I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 76 -- Instant



Bagi pasangan yang menikah, sebut saja dadakan, seperti Tristan dan Crystal ini, persiapan pernikahan mereka bisa dibilang sangat sempurna.


David dan Karina tanpa diminta langsung bersedia menjadi saksi pernikahan Tristan dan Crystal. Mereka ikut berbahagia melihat pasangan beda umur itu, siapa sangka perbedaan umur yang begitu jauh justru membuat mereka terlihat saling melengkapi.


Tristan yang pendiam dan dewasa, menjadi lebih hidup dan banyak tertawa saat bersama dengan Crystal yang bawel, kekanak - kanakan serta 'semau gue'. Di sisi lain, emosi Crystal yang meletup - letup sedikit banyak bisa diredam oleh kekaleman dan kedewasaan Tristan.


Keesokan harinya, mendadak saja David riwa riwi menjemput orang - orang yang hilir mudik datang ke pulau. Berbagai rumah mode favorite Crystal mengirim rak - rak berisi wedding gown untuk dia pilih. Crystal dan Karina sibuk memilih - milih gaun mana yang akan dikenakan pada hari H, menentukan make up artist yang akan dipakai bahkan konsep party mereka.


Sedangkan Tristan ternyata sudah memesan jauh - jauh hari model jas yang akan dipakainya, dan saat ini dia hanya perlu fitting saja. Dia bahkan sudah menyiapkan beberapa model untuk David.


"Beuuuhh... ! Mantap. Mantap." Kata David berulang - ulang sambil mengangkat jempolnya, puas melihat persiapan wedding Tristan - Crystal.


"By the way, aku mau jemput orang dulu sekarang." pamit David kemudian.


"Siapa lagi?" Tanya Crystal heran.


Orang dari rumah mode sudah datang, cathering makanan untuk tamu udah beres, dekor dan event organizer juga oke. Bahkan orang yang akan menikahkan mereka udah konfirmasi untuk datang tepat di hari H.


"Iya, temennya si Tristan mau datang. Sebentar lagi pesawatnya landing. Got to go, bye!" David tersenyum dan melambaikan tangannya.


David bersemangat menjemput seseorang itu dengan jeepnya. The more, the merrier. Semakin banyak yang datang, semakin rame pulau ini dan pernikahan Tristan pun bakal makin meriah.


'Teman Tristan? Siapa?'


Tak mau pusing, Crystal mengedikkan bahunya dan pergi mencari Karina.


"YUHUUUUUU!"


Seseorang muncul dari balik pohon rindang yang menjadi pembatas antara jalan setapak dan villa. Dia memekik ceria sambil merentangkan tangannya.


Penampilannya benar - benar khas seorang backpacker. Tas ransel besar di punggung, tshirt, celana panjang dan boots, lengkap dengan topi dan kacamata yang lagi trend saat ini. Benar - benar sempurna untuk mendapat sebutan handsome backpacker.


Tristan turun dari teras dan menghampiri Sky.


"Welcome, Bro!"


"My Maaaaan... !" Sky dan Tristan berpelukan singkat khas lelaki, saling menepuk bahu masing - masing.


"How was the trip?"


"Fun as always. Mana Crystal?"


"Lagi di dalam sama Karin. Do girls' bussiness."


Crystal dan Karina sedang asyik menggosip di ruang tengah, serempak mereka menoleh dan membelalak begitu melihat Sky masuk bersama Tristan sambil tertawa.


Mata Karina langsung silau melihat kegantengan Sky. Sudah lama mereka tak bertemu sejak terakhir Sky membuat vlog untuk design ruangan milik Crystal. Setelahnya kerja sama mereka hanya dilakukan lewat zoom atau video call. Dan hari ini, ketampanannya terasa berbeda saat bertemu langsung.


Berbeda halnya dengan Crystal, dia terbelalak karena senang dan tak menyangka kalau Tristan akan menjemput Sky untuk datang kemari. Yah, biar bagaimana pun Sky adalah sahabat terbaiknya. Tristan atau siapa pun tak mungkin menghapus salah satu sosok penting di hidupnya.


"Crystal, Beb." sapa pemuda itu dengan ramah.


