I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 51 -- My Gratitude



"Sus, Crystal mana?"


Suster Anna tergopoh-gopoh menyambut Tristan, yang tak biasanya jam segini sudah pulang ke rumah.


"Lho bukannya tadi Nona ke kantor Tuan katanya mau kasih surprise ke Tuan. Memangnya dari tadi belum sampai ke kantor ya Tuan?" Tanya Suster Anna bingung.


Tadi Pak Supri sudah lapor kalau Nonanya sudah diantar dengan selamat sampai kantor.


Tristan langsung mengeluarkan ponselnya dan jempolnya langsung menyentuh tombol 'call' tapi panggilannya hanya dijawab oleh mesin.


"Kebiasaan banget! Kalau dicari, ponselnya malah nggak aktif." Tristan membanting tubuhnya di sofa.


Dia duduk dengan posisi kepala di sandaran sofa menengadah ke langit-langit. Sesaat kemudian dia kembali duduk, jari-jarinya terus bergerak di layar ponsel mengetik-ketik pesan, mencoba menghubungi Crystal melalui pesan singkat. Dan, sekian banyak rentetan pesan yang terkirim di ponsel Crystal semua centang satu.


Tristan memijit pangkal hidungnya. Entah kenapa ada yang janggal dengan ekspresi Crystal hari ini sehingga Tristan memutuskan untuk langsung pulang begitu meeting terakhir selesai. Ada sesuatu yang terus mengganggu pikiran dan perasaannya, tapi dia sendiri tak tahu apa itu.


"PAK SUPRI!"


Tahu kalau mood Tristan sedang buruk, setengah berlari Pak Supri datang ke ruangan dimana Tristan duduk.


"Tadi habis dari kantor, Crystal kemana?"


Pak Supri menelan ludah, "Waduuh... , Masalahnya saya cuma antar ke kantor, Tuan. Nona bilang kalau pulangnya mau sama Tuan saja." Matanya menoleh ke Suster Anna, memohon pertolongan.


Suster Anna merasa seperti ditarik ke dalam pusaran waktu. Mungkinkah ini yang sering disebut oleh orang-orang dengan dejavu. Suasana dan kejadian yang sedang berlangsung dihadapannya nampak seperti film lama yang kembali diputar dalam ingatannya.


Tristan kebingungan mencari Crystal yang pergi tanpa kabar dan Pak Supri yang gemetar ketakutan karena dimarah oleh Tristan. Sementara dirinya juga sama, tak tahu kemana perginya anak yang sudah dimomongnya sejak kecil itu.


Suster Anna seperti ingin menangis untuk alasan yang dia sendiri tak tahu.


"DAVID! Cek CCTV kantor sekarang. Liat kemana Crystal pergi!" Perintah Tristan melalui telepon.


"Oh, Man. Memangnya dia kemana?" David bertanya dengan santai.


"Silly question!" geram Tristan.


David terdiam, menyadari kalau Boss-nya sedang dalam kondiri serius.


"Pergi ke temannya kali." Akhirnya David mencoba menenangkan.


Percuma! Feeling Tristan terlanjur tak enak. Dia tak mau lagi menduga-duga.


"Lima menit, Dave! Kasih info kemana Crystal setelah keluar dari gedung."


Telepon dimatikan sepihak oleh Tristan. Dia dengan gelisah, kakinya digoyang-goyangkan hingga menimbulkan bunyi ketukan tak teratur di lantai. Berulang kali dia menghela napas.


'Kak Tristan, it's my gratitude cake for you. Aku nggak pernah kasih apa-apa buat Kak Tristan, cuma bisa balas dengan cake ini.'


Suara itu terus berputar-putar seperti siaran radio di telinga Tristan. Sepertinya tak ada yang salah dengan kalimat dan senyum Crystal saat itu. Dia tidak sedang marah dan ngambek.


"Minum dulu, Tuan. Mungkin HP Nona baterenya habis, trus dia lagi ke mall." Suster Anna mencoba positive thinking.


Tristan menghembuskan napas. Suster Anna mungkin benar, mungkin saja dia yang berlebihan. Tapi sebuah keyakinan terus mendesak pikiran dan perasaannya. Keyakinan kalau ada yang salah dengan kedatangan Crystal di kantor hari ini.


"Crystal naik taxi online. Tujuannya belum tau." pesan dari David masuk, disertai video Crystal masuk ke sebuah mobil berwarna silver.


"Kemana?" balas Tristan.


"A minute. Aku sudah suruh orang lacak dari plat nomernya." Pesan dari David kembali masuk.


"PAK SUPRI!"


Pak Supri melonjak. "Ii.. iya, Tuan." Tangannya gemetar.


