I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 47 -- Tak Tergantikan



Tristan masih terus tertawa saat Crystal berjalan sambil menghentak-hentakkan kaki ke kursi di dekat jendela kamarnya. Dia kesal sekesal-kesalnya. Padahal tadi dia sedang sedih dan serius, eh malah dikerjain.


Crystal lupa kalau dia yang memulai memukul, Tristan hanya membela diri dengan memancing belas kasihan Crystal, pura-pura pingsan.


"Oke, oke. Aku minta maaf." Tristan mengangkat tangan menyerah, sambil mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya.


"Let's talk. Apa maumu, hm?" Kali ini Tristan nampak serius. Dia berlutut di hadapan Crystal yang sedang duduk.


"Ya kalau aku keluar negeri, nanti jadi masalah besar buat kita kan?"


Tristan menatap lembut.


"Masalahnya apa? Kan cuma sekolah kan? Sekolah artinya melanjutkan pendidikan supaya kamu menjadi wanita yang hebat. Itu kan bukan untuk selamanya. It's temporary."


Crystal tertegun. Benar juga...


"Tapi nggak segampang itu, Kak. Aku nggak biasa tanpa Kak Tristan untuk waktu yang lama." Keluh Crystal, matanya mulai berkaca-kaca.


"Kita bisa chat, video call, email, atau apa pun yang kamu mau. Kita hidup di jaman modern sekarang." Tristan menyelipkan rambut Crystal ke belakang telinga.


Crystal menghela napas, perasaannya terasa berat. Dia merasa tak rela berpisah dengan Tristan.


Sebetulnya sama, Tristan juga tak rela berpisah dengan Crystal. Apa boleh buat, dia lebih dewasa maka dia yang akan mengambil alih semua resiko. Lagipula, itu adalah syarat supaya mendapatkan restu dari Papa dan Mamanya.


"Keluar dari Harrison untuk bersama Crystal katamu?"


Tuan Harrison mendengus kesal. Tristan yang biasanya tak mengenal perasaan dalam berbisnis, kini menjadi lemah hanya karena seorang gadis ingusan. Tuan Harrison benci terhadap orang-orang yang mengambil keputusan hanya berdasarkan perasaan dan tanpa logika.


"Tidak ada orang yang benar-benar menyukaimu, mereka menghormatimu karena nama belakangmu. Apa pun yang kamu lakukan akan menjadi omongan orang. Siapa pun yang menjadi kekasihmu akan menjadi target. Tidak diancam dan dikuntit lawan bisnis saja sudah sangat bagus. Dengan keluar dari Harrison, apa kamu punya kekuatan untuk melindunginya?


"Hari ini hanya teror di medsos. Kamu tinggal menjentikkan jarimu, semua beres. Karena kamu adalah Tristan Harrison! Pernah kamu pikirkan bagaimana kalau masa lalu Crystal diulik-ulik. Sepupumu, saudaramu, mereka semua adalah orang-orang yang pertama kali akan menjegalmu. Mereka menunggu skandalmu. Paham sampai disini?"


Tristan mengerjap kaget. Dia terhenyak dan jatuh terduduk di lantai, lututnya lemas. Dia benar-benar lupa akan kenyataan itu. Bukan hanya saudara, pesaing bisnis yang pernah dijatuhkannya pun banyak. Bisa saja kelak mereka akan mengancam nyawa Crystal karena dendam."


Tristan meremas lututnya, "Tapi aku tidak bisa dan juga tidak mau dengan wanita lain..." Suara Tristan sedikit bergetar, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang kelak terjadi.


"Di saat kalian tak pernah ada untukku. Dia... , satu-satunya temanku selama ini." Lanjut Tristan lagi.


Tuan Harrison melotot, "BODOH! Jadi kamu pikir, kamu tidak bisa hidup tanpa dia?"


Dan, Tristan menjawabnya dengan tatapan memohon.


"Oh! S-- H-- IT!" Geram Tuan Harrison sambil mengepalkan tangannya.


Pandangan Tuan Harrison bersiborok dengan Ben yang berdiri tak jauh dari mereka, menjadi saksi percakapan antara Ayah dan Anak ini.


Ben menatap Tuan Harrison dengan tatapan yang sama, tatapan memohon. Kemudian dia mengangguk pada Tuannya, memintanya untuk mendukung Tristan.


