I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 89 -- Here Is Mrs. Harrison



"It's all about skill. About the person herself. Bukan siapa orang tua dan dari mana dia berasal." Tristan memberi penekanan pada kalimat terakhir yang diucapkannya.


"Mr.Tristan dan Mrs.Crystalin, saya minta maaf. Saya hanya menawarkan bantuan, tidak bermaksud untuk menyinggung."


"It's okay, Tuan. Memang seringkali orang bertanya - tanya siapa saya dan seringkali mereka memandang sebelah mata. Tapi tentu saja itu bukan masalah. Saya memang yatim piatu, tak punya orang tua yang kaya raya atau pun berpangkat tinggi. Tapi suamiku pernah berkata padaku. You can't choose your parents, but you can choose your future. Itulah yang saya lakukan hingga hari ini." sahut Crystal tenang.


Astaga! Tuan Hendri dan Clarisa terkesiap mendengar jawaban Crystal yang begitu terus terang di tengah pertemuan seperti ini. Kenapa wanita ini sama sekali tak menutupi latar belakangnya? Ataukah secara tak langsung dia ingin mengadu pada Tristan?


Tuan Hendri dan Clarissa mendadak panik, mereka kuatir kalau Tristan marah dan memutuskan hubungan kerja sama mereka.


"Kami benar - benar minta maaf, Mrs. Harrison. Kami tak bermaksud mengorek latar belakang anda." Kata Tuan Hendri.


"Kalau tak bermaksud membuka aib orang lain, apa tujuan Clarissa bertanya seperti tadi?" Tristan bertanya dengan nada dingin, pertanda dia marah. Matanya begitu tajam menusuk, dan rahangnya mengeras.


"Sayang.... " panggil Crystal lembut dan manja. Tangannya mengusap lengan suaminya.


'Sayang'


Hanya Tuhan yang tahu bagaimana hati Tristan berjumpalitan mendengarnya, seumur - umur dan hingga hari ini Crystal tak mau mengubah panggilan Kakak padanya. Katanya kakak adalah bentuk apresiasinya pada Tristan yang sudah membesarkan dirinya. She got brother and husband dalam satu paket. Crystal tak mau merubah apa pun.


"It's not a big deal. Let it be." ucap Crystal lagi dengan nada lembut. Wow! Luar biasa, wanita yang biasanya kekanakan dan petakilan di hadapannya, ternyata bisa menampilkan sisi anggun dan berkelasnya malam ini.


(Bukan masalah besar, biarkan saja.)


Wajah Tristan melembut.


"As you wish, my queen. Aku hanya tak suka ada orang yang mempersulit dirimu. Next, bilang saja ke aku. Aku pastikan dia akan mendapatkan lebih banyak kesulitan di dalam hidupnya."


Semua orang yang mendengar bergidik, mereka tahu bagaimana Tristan tak kalau sudah marah. Dia tak banyak bicara, tapi tahu - tahu perusahaan mereka akan porak poranda.


"Sekali lagi saya minta maaf kepada Nyonya. Saya salah karena terlalu mementingkan bibit, bobot dan bebet. Semoga Mrs. Harrison mau memakluminya." kali ini Clarissa juga ikut memohon.


"Aku maklum jika ada yang memandang sebelah mata pada diriku. Tapi tidakkah kalian appreciate Tristan's choice? Dia tidak buta dan lelaki yang cerdas. Apakah pernah dia mengambil keputusan sembarangan selama ini? Setiap keputusan yang diambilnya selalu dengan pertimbangan matang . Tak mungkin dia memutuskan aku menjadi istrinya kalau memang tidak pantas untuknya. Daripada kalian memikirkan siapa diriku, bukankah lebih baik kalian memikirkan kemajuan Harrison?"


Suasana mendadak hening. Orang - orang disekelilingnya memandangi Crystal lekat - lekat. Mereka ingin melihat kelanjutan perang dihadapan mereka.


"Sayang.... " Tristan menggenggam jari Crystal, memberi tanda supaya istrinya itu tak terprovokasi dan menimbulkan kekacauan. Crystal balas menggenggam tangan Tristan, sebagai jawaban bahwa dia mengerti apa yang harus dilakukannya.


Crystal menghela napas.


