
"Aku nggak mau tau. Keluarin dia dari ruang meeting atau aku yang nggak ikut meeting!" perintah Tristan gusar.
Dia berjalan mondar mandir di depan jendela ruangan kantornya. Dari tempatnya berdiri nampak lalu lalang kendaraan dan manusia dibawah sana.
David mengusap dahinya yang mendadak berkeringat di ruangan bersuhu dingin itu. Padahal para peserta meeting sudah mulai berjalan ke ruang meeting, termasuk Bianca. Sedangkan mereka? Masih ada di ruangan Tristan, asyik berdebat.
Tristan menolak masuk ke dalam ruang meeting selama ada Bianca di dalam sana. Dia tak mau melihat wajah orang yang terus mengusiknya.
"Pasti ada cara untuk lepas dari dia dan Hartono!" geram Tristan sambil melotot pada sahabatnya.
"Kamu bantu mikir kek, jangan diem aja!"
David memejamkan matanya sambil mengelus dada melihat Tristan begitu berapi-api.
"Please, dengerin dulu. Oke?" David mencoba menyela dengan hati-hati.
"Aku tau kamu marah besar sama wanita itu." David sengaja tak menyebut nama Bianca, takut Tristan tersulut lagi.
"Tapi nih ya, kita kan harus profesional. Lagian, Bianca bisa apa di ruang meeting? Banyak orang gitu, masa iya dia bakal cium kamu?"
"CK!" Tristan melirik tajam ke arah David.
"Oke, oke. Aku minta maaf. Seharusnya semalam aku jelasin ke kamu detailnya. Please, kali ini aja kamu ikut meeting. Next and forever, aku bakal aturin. Aku janji." bujuk David.
Jantungnya sampai berdegup kencang, kuatir kalau-kalau Tristan tetap menolak.
Nasibnya bakal di ujung tanduk kalau sampai Tuan Harrison tahu anaknya membatalkan meeting di detik terakhir hanya karena alasan BIANCA.
Hhhh!!! Apa boleh buat, demi profesionalisme dan nama baik Harrison!
"Aku nggak butuh kata maaf. Aku cuma mau, kalau ini kali terakhir aku ketemu sama dia. Paham?"
"Siap! SANTI! Ke ruang meeting!"
Tristan mendengus. Di ruangan meeting itu sudah ada Bianca yang tidak hanya duduk manis menjadi salah satu pemegang saham start up mereka tapi dia juga memaparkan beberapa hal. Dan pemaparan Bianca begitu bagus dan rapi.
Sial! Kalau saja Bianca tak tahu apa-apa dan bodoh, Tristan pasti langsung keluar dari ruangan tanpa basa basi seperti kebiasaannya.
***
Crystal memasuki gedung megah dihadapannya sambil melihat sekelilingnya dengan mata kagum dan bangga. Gedung dimana Tristan setiap hari bekerja. Interior ruangan di design simple minimalis dengan dominasi warna putih gading menambah kesan mewah dan berkelas.
"Permisi, saya mau ketemu Tuan Tristan Harrison. Apa beliau ada?" Tanya Crystal dengan sopan.
"Apa anda sudah membuat janji?" Resepsionist itu balik bertanya.
"Mmmm... belum sih." Bibir Crystal mengerucut.
Dia maklum kalau resepsionist itu tidak mengenalinya karena memang dia sangat jarang muncul di kantor. Tapi kali ini dia mau memberi kejutan. Matanya melirik paper bag ditangannya. Bagaimana caranya dia masuk tanpa setahu Tristan?
Crystal berpikir sejenak.
"Bagaimana kalau dengan David saja? Saya saudaranya, dan sedang ada keperluan penting."
"Baiklah. Saya hubungi Tuan David dulu. Kalau beliau bersedia, anda bisa menemuinya."
Crystal mengangguk, tapi matanya tetap berkelana ke seluruh ruangan.
"Maaf, siapa nama anda?"
TING!
Belum sempat Crystal menjawab, lift khusus VVIP berdenting dan pintu terbuka.
Crystal melonjak senang.
Tampak Tristan keluar dari sana diikuti oleh David, Santi dan juga Bianca. Kemudian menyusul dua orang lagi yang nampak seperti orang penting. Terlihat dari bagaimana Tristan berbicara begitu resmi dan sopan.
Crystal berdiri tak jauh dari lift, matanya hanya fokus kepada Tristan. Senyum manis merekah, rasa bangga menyelimutinya melihat wajah Tristan semakin tampan saat sedang serius berbicara. Di dalam pandangan Crystal, Tristan terlihat begitu hebat.
