
Pagi hari, Crytsal bangun pagi dan turun kebawah. Sepi. Tak ada siapa pun, termasuk Suster Anna.
"Sus.... " panggilnya.
Sunyi. Tak ada jawaban mau pun suara langkah kaki tergopoh khas Suster Anna.
"Suster Anna.... "
Crystal menuju ke dapur, siapa tahu Suster Anna sedang menyiapkan sarapan untuknya.
Hmmm... dapur juga kosong dan bersih, bahkan cenderung terlalu bersih. Poci teh herbalnya pun tak nampak di counter dapur.
Entah kemana semua manusia dirumah ini. Mulai dari Suster Anna, chef, Mbak Tari, Mbak Putri, semua menghilang.
"KAK TRISTAAAAaaaannn." Akhirnya raungan Crystal terdengar.
Hasilnya? Senyap.
Tristan yang biasa membangunkannya setiap pagi juga tak muncul. Mungkinkah Tristan keluar kota atau keluar negeri mendadak? Tapi biasanya Tristan selalu memberitahunya.
Rasa kesal mulai muncul, Crystal berjalan sambil menghentakkan kaki menuju kearah pintu utama.
"PAK SUPRI! PAAAKK.... " teriaknya sambil membuka pintu ganda utama.
"HAPPY BIRTHDAY, NONA!!" Suster Anna, Pak Supri, tukang kebun, chef, Mbak sari, Mbak Putri semua bersorak lengkap dengan confetti yang menghujani Crystal.
Crystal tertawa bahagia. Tapi tunggu, masih kurang satu orang. Crystal mengangkat dagunya, melihat dibelakang orang-orang itu. Dimana Tristan?
"Hey!" Tristan muncul dari balik punggungnya, merengkuh Crystal dalam pelukan hangatnya. Bibirnya mengecup kening Crystal.
"Aku punya surprise buat kamu." Tristan mengedipkan sebelah matanya.
"Apa itu?" Hati Crystal berbunga-bunga mendapat perlakuan manis dari Tristan.
"Ayo!" Tristan menuntun Crystal ke tempat dimana hadiahnya berada.
"HAPPY BIRTHDAY, SAYANG!" seru Tristan ceria.
Wow! Mini cooper? Benarkah ini untuknya? Crystal tak percaya kalau Tristan membelikannya mobil.
"Nih." Tristan menyodorkan sebuah kotak beludru berisi kunci dengan tulisan "Especially For My Beloved One".
Ya Tuhan! Hati anak gadis mana yang tak meleleh mendapatkan perlakuan semanis ini.
"Thank you." Crystal melonjak, menghambur ke pelukan Tristan.
"Yuk, kita test drive. Let's go to the next surprise."
"Memangnya ada surprise lain selain ini?" Crystal mengurai pelukannya, tak percaya pada apa yang didengarnya.
"Yes." Tristan mengangguk.
"Silahkan My Princess." Tristan membuka pintu pengemudi untuk Crystal.
Crystal tersipu. Tristan masuk ke kursi penumpang dan menjelaskan beberapa hal mengenai cara pemakaian mobil itu pada Crystal.
"Udah ngerti?"
"Let's go!" Crystal mengacungkan jempolnya mantap sambil tersenyum lebar.
Tristan tersenyum geli melihat Crystal yang kegirangan.
"Jadi aku bakal dapat SIM dong?"
"Mari kita test kemampuan nyetirmu, kalau mau bikin SIM." jawab Tristan.
"Oke. Siapa takut?" Crystal memang pernah belajar menyetir dengan Pak Supri dan Tristan.
BROOOM....
"Yeeyyy!" Crystal lagi-lagi memekik girang. Pelan-pelan Crystal menginjak gas, dengan perasaan tak sabar ingin segera turun ke jalan.
"Eemmm... tunggu-tunggu. Aku rasa lebih aman kalau kita keliling perumahan lebih dulu." Mendadak Tristan berubah pikiran.
Dan benar saja.
"CRYSTAL, AWAS!!"
"Ya?" Dengan wajah tak berdosa Crystal menoleh ke Tristan.
"LIAT DEPAN! WOIIII!"
"HATI-HATI!"
"Iiih.... apaan sih? Bikin orang kaget aja!"
TIIINNN! TIIIIIINNNNNNN!
"EH! KIRI! KIRI! MINGGIR KE KIRI!" Tristan makin panik karena bunyi klakson mobil dibelakang mereka.
SREETTTT...
Dengan cepat Crystal ke sebelah kiri.
"Kasih retting kalau mau minggir."
"Retting?" Crystal menghentikan mobilnya mendadak.
"AWAS! Kalau mau belok atau berhenti retting dulu!" Jantung Tristan serasa mau copot.