"Don't judge a book from its cover. Lihat dan kenali siapa aku, baru kalian memutuskan. Kalau di masa depan aku hanya membebani Tristan atau mencoreng nama baik Harrison, silahkan kalian menghujatku."


Tak seorang pun berkata - kata, mereka melihat kharisma seorang Nyonya Muda Harrison yang terpancar dari diri Crystal. Begitu yakin dan percaya diri.


"Selama hal buruk yang ada dipikiran kalian belum terbukti, let's be cooperative. Bekerja samalah untuk kemajuan Harrison Group."


Suasana masih hening. Lalu tiba - tiba terdengar suara tepuk tangan, seorang lelaki paruh baya menghampiri Crystal dan menepuk bahunya lembut. Sorot matanya memancarkan kasih sayang ayah terhadap anaknya.


"Dia adalah anak perempuan kesayanganku dan sekarang menjadi menantuku. Apa kalian ingat anak angkat keluarga Harrison bertahun - tahun silam? Yang sengaja disembunyikan dari publik untuk menghindari berita - berita buruk dan orang - orang yang haus gosip? Dialah orangnya." Tuan Harrison berhenti sejenak, sekali lagi menatap penuh rasa bangga pada Crystal.


"Dari kecil, anak ini tak pernah meminta apa pun. Aku bersyukur Tristan memintaku mengadopsinya. Tumbuh tanpa perhatian yang cukup dari orang tua, tak membuatnya 'rusak', dia bersekolah dan membangun image perusahaannya tanpa bantuan Harrison sedikit pun. Benar - benar wanita yang mandiri."


"Mengenai kejelasan asal usul? Sudah sangat jelas dia berasal dari keluarga Harrison. Apa kalian masih meragukan anak yang tumbuh dan besar di lingkungan keluarga kami sendiri? Tristan sendiri yang memilih anak ini, dia yang menjaga, merawat dan mendidiknya hingga dewasa. Tak ada yang lebih tau tentang wanita ini, dibanding Tristan dan kami sendiri."


Crystal mengangkat wajahnya dan menatap Tuan Harrison penuh haru. Sepertinya semua beban di hatinya terangkat seketika.


"Terima kasih, Papa." Lirih Crystal.


Tuan Harrison menanggapinya sambil tersenyum. "Setidaknya dari merekalah aku belajar, bahwa hidup bukan saja soal uang dan kedudukan. Life is about the values." Tuan Harrison menutup pidatonya.


Tiba - tiba Nyonya Harrison juga sudah ada disana, entah darimana dan sejak kapan dia datang. Nyonya besar itu sudah melangkah mendekati Crystal.


"Ayo ikut Mama. Aku akan memperkenalkanmu pada semua orang sebelum perayaan pernikahan kalian." ucapnya tegas.


Crystal agak bingung, benar - benar diluar skenario. Dia menoleh pada Tristan seolah meminta pendapat. Tristan mengangguk pelan dan tersenyum menenangkan.


Wanita muda itu mengikuti langkah mama angkat yang kini menjadi ibu mertuanya dengan perasaan sedikit cemas. Haruskah dia menghadapi pertempuran berikutnya?


Tapi sesaat kemudian, Crystal tertegun.


Nyonya Harrison menggandengnya seperti layaknya ibu menuntun anak gadisnya. Sikapnya sedikit berbeda. Meski tidak ramah, tapi setidaknya tidak dingin seperti yang selama ini dikenalnya.


Nyonya Harrison menoleh pada Crystal.


"Jangan kuatir. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada menantuku."


"Mama... " Lirih Crystal penuh haru, air mata mulai merebak.


"Jangan menangis, nanti kamu jelek. Banyak yang mengincar suamimu, jadi tampillah secantik mungkin."


"Terima kasih, Mama... " ucap Crystal tulus. Tak ada sedikit pun rasa tersinggung atas kalimat terakhir Nyonya Harrison. Setidaknya beliau sudah menyebut dirinya sebagai menantu dan juga mengatakan kalau Tristan adalah suaminya.


Bersambung ya....


Dear Readers,


All done ya! Tuan dan Nyonya Harrison juga udah acc pernikahan Tristan - Crystal.


Kenapa bisa Nyonya Harrison akhirnya setuju? Besok aku tulis sedikit ya...


Thank you banget buat yang sudah baca hingga part ini.


Semoga semua sehat dan bahagia selalu. 😇