I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 56 -- Insecure



Let's go back to the day when she went away!


(Yuk, kembali ke hari dimana dia pergi!)


Warga net menjadi gempar.


Tristan yang selama ini tak mau terbuka mengenai kehidupan pribadinya, mendadak saja diserang gosip mengenai dua wanita.


Desas desus pertunangan Bianca-Tristan belum lagi terkonfirmasi kebenarannya. Namun foto-foto Tristan berlibur dengan seorang gadis remaja sudah kembali beredar. Yang paling mencengangkan bagi warga net adalah lokasi liburan mereka yaitu DI PARIS!


Wow! Wow! Berbagai macam spekulasi pun bermunculan. Mulai dari Tristan yang diam-diam memiliki kehidupan bebas di luar sana. Dilanjutkan dengan ulasan bagaimana gaya pacaran seorang crazy rich, hingga muncul opini kalau Tristan 'bermain' dengan dua wanita.


Kalau sebelumnya, Tristan berhasil menghapus semua berita di medsos. Hari ini, di rumah, Crystal sedang menonton TV. Kebetulan siaran TV yang Crystal tonton adalah acara gosip yang mengupas tentang a handsome crazy rich. The most wanted bachelor, Tristan Harrison.


Siapa yang akan Tristan pilih? Seorang wanita muda yang... entahlah siapa itu. Haha... , sayangnya kita belum menemukan profilnya.


Atau... Bianca, the heiress of Hartono? Seorang bussines woman yang sukses, cantik, cerdas dan sudah pasti masa depan Hartono-Harrison akan cemerlang setelah resmi pernikahan mereka."


---- Kemudian ditampilkan juga beberapa wanita yang terang-terangan mengejar Tristan dan berakhir dengan di abaikan. Kebanyakan dari mereka adalah gadis cantik dan kaya. Mulai dari anak pengusaha, enterpreuneur, bahkan seorang model kelas atas. ----


Akankah mereka semua gigit jari setelah munculnya seorang wanita muda misterius. Ehem... sebut saja dia Cinderela masa kini.


Tanpa disadari, Crystal mulai insecure melihat dirinya sendiri muncul di TV. Apalagi dibandingkan dengan wanita-wanita yang nampak begitu hebat.


"Nona, Suster Anna titip pesan supaya buahnya dimakan ya." Mbak Tari meletakkan sepiring buah-buahan di hadapan Crystal.


"Mana Suster Anna, Mbak?" tanya Crystal, matanya tetap lekat di layar televiai.


"Masih keluar sama Pak Supri sebentar. Katanya mau belanja untuk stock dapur."


Crystal manggut-manggut.


"Terima kasih, Mbak."


Dan, Mbak Tari pun permisi.


"Rupanya kamu sedang menonton gossip tentang anakku."


Crystal terkesiap. Seketika jantungnya berdetak kencang, kaget dan takut bersamaan. Dengan tegang, Crystal berdiri dan menoleh.


"Mama... " Crystal menyapa seolah bergumam pada diri sendiri.


"Kenapa kamu nampak sangat terkejut Crystal?" Tanya wanita yang disebutnya Mama.


Crystal berdehem. "Mama sudah sehat?"


"Memangnya sejak kapan kamu peduli dengan kesehatanku?" Tanya wanita paruh baya itu dengan gaya anggun berpadu dengan tatapan angkuhnya.


Tampak Crystal menghela napas. Dia tak berani menatap Nyonya Besar Harrison itu.


"Yaaah, saya minta maaf sudah membuat Mama kepikiran." Crystal menunduk, kakinya digesek-gesekkan di karpet yang terhampar di lantai, pertanda dia gugup dan tak nyaman.


"Gara-gara kamu, anakku jadi tidak tau sopan santun."


Crystal mematung. Belum sempat Crystal memikirkan apa-apa, ponselnya bergetar beberapa kali. Ada pesan masuk beruntun tanpa jeda.


"Bacalah! Itu fakta siapa kamu sesungguhnya." Perintah Nyonya Harrison. Matanya memberi kode ke arah ponsel Crystal. Tangannya dilipat di depan dada, matanya memandang remeh kepada Crystal.


Ha?


Tangan Crystal sedikit bergetar saat meraih ponsel yang dari tadi tergeletak di sofa tempat tadi dia duduk.


Perasaan tidak enak kian kuat menyergapnya saat hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah pesan masuk dari nomer yang tak dikenal.