"Ini terakhir kalinya Crystal hilang! Kalau sampai berikutnya Pak Supri nggak tau dia kemana, bapak saya pecat!" Akhirnya Pak Supri yang tak bersalah menjadi pelampiasan Tristan.


"Baik, Tuan." Suara Pak Supri gemetar, hampir menangis.


Suster Anna tak kalah panik, dia juga dari tadi mondar mandir berusaha menghubungi Crystal. Seluruh pelayan dikerahkan untuk menghubungi ponsel Crystal yang mati dan juga membuka akun medsosnya. Satpam juga sudah melapor kalau sejak tadi Crystal juga belum kembali ke rumah.


"Kamu kesini karena mau kasih cupcake?" tanya Tristan sambil memandang sebuah cupcake cantik diatas meja, dengan hiasan 3D berbentuk dirinya sedang memakai setelan jas hitam.


"Hm-hm." Crystal mengangguk. "Made with love, my love for you."


Ya ampun! Jadi misi rahasianya hari ini adalah cupcake?


Kalau harus diberi angka, maka nilai kemampuan masak Crystal adalah nol besar. Tapi cupcake ini bentuknya benar-benar rapi, bagus dan kalau dilihat menggiurkan.


Crystal hanya mendengus kesal, merasa terhina. Sudah bangun pagi-pagi, berlepotan tepung, eh Kak Tristannya malah meragukannya.


Tristan mengerutkan keningnya, "Bikin indomie aja kuahnya kebanyakan, mie-nya kelembekan pula. Gimana ceritanya bisa bikin cup cake?" gumamnya pelan.


Tangannya memutar-mutar cupcake tersebut, bahkan sampai mengintip bagian bawah kuenya. Sepertinya Tristan sedang mencari bukti otentik kalau cupcake itu beneran Crystal yang membuatnya.


"Hey! Hey! Aku dengar ya." Crystal melotot, bibirnya sudah maju lima senti.


Tristan bersiap menerima amukan Crystal. Pukulan atau pun cubitan, Tristan dengan senang hati akan menerimanya.


"Kak Tristan... "


Eh? Crystal tak jadi marah?


"It's my gratitude cake for you." Sekilas wajah Crystal nampak sendu.


Tristan tertegun, dia menangkap ada yang berbeda didalam sorot mata Crystal.


"Ada apa?" tanya Tristan lembut.


"Nggak. Nggak ada apa-apa. Aku sudah jadi anak baik, hadiah dong, hadiah... " canda Crystal, rautnya sudah kembali ceria.


"Oke! Let's have dinner tonight."


Dan Crystal pun tersenyum lembut dengan sorot mata pedih. Tak ada sorak kegirangan khas Crystal.


Crsytal, Crystalin...


What's wrong with you today? Bisik Tristan dalam hati. Mengenal Crystal dari bayi, membuatnya hapal setiap mikro ekspresi diwajah Crystal. Tak mungkin dirinya salah membaca ekspresi gadis itu.


Drrrrrt....


Tanpa menunggu nada dering berikutnya, Tristan sudah menyambar ponselnya.


"Ke Airport." suara David terdengar tenang.


APA!?


Tristan tersentak. Jawaban David seperti membuka kabut yang menutupi pikirannya dari tadi siang sejak Crystal datang ke kantor dan membawa cupcake.


"Aku kan sudah gede, Kak Tristan. Sudah bisa bangun sendiri."


"Mmmm.... disana itu ada maze. Nah, aku jalan diantara maze itu, Kak. Aku sampe ngerasa kaya Alice in the wonderland."


"Tapi... aku jalannya kenapa sendiri ya?"


"Tempatnya bagus sih, sayangnya nggak ada teman disana."


"Supaya Kak Tristan nggak lupa sama aku, anak nakal kesayangan."


"Kak Tristan, it's my gratitude cake for you."


(Kue ucapan terima kasih)


Tristan menggenggam erat ponselnya, tangannya bergetar. Kalimat-kalimat Crystal kembali berputar ulang satu demi satu. Lagi dan lagi!


"TRISTAN! TRISTAN!" panggil David.


Tristan sudah tak mendengar panggilan David lagi, suaranya terbang bersama pikiran Tristan yang melayang bersama Crystal.


"Anak Bodoh!" makinya kesal bercampur sedih.


"Nona kenapa Tuan?" Suster Anna menyentuh tangan Tristan saat dilihatnya Tristan membeku.


"She said good bye, Sus. And I didn't notice it." Suara Tristan bergetar. Dia menoleh ke Suster Anna dengan ekspresi patah hati.


(Dia mengucapkan selamat tinggal, Sus. Dan aku tidak menyadarinya.)


Bersambung ya....