I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 60 -- Resign



Crystal bisa merasakan tatapan penuh cinta Tristan saat dia bersiap untuk makan spaghetty kesukaannya. Membuatnya serba salah.


Apalagi saat Tristan duduk disebelahnya, emosi Crystal semakin membuncah.


"Apa kabar? Apa kamu baik-baik saja?"


Nadanya yang manis dan kuatir membuat semua yang tersimpan di dadanya meledak.


Crystal menangis tersedu-sedu, meluapkan sesak yang dirasakannya beberapa hari ini.


**


Headline dari potongan-potongan berita itu kembali berkelebat di ingatan Crystal semakin membuatnya merasa kecil.


"Charles Gunawan, Duri Dalam Daging Harrison Group."


"Harrison Group Memecat Dengan Tidak Hormat Charles Gunawan"


"Suami Istri Gunawan Group Kabur Keluar Negeri."


"HEBOH! Kasus Penggelapan Uang Oleh Charles Gunawan."


"Harrison Group Terguncang Atas Raibnya Dana Miliaran Rupiah."


Crystal merasa malu, dia tak punya muka untuk bertemu dengan Tristan. Orang tuanya hampir membuat klan Harrison collapse.


"Seharusnya dari awal, kamu tidak pernah masuk ke dalam keluarga Harrison. Kamu dan orang tuamu adalah sumber masalahnya."


Kata Nyonya Harrison sebelum meninggalkan Crystal seorang diri, termangu membaca berkas-berkas perubahan akta lahirnya delapan belas tahun yang lalu.


***


Tristan memutar kursi yang diduduki oleh Crystal hingga mereka duduk berhadapan.


"Crystal, ada apa?" Tangan Tristan terulur, menahan dagu Crystal supaya tak menunduk dan menatap matanya.


Pandangan penuh rindu Tristan bertemu dengan sorot keraguan Crystal yang masih tak yakin dengan dirinya sendiri.


"Namaku bukan Crystal." Suaranya terdengar bergetar.


Tristan menggeleng. "Kamu itu Crystal. My Crystal."


Ya. Apapun sebutan untuk gadis remaja di hadapannya. Bagi Tristan, Crystal tetaplah Crystal. Dia menyukai Crystal karena semua yang ada pada dirinya.


"Nggak aku bukan Crystal."


"Trus siapa kamu?"


Crystal mengerjapkan mata, bingung sendiri. Siapa dia sebenarnya. Ya ampun! It's frustated. Dia kembali menunduk, memainkan kedua tangannya dan memandangi kuku-kukunya yang terpotong rapi.


Menyadari kalau Crystal kesulitan untuk mengungkapkan isi hatinya, Tristan meraih jari Crystal dan mengecupnya lembut seolah berkata I'll be here for you.


Kehangatannya menerobos hingga ke dalam hati Crystal. Ah, lagi-lagi dia tak bisa menghindar. Percuma membohongi laki-laki dihadapannya.


"Namaku sebenarnya Calista Gunawan."


"Okay. And then?"


"Hm?"


Crystal mendongak, matanya melebar saat dia menyadari kalau Tristan sudah tahu sesuatu.


"Mama ngomong apa aja ke kamu?" tanya Tristan kemudian.


Nah! Benar kan? Kak Tristan tau sesuatu.


"Dari mana Kak Tristan tau kalau Mama ngomong sesuatu sama aku?" tanya Crystal penasaran.


Tristan mengulum senyum. "Tuh kamu udah ngaku sendiri." Sangat mudah bagi Tristan untuk memancing Crystal ngomong.


Ups! Crystal menutup mulutnya sendiri.


"Sekarang cerita semuanya!" perintah Tristan. Suaranya terdengar tegas dan tak bisa dibantah.


Dan sebandel-bandelnya Crystal, dia menaruh rasa hormat pada Tristan sebagai pengganti orang tua dan kakaknya. Dia tahu kapan waktunya harus menurut. Tanpa banyak bicara, disodorkannya ponsel dan mempersilahkan Tristan membuka aplikasi chatnya. Biar saja, laki-laki yang lebih tua dua belas tahun diatasnya itu menarik kesimpulan sendiri.


Selesai membaca, Tristan menarik napas lalu memandang Crystal. Dia bisa menangkap kebingungan dari manik mata gadis itu.


"You can't choose your parents, your birth or what life you were born into."


(Kamu nggak bisa milih orang tuamu, kelahiranmu atau di kehidupan seperti apa kamu dilahirkan."


Crystal memicingkan matanya. "Kak Tristan gampang aja ngomong karena bukan aku."


"Hey, me too! Kamu tau itu." sahut Tristan cepat.


Crystal menelan ludahnya. Tristan benar, Crystal jadi malu dengan sikapnya yang kekanak-kanakan.


