I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 40 -- Pembicaraan Laki-Laki



"Kamu pulang duluan sama Pak Supri, aku harus langsung ke kantor buat meeting." Tristan berpesan sambil mencium pipi Crystal, saat pesawat hampir mendarat di tanah air.


Crystal tidak merespons, dia tadi sempat ngambek karena liburan usai lebih cepat dari rencana semula.


"Maaf. Kapan-kapan, aku carikan waktu untuk liburan lagi. Oke?" bujuk Tristan.


"Aku janji langsung pulang. Kalau udah selesai, kita bisa main atau makan. Terserah, apa pun yang kamu mau. Ya?" kata Tristan lagi, kali ini memasang wajah memelas.


Ah, Crystal jadi merasa kasihan melihat wajah Tristan, dia tahu Tristan menanggung beban perusahaan dibahunya.


Baiklah, baiklah. Crystal mengalah, dia tersenyum manis. "Oke, janji ya. Kalau bohong nanti bisulan." Crystal menyodorkan jari kelingkingnya. Tristan segera menyambutnya dengan perasaan lega. Berkali-kali dikecupnya pipi Crystal.


Ben memperhatikan interaksi keduanya, ada sesuatu yang baru disadarinya. Hatinya mendadak terasa berat seperti ada yang menggelanyuti.


Berasal dari orang tua yang berbeda, lalu tumbuh dan besar bersama. Menghadapi situasi yang sama yaitu kesepian dan hidup tanpa perhatian dari orang tua. Kemudian mereka selalu ada untuk yang lainnya, saling mengisi dan menyayangi.


Seiring bertambahnya usia sangatlah wajar kalau mereka saling jatuh cinta.


Tapi, apa yang salah dengan cinta mereka? Perbedaan usia? Karena Crystal adik angkat? Ataukah karena perbedaan status mereka?


Ben hanya bisa memandangi kedekatan mereka dengan perasaan tak menentu.


Ya Tuhan, semoga saja mereka sanggup melalui semua rintangan yang akan menghadang. Ben menunduk, doa terbaik darinya untuk ke dua anak muda yang disayanginya.


***


Tuan Harrison terlihat sedang duduk nyaman di ruangan kantornya yang mewah. Beberapa hari ini, dia memang sengaja tinggal di tanah air karena akan menghadiri rapat bersama para pemegang saham.


"Papa." sapa Tristan begitu masuk ke ruangan Tuan Harrison.


Tuan Harrison mendongak dari tablet yang ada di tangannya. Kaca matanya sedikit melorot. Kemampuan matanya sudah sedikit berkurang karena usia, sehingga membutuhkan kaca mata baca.


"Tristan." sapanya. "Cepat sekali kamu datang."


Tristan langsung duduk dikursi di hadapan Papanya. Kali ini dia melupakan segala sopan santun yang biasa dilakukannya.


"Aku nggak mau blind date dengan siapa pun. Santi dan David sudah mengirimiku pesan, email dan foto-foto wanita-wanita itu." kata Tristan to the point.


(Blind date \= kencan buta)


Tuan Harrison mengulum senyum, mirip seperti saat Tristan sedang menahan geli karena tingkah Crystal yang sedang absurd. Beliau meletakkan tablet ke atas meja.


"Kamu mau minum apa?" tanyanya dengan tenang.


Tristan mengibaskan tangannya, tak tertarik pada minuman apa pun. Lalu dia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, kesal. Protesnya hanya ditanggapi dengan santai oleh Papanya.


"Memangnya Ben belum memberitahumu?" Tuan Harrison menatap anak satu-satunya dan kebanggaannya.


Tristan berdecak.


"Aku mau tau dari sumbernya langsung. Mama sulit diajak bicara, jadi lebih baik aku ngomong sama Papa. Nggak mungkin Papa nggak tau soal semua ini kan?"


Hubungan Tristan dan Papanya memang tak sebaik orang-orang lain, tapi setidaknya selama ini orang yang selalu menuruti permintaan Tristan adalah Papanya.


Papanya malah tertawa mendengar protes Tristan. "Bukannya biasa pengusaha muda sepertimu nge-date? Kencan? Laki-laki seusiamu biasanya sudah nikah atau gonta ganti cewek."


Tristan mendengus, bisa-bisanya Papanya menganggap gonta-ganti perempuan adalah hal yang biasa.


