawa pelan. "Sus sudah rawat dan jagain aku dari kecil, hari ini gantian aku yang rawat Sus."


Hati Suster Anna tersentuh, air mata mulai merebak. Dia tahu benar bagaimana baiknya hati Tuan Muda kesayangannya itu terhadap orang-orang yang dia sayang.


"Lho kok nangis Sus?"


"Suster terharu, Tuan. Sudah turunin aja. Sus mau ambil obat di laci counter."


Tristan malah membawa Suster Anna di kursi di dekat counter. Lalu mendudukkannya disitu. "Aku ambilkan. Let me serve you tonight, Mam."


Tristan tersenyum memandang wanita yang sudah begitu setia padanya. Ikatan batin mereka bahkan lebih kuat dibanding dengan Mamanya sendiri.


Kemudian Tristan membuka laci tempat obat, ada selembar kertas putih disana. Hanya dengan melihat sekilas, Tristan langsung tahu tulisan siapa itu.


Tulisan itu sedikit tidak rapi, nampaknya yang menulis sedang kacau pikirannya atau mungkin terburu-buru. Entahlah, yang jelas ada bekas tetesan air yang memudarkan beberapa huruf dikertas itu. Tapi semuanya masih bisa terbaca dengan baik.


Dear Kak Tristan,


It's time for me to enter the maze.


As you know, it scared me. BUT I HAVE TO.


Thanks for everything you've given for me.


The wonderful life I went through with you.


The best love I could have.


Sorry for say nothing.


One day, The first I want to see when I go out from this maze is .... YOU


I love you THE MOST, Kak Tristan-KU


Tristan meremas surat itu. Dia memejamkan mata


"This is the answer." tanpa sadar Tristan menggertakkan giginya. " .... and also the clues."


Bersambung ya...


NOTE:



Hours later \= Berjam-jam kemudian


It's a torture \= Ini adalah sebuah siksaan.


Let me serve you tonight, Mam \= Biar aku melayani kamu malam ini, Bu



Surat Crystal


Dear Kak Tristan,


Sudah waktunya buatku untuk masuk labirin.


Seperti yang kamu tau, ini menakutkanku. TAPI AKU HARUS.


Makasih buat segala yang sudah kamu berikan untukku.


Kehidupan indah yang pernah aku lalui bersamamu.


Cinta terbaik yang pernah aku miliki.


Sorry karena nggak ngomong apa-apa.


Suatu hari, hal pertama yang ingin aku lihat saat keluar dari labirin ini adalah... KAMU.


I love you the most, Kak Tristan-Ku!


Author : Terjemahannya kurang lebih begitu ya, Man Teman.


Hehehe... kadang untuk beberapa istilah Authornya bingung cari istilah tepat untuk Indonya**.