
"The day I got you, you're mine Crystal. You came to my house, my heart and... my life."
Crystal tertegun, menatap mata laki-laki yang lebih tua 12 tahun darinya. Begitu tulus dan hangat tersampaikan hingga ke dalam hati Crystal.
Ups! Tiba-tiba Tristan menarik tangan Crystal hingga gadis itu menindihnya. Tristan memeluk Crystal sambil memejamkan mata, tangannya menepuk-nepuk bahu Crystal seperti seorang ibu yang akan menidurkan anaknya.
Tanpa sadar Crystal hanyut dengan perlakuan Tristan, rasanya sungguh nyaman dan menenangkan. Crystal merebahkan kepalanya di dada Tristan, hingga bisa mendengar detak jantung yang makin lama makin teratur.
Zzzzz....
Apa-apaan Kak Tristannya ini? Menyebalkan sekali! Orang lagi melting malah ditinggal tidur. Crystal mendengus kesal, melepaskan diri dan bergeser ke sisi tempat tidur yang kosong. Lalu berbaring dan menatap langit-langit kamar. Kalimat-kalimat yang diucapkan Tristan, tidakkah semua itu berlebihan? Apakah Tristan terkena syndrom sister complex? Ataukah dirinya yang terlalu berlebihan menanggapi ocehan mabuk Tristan?
Crystal terus berpikir hingga dia akhirnya juga terlelap.
***
Pagi hari, Tristan terbangun mendapati dirinya tidur di samping Crystal. Tak menyangka bakal ketiduran sampai pagi, Tristan buru-buru bangun dan kembali ke kamarnya, bersiap bekerja. Hari ini Tristan memutuskan work from home.
"Kak Tristan, hari ini HPku kembali ke aku ya?" Tanya Crystal sambil bergegas masuk ke ruang kerja Tristan, menagih ponselnya yang disita Tristan dari kemarin.
Tristan mendongak dari dokumennya.
"Ada salah goresan disini, betulkan dulu." Tristan malah menyodorkan kertas hukuman yang ditulis Crystal semalam.
Crystal cemberut kesal, matanya melirik kertas yang diberi tanda oleh Tristan.
"Tapi HPku kembalikan ya?" bujuk Crystal, yang dijawab dengan anggukan dan senyum manis Tristan.
Begitu ponsel ditangan, notifikasi langsung berhamburan.
"Kamu sudah sampai rumah Beib?"
"Gimana? Kamu kena marah?"
Crystal langsung membuka pesan dari Sky karena merasa tak enak sudah pulang duluan. Dan lagi, ada yang belum selesai diantara mereka.
Kalimat berikutnya membuat Crystal terkejut.
"Crystal, untung kamu pulang, semalam kita digerebek sama polisi. Coba kamu disini, bisa dobel amukan dari Kak Tristanmu."
"Polisi?!" Crystal membelalak kaget.
"Ada apa?" tanya Tristan.
"Katanya semalam villanya Wenas digerebek polisi, Kak! Mereka semua disuruh tes urine."
Dalam hati Tristan tertawa melihat ekspresi Crystal yang panik.
"Oh... untung saja kamu nggak ikutan. Bisa-bisa kena gerebek juga." Tristan pura-pura tak tahu.
"Tapi kasihan Sky... "
Mendengar nama Sky, radar Tristan langsung siaga.
"Biarin aja, biar kapok. Anggaplah sebagai pengalaman hidup." kata Tristan kesal.
"Dasar es batu!" Crystal mencebik kesal.
"Maksudmu?"
"Dingin, nggak punya perasaan!" Crystal melengos.
"Jadi kamu pacaran sama dia?" Saking kesalnya karena cemburu, Tristan mulai out of context.
Crystal tercengang, "Apa-apaan sih? Marah-marah terus!"
"Kenapa kamu mikirin dia? Memang dia pacarmu?" Tristan kesal pada dirinya sendiri, kenapa bisa semarah ini hanya karena Crystal memikirkan bocah ingusan itu. Mendadak dia teringat kalau bocah itu menyukai Crystal.
"Nih!" Tristan menyodorkan ponselnya sendiri.
Crystal semakin heran melihat kelakuan Tristan.
"Buat apa?"
"Kasih jawaban ke dia! Bilang kalau kamu nolak dia."
What? Kakaknya ini sedang kesurupan atau kenapa? Memang Crystal berencana menolak Sky, tapi bukan sekarang.
Melihat Crystal yang ragu-ragu, Tristan bertanya lagi, "Jadi kamu suka dia atau nggak?"
"Aku suka dia tapi just friend, Kak."
"Nah! Kalau gitu jangan PHP-in dia. Apa bedanya kasih tau sekarang sama besok?" Tristan terus mendesak.
"Sedekat apa sih mereka itu?" Ocehnya dalam hati sambil menuju ke kulkas untuk mengambil air minum. Dia butuh air dingin untuk mendinginkan hati dan otaknya.
