I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 59 -- Again! He Found Me



Sepanjang malam, Crystal tidur dengan gelisah. Dia memikirkan banyak hal. Apa yang dilakukan Tristan saat ini? Apakah marah karena dia kabur lagi? Atau sedang kebingungan karena mencarinya? Tapi untuk menghubunginya pun, Crystal takut dan enggan.


Lalu bagaimana dengan Suster Anna? Ah, Crystal jadi menangis lagi saat mengingat wanita yang sudah seperti ibu kandungnya. Suster Anna pasti nangis-nangis memikirkannya. Mbak Tari, Mbak Putri, Pak Supri dan orang-orang yang selama ini membuat hidupnya begitu berwarna.


Rasa bersalah semakin mendera perasaannya. Kesalaha terbesarnya adalah Sky. Kasihan sekali. Tadi dia sudah mengusir teman terbaiknya, padahal dia sudah berbaik hati menemaninya beberapa hari ini. Sky juga yang mencarikannya tempat tinggal untuknya disini. Apa yang harus dikatakannya pada Sky besok?


Akhirnya malam itu dihabiskan Crystal dengan berguling kian kemari sambil menangis.


***


Pagi hari,


Crystal memejamkan mata menikmati lembutnya kecupan-kecupan di dahi dan pipinya. Usapan demi usapan di kepala membuatnya merasa nyaman dan terlindungi. Samar-samar harum parfum maskulin masuk ke dalam indera penciumannya. Aroma khas seseorang yang saat ini sedang dirindukannya.


Membuat perasaannya terasa lebih baik dan bahagia.


Crystal bersumpah, ini adalah tidur ternyenyaknya setelah beberapa hari meninggalkan rumah. Rasanya Home sweet home. Mungkin itulah sebutan yang tepat untuk perasaannya saat ini.


Pelan-pelan Crystal membuka matanya, Kak Tristannya sedang duduk di tepian kasur, menatapnya dengan rasa rindu.


Gosh! Bagaimana mungkin Kak Tristannya kelihatan begitu menawan sepagi ini. Fresh and handsome. Crystal benar-benar bersyukur atas mimpi terindahnya pagi ini.


"Good morning, Sayang."


Ya Tuhan! Betapa Crystal merindukan sapaan lembut yang biasa didengarnya setiap pagi selama seumur hidupnya. Suara Kak Tristan. So close and real.


(Begitu dekat dan nyata.)


Eh? Kak Tristan?


Mata Crystal langsung terbuka sepenuhnya dan bola matanya langsung bergerak untuk melihat sekeliling kamarnya.


Lho?


Ini masih di kamar yang sama, apartmentnya di Singapore. Dia belum kemana-mana sejak semalam. Tidak pula pulang ke Indonesia.


Dengan cepat Crystal menoleh ke arah suara yang tadi didengarnya lagi. Memastikan dia tak salah dengar dan tak salah lihat.


Oh, no! Kenapa bisa begini? Jantungnya berdetak kencang. Astaga! He found me!


(Dia menemukanku!)


"Kak Tristan ngapain disini?" Akhirnya Crystal berhasil mengeluarkan suaranya.


Tristan tersenyum. "Aku sudah siapin air mandi. Kamu mau mandi sambil berendam?"


Crystal mengangguk sambil terbengong-bengong. Otaknya berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Kenapa Kak Tristan sudah ada di apartmentnya sepagi ini? Kapan dia datang? Siapa yang membukakan pintu untuknya? Jangan-jangan Sky. Kenapa dia tak bilang apa-apa padanya? Ngomong-ngomong soal Sky, kemana dia? Apa dia benar-benar pergi setelah diusir olehnya?


Dia menurut saja saat Tristan membimbingnya sampai di depan kamar mandi. Dari depan pintu kamar mandi tercium bau harum lavender oil bercampur sabun yang menenangkan hatinya.


"Tunggu sebentar." kata Tristan.


Tristan masuk ke kamar mandi dan mengambil karet rambut yang ada di wastafel. Dia menarik Crystal mendekat, menyisir rambutnya dengan jari-jarinya yang panjang kemudian mengikatnya keatas.


"Okay, sip." Kata Tristan sambil memandang hasil karyanya dengan bangga.


"Thanks."


"My pleasure."


(Dengan senang hati.)


Crystal masuk ke kamar mandi. Dia menghela napas dalam-dalam, melangkahkan kaki ke dalam bathub dan merebahkan dirinya. She feels relax.


Entahlah bagaimana prosesnya Kak Tristan bisa sampai disini. Yang Crystal tahu adalah tempat persembunyiannya ketahuan. Untuk kesekian kalinya, kak Tristan berhasil menemukannya.


Hhhh... seharusnya dari awal, Crystal tahu kalau Tristan pasti bisa menemukan dirinya. Crystal merutuki kebodohannya sendiri. Pertanyaