I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 17 -- Kencan?



"Crystal?... Ehem... " Tristan berdehem untuk membersihkan tenggorokan yang rasanya seperti tercekat.


"Ya Kak?" Crystal menjawab telepon Tristan dengan ceria.


"Sudah sampai rumah?" tanya Tristan.


Hari ini Tristan mendadak sibuk, mulai dari meeting yang terinterupsi oleh Tuan Harrison, ke sekolah Crystal hingga meeting dadakan. Rencana untuk menjemput Crystal pulang sekolah pun terpaksa dibatalkan.


"Sudah." jawab Crystal.


"Lagi ngapain?"


"Ha?" Crystal heran, tumben sekali Tristan mengawali telepon dengan basa basi yang terasa aneh.


"Lagi baca novel." Crystal menjawab asal.


"Ehm... Nanti malam aku ada dinner." Tristan diam sesaat.


"Gimana kalau kamu temenin aku?"


"Ha? Gimana?"


Crystal tercengang, ajakan Tristan terasa seperti ajakan kencan.


"Bentar lagi ada MUA datang ke rumah, Suster Anna juga sudah siapin baju buat kamu. Trus kamu ikut aku ke acara tunangannya temanku."


Crystal diam.


Tristan juga diam.


"Gimana?" Tristan menghirup napas dalam-dalam, menenangkan jantungnya yang mendadak berdebar.


"Eh... , iya. Oke." Crystal menelan ludah, gugup.


YES!


Tristan ingin meloncat karena lega dan senang. Hatinya terasa plong saat mendengar Crystal berkata iya. Senyumnya pun melebar.


"Eh, udah dulu ya. Aku ada meeting. See you soon, Sayang." Tristan menyudahi percakapan canggung dan mendebarkan hatinya.


Crystal memandang bingung ponselnya, lebih bingung lagi dengan perasaannya yang mendadak tak menentu hanya karena sebuah ajakan ke pesta pertunangan.


"Nona."


"YA?" pekik Crystal kaget.


"Ya ampun, lagi ngelamun apa tho Non? Kok sampe kaget gitu." Suster Anna memegang dadanya, kaget mendengar pekikan Crystal.


Crystal menggaruk kepalanya, mukanya semburat warna merah. Rasanya seperti tertangkap basah sedang mikirin pacar.


Eh? Pacar? Crystal menoyor kepalanya sendiri karena sudah berpikir yang bukan-bukan.


"Ada apa tho Non?" Suster Anna geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anak yang sudah diasuhnya sejak kecil.


Crystal meringis.


"Itu lho Non, ada dress dari Tuan. Disuruh pakai ini, katanya limited edition gitu." kata Suster Anna lagi.


Crystal melirik kotak-kotak berisi dress, aksesories, tas dan sepatu dari salah satu butik langganan mereka. Dan sesuai omongan Tristan, tak lama MUA datang untuk make over dirinya.


Dress pilihan Tristan sungguh manis, membuat Crystal tampak anggun tapi tetap terlihat muda. Simple dan berkelas.


Crystal benar-benar berubah, rambut sudah di hair spa dan di blow. Wajahnya di make up flawless. Terakhir Crystal menyemprotkan parfum mahal favoritenya. Cantik dan harum. Oke! Let's go to the party.


Tristan sudah menunggu dibawah, dengan mengenakan jas semi formal dan rambutnya pun sudah tertata rapi. Berkali-kali dia melirik jam tangannya, menghitung detik demi detik dengan gelisah.


Suster Anna menawarkan untuk melihat Crystal yang sedang didandani dikamar, tapi Tristan menolak. Dia ingin mendapatkan surprise dengan melihat Crystal saat sudah benar-benar selesai make over.


Tuk tuk tuk


Suara heels mendekat. Dengan gerakan slow motion, Tristan menengok.


GOSH!


Tristan tercekat, matanya tak berkedip. She is awesome!


Crystal melihat Tristan yang sudah menunggunya, dia menghampiri dan tersenyum.


"Gimana? Cantik kan?" Crystal mengedipkan mata dan memutar tubuhnya di depan Tristan.


Beberapa detik, Tristan terpaku. Otaknya yang cerdas mendadak tak bisa berpikir, lidahnya kelu.


"Kak! Kak Tristan!" Crystal melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Tristan.


"Woiii!! Are you okay?"


"EH!" Tristan tersentak.


"Hai!" sapa Tristan akhirnya.