"But you can choose your future." Tristan berhenti sejenak, dan menatap Crystal dalam-dalam. "And of course, me as your spouse." Kalimat terakhir diucapkan Tristan dengan nada yang sangat yakin.


(Tapi kamu bisa memilih masa depanmu. Dan tentu saja, aku sebagai pasanganmu.)


Haizzzz... Tristan selalu berhasil membuat hatinya meleleh seperti ice cream. Sungguh menyebalkan! Crystal membuang wajahnya, tak ingin Tristan tahu perasaannya yang sebenarnya.


"By the way, kamu nggak pengen ketemu Suster Anna?" tanya Tristan.


Mata Crystal membulat mendengar salah satu nama yang ada dalam list orang yang dirindukannya.


(Ayo pergi menjumpainya.)


Crystal menggigit bibirnya, dia masih bimbang dengan segala yang didengarnya dari Nyonya Harrison. Hatinya merasa, semua tak akan semulus yang dia harapkan.


"Kak Tristan."


"Ya?"


"Kalau Mama tau aku pulang lagi sama Kak Tristan... "


"Kenapa?" tanya Tristan santai.


Tangannya meraih segelas air putih dan meminumnya. Lehernya terasa kering. Dari tadi dia berbicara dengan Crystal, dia belum minum.


"Mama nggak suka sama aku." Crystal menarik napasnya. Dia tak mau Tristan bertengkar dengan Mamanya dan buntutnya dia lagi yang disalahkan.


"Itu kan gara-gara masalah pribadi Mama, tidak ada hubungannya dengan kita. A minute. " Tristan mengambil ponselnya. Dia mengetik-ngetik sesuatu disana.


"Lagi pula kedua orang tuamu sudah 'tidak ada', hiduplah dengan baik seperti sebelumnya." Tristan menyodorkan hasil pencarian di ponselnya.


"Maksudnya?" tanya Crystal sambil membaca tulisan-tulisan di ponsel Tristan.


"Ceritanya nih, Mamamu dulu pernah 'dekat' dengan Papa. Mereka teman satu sekolah. Hubungan mereka berakhir saat Papa dijodohkan dengan Mama. Entah bagaimana malah mereka bekerja sama dan terjadilah kasus itu." Tristan melanjutkan ceritanya.


"WHAT?!"


Tristan terkekeh pelan melihat reaksi Crystal yang terperanjat. "Hehehe... mungkin kaya kamu sama Sky gitu."


Crystal seperti diingatkan akan sesuatu. "SKY?"


O'ya kemana sahabatnya itu, Crystal menoleh ke sekelilingnya mencari-cari Sky.


"Dia langsung berangkat waktu aku datang." Tristan langsung menjelaskan tanpa menunggu


"Jangan bilang Kak Tristan mengusirnya!" Crystal menatap Tristan dengan pandangan membunuh.


"Sembarangan!"


TUK!


Tristan menyentil dahi Crystal pelan.


"Bukannya kamu sendiri yang semalam suruh dia pergi?" tanya Tristan dengan nada tak terima.


OH! Iya juga.


Bahu Crystal meluruh, matanya meredup, perasaan bersalah kembali menyelusup.


"Untung Sky paham bagaimana moody-nya kamu." Tristan mengedipkan sebelah matanya.


Crystal mencebikkan bibirnya. "Ya... , dia bilang mau adventure Eropa."


"Makanya, dari sini kamu langsung ke London aja."


"Lho kita nggak balik Indo?" tanya Crystal heran, terombang ambing dengan perasaannya sendiri.


Tristan menggeleng. "We have no house now. Aku sudah kembaliin semua property milik Harrison."


(Kita nggak punya rumah sekarang.)


Crystal tak bisa menutupi rasa terkejutnya.


"Apa Kak Tristan bertengkar dengan Mama karena aku?" tanyanya kuatir.


"Nope."


"Trus kenapa?"


"Aku bakal nomaden, di beberapa kota dan negara."


"Ngapain?"


"Kerja."


Crystal termangu, mencoba memahami arah pembicaraan Tristan yang terasa berloncatan tak tentu arah. Kerja? Mengembalikan properti milik Horrison? Clue macam apa ini?


"Kak Tristan bisa sering-sering visit aku di London dong?" tanya Crystal penuh harap.


"I'll try my best. Tapi aku nggak janji."


"Kok gitu?"


"Aku sedang mencoba untuk hidup sebagai Tristan tanpa bayang-bayang Harrison."


"Tanpa Harrison?"


"Yeah, aku sudah resign."


"APAAAAAA?" Pekik Crystal terkejut. "RESIGN?"


"Yup!" Tristan mengangguk dengan wajah tersenyum lebar.


Bersambung ya....