Merasa ada yang memperhatikannya, Tristan menoleh. Reaksi pertama adalah matanya terbelalak, kemudian senyum sumringah muncul saat matanya bertemu dengan mata Crystal.
Hari ini, Crystal nampak begitu berbeda. Dia mengenakan blouse putih dengan aksen simple di lengannya, sangat match dikombinasikan dengan celana kain biru muda. Rambutnya yang hitam panjang, ditata dengan model keriting gantung. Wajahnya juga tampak memakai make up tipis. Dia sangat cantik dan sedikit lebih dewasa. Sudah sangat pantas menjadi anak kuliahan.
Tristan mengingat-ingat apa dia lupa kalau hari ini ada janji dengan Crystal. Apa yang sedang dilakukannya disini? Crystal juga tidak langsung memanggil namanya atau pun menghambur seperti biasa. Dia sabar menunggu dengan wajah terus tersenyum.
Apapun itu, Tristan sangat senang. Dia berpamitan dan langsung menghampiri Crystal.
"Ngapain disini?" Tangannya terentang dan memeluk Crystal hangat, seolah lama tak berjumpa.
Tristan tak peduli banyak mata memandangnya dan bertanya-tanya. CEO mereka memperlakukan seorang wanita muda dengan begitu hangat.
"Give me some more times. Santy will company you." Kata Tristan sambil memberi kode kepada Santy untuk mengantar Crystal ke ruangannya.
"It's okay. I can wait." Crystal menjawab dengan nada kalem, dan mengikuti langkah Santy.
Ah, jantung Tristan berdebar-debar. Dia tak sabar ingin menyelesaikan pertemuannya dengan dua orang klien penting mereka. Segera Tristan mengembalikan ekspresinya menjadi serius dan dingin. Kemudian kembali melanjutkan pembicaraan dengan mereka, dan David pun ikut berjalan di belakangnya.
Selesai urusannya dengan client, Tristan melangkah dengan cepat dan lebar-lebar. Tak sabar ingin menemui Crystal.
"Hey... , what a surprise." Kata Tristan begitu masuk ke ruangannya. Dia langsung menutup pintu dan menguncinya.
"Kak Tristan!"
HUP! Crystal berdiri dan langsung meloncat ke gendongan Tristan. Tristan sigap menangkapnya dan Crystal bergelantungan seperti koala. Kelakuannya begitu kontras dengan penampilannya hari ini.
"Tumben datang kesini. Kamu pengen apa?"
"I want this!"
Crystal menarik kepala Tristan supaya semakin mendekat padanya. Menjepit pipinya dan menciumnya dalam-dalam.
Wow! Wow! Tristan gelagapan.
Tristan tak pernah menyangka Crystal akan senekat ini. Tangannya mengendor, Crystal melorot dari gendongannya.
Crystal melepaskan ciumannya, dan mereka berpandangan.
"Dasar anak nakal!"
Tristan pura-pura marah untuk menutupi degup jantungnya yang terasa menggila. Perasaannya seperti sedang naik roller coaster, tegang karena mereka berciuman di kantor tapi tak bisa dipungkiri dia menyukainya.
Tapi, Crystal tak kenal takut.
"Aku 'nakal' cuma sama Kak Tristan." jawab Crystal santai, matanya mengerjap. So cute!
"Are you sure?"
"Yup." Crystal mengangguk.
Tristan membingkai wajah Crystal dengan kedua tangannya, memandangnya penuh cinta. "Promise me?" pintanya.
Crystal mendekat dan berjinjit, kemudian mencium pipi kiri Tristan. "You have my words."
Tristan sedikit menunduk, tangannya melingkar di pinggang Crystal. Dia memberikan pipi kanannya dan Crystal mengecupnya. "My heart."
Tristan menunduk.
"My life." Kecupan mendarat di dahi Tristan.
"And then, my future." Berakhir dengan ciuman lembut penuh perasaan di bibir Tristan.
Setelah itu, Crystal mundur sambil nyengir. Kedua tangannya mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya membentuk tanda peace.
"Supaya Kak Tristan nggak lupa sama aku, anak nakal kesayangan."
Dear God, she melted my heart.
Bersambung ya....
NOTE
Give me some more times. Santy will company you.
(Kasih aku waktu. Santy bakal nemeni kamu)
You have my words.
(Kamu bisa pegang kata-kataku.)