"WOOOI, GOBLOK!" Pengemudi mobil di belakang mendahului dengan cepat, menderumkan mesinnya sambil memaki dan mengacungkan jari tengahnya.
"HEY!" Tristan malah ikut emosi dan memencet klakson keras-keras, tak terima Crystal dimarah orang tak dikenal.
"Huh!" Bahu Crystal meluruh.
"Hey!!! Hey!! Jangan dilepas setirnya!"
Crystal menginjak pedal gas lagi.
Uwoooo! Mobil mereka keluar jalur dan hampir menyenggol mobil yang lewat.
"AWAS!" Tangan Tristan menarik kemudi dengan sigap agar kembali ke lajurnya.
Tristan menghembuskan napas lega.
"Aku mau nabrak?" Crystal menoleh lagi dengan wajah terkejut
"HOAHH!!! FOKUS!"
"Iya... iya... " Crystal mulai kesal.
BROOOOM!! Crystal kembali menancap gas.
"EITSsss! STOP! STOP! STOP! Oke??? Tristan menepuk-nepuk dashboard.
CIIIT! Crystal lagi-lagi rem mendadak.
"HADUH! Mendadak lagi!"
Tristan mengusap dahinya yang berkeringat, wajahnya nampak lelah.
"Tadi bilang stop, trus dikatain mendadak. Orang nyetir malah teriak-teriak. Kak Tristan tuh ganggu. Tau nggak sih?" Crystal melotot.
Tak menggubris omelan Crystal, Tristan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dan menghirup napas berulang-ulang. Bersyukur nyawanya masih ada.
"Sudah, biar aku saja yang setir sampai ke tujuan nanti."
"Lho, aku nggak jadi nyetir?" Crystal kecewa.
"Nggak. Nggak usah, selama aku hidup biar aku aja yang nyetirin kamu."
"Iiih... jahat banget! Trus ngapain aku dikasih mobil?" Crystal menghentakkan kaki dengan kesal.
"Aku pikir kamu udah bisa waktu itu. Ternyata belum bisa dan aku nggak mau meresikokan kamu. Mendingan pakai sopir aja."
Merasa diremehkan, emosi Crystal malah tersulut.
"Ya udah kalau nggak jadi kasih mobil. Aku balikin!" Crystal mematikan mobil dan melempar kuncinya.
Crystal mendengus, melepas seatbelt dan keluar. Dibantingnya pintu mobil sekuat tenaga, melampiaskan kekesalannya. Lalu dia berjalan menuju arah pulang ke rumah.
Oh, mendadak rasa bersalah menyelusup ke hati Tristan. Niat hati mau membahagiakan gadis kesayangannya, eh malah berakhir dengan kemarahan.
"Crystal, tunggu!" Tristan mengejar Crystal.
"Nggak, nggak mau. Aku nggak mau lagi sama Kak Tristan. Nggak usah kasih aku apa-apa lagi." Crystal cemberut. Dia terus berjalan dan langakahnya makin cepat.
Tristan berlari kecil menyusul.
"Sorry... sorry... Oke, aku yang salah." Lagi-lagi Tristan mengalah.
Crystal tak menggubris, kesal. Baru saja senang dibolehin nyetir, sekarang sudah tak diijinkan lagi. Rasanya kaya Di PHP.
"Crystall!" Tristan menarik tangan Crystal dan menarik ke dalam pelukannya.
"Maaf, aku kuatir sama kamu. Nggak ada maksud lain."
Tangis Crystal meledak. Dia shock dan malu. Shock karena hampir menabrak dan juga malu karena gagal menunjukkan kemampuannya menyetir.
"Cup... cup... nggak apa. Yuk, aku mau nunjukin kamu sesuatu."
Crystal mengeratkan pelukannya ke Tristan, merasa bersalah karena melampiaskan marahnya pada Tristan.
Tristan menggandeng tangan Crystal dan kembali ke dalam mobil. Sekarang Tristan yang menyetir. Diam-diam Crystal mengamati gaya Tristan yang sedang menyetir. Terlihat keren dan santai. Crystal makin kesengsem.
"Aku mau kursus menyetir aja. Boleh?" tanya Crystal.
"Selama masih ada aku atau Pak Supri, nggak usah dulu. Iya?" bujuk Tristan.
"Aku cuma kuatir kamu kenapa-napa. Gimana aku kalau nggak ada kamu?" Tristan meraih tangan Crystal dan menggenggamnya.
"Sorry... kali ini aku belum bisa nurutin kamu. Tapi aku janji, bakal aku pikirin lagi." Tristan mengecup punggung tangan Crystal dan melirik dengan sorot memelas.
Ya ampun! Kalau sudah begini, mana bisa Crystal ngambek lama-lama.
Bersambung ya....
Thank you for reading 😊
Please like, comment dan vote ya...