I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 80 -- Let's See The Sunrise



"Memang apa bedanya sunrise disini dengan di tempat lain?" tanya Crystal untuk menutupi rasa canggungnya.


"Makan dulu sandwich-mu." Tristan menyodorkan sandwich yang diletakkan begitu saja di bangku oleh Crystal.


Crystal tersenyum dan berpindah duduk ke sebelah Tristan di tanah. Tangannya menyodorkan sandwich ke mulut Tristan dan langsung dilahap oleh pria tampan itu.


"Kenapa nggak duduk di kursi?" tanya Tristan setelah menghabiskan sandwich-nya.


"I want to lean on you." jawab Crystal sambil tersenyum dan mengerling manja.


(Aku mau bersandar padamu.)


Tristan tersenyum, dia merubah posisi tangannya dan merangkul tubuh istrinya sambil menunggu dan menatap ke arah matahari terbit.


"Nanti kamu akan melihatnya sendiri. So beautiful. Aku sangat menyukainya apalagi kalau melihat bersama orang yang kita cinta." kata Tristan.


Crystal diam saja memakan sandwich dan menyeruput minumannya. Dia sedikit menggeser duduknya menjauh dari Tristan, melepaskan rangkulannya.


"What's up?" Tristan mengernyitkan keningnya.


"Memangnya Kak Tristan pernah kesini sama siapa selain sama aku?" protes Crystal kesal.


Ha? Tristan melongo.


"Aku nanya, Kak Tristan pernah lihat sunrise sama siapa?" ulang Crystal lagi.


"Nobody." jawab Tristan, wajahnya nampak berpikir. "Ooo... jadi kamu pikir aku pernah kesini dengan wanita lain?" tanyanya sambil terbahak.


Crystal berdecak dan memandangnya kesal. "Tadi kan bilang kalau suka banget apalagi ngeliat sama orang yang dicinta. Berarti Kak Tristan sudah pernah kesini kan?" tuduhnya berapi - api.


Tristan semakin tertawa sambil menggeleng - gelengkan kepalanya. Dia gemas melihat wajah Crystal yang cemberut, ingin rasanya mencium wanita itu. Tapi tentu saja dia menahan diri untuk tak melakukannya di tempat ini.


"Sebelum memilih tempat ini, aku melihatnya di internet, sayang. As you know, aku nggak pernah liburan selain sama kamu. Selama ini, your holiday is my holiday." jawab Tristan sambil menahan geli.


(Seperti yang kamu tau. Liburanmu itu ya liburanku.)


'Hei, hei... The sunrise begin!'


Crystal menghentikan acara debatnya, karena Tristan memberinya kode untuk melihat kearah matahari akan terbit.


"Come."


Tristan menggeser tubuh Crystal untuk duduk di tengah - tengah diantara kedua kakinya.


Wanita itu menurut sehingga posisinya Crystal ada di depan Tristan. Kemudian Tristan melipat kaki kanannya untuk sandaran tangannya supaya bisa memegang tangan Crystal saat dia bersandar di dada Tristan.


"Kamu tau? Kenapa aku mengajakmu kesini?"


"Mau lihat sunrise kan?" Crystal balik bertanya, sambil mendongak ke arah Tristan. Tapi Tristan menyuruhnya kembali melihat ke langit yang mulai semburat kuning keemasan.


"Hu-um. Tapi bukan cuma sunrise-nya yang aku maksud. I wanna show you something."


(Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.)


"Apa itu?" tanya Crystal. Matanya menatap kejauhan dan kepalanya menyandar di dada Tristan.


"Menurutmu, bagaimana warna langit sebelum sunrise?"


"Gelap? Tak berwarna?"


"Yup. I want you remember this moment forever. Waktu - waktu dimana kita bersama, saat kamu merindukanku, waktu dimana kamu ragu padaku, atau one day when death do us apart."


"Kenapa ngomong kaya gitu?"


"Listen to me. Masa kecilku, aku lalui dengan kesepian, belajar dan belajar. Setiap pertemuan yang aku hadiri bertujuan untuk bisnis. Berteman hanya untuk menjalin kerja sama. Bahkan makan malam dengan orang tua pun hanya sebagai sarana untuk mengetahui sejauh mana kemampuanku hari itu. Bagiku, aku hanya punya diriku sendiri. Tak pernah mencintai dan tak pula merindukan siapa pun. Masa kecilku berlalu tanpa memory yang indah. Hingga suatu hari, Papa mengijinkanku untuk mengambilmu. Sejak hari hidupku jadi berwarna dan bersinar. Aku merasakan cemas saat kamu sakit. Bandel dan keras kepalamu membuatku rindu. Keisenganmu membuat penatku menghilang. Aku juga jadi banyak tertawa. Saat bersamamu, aku tak perlu lagi memasang topeng dingin dan acuh tak acuh. I found my self. You're my sunshine, Crystal."


