
Kabar kalau Tristan mengundurkan diri sudah sampai di telinga Tuan Besar Harrison yang saat ini sedang berada di ruangan kerjanya di rumah.
Lelaki yang sebagian rambutnya sudah memutih itu hanya bisa menghela napas saat mendengar berita yang disampaikan Ben padanya. Percuma marah-marah kepada Tristan, dia sudah dewasa dan memiliki keputusan sendiri.
"Bagaimana Tuan? Apa saya suruh Tuan Tristan kembali dan memikirkan ulang keputusannya?" tanya Ben.
Tuan besar Harrison menggeleng, jari jemarinya saling bertautan. "Nggak usah, Ben. Aku tau kenapa Tristan mengambil keputusan ini." Matanya memandang langit-langit ruangan.
Ben mengerutkan keningnya, "Maksudnya Tuan?"
Pandangan Tuan Harrison menerawang, mengingat saat kemarin malam Tristan memaksa untuk bertemu dan berbicara dengannya.
*
Malam itu, Tristan duduk dihadapannya dan meminta izin untuk meninggalkan perusahaan.
"Kenapa?" Pertanyaan yang saat ini menjadi milik segenap direksi Harrison, terlontar dari mulut Tuan Harrison.
"Aku ingin memiliki hidupku sendiri sebagai Tristan. Bukan sebagai Harrison."
"Tak mau hidup sebagai Harrison katamu? Kamu mau jadi apa ha?" Suara Tuan Harrison meninggi.
"Menjadi diriku sendiri, Papa."
Mata Tuan Harrison menatap tajam. "Aku tau kalau ada alasan lain dibalik semua ini."
"Ya. Aku ingin bersamanya suatu hari nanti. Kami akan berjuang dengan cara kami sendiri. Hidup dengan membawa nama Harrison, sekarang atau nanti pun, semua akan tetap sulit bagi kami."
Tristan mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan wallpaper layar ponselnya uang berisi foto liburan mereka di Paris. "Bersamanya aku bisa menjadi diriku sendiri, tertawa lepas dan mengenal apa namanya bahagia."
Tuan Harrison mengambil ponsel Tristan. Matanya menyipit, melihat ke layar ponsel itu. Ada desir di hatinya, ekspresi-ekspresi wajah yang tak pernah dilihatnya saat dirinya sedang bersama Crystal dan Tristan. Bahkan saat berdua dengan istrinya pun, tak pernah sekalipun dia menemukan sinar bahagia.
Tawa Crystal dan Tristan begitu lepas dan bercahaya. Chemistry-nya begitu kental terasa, bahkan senyum mereka terlihat begitu mirip. Kedua pasang mata itu bersinar, dan hal itu hanya bisa di dapat dari perasaan bahagia.
Tuan Harrison mendadak ingin kembali belajar bagaimana caranya tersenyum seperti itu. Sesuatu yang telah lama dia lupakan, senyum terakhirnya adalah saat dia masih di bangku kuliah bersama seseorang yang dia sayangi.
"Tristan... kamu tau resikonya keluar dari Harrison?" Tanya Tuan Harrison. Dia mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya. Melihat foto itu, membuatnya merasa semakin bersalah pada Tristan. Dia berhutang kebahagiaan pada anaknya.
"Ya." Jawab Tristan mantap.
"Kamu akan kehilangan banyak hal setelah kerja kerasmu selama ini.
"Tidak, Papa. Aku akan meraih kembali semua yang aku lepaskan saat ini. Dan kali ini, aku akan meraihnya bersama Crystal."
"Apa yang akan kamu lakukan setelah mengundurkan diri? Lalu apa rencanamu dan Crystal?"
"Banyak. Rencanaku banyak sekali, Papa."
"Aku ingin mendengarnya untuk memastikan langkah-langkahmu itu benar." Tuan Harrison menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, bersiap untuk mendengarkan anak satu-satunya.
Tristan tersenyum lega. "Baiklah, Papa."
***
"Lepaskan Tristan, Ben. Biarkan dia melakukan apa pun yang dia mau. Jangan mempersulit langkahnya. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku."
Ben lega. Dia termasuk salah satu orang yang selalu mendoakan kebahagiaan Tristan dan Crystal.
"Bagaimana dengan Nyonya?"