"Mamamu mau kamu menikah, Tristan. Aku pikir dia ada benarnya, karena memang sudah waktunya kamu menikah."


Tristan menarik napas dalam-dalam, ingin rasanya berteriak keras-keras, "SABAR BOSS!"


Dia pasti akan menikah, hanya saja menunggu waktu yang tepat.


"Tapi kamu terlalu lamban, pacar saja belum punya. Jadi Mamamu hanya membantu prosesnya."


"Enak saja, justru aku sudah punya pacar makanya nggak mau blind date."


Sebenarnya sejak hari dimana Tristan meminta memilih pasangannya sendiri, sejak hari itu pula Tuan Harrison tahu kalau Tristan sedang menyimpan rahasia tentang sosok seorang wanita. Dan dia ingin Tristan segera membuka rahasianya itu.


"Papa tau kamu sedang menyukai seseorang, jatuh cinta atau apa pun kamu menyebutnya."


"Iya, aku punya pacar jadi jangan sebut aku lamban. She is my beloved one."


"Siapa dia?" tanya Tuan Harrison.


Tristan menggeleng, "Belum waktunya kalian tau."


"Kenapa?"


Tristan menjawab diplomatis, "Aku ingin mempersiapkan segalanya dengan baik dan memastikan dulu kalau kalian tidak menghalangi kami."


Kening Tuan Harrison berkerut, "Kamu pikir kami tidak akan menerimanya?"


"Aku tidak perlu kalian menerimanya. Bagiku, kami bisa bersama dan hidup dengan tenang saja sudah cukup."


Tuan Harrison semakin heran dengan kata-kata Tristan.


"Kira-kira kapan kamu akan memperkenalkan pacarmu kepada kami?"


"Papa kan udah kenal. Tapi kalau Papa tau dia adalah orangnya, bisa-bisa Papa kena serangan jantung."


"Begitu dia siap menjadi istriku, aku akan membawanya padamu. Aku hanya tak mau dia dianggap sebelah mata oleh kalian."


Tuan Harrison berdehem, "Jangan salah paham, maksud kami ini baik. Biar bagaimana pun kamu anak kami satu-satunya. Kami ingin yang terbaik untukmu."


"Maksudnya baik, tapi caranya salah dan efek ke depannya bisa saja menjadi tak baik. Kalau kalian terus menggangguku dengan Bianca dan wanita lainnya, bisa-bisa pacarku salah paham. Aku tak mau bertengkar dan menyakitinya."


"Dan aku hanya mau menikah dengannya." Kalimat terakhir diucapkan Tristan dengan penuh penekanan.


Tuan Harrison terkekeh.


"Memangnya nggak ada satu pun yang menarik?"


"Maksud Papa?"


"Dari semua blind date tadi, apa nggak ada yang membuatmu tertarik?"


Hah? Apa-apaan Papanya ini? Ya ampun, ya Tuhan... kenapa dia harus menghadapi orang tua seperti ini. Sudah dibilang anaknya punya pacar, masih saja disodori yang wanita lain.


"TIDAK ADA." jawab Tristan tegas.


Tuan Harrison lagi-lagi tertawa, "Papa hanya mencoba mencari peluang saja. Mana tau masih ada kesempatan untuk perempuan lain."


"PELUANG? Ini masalah perasaan bukan bisnis yang harus terus mencari peluang."


"Baiklah. Papa hanya bersyukur kalau begitu mamamu tidak jadi membawamu ke Dokter."


"Dokter apa?"


"Untuk memeriksakan orientasi s-- ek-- ss kamu."


WHAT? Tristan membelalakkan matanya. Siapa sangka pikiran Papanya justru menyimpang tak tentu arah. Oh, Tristan merasa terhina.


"Hey, Tristan. Di saat pengusaha muda lainnya clubbing dan main cewek. Yaaah.... kuanggap itu normal untuk pria seusia kalian. Tapi, kamu? Tak pernah sekali pun kamu bersama cewek selain sekretarismu. Itu pun hanya di kantor." Nada suara Tuan Harrison terdengar miris.


"Crystal juga wanita, Pah... Dia wanita, apa sudah lupa?"


"Don't take a woman for granted. I appreciate women." Nada suaranya begitu meyakinkan.


Tuan Harrison diam dan memandangi Tristan sambil mengulum senyum misterius. Entah apa yang ada dalam pikirannya.


Bersambung ya....