"Halloooo... Sky!" Suara Crystal terdengar ramah dan ceria.
Hmmm... , Tristan merasa cemburu. Bisa-bisanya Crystal beramah tamah dengan lelaki lain selain dirinya. Tanpa sadar Tristan menajamkan telinganya, menguping pembicaraan Crystal dan Sky.
"I'm okay, Sky."
"Iya, aku sebenernya mau ngomongin soal itu juga hehehe..." Wajah Crystal bersemu merah.
"Maaf... Aku nggak bisa."
"YES! You're my good girl." Sorak Tristan dalam hati, hampir saja dia memeluk Crystal saking senangnya. Tapi tidak, dia harus tetap memasang tampang cool.
Eh? Tapi tunggu, pembicaraan mereka belum selesai.
"Haha... , iya maaf Sky." Crystal sekali lagi meminta maaf, suaranya terdengar manja.
"Aku sudah menyukai orang lain."
Hah? Jantung Tristan serasa berhenti berdetak. Tristan tak pernah menyangka kalau adiknya bakal jatuh cinta pada orang lain. Di dalam otaknya, tak pernah ada bayangan sedikit pun kalau Crystal akan berpacaran. Ada rasa tak terima muncul dari dalam hati Tristan.
"Siapa cowok yang kamu suka?" Begitu Crystal selesai, Tristan langsung bertanya sambil menahan segenap rasa yang hampir meledak di dadanya.
Crystal mengerutkan keningnya, semakin heran seheran-herannya. Kenapa Kakaknya begitu ikut campur urusan pribadinya. Tak biasanya Tristan mendesaknya seperti ini.
"Kenapa Kak Tristan kepo banget sama urusanku?" Crytsal mengembalikan ponsel Tristan ke meja.
Tristan tersentak, menyadari kalau emosinya tengah meluap-luap di dada.
"Emm...ingin tau saja, apa cowok yang kamu suka itu baik atau nggak? Aku nggak mau kamu dipermainkan sama cowok." Tristan akhirnya menemukan jawaban yang lebih masuk akal.
"Jelas dia cowok baik, the best. Kalau nggak baik nggak mungkin aku naksir dia." Crystal bersedekap dan menatap Tristan dengan pandangan menantang.
Tristan semakin penasaran, apa kelebihan orang yang disukai oleh Crystal.
"Baguslah, jangan sampai kamu naksir cowok nggak bener, tukang bolos, pecandu narko--ba, playboy.... Kamu taulah kriteria cowok ideal gimana."
"Jangan kuatir, dia terbukti nggak macam-macam. Udah ganteng, juara kelas, cool, nggak pernah pacaran, pintar, mandiri lagi. Pokoknya boyfriend materials." Crystal mengacungkan jempolnya.
"Anaknya siapa? Tinggal dimana?"
"Bapaknya artist, sering keluar negeri. Mereka nggak tinggal bareng. Dia tinggal sendiri di apartmentnya. Anak orang kaya."
"Dan yang membuat aku kagum, meski orang tuanya kurang perhatian tapi dia nggak rusak dan malah berprestasi." Crystal bercerita dengan wajah tak berdosa, tak menyadari ada hati yang semakin terbakar.
"Namanya siapa?" Kali ini, Tristan bertanya dengan tak bersemangat.
"Kenapa mendadak kepo?" Crystal balik bertanya.
"Aku hanya ingin memastikan kamu aman."
Jawaban Tristan kali ini memantik rasa bersalah dalam hati Crystal. Dia tahu, selama ini Tristan selalu mengusahakan yang terbaik untuknya. Kepalang tanggung, yang diucapkan tak bisa ditarik kembali.
"Namanya Lee Suho." Crystal mengucapkannya dengan hati-hati, menunggu reaksi Tristan berikutnya.
"Siapa?" Tristan mengerutkan keningnya, kepalanya sedikit dimiringkan. Nampak sedang berpikir.
Crystal mengulum senyum, kakaknya yang super hebat dan pintar ini mendadak bodoh kalau berurusan dengan hal-hal yang trend dikalangan anak muda.
"Lee Suho siapa? Siapa nama Bapaknya?"
Ya ampun! Ternyata masih berlanjut.
"Suruh aja si David cari info, dia kan pintar kalau disuruh kepoin orang." Crystal menjulurkan lidahnya dan berlari keluar.
"CRYSTAL!!!!"
Bersambung ya....
Thank you buat yang sudah like, comment dan vote karena like, comment dan vote kalian adalah masa depan kami. 🙏😊
Tolong sempatkan like, comment, kalau ada vote boleh dong. 🤭
By the way, ini nih... fotonya Lee Suho kesayangannya Crystal 👇👇
Haha... Anggaplah Tristan mirip dia juga 😂😂😂😂