Dibawah tatapan tajam Nyonya Harrison, jari gemetar Crystal bergerak men-scroll isi pesan yang diterimanya dari nomer asing tadi.


Nyonya Harrison terlihat menunggu dengan tatapan tak sabar. Baginya gerakan Crystal begitu slow motion.


"Jangan egois! Kamu juga harus memikirkan nama baik Tristan, orang yang selama ini memberimu tempat tinggal."


Suara Nyonya Harrison bergaung masuk ke telinga Crystal, mengiringi gerakan tangan dan matanya yang memindai satu per satu pesan-pesan yang diterimanya. Nada suaranya tenang dengan hawa intimidasi yang terasa begitu kental.


Ekspresi Crystal berubah-ubah begitu cepat. Sedih, shock, ngeri dan bingung.


Hingga akhirnya, Crystal mendongak dan menatap Nyonya Harrison dengan pandangan nelangsa. She really feels bad!


Wanita kaya nan elegan itu tak peduli ekspresi apa pun yang ditampilkan gadis remaja dihadapannya.


"Apa kamu tahu apa yang akan terjadi kalau sampai latar belakangmu terbongkar?" Nyonya Harrison menatap Crystal dengan tatapan dingin.


"Yang pasti, kedudukan Tristan di perusahaan akan terancam." Lanjut Nyonya Harrison tanpa menunggu respons apa pun dari Crystal.


Crystal tak menjawab. Meski sifatnya kadang kekanak-kanakan, dia adalah lulusan terbaik di sekolahnya. Otaknya yang cerdas bisa dengan mudah memahami kemana arah pembicaraan mereka. Dan, apa keinginan Mama angkatnya ini.


"Sekarang, besok atau beberapa tahun kedepan sekali pun, kamu tidak akan pernah pantas menjadi pendamping seorang Tristan Harrison."


Kata-kata Nyonya Harrison terasa tajam di hati dan pedas di telinga Crystal. Sayangnya, semua yang dikatakannya benar.


Crystal menggenggam erat-erat ponselnya. Matanya mulai menghangat. Dia melirik tulisan-tulisan dan gambar di layar ponselnya dalam genggamannya.


Tulisan yang seharusnya buram karena matanya yang berkaca-kaca, malah seakan-akan menari-nari. Menertawakan dirinya dengan membuka fakta siapa dirinya sebenarnya.


Selama ini dia dibesarkan dengan segala fasilitas dan kemewahan Harrison, tanpa tahu siapa orang tuanya. Dan kini, setelah tahu kenyataan dan bukti yang terpampang di ponselnya. Tentu dia harus tahu diri, seperti apa posisinya.


"Satu hal, Crystal. Kalau kamu menyayangi Tristan, jangan mempersulitnya. Pastikan tak ada seorang pun yang tahu siapa dirimu sesungguhnya." Tambah Nyonya Harrison.


Crystal mendesah.


"Aku tahu." Lirihnya.


Hatinya hancur saat tahu kalau dirinya tak akan pernah pantas untuk Tristan. Crystal sekarang menyadari segala keadaan dan keterbatasan dirinya. Dia tak bisa menyalahkan Nyonya Harrison yang terkesan tak menyukainya. Seorang ibu hanya menginginkan yang terbaik untuk anaknya.


Sepeninggal Nyonya Harrison, Crystal berusaha menerima kenyataan.


Diingatnya kembali wanita-wanita di TV, semuanya kaya, terpandang, cerdas dan mempunyai prestasi yang membanggakan. Bagaimana dengan dirinya? Sudah yatim piatu, ditambah dengan latar belakang orang tua yang memalukan.


"Oh, shame on me!"


Crystal menghela napas sedalam yang dia bisa untuk menahan air mata yang hampir jatuh dari pelupuk matanya. Dia berusaha memahami situasi-situasi yang akan dihadapi Tristan kelak.


Tapi, gagal! Sebanyak apapun Crystal berusaha memberi pengertian pada dirinya sendiri, hatinya terus menolak. Yang diinginkannya hanyalah bersama Tristan seperti hari-hari sebelumnya selama ini.


"Will the happiest day dissapear?"


Bersambung ya....


Note :



Heir \= ahli waris / penerus (cowok)


Heiress \= ahli waris / penerus (cewek)


Shame on me \= memalukanku


Will the happiest day dissapear \= akankan hari bahagia menghilang?