Refleks dia menghampiri dan memeluk Crystal, matanya memancarkan kerinduan seorang sahabat yang lama tak berjumpa. Namun detik berikutnya, dia merasakan aura membunuh dari Tristan. Buru - buru dia melepaskan pelukannya.


"Heh, kok kaget kaya gitu?" goda Sky sambil terkekeh melihat Crystal yang terlihat masih kaget melihat kedatangannya.


Crystal mencebik, Sky jadi makin gemas. "Lagi mikir jorok ya?" tanyanya sambil terkekeh.


Crystal langsung melotot, "Enak aja! Ngapain kamu datang kesini?" Tanyanya sewot.


"Tau dari mana kita disini?" Tanya Crystal, meski dia sudah tahu siapa lagi sumber informasinya kalau bukan Tristan.


"Bang Tristan yang ngajak aku kesini, katanya suruh jadi saksi nikahan kalian." jawabnya santai. Tangannya memegang dadanya, memasang ekspresi patah hati.


Tristan, Crystal dan Karina tertawa melihat kelakuan Sky yang konyol.


"Eh, Beb. Ngomong - ngomong kamu nggak hamil kan? Kalian baru aja tunangan, eh minggu depan udah nikah aja. Buru - buru banget nggak sih?"


Ha?


Karina dan Crystal melongo mendengar pertanyaan Sky yang tanpa filter itu. Sky memang sempat heran karena pernikahan sahabatnya yang terkesan mendadak dan buru - buru. Dan pertanyaan heran itu terlontar begitu saja tanpa maksud apa pun.


Tristan menaikkan alisnya, merasa tersinggung dengan kalimat Sky. "Hey, thanks God. She's still virgin. Aku sudah mendidiknya dengan baik dan dia berhasil menjaga kehormatannya sampai hari ini."


Kalau bukan karena saking cintanya sama Crystal dan dia ingin wanitanya bahagia, pasti Sky sudah dilemparnya kembali ke laut. Tristan sengaja mengundang Sky untuk menghadiri pernikahan mereka demi melengkapi kebahagiaan Crystal. Dia memahami Crystal, yang pasti ingin pernikahannya dihadiri oleh Sky. Sahabatnya sejak SMP.


"Your future wife bakal jadi pengantin paling cantik di dunia." Kata Sky lagi sambil mengamati Crystal yang tersipu.


Mendengar kata future wife, sakit hati Tristan jadi terobati. Dia mengurungkan niatnya untuk menyemprot Sky dengan omelannya.


"Dari baby sih memang udah cantik dia tu." jawab Tristan bangga.


"Gimana persiapannya? Need hands for help?"


"No, thanks. All done!"


"WOAAAAAH! Termasuk wedding gown? Tuxedo?"


Tristan mengangguk mantap, tangannya mengacungkan jempolnya. "That's what money for." katanya sambil tersenyum menyombongkan diri.


(Itu gunanya uang.)


"Tapi kalian serius kan?"


"Ya." jawab Tristan mantap tanpa keraguan sedikit pun.


"Aku seperti mimpi, Man. Kesannya instant banget gitu."


Tristan tersenyum, "Nikah itu gampang. Asal ada duit, gaun model apa aja, cathering terenak, dekor paling mahal... lewat." Kata Tristan sambil mengibaskan tangannya.


"Yang butuh perjuangan itu, life after marriage. It needs commitment and strong effort." Katanya lagi, matanya menunjukkan keyakinan siap menghadapi apa pun masalah di kehidupan mereka kelak.


(Kehidupan setelah pernikahan, membutuhkan komitmen dan usaha yang keras.)


Hiiih... , Sky jadi kehilangan kata - kata. Dia tak bisa lagi meng-counter jawaban Tristan.


"Udahlah, ayo Karin. Kita bikin vlog pembangunan pulau ini. Let's make a big exposure for this project."


(Ayo kita ekspose besar - besaran untuk proyek ini.)


"Woooi... tapi kamu mau pesen jas atau mau ngegembel di party-ku?" teriak Tristan sebelum Sky meninggalkan ruangan itu. Terlalu banyak bergaul dengan Sky, membuatnya ikutan selebor.


"Lu atur aja, Man. Pakai apa pun, aku tetap ganteng." jawab Sky tak peduli.


Bersambung ya....