Tuan Harrison memijit pangkal hidungnya, tangan satunya berkacak pinggang. Cinta memang gila. Kalau sudah begini, apa yang harus dia lakukan? Tristan adalah ujung tombak Harrison, motor dalam perusahaannya.


Apakah mungkin dia melepas Tristan hanya demi gengsi istrinya yang menginginkan calon menantu yang hebat dan bermartabat?


Selain itu dia sendiri juga menyadari, kalau hingga hari ini dirinya terus menjalani pernikahan yang monoton hanya demi sebuah kerja sama bisnis yang dilakukan orang tuanya kala itu.


Tuan Harrison menarik napasnya, dia menyentuh bahu Tristan.


Di mata Tuan Harrison, Tristan seperti seorang anak yang akan kehilangan miliknya yang berharga.


Tristan mengangguk dan perlahan berdiri, "Dari kecil, hari-hariku penuh dengan tekanan. Hanya bersama Crystal, aku bisa merasa lepas dan bahagia."


Tuan Harrison mengangguk paham. Dia dulu juga pernah mengalami situasi yang sama, hanya saja dia tak punya cukup keberanian untuk memohon kepada orang tuanya seperti yang dilakukan oleh Tristan.


"Baiklah. Kalau itu maumu."


Tristan tersenyum dalam hati. Sebenarnya saat dia mengutarakan akan keluar dari Harrison, saat itu pula dia sudah tahu kalau untuk kali ini pun dia akan menang. Papanya tak punya bargaining power atas dirinya. Selama ini dia sudah menunjukkan kualitas dirinya, tak akan ada seorang pun yang bisa menggantikan dirinya.


He is irreplaceable.


(Dia tak tergantikan.)


Jika Papanya tetap bersikeras menentangnya dan Crystal, maka Harrison akan kehilangan dirinya. Efeknya lebih besar dari pada lepasnya kerja sama dengan Hartono Group. Bahkan segala kerugian akibat lepasnya kerja sama Harrison, akan sanggup ditanganinya dengan baik.


"Papa akan menyetujui kalian, dengan syarat..."


"Siap, Papa." jawabnya cepat.


Syarat apa pun itu, Tristan yakin akan bisa melewatinya.


"Jadi Kak Tristan nggak apa-apa aku sekolah di luar negeri?" Tanya Crystal pada Tristan dengan suara yang terdengar sedih.


"Kalau untuk masa depanmu, kenapa tidak?" Tristan menangkup kedua tangan Crystal dengan tangannya yang besar.


Crystal langsung menatap mata Tristan dengan pandangan membunuh.


"Jadi Kak Tristan nggak masalah kalau nggak ada aku?" tanyanya tak percaya.


Oh, sebenarnya sangat bermasalah. Aku pasti sangat merindukanmu. Tapi inilah harga yang harus dibayar supaya aku bisa menikahimu kelak.


"Sekarang jarak bukanlah masalah, Sayang. Kita masih bisa bicara seperti ini meskipun berada di negara yang berbeda. Aku juga bisa sering-sering mengunjungimu kalau kamu mau." Lagi-lagi jawaban yang keluar dari mulut Tristan berbeda dengan kata hatinya.


"Trus apa Kak Tristan bakal pacaran sama Bianca?"


Hm, Bianca lagi.


"Ooo... jelas nggak mungkin! Aku sudah nolak dia. Case closed soal Bianca." Tristan berkata dengan bangga.


"Trus gimana kalau ternyata aku yang jatuh cinta sama cowok lain? Andaikata ada yang lebih muda dan cakep dari Kak Tristan, gimana? Apa Kak Tristan nggak apa-apa kalau mereka semua suka sama aku?" Crystal menatap dengan sorot mata menantang, mencoba memancing rasa cemburu Tristan.


Tristan diam dan menatap Crystal yang tengah menunggu jawabannya.


"Boleh." Jawab Tristan dengan tenang.


"Kak Tristan!" Crystal memukul lengan Tristan keras-keras saking kesalnya.


"Ouch!"


"AKU BENCI KAK TRISTAN!" Pekik Crystal kesal sambil mendorong Tristan supaya menyingkir dari hadapannya.


Bersambung ya...