I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 12 -- 10.000 Permohonan Maaf



"Dia bukan pacarku, Kak. Kami belum pacaran."


"Belum? Maksudmu?" Tristan memicingkan matanya. Dia tak suka setiap kali mengingat Sky mengelus rambut Crystalnya.


"Iyaaa... cuma temen, Kak."


"Kamu suka dia?"


Tangan Crystal mere- mas satu sama lain, dia tak berani menatap Tristan. Lebih tak berani lagi untuk menjawab pertanyaan Tristan.


"Jawab aku! Atau kamu nggak boleh nonton drakor dan baca novel lagi. Aku cabut netflix dan aplikasi novel online-mu! Trus bye bye uang saku."


Buru-buru Crystal menggelengkan kepalanya.


"Nggak, nggak.... Aku nggak suka dia kok!"


"Trus, ngapain aja kamu disana?" Mata Tristan menyelidik, mengamati tubuh Crystal dari bawah hingga keatas. Kuatir kalau-kalau ada sesuatu yang terlewat dari pandangannya.


Crystal sampai merinding.


"Kamu nggak diapa-apain sama cowok-cowok itu kan?" Tristan hanya ingin memastikan.


"Nggak kok. Aman, Kak. Tenang saja."


Sesaat ekspresi Tristan sedikit mengendur, lalu bertanya lagi.


"Kamu minum?"


Deg!


Pertanyaan yang paling mengerikan untuk Crystal.


"Di... kiiiiiit... dikiiiiit banget." suara Crystal terdengar mencicit.


"Minum apa saja?"


"Ngg... Nggak tau, Kak. Cuma dikasih sama Wenas. Rasanya nggak enak." Kali ini Crystal terdengar seperti mengeluh.


"CK! Aku nggak percaya kamu seceroboh ini. Crystal-ku itu good girl. She is very nice." Tristan menghembuskan napas. Tampak kekecewaan di sorot matanya.


Crystal kembali menunduk, merasa bersalah telah membuat Kakak yang sangat menyayanginya kecewa.


"Maaf, Kak... " lirih suara Crystal, menahan tangis.


"Ayo, ikut aku!" suara Tristan melembut. Dia merangkul Crystal dan mengajaknya ke ruang kerja.


Diruang kerja, Tristan mengeluarkan sebuah botol dari lemari kaca.


"Ini champange. Aku juga punya. Ngomong saja kalau kamu ingin mencobanya. Aku nggak ngelarang. Syaratnya cuma satu, mabuklah dirumah dan sendiri."


Tristan membuka tutup botol itu, dan menuangkannya ke sebuah gelas.


"Ayo kalau mau minum. Kali ini aku temani, kamu aman disini."


Crystal diam, tak tahu harus merespons apa. Sungguh dia kapok minum minuman yang diberikan oleh Wenas. Minum sedikit saja, tenggorokan tak enak dan kepala pusing. Untung saja Sky menemaninya.


"Kamu itu terlalu keren untuk bolos dan mabuk diluar sana. Aku sudah tahu siapa teman-temanmu. Ada diantara mereka yang memang playboy dan pemakai. Aku nggak menyalahkan mereka karena memang orang seperti kita kebanyakan dibesarkan dengan uang."


Crystal nampak shock.


"Tapi, aku mendidikmu untuk menjadi wanita berkelas, Sis. Bukan wanita sembarangan. Dan aku juga akan mencari tahu soal Sky."


Crystal menahan napas, perasaannya sungguh tak enak. Tristan mengatakan sambil menatapnya dalam-dalam, satu per satu masuk dan meresap di hatinya.


"Maafkan aku. Terpaksa aku harus menghukummu... Tulis 10.000 tulisan permohonan maaf menggunakan bahasa Mandarin. Tulis sesuai aksaranya, dengan goresan yang baik dan benar." Tristan menekankan kata baik dan benar.


"Ap... Apa?"


"Kenapa? Keberatan? Atau kamu lebih memilih menggunting rumput di taman dengan gunting kuku?" Tristan mengangkat satu alisnya.


"Aku nulis saja deh." Crystal pasrah.


"Good girl. I love you, Sis!" Tristan mengelus kepala Crystal dan mencium keningnya.


Dan, tiba-tiba saja hati Crystal berdebar kencang.


***


Malam ini, Crystal sibuk menulis permintaan maaf yang diperintahkan oleh Tristan. Waktu sudah menunjukkan tengah malam saat Tristan datang untuk mengecek gadis itu.


"Crystal." sapa Tristan.


Crystal sangat kesal karena dihukum sehingga dia tak mau menoleh, terus sibuk menulis dan fokus pada kertasnya. Tristan mengulum senyum melihat kelakuan Crystal. Dia mendekat.