(Aku menemukan diriku sendiri. Kamu adalah matahariku.)


"Kak Tristan... "


Tristan mencium pucuk kepala Crystal. "A minute. I haven't finished yet."


(Sebentar. Aku belum selesai.)


(Kamu tau nggak kenapa table mountain sangat special?)


Crystal menggelengkan kepalanya.


"Karena dia berada di Cape Town. Kamu ingat cerita Bartolomeus Dias?" tanya Tristan lagi.


"Hmmm... kalau nggak salah, Bartolomeus Dias terkena badai dan dia menitipkan harapannya untuk menemukan rempah - rempah di sebuah tempat bernama Tanjung Harapan."


"Yes. Kota ini adalah Cape Town. Tanjung Harapan yang kamu sebut tadi."


"So?"


"Hari ini, di tempat ini, aku juga menitipkan harapanku untuk kita. Tempat yang pertama kita datangi setelah officially husband and wife." Tristan berhenti sejenak.


"Disini aku akan mengucapkan semua harapanku kepadamu. I want you to be our sunshine, for me and our future kids. Hangat menyinari hati kami, bercahaya menerangi hidup kami. Jangan biarkan kami, terutama anak - anakmu merasa kesepian dan tak bercahaya seperti aku dulu."


Jangan tanya bagaimana hati Crystal, yang jelas meleleh seperti ice. Bahagia bercampur haru, sampai - sampai rasanya ingin menangis.


"Kenapa Kak Tristan romantis sekali?" Crystal membalikkan badan ke belakang lalu menatap wajah Tristan sambil tersenyum manis.


"Ehm... aku hanya ingin mengucapkannya di tempat yang berkesan so that you never forget what I said."


(sehingga kamu nggak pernah lupa apa yang aku katakan.)


Tristan berusaha mengucapkannya setenang mungkin. Melihat Crystal yang begitu cantik menatapnya dengan penuh perasaan, membuatnya kewalahan mengatasi detak jantungnya sendiri.


Kemudian Crystal memegang wajah Tristan dengan jari - jari tangannya, menatap Tristan dalam - dalam dengan sorot mata memuja.


"Ada apa?" tanya Tristan bingung dengan sikap Crystal.


"Aku nggak tau harus ngomong apa. But thank you for the chance to let me be here with you. Aku nggak akan pernah lupa sama hari ini."


(Makasih buat kesempatan untuk bersamamu.)


Oh, ya ampun. Sorot mata Crystal semakin mengganggunya, Tristan benar - benar ingin memeluk dan mencium wanita kesayangannya itu.


CUP


'Wow' tak menunggu lama keinginannya langsung terkabul.


Tristan membelalak, dia tak menyangka Crystal begitu berani mencium bibirnya di depan umum seperti ini.


G- O- S- H!


Sekarang wanita itu malah tersipu malu, wajahnya kemerahan. Membuat perasaan Tristan semakin tak karuan.


"Kau sengaja menggodaku, hm? Aku akan membalasmu ---." bisik Tristan.


CUP


Bukan Crystal namanya kalau takut pada ancaman Tristan. Tanpa menunggu Tristan menyelesaikan kalimatnya, Crystal kembali mengecup bibir suaminya.


Tristan can't hold it any more. Dia langsung melahap bibir istrinya, merasakan manis dan menikmati kehangatan serta kelembutan bibir Crystal.


(Tristan tak tahan lagi.)


Sudahlah! Lupakan para hikers dibelakang mereka, biarkan sunrise berlalu. Dan Tanjung Harapan akan menjadi saksi cinta mereka yang menggebu.


Bersambung ya....


Note:


Rencana mau finish waktu wedding Tristan -Crystal, tapi masih ada satu masalah belum selesai. Selain itu, ada challenge dari Noveltoon untuk menulis 20rb kata untuk karya berjudul I Love You, Sis!


Let's go with the next chapter ya, Friends. 😊


Semoga masih enjoy dengan ceritanya.


Please like and vote-nya supaya author makin semangat berkarya.


Thanks before.