
A nice morning french kiss woke Crystal up from her sleep.
(Sebuah french kiss yang telah membangunkan Crystal dari tidurnya.)
Crystal kembali memejamkan matanya, menikmati kecupan demi kecupan. Meningkatnya hormon progresteron dan estrogen yang cukup drastis pada ibu hamil, membuatnya lebih berga--irah terhadap setiap sentuhan suaminya.
Pelukan Tristan adalah tempat ternyaman baginya. Dia merasakan basah dibawah sana.
"Do you know? A beautiful morning is when you love me this morning." bisiknya menggoda.
(Kamu tau? Pagi yang indah itu ketika kamu mencintaiku.)
"Is it okay?" tanya Tristan kuatir. Usia kehamilan Crystal sudah menginjak bulan ke delapan.
Crystal mengangguk.
"Dokter bilang boleh asal do it gently."
Begitu mendapat excuse dari istrinya, Tristan dengan bersemangat mel-u--cuti apa pun yang menempel di tubuh istrinya.
"Already wet, huh?" tanya Tristan takjub.
Crystal memalingkan wajah, sambil menunggu agresi dari sang suami. Namun Tristan malah terdiam di tempatnya, dengan tatapan bingung.
"What's up?" tanya Crystal.
"Apa kamu pee?" tanya Tristan heran.
"Pee? Nggaklah? Enak saja!" seru Crystal. Dan saat itu juga dia merasakan ada sesuatu yang basah keluar dari tubuhnya.
"What? What's this?" pekik Crystal panik.
Tristan menarik napas dan menghembuskannya perlahan supaya tidak terbawa kepanikan Crystal.
"Air ketuban.... ?"
Tristan mengucapkan dengan nada tak jelas, antara bertanya dan memberitahu.
"Ha?"
"Sepertinya iya, Sayang. Itu air ketuban."
"Hah?!"
Seketika wajah keduanya memucat, mereka berpandangan dengan mata terbelalak lebar. Bahkan wajah Tristan terlihat memucat.
Kemudian Tristan bergegas mengenakan pakaiannya, mengambil ponsel dan menelepon dokter kandungan.
Sementara Crystal kebingungan, dia tak berani bergerak karena takut. Tapi dia juga belum memakai apa pun. Astaga!
"My clothes, please." pinta Crystal memelas.
Bukannya memakaikan baju, Tristan malah menutupi tubuh Crystal dengan selimut. Dan masih terus menelepon.
Crystal mendengus kesal. Dasar suami tak bertanggung jawab!
Selesai menelepon, Tristan memandangi Crystal. "Kata Dokter kita harus ke rumah sakit."
"Iya, aku tau kalau itu. Sekarang mana bajuku?" seru Crystal emosi.
"O'ya."
Tristan berjalan mondar mandir mengumpulkan pakaian Crystal dan memasukkannya ke dalam tas untuk dibawa ke rumah sakit. Kemudian dia juga menyusun beberapa barang yang mungkin diperlukan.
Begitulah Tristan, berjalan mondar mandir seperti kehilangan arah. Tangannya sibuk memegang ini itu tanpa tujuan apa pun.
"Stop it! Harusnya aku yang panik karena aku yang akan melahirkan satu bulan lebih cepat. Dan aku belum siap!!!! Belum siap!" teriaknya sambil menangis.
Mendengar tangisan Crystal, Tristan menatap istrinya dengan pandangan bersalah.
"Hhh... panggil Suster Anna sama Pak Supri. Kak Tristan bikin pusing aja. GO!" usir Crystal.
O'ya, Suster Anna!
Seketika wajah Tristan nampak cerah, seolah menemukan sebuah solusi terhebat di dunia. Dia langsung berlari menuju pintu kamar.
"MY CLOTHES! Selangkah saja Kak Tristan meninggalkan aku dalam kondisi begini, kita END!" ancam Crystal.
Tristan menghentikan gerakannnya, dia menoleh ke istrinya yang masih polos. Wajah Crystal memerah saking kesalnya pada Tristan.
"All right. All right. Aku pakaikan baju kamu dulu." ucap Tristan dengan gugup. Crystal memutar bola matanya, entah kenapa suaminya mendadak tak bisa diandalkan.
Dengan gerakan terburu - buru, Tristan memakaikan Crystal baju seadanya. Setelah hampir selesai, Tristan langsung berteriak.
"SUUUSSSSSS!!!"
BUK!
Crystal melempar bantal ke wajah suaminya, matanya melotot. Tangannya menunjuk ke intercom di dekat tempat tidur mereka. Sudah tau kamar mereka soundproof, pakai acara teriak - teriak segala.
Astaga! Tristan menepuk jidat dan segera memanggik Suster Anna lewat intercom.
"Sekarang gendong aku ke lift dan kita ke rumah sakit. Minta tolong suster Anna bawain barang - barangku yang sudah disiapkan di wardrobe."
"Lho? Jadi Mommy's and baby's stuff udah ready semua ya? Ngapain aku tadi buru - buru siapin?"
"Hm-hm." Crystal menggangguk sambil memandang sebal kearah Tristan yang dari tadi panik.
***
Mobil mewah meluncur mulus ke depan pintu IGD. Belum juga mobil itu berhenti sempurna, pintu belakang sudah terbuka dan seorang laki - laki berteriak.
"DOKTER! SAYA PERLU DOKTER!"
Didalam mobil Crystal memejamkan matanya, perutnya mulai mulas. Tapi rasa malu lebih besar dari rasa sakitnnya.
"Sus, boleh nggak aku cekik Kak Tristan?" dengusnya sambil menahan sakit.
"Ya udah toh, Non. Mau gimana lagi. Namanya pertama kali mau punya anak." jawab Suster Anna dengan sabar.
"Tapi nggak perlu teriak - teriak kan, Sus?" protes Crystal.
Suster Anna hanya tersenyum sambil mengelus kepala Crystal dan menyeka keringat di dahinya.
Sementara diluar,
"DOKTER! Istri saya mau melahirkan." seru Tristan panik. Hampir saja dia mengambil brankar dan mendorongnya sendiri.
Beberapa perawat menghampiri dan membantu Crystal untuk pindah ke brankar. Mereka membawa Crystal ke ruang observasi.
"Ada apa?" tanya seorang dokter perempuan yang datang menghampiri.
"Tuan, tolong tunggu diluar sebentar ya."
Dokter mempersilahkan Tristan keluar dan menutup pintu, membuat Tristan merasa semakin tak berdaya.
"Tuan Tristan... " sapa Suster Anna lembut.
Panggilan suster Anna mengembalikan kesadarannya. "Iya, Sus?"
"Pakai ini dulu ya, Tuan."
Tristan melihat sepasang sandal jepit yang disodorkan suster Anna.
"Di mobil cuma ada ini, Tuan. Cadangan punya Pak Supri."
Tristan menunduk dan baru menyadari kalau dia bertelanjang kaki. Suster Anna memandangnya sambil tersenyum penuh maklum terhadap kepanikan calon ayah dihadapannya.