"Itu urusanku, Ben. Kamu beritahu saja Nyonyamu kalau aku mau bicara sama dia. Biarkan dia belajar, kalau anaknya sendiri tidak bahagia menyandang nama Harrison."
"Baik, Tuan." Ben membungkuk hormat.
"Aku jadi kepikiran untuk pulang kampung dan bercocok tanam disana, Ben. Kedengarannya menyenangkan." lirih suara Tuan Harrison tapi cukup jelas di dengar oleh Ben.
"Hah? Gimana Tuan?" Tanya Ben, tak yakin dengan pendengarannya.
Tuan Harrison melengos sambil mengibaskan tangannya, menyuruh Ben pergi.
*
"Kamu gila, Man."
"Aku memang gila, Dave."
"Kamu pikir aku nggak serius?"
"Harrison bisa gempar."
"Dimana ada perubahan, disitu ada kegemparan." sahut Tristan enteng.
"Tapi kok mendadak banget?"
"Udah aku pikirin lama, Dave. Cuma eksekusinya baru sekarang aja."
"Gimana para Direktur dan Tuan Besar?"
"Mau tak mau, pasti menerima keputusanku."
"Tapi kamu Harrison!"
"Udahlah, atur aja gimana caranya semua tetap berjalan tanpa aku."
"Memang Bapakmu setuju?"
"Already. Done!" Tristan mengacungkan jempolnya.
David mendengus kesal, Tristan kelihatan tenang dan yakin. Keputusannya sudah bulat, tak bisa diganggu gugat.
"Kita pikirkan jalan lain, Man. Kamu nggak perlu keluar dari perusahaan. It's so silly. Toh kamu belum mau nikahin dia kan?"
David berjalan kesana kemari, sementara Tristan sibuk berkemas. Merapikan barang-barangnya ke dalam sebuah kardus.Tristan akan keluar dari perusahaan. Dia akan pergi dan tak akan pernah kembali.
"Justru karena belum mau nikah, kita harus prepare dari sekarang."
"Hmmm... jangan bilang ini akal-akalanmu aja! Kamu cuma mau ancam Mamamu kan?" Tanya David dengan pandangan curiga.
"Nope! Kalau aku disini terus, meski Crystal lulus cumlaude pun, dia bakal tetep under pressure. Kaya aku gini. Kamu tau sendiri Mamaku gimana. Dia akan terus merecoki sampai keinginannya tercapai." kata Tristan sambil memasukkan barang terakhirnya ke dalam kardus.
"Trus gimana saham punyamu disini?"
"Aku tinggalkan semua. Mereka boleh ambil saham itu. Aku juga melepas warisanku. Aku cuma mau satu, freedom."
"You're crazy." Desis David.
"I am." Lagi - lagi Tristan mengamini perkataan David.
"Aku heran ada orang yang nggak senang karena lahir di keluarga Harrison."
"Senang yang bagaimana dulu maksudmu?" Tristan mengangkat alisnya. "Selama ini hidupku tertekan karena menyandang nama Harrison, bahkan aku nggak bisa menentukan masa depanku. Memang aku suka bisnis, aku senang tantangan. Tapi aku nggak bahagia."
"Oh, Man." David mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kamu membuang semua keberuntunganmu, Tristan." keluh David, dia menyesali keputusan sahabatnya.
"But, I don't throw my future away." bantah Tristan. Dia berdiri tegak, menatap lurus ke mata David.
(Tapi, aku tidak membuang masa depanku.)
"I know people need money to live. Tapi aku bisa cari uang itu diluar sana tanpa melepas satu-satunya kebahagiaan yang aku punya selama ini."
(Aku tau orang butuh uang buat hidup.)
Oh, Tristan!
David benar-benar terkejut dengan pemikiran Tristan. Tapi entah kenapa, dari lubuk hatinya yang terdalam dia kagum dan mensupport apa yang dilakukan oleh sahabat sekaligus Boss-nya itu.
Bersambung ya...
Dengan ini, selesai juga part Crystal yang masih unyu-unyu. Rasanya sedih berpisah dengan Crystal remaja.
Tapi Author juga harus menerima kenyataan kalau Crystal harus grow up.
Sampai jumpa di Bab berikutnya ya, Readers. Masih dengan nuansa romance dan konflik ringan. 😜
Thanks sudah ngikuti sampai disini.