
"Lah, kita nggak holiday dong?" tanya Crystal kecewa.
"Holiday sambil kerja, Sayang." Tristan tersenyum.
"Pulau ini kan ada di kontrak kerja kita yang baru, Sayang. Memangnya nggak baca?" Dia menoleh pada Crystal dan mengedipkan sebelah mata.
"Aku nggak pernah tahu, kan Karin yang aturin semuanya." jawab Crystal sambil melengos. Pipinya memerah karena malu, mendadak saja merasa tak becus dalam pekerjaannya. Bisa - bisanya dia tak tahu apa isi kontraknya, selama ini dia hanya fokus kuliah dan design. Tak pernah mau pusing dengan kontrak kerja dan pemasaran.
"Haha... nggak apa, Sayang. Itu gunanya Karin dan aku. We're ready to serve you." Tristan menaik turunkan alisnya.
(Kami siap melayanimu.)
Perjalanan dari Hangar menuju ke sebuah tempat hanya memakan waktu sepuluh menit. Jeep yang dikendarai David berhenti di depan sebuah jalan setapak. Dia melompat turun dan membukakan pintu untuk para penumpang.
Satu per satu penumpang turun. Kali ini mata mereka dimanjakan dengan banyaknya pepohonan rindang yang melindungi mereka dari terik matahari. Udara disini terasa berbeda dengan di kota, terasa lebih bersih, lebih segar, lebih... murni.
Crystal menarik napas dalam - dalam, memasukkan udara sebanyak mungkin ke dalam paru - parunya, menghirup udara yang sudah pasti bebas polusi.
David memimpin jalan melalui jalan setapak yang asri. Karina menggandeng Suster Anna mengikuti rombongan dari belakang.
"Hati - hati jalannya, Sayang." Tristan mengulurkan tangannya.
Crystal meraih tangan Tristan dan menggenggamnya erat, dia berjalan sambil mengayun - ayunkan tangan Tristan.
"Tapi aku bisa main ke pantai kan?"
"Hm-hm." Tristan mengangguk.
"Jadi kerja sambil main kan?"
"Yup."
"Kak Tristan nggak boleh larang - larang aku kalau lagi main. Janji?"
"Iya, sayang. Iya."
"Aku mau berenang di laut."
"Boleh."
"Main pasir di pantai?"
"Ok. Just take your time."
"How about sunbathing?"
"It's up to you. Kalau mau tidur dekat pantai juga bisa."
"He?"
"Ya kalau kamu mau, kita bisa pilih cottage yang ada di depan pantai. Tapi ukurannya lebih kecil dari villa yang akan kita tinggali."
"Oh, kirain... " Crystal cekikikan sendiri, membayangkan dirinya tidur di tepi pantai. "Tapi apa boleh pindah - pindah?" tanya Crystal lagi.
"Boleh dong. Pulaunya kan milik Tristan." sela David sambil terbahak.
Diam - diam dia menguping pembicaraan pasangan yang menggemaskan itu. Crystal yang kekanak - kanakan dan Tristan yang luar biasa sabar meladeni setiap pertanyaan Crystal.
"O'ya?"
"Tanya aja kalau nggak percaya." kata David, jempolnya menunjuk ke arah Tristan.
"Hmmm... Kak Tristan ini duitnya kaya Paman Gober ya? Kok bisa beli pulau?"
Tristan, Suster Anna dan Karina ikut tertawa mendengar pertanyaan - pertanyaan polos Crystal. Usianya yang sudah dua puluh dua tahun tidak juga membuatnya lebih dewasa.
"Di Indo kan kita nggak bisa beli pulau, Sayang. Tapi kita bisa membeli hak untuk mengelolanya, dengan tujuan bisnis. Proyek ini bakal jadi resort. Sudah jalan lebih dari separoh." lanjut Tristan lagi. Dia menjelaskan sambil mengulum senyum.
"Here we go. Ini villa kita." kata Tristan, mempersilahkan rombongannya masuk ke dalam.
