
"APA!?"
Teriakan Tristan terdengar sampai ke meja Santy yang berada tepat di luar pintu. Gadis itu terlonjak dan buru-buru mengecek apa yang sedang terjadi.
"Panggil David kesini! Dan atur ulang jadwalku!" perintah Tristan pada Santy.
Tristan berdiri dan mendekat ke Pak Supri yang sudah gemetaran. Dia menyipitkan mata dan berkata.
"Memangnya Crystal pergi sama siapa saja?"
"Nggak tau, Tuan. Tapi tadi menyebut Sekai, Sekai... gitu Tuan."
Tristan mencondongkan kepalanya, "Siapa Pak?"
"Itu Tuan, ngomongnya mau pergi sama Sekai. Gitu, Tuan."
"Hmmm.... " Tristan tak mengucapkan apa-apa, tangannya memberi kode pada Pak Supri untuk. meninggalkan ruangan.
"Ya ampun, Crystal. Ternyata mulai nakal tuh anak." keluh Tristan dalam hati. Otaknya berpikir keras, apa yang harus dilakukannya terhadap remaja badung ini.
Wait! Dengan siapa tadi? Sky? Tristan ingat Crystal pernah memanggil seorang remaja pria dengan sebutan Sky. Mereka terlihat sangat akrab waktu itu. Dadanya bergemuruh mengingat Sky. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan perasaan yang bergejolak seperti ingin meledak.
Tok... Tok...
Tristan melonjak kaget saat asisten sekaligus teman baiknya, David, masuk.
"Ada apa?" tanya David dengan santai.
"Crystal bolos."
"Hmmm... mungkin lagi pengen nongkrong sama temen-temen. Nggak apalah, namanya remaja mungkin lagi fase nakal-nakalnya."
Tristan melotot. Tristan tak terima kalau bolos sekolah dianggap wajar. Adiknya selama ini terkenal sebagai good girl sudah berani bolos.
"Pergi sama siapa?" tanya David.
"Pak Supri bilang sama Sky."
"Sky? Pacarnya Crystal ya?"
Pertanyaan David seperti menyadarkannya dari mimpi.
"Apa maksudmu?" Tristan bertanya dengan nada tak senang.
"Heiii, Bro... Anak seumur Crystal pacaran itu wajar." David menjentikkan jarinya.
"Apalagi adikmu itu cantik banget. Percaya deh, pasti cowok-cowok pada antre disekolah."
Tristan mendengus sebal, rasanya dia ingin menonjok wajah David yang tanpa dosa.
"Sekarang kamu cari dimana Crystal berada. Trus cari tahu semua nama teman-teman yang ngajarin dia jadi bandel begini." Tristan berhenti sejenak.
"O'ya, sama satu lagi. Cari tahu siapa Sky? Anaknya siapa sih dia itu?"
***
Di villa Wenas, jantung Crystal berdegup kencang. Ini pertama kalinya dia bolos sekolah. Dan hebatnya lagi, bolosnya benar-benar totalitas! Ke Bali.
Cristal sedikit terkejut, ternyata Cristine tidak cuma mengajak teman satu kelasnya, tapi juga teman-teman dari kelas lain.
"Hellloooo Crystal. Ayo minum!" ajak Wenas.
"No, thanks. Aku nggak minum." Crystal menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Dasar cupu!" cemooh Alice sambil tertawa meremehkan.
"Wen, Crystal belum pernah minum." Sky mencoba membela Crystal.
"Justru karena belum pernah, makanya belajar." Wenas tertawa keras-keras.
"Siapa yang belum pernah minum Beib?" Cristine mendekat sambil membawa gelas kosong, lalu menuangkan alkohol.
"Ayo, coba dikit. Sekali aja." bujuk Cristine.
"Kalau cuma sedikit, nggak bakal ngefek kok." Alice tersenyum.
"Jangan dihabisin, nti mabuk." bisik Sky.
Wenas, Kevin dan anak-anak lain tertawa terbahak-bahak. Sky melotot pada Kevin seakan hendak menelan hidup-hidup.
"Sorry, Bro. Just kidding." kata Kevin pada Sky, tapi matanya mengerling pada Crystal.
"Kita semua sudah mulai minum sejak SMA, dan aman kok. Yang penting tutup mulut rapat-rapat, dijamin aman. Pihak sekolah nggak bakal tahu."
Crystal menghembuskan napas dengan berat. Masalahnya bukan pihak sekolah, tapi kakaknya. Entah apa yang akan dilakukan Tristan kalau tahu dia minum alkohol. Sebandel apapun Crystal, Tristan tak akan marah asalkan tidak merusak diri sendiri. Dan yang dipegangnya sekarang adalah al-ko-hol. Astaga!