Tristan pintar menyentuh hati Crystal, rasa bersalah menyelusup dihati Crystal.


"Yaaa... , aku minta maaf Kak."


"Anak pintar, kamu tau kalau aku nggak bisa marah lama-lama sama kamu?" Tristan terkekeh.


"Apaan nggak marah? Tanganku sampai pegal nulis banyak gini."


"Mana tangannya yang pegal?"


"Nih!" Crystal menyodorkan kedua tangannya kearah Tristan.


Tristan meraih jari-jari Crystal, lalu menggenggamnya lembut dan menciumnya.


"I love you, Sis!"


Dan lagi-lagi Crystal merasa darahnya berdesir, jantungnya jumpalitan tak karuan. Entah kenapa ucapan Tristan kali ini terasa berbeda dari sebelum-sebelumnya.


Astaga! Crystal tak sanggup menatap mata teduh Tristan. Rasanya seperti tersedot masuk ke dalam pusaran air yang kuat. Hanyut dan tak bisa melawan.


"Kak.... "


"Udahan dulu nulisnya, sekarang ini dulu." suara lembut Tristan mengembalikan kesadaran Crystal.


"WOHOOooo!!" Begitu melihat ice cream yang ada di tangan Tristan, Crystal bersorak dan langsung memeluk Tristan.


Hmmm... Alkohol? Crystal belum lupa bau itu. Tapi apakah mungkin Tristan minum? Selama ini Tristan benar-benar memperhatikan apapun yang masuk ke dalam tubuhnya.


"Aku tidur disini sebentar saja." Tristan tampak lelah, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur Crystal. Kepalanya terasa berat.


Setelah menghabiskan ice cream-nya, Crystal duduk di dekat Tristan yang sedang tertidur. Wajah itu makin lama makin tampak tirus tapi makin tampan. Diam-diam Crystal mengagumi Tristan yang maskulin, wajahnya tak kalah dengan oppa-oppa Korea yang digandrunginya.


"Aku mau Papa dan Mama hari ini." Crystal merengek sambil menangis pada Tristan di hari ulang tahunnya.


Tristan nampak berpikir sebentar.


"Baiklah! Tunggu disini sebentar." kata Tristan.


Tak lama, terdengar suara pintu diketuk.


"Crystal, Crystal, tutup matamu. Aku punya kejutan." teriak Tristan dibalik pintu.


Crystal menutup matanya, tiba-tiba pipinya terasa geli. Hampir saja dia berteriak.


"Surpise! Papa pulang." Tristan membesarkan suaranya, meniru nada suara orang dewasa. Crystal membuka mata.


Ha? Tristan memakai jas dan sepatu pantovel lengkap dengan kumis palsu menempel diatas bibirnya. Crystal membelalakkan matanya saat Tristan mencium pipinya kiri dan kanan.


"Tunggu. Aku panggil Mama juga untukmu."


Crystal melongo saat melihat Tristan datang lagi dengan mengenakan topi, kacamata hitam dan tas milik Mamanya.


Ya ampun!


"I love you, Sayang." Kali ini Tristan mencium kening Crystal sambil menirukan suara Mamanya.


Crystal terbahak, matanya bersinar.


"Kak Tristan lucu sekali." pekiknya gembira.


"Kamu lebih cantik kalau tertawa, Sis." kata Tristan sambil merentangkan tangannya lebar untuk menyambut Crystal yang menghambur kearahnya.


"Jangan menangis lagi. You have me all my life." Tristan menepuk-nepuk kepala Crystal dengan rasa sayang.


Mengingat kejadian saat itu, mendadak perasaan sayang membuncah di dada Crystal.


"I love you, Kak Tristan. Kakakku, sahabatku, temanku, pelindungku, Papaku, Mamaku, saudaraku.... " bisik Crystal sambil mencium pipi Tristan.


"I love you, Sis. I knew I Iove you from the first time I saw you. When you were a tiny baby."


Crystal menutup mulutnya dengan tangan, pipinya memerah, tak menyangka Tristan akan menjawabnya.


"You came to me as a special gift." lanjut Tristan.


"Memangnya aku barang?" Crystal cemberut.


Tristan membuka matanya, tangannya membelai rambut Crystal lalu bergumam, "The day I got you, you're mine Crystal. You came to my house, my heart and... my life."


Crystal tertegun, menatap mata laki-laki yang lebih tua 12 tahun darinya. Begitu tulus dan hangat tersampaikan hingga ke dalam hati Crystal sampai-sampai Crystal merasa dia bukan Tristan, Kakaknya.


Bersambung ya....