
Melihat Richard menonton video pernikahan Tristan dan Crystal berulang kali di ruang keluarga, aku diam - diam ikut menontonnya.
Belum pernah dalam hidupku melihat Tristan tampak begitu bahagia. Saat dia tersenyum, matanya pun ikut bersinat. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar - benar bahagia. Dari tatapannya, aku langsung tahu kemana hatinya selama ini tertuju. Kepada siapa seluruh kasih sayangnya tercurah.
Tak ada topeng dingin yang selama ini dipakainya seperti saat di kantor. Senyum Tristan dan Crystal membuat siapa pun yang melihatnya ikut berbahagia.
Suster Anna... , dia juga hadir disana. Hatiku seperti tercubit. Aku pernah melihat sendiri bagaimana Tristan memeluk suster Anna saat Crystal pergi. Dan kini, orang yang sama yang notabene hanya seorang pengasuh justru hadir dalam pernikahan puteraku.
Wanita itu menangis penuh haru, seperti ibu yang menangis bahagia melihat kebahagiaan anak - anaknya. Hal yang tak pernah aku rasakan.
Saat itu juga, aku tahu kalau aku telah gagal. Gagal menjadi ibu dan istri yang baik.
Aku memandang Richard, matanya berkaca - kaca. Rambutnya sudah memutih, kerutan mulai banyak di sudut matanya. Hingga hari ini, dia masih bekerja untuk mengusir sepi karena tak pernah dekat dengan anaknya.
Dia tak pernah mengatakan cinta padaku. Meski dia tak pernah setuju dengan tindakanku yang tak mau mengurus puteraku, dia tetap bersamaku. Dia bertanggung jawab penuh atas diriku selama ini. Tak pernah sekali pun menuntutku untuk menjalankan kewajibanku sebagai seorang ibu. Dia bilang, dia ingin aku bahagia. Bukankah yang dilakukannya itu adalah salah satu bentuk cinta?
Ya Tuhan, ternyata aku egois dan jahat sekali padanya. Menjauhkan dia dari putera tunggalnya.
Perlahan aku menghampiri Richard dan duduk disisinya. Richard menoleh, tangannya dengan cepat mengusap sudut matanya yang berair. Dia tersenyum, lalu kembali menatap video pernikahan anak kami. Ya, anak kami. Tristan Harrison.
"Mari kita perkenalkan Crystal sebagai anak dan menantu kita." ucapku pelan.
Dengan cepat dia kembali melihat ke arahku. Matanya membulat dan mulutnya sedikit terbuka. Air mata menggenang di matanya.
"Kamu serius?" tanyanya tidak percaya. Dia sangat tahu bagaimana keras kepalanya aku.
"Iya." Aku mengangguk. "Setelah itu mari kita rayakan pernikahan mereka."
***
Perayaan pernikahan mereka diadakan di salah satu hotel terbesar milik Harrison group. Deretan papan bunga berderet - deret menyambut kedatangan kami. Melihat nama Crystal dan Tristan disandingkan, aku hampir menangis. Ternyata semua orang berbahagia melihat mereka bersama. Tak seperti yang aku takutkan selama ini. Hanya aku sendiri yang terlalu sibuk menyesali masa laluku, dan tak rela melihat anakku sendiri hidup bebas.
Para tamu dan kolega mengucapkan selamat pada kami. Dan yang membuatku malu adalah mereka memuji kami karena telah berhasil mendidik kedua anak kami dengan baik. Beberapa pasangan muda bertanya bagaimana kiat mendidik anak dengan baik.
Kami tak layak menerimanya. Tristan tumbuh besar dan belajar banyak dari lingkungannya. Kami memang orang tuanya, tetapi kami tidak punya peran apa pun dalam keberhasilannya. Selama ini yang kami berikan hanyalah materi dan nama Harrison.
Diam - diam aku menyelinap ke ruang dimana pengantin wanita menunggu untuk dipersilahkan masuk ke tempat acara. Tristan tak ada disana. Dia tidak boleh masuk karena tidak diizinkan melihat istrinya sampai acara mulai. Benar - benar konyol. Ini hanyalah perayaan pernikahan. Pernikahan mereka bahkan sudah dilaksanakan dengan baik dan lancar.
"Mama." Crystal menyapaku dan menganggukan kepalanya dengan sopan.
"Kamu cantik sekali." pujiku terharu. Ini adalah pertama kali dalam hidupku memuji seseorang dengan tulus.
"Terima kasih, Ma." Crystal tersenyum padaku.
"Duduklah bersamaku sebentar. Aku sudah meminta ijin pada suamimu untuk menemanimu sebentar."
Aku duduk dan dia mengikutinya dengan ragu.
"Aku senang melihat anakku bahagia. Thank you for giving my son so much happiness. I owe you many."
(Terima kasih sudah memberi banyak kebahagiaan pada puteraku. Aku berhutang banyak padamu.)
Crystal mengerutkan kening, dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Aku tau dia menahan diri supaya tidak menangis. Ada rasa bersalah menyelusup karena selama ini telah menganggapnya tidak ada.
Dengan menurunkan seluruh harga diri dan gengsiku, akhirnya aku berkata, "Mama minta maaf padamu dan juga Tristan." suaraku bergetar.
"Maaf kalau aku membencimu atas kesalahan yang tak pernah kamu lakukan."
"Ma," ucapnya pelan. Dia berusaha menyela. Tetapi aku datang bukan untuk memohon maklum, aku menemuinya untuk meminta maaf.
"Aku tak tahu bagaimana memulai hubunganku dengan kalian, jadi aku mengawalinya dengan meminta maaf." Lagi - lagi aku melakukan hal yang tak pernah aku lakukan selama ini. Meminta maaf sambil meneteskan air mata.
"Kak Tristan menyayangi mama sebagai ibunya, kalau dia jarang menemui Mama, itu karena dia berusaha memahami kesibukan Mama. Dan aku akan menyayangi siapa pun yang disayanginya. Karena seperti itulah yang diajarkannya padaku."
Pintu diketuk pelan dan langsung terbuka.
"Crystal, kamu harus keluar sekarang." ucap Karina menyampaikan pesan dari salah satu anggota tim event organizer.
"HEY!" Wanita muda itu memekik pelan. "Kenapa menangis? Nanti maskaramu jadi rusak." ucapnya lagi, meski dia tahu kalau maskara yang dipakai Crystal waterproof.
"Aku akan menunggu diluar." pamitku sambil mengusap bahunya selembut yang aku bisa.
Dari tempat dudukku, aku melihat puteraku berdiri sambil melihat ke arah pintu masuk.
Bersambung ya....
Let's see tomorrow bagaimana acara pesta pernikahan Tristan - Crystal ☺