Astaga! Sungguh memalukan seorang Tristan Harrison gugup dihadapan seorang gadis remaja. Tingkahnya tak beda jauh dengan remaja pria yang malu-malu saat pertama kali kencan.


"Apa dandanku berlebihan?" Crystal mengangkat alisnya, lalu menunduk melihat ke dress yang dipakainya.


"No! You're pretty." Tristan menggeleng.


"Of course." Tristan menyodorkan lengannya, dan Crystal menyambutnya.


"Once you hold my hands, you stole my heart." gumam Tristan saat Crystal mulai menggandeng tangannya.


BLUSH!


Wajah Crystal memerah.


***


"Kak!" bisik Crystal.


Tristan menunduk untuk mendengarkan suara Crystal diantara riuhnya suara musik dan pembawa acara.


"Ini acaranya siapa?"


"Oh, Ronald. Kamu ingat dia kan?"


"Kak Ronald yang suka isengin aku itu kan?" tanya Crystal. Ya. Crystal pernah bertemu Ronald saat dia datang ke rumah.


"Bukannya ini pesta pertunangan?" tanya Crystal lagi.


"Yup. Ronald tunangan, dan akhir tahun ini bakal nikah di Singapore."


"Kok cepat sekali nikah?"


Tristan tersenyum simpul, "Mau gimana lagi? He's thirty already."


Mendengar kata thirty, Crystal seperti diingatkan kalau Tristan juga sudah thirty. Apakah itu artinya Tristan juga akan segera bertunangan? Mendadak saja bayangan Bianca muncul di kepala Crystal. Tidak! Tidak! Crystal tak mau membayangkan Tristan bertunangan dan menikah. Lebih baik dia fokus ke acara.


"Minum?" Tristan menyodorkan sebuah gelas berisi minuman.


Crystal membelalakkan mata, mengira Tristan menyodorkan minuman beralkohol.


"Ini aman, kamu nggak bakal mabuk."


Crystal mengangguk, dan ternyata dia haus. Minuman itu habis dalam sekejap. Tristan tertawa.


"Yuk, kita makan." Tristan membawa Crystal ke sebuah meja yang bertuliskan VVIP. Dia menarik kursi untuk Crystal.


"Tristan!" Sebuah suara menyapa.


"Mr. Robert." balas Tristan akrab, mereka berjabat tangan.


"Kamu makin ganteng aja, Man. Gimana kerjaan? Lancar?" Mr. Robert menepuk-nepuk bahu Tristan.


"So far so good." Tristan terkekeh.


"By the way, datang sama siapa? Udah nggak single lagi?" Mr. Robert bertanya dengan mata mengerling nakal kearah Crystal.


"Eh, ini... "


Ugh! Kali ini Tristan benar-benar tidak ingin mengenalkan Crystal sebagai adiknya. Crystal memang hanya muncul sesekali di acara tertentu, itu pun hanya sebentar karena Tristan melarang Crystal tidur terlalu malam. Over protective!


"Crystal." panggil Tristan kemudian.


Crystal menoleh kaget, dia sedang mengamati artis-artis yang datang ke pesta itu. Siapa tahu ada artis favoritnya dan nanti dia akan mencari kesempatan untuk berfoto dan meminta tanda tangan.


"Come, please."


Crystal bangkit dan berjalan menghampiri Tristan dan Mr. Robert.


"Ini Crystal, Mr. Robert." Tristan dengan bangga memperkenalkan.


"Wow! Cantik sekali." Mr. Robert tangannya terulur pada Crystal. Lelaki itu mengamati Crystal dari atas ke bawah.


"Thank you." Crystal tersenyum canggung sambil menyalami Mr. Robert.


"Ini Mr. Robert, Sayang. Dia salah satu pengusaha batu bara." Tristan mengambil dua buah gelas dari pelayan dan menyodorkan pada Mr Robert supaya lelaki itu melepaskan tangan Crystal.


"Silahkan minumnya, Pak." Tristan mengangguk, kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Crystal, posesif.


"She is my special one, Mr. Robert." Tristan tersenyum penuh arti.


Hah? Apa maksud Kak Tristan? Crystal tak bisa menyembunyikan ekspresinya. Tristan melirik dan mengedipkan mata sambil tersenyum.


Wow! He is so charming!


Panah si cupid meluncur dan menancap tepat di hatinya.


Crystal terpana, dan pipinya kembali merona.


Bersambung ya....


Sorry, rencana mau double up tapi gagal nih karena keasyikan bikin cover.



Proudly, represent this new cover! 😍😍


Thank you for the time to read my novel. 🙏