"Don't be naive!" kata salah seorang dari mereka mengompori.
"CRYSTAL! CRYSTAL!" Wenas berteriak menarik perhatian yang lain sehingga membuat semua berkerumun.
Crystal ragu-ragu, tapi semua orang terlanjur menatapnya. Dia menjadi pusat perhatian. Tantangan dan bujuk rayu terus menerus membuatnya tak kuasa menolak. Terpaksa Crystal meneguk cairan itu.
Ugh! Rasanya tak enak. Crystal mengernyitkan wajahnya sesaat setelah minuman itu masuk seteguk di lidahnya.
"More! More! More!" lagi-lagi ada yang mengompori.
Teman-temannya terus bersorak sambil bertepuk tangan. Crystal memejamkan matanya, kemudian meneguknya lagi sebanyak yang dia mampu.
"Stop it!" Sky menahan gelas itu, matanya memandang tajam kearah teman-temannya, mengisyaratkan untuk menghentikan permainan mereka.
"Nggak usah ditanggapi challenge mereka. Kamu sama aku aja, jangan jauh-jauh." bisik Sky.
Tenggorokan Crystal terasa aneh, dan beberapa menit kemudian kepalanya terasa ringan, melayang menuju Tristan. Crystal sadar akan mendapat hukuman setelah ini.
***
David berhasil mendapatkan informasi siapa saja siswa yang bolos sekolah hari ini, beserta nama orang tua dan data mereka lainnya.
"Ini nama villa tempat mereka menginap. Apa perlu aku temani kamu kesana?"
"Nggak perlu, aku kenal sama Ayahnya si Wenas. Kamu suruh Santy siapin helikopter, aku berangkat sekarang." Lalu Tristan mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Ayah Wenas.
"Anakmu bawa adikku, Bro. Kalau mau bisnis kita lancar, bilang ke anakmu jangan macam-macam sama adikku! Crystalin Harrison."
"Maaf, Bro. Aku bakal hukum anak kurang ajar itu."
"Aku nggak mau tau. Sekarang kasih aku akses masuk kesana! Aku mau jemput Crystal."
"Nggak, nggak. Sorry, sorry. Sekarang juga aku kasih tau satpam disono." Ayah Wenas gentar mendengar ancaman Tristan.
"Kalau sampai Crystal lecet sedikit aja, maka keluargamu habis. Ingat, aku tak pernah menarik ucapanku."
Dalam sekejap rombongan Tristan tiba di villa, satpam langsung membuka pintu untuk Tristan. Seseorang memberi informasi kalau Crystal sedang ada di kolam renang bersama teman-temannya.
Sampai di kolam renang, suasana tampak tak terkendali. Musik dinyalakan keras-keras, ditingkahi dengan pekik jerit suara anak-anak muda.
Tristan menghela napas melihat gadis-gadis remaja mengenakan pakaian renang model two pieces. Mereka berjemur, jalan mondar mandir tanpa rasa canggung, tak peduli dengan tatapan lapar remaja pria disekitarnya.
Astaga! Nampaknya mereka sedang "berpesta". Asap rokok menguar, puntung rokok dan botol minuman berserakan di meja serta di lantai-lantai. Yang paling mengejutkan adalah samar-samar tercium bau khas mar****na.
Tristan hanya berdoa semoga Crystal tidak ikut-ikutan mengkonsumsi barang-barang itu. Di kolam kecil, nampak Crystal sedang berendam bersama Sky dan beberapa temannya.
"Crystal!" suara Tristan terdengar dingin.
Semua orang yang ada disitu melihat kearah Tristan yang tampak semakin tampan dengan setelan pakaian kantornya. Tegap menjulang dengan tatapannya yang tajam,membuat para gadis semakin terpesona.
"Kak Tristan?!" jerit Crystal kaget.
Tanpa kata, Tristan mengambil handuk lebar yang tergeletak di kursi dan merentangkannya untuk Crystal.
"Ayo pulang!" kata Tristan singkat, padat dan tak terbantah.
Bersambung ya...
๐น๐นPesan Author
Please, jangan gampang kebawa arus ya Dek Adek. Kadang niat awal cuma mau main-main tapi kadang situasi bikin kita nggak bisa nolak. Apalagi jiwa muda dan adrenalin yang selalu nantangin kita untuk berbuat di luar nalar.
Cerita ini hanya contoh, kalau kadang kita ga bisa nolak/sungkan nolak.๐
Note : Buat yang comment ga kebalas. Bukannya saya ga mau balas ya, tapi entah kenapa diklik kadang nggak bisa muncul reply-nya.
Thank you. Like dan commentnya sangat berarti buat Author. Salam kenal buat yang baru mampir. ๐