Mereka semua masuk ke dalam sebuah bangunan yang semua perabotannya terbuat dari kayu dan rotan, memberikan kesan natural. Crystal mengamati - amati sekelilingnya, bisa dibilang bangunan ini adalah bangunan utama di pulau kecil itu.
Rumah dua lantai yang berdiri di atas sebuah bukit kecil dengan fasilitas lengkap. Di kanan kiri terdapat pohon - pohon yang rimbun. Dan hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk berjalan ke pantai. Begitu masuk, ada ruang keluarga yang luas, menyatu dengan dapur dan ruang makan.
Crystal menghitung jumlah kamar yang ada disana, ada enam kamar dan tiga kamar pembantu. Semua kamar luas dan lengkap dengan kamar mandi bathtub, shower dan water heater. Yang terpenting adalah ada internet disana. Crystal masih masih bisa mengirim email ke beberapa customer langganannya.
Ada juga sebuah kamar kosong yang belum ada apa - apa di dalamnya, bahan lantainya juga terbuat dari kayu. Crystal mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan sambil bertanya - tanya dalam hati, untuk apa ruangan ini.
"Yang ini, sengaja aku kosongin. Aku mau kamu ubah interiornya supaya cocok dengan anak - anak." kata Tristan seolah bisa membaca pikiran Crystal.
Dia menghampiri Crystal yang berdiri menghadap jendela yang terbuka. Ada kebun yang rindang di balik jendela itu, dengan berbagai tanaman dan bunga kecil - kecil.
"What's for?" tanya Crystal.
"Buat anak - anak kita, Sayang."
BLUSH! Pipi Crystal semburat warna pink, tak menyangka Tristan akan menyebut - nyebut soal anak. Dia bahkan belum memikirkan akan menikah, baginya bersama Tristan kemana pun dan dimana pun itu sudah cukup.
Tristan melingkarkan lengannya di pinggang Crystal, memeluknya kemudian menunduk lalu mengecup lembut bahu Crystal.
"One day, we'll stay here with our kids." bisiknya.
(Suatu hari, kita akan tinggal disini bersama anak - anak kita.)
Jantung Crystal berdetak luar biasa cepat, dia tak bisa merespons apa pun.
"Aku nggak nyangka proyek Kak Tristan sehebat ini." kata Crystal, mengalihkan pembicaraan. Dia tak mau salah tingkah dihadapan Tristan.
"Proyek ini lumayan lancar dari pada yang sebelumnya karena aku dapat banyak investor dari luar negeri. Mereka tertarik pada konsep dan opportunity yang aku tawarkan lima tahun kedepan."
Crystal merebahkan kepalanya di dada Tristan.
"Tanpa nama Harrison, Kak Tristan nggak kesulitan?"
Tristan menghembuskan napas, matanya menerawang mengingat bagaimana dia jatuh bangun melalui hari - harinya empat tahun terakhir ini. "Setiap pekerjaan ada kesulitannya sendiri. Just try hard and never give up."
(Berusaha keras dan pantang menyerah.)
Kemudian Tristan mengecup kepala Crystal. "Proyek ini aku merintisnya sendiri dari nol, tanpa campur tangan Harrison. Beruntung Papa tak pernah menghalangiku."
Tristan membalikkan tubuh Crystal. Mereka berhadapan dan Tristan memandang lembut pada Crystal.
"Tapi yang membuatku bersyukur adalah interior dengan tema eco living milikmu yang sangat digandrungi oleh mereka. Itu mensupportku banyak. Apalagi, akhir - akhir ini lagi gencar - gencarnya kampanye save the earth untuk mengurangi global warming."
"Really?" Mata Crystal berbinar, merasa bahagia dan bangga bisa sedikit berguna untuk Tristan.
Tristan mengangguk dan tersenyum. "Proyek ini akan dipegang sebuah perusahaan baru."
"Apa namanya?"
"King and Queen Corp."
"O'ya?"
"King Construction and Queen Interior. That's how king and queen should be. They'll always walk together a whole life."
Tristan menunjukkan tatoo King-nya yang masih melekat. Mata Crystal berkaca - kaca, terharu.
King and queen will stay forever in each other life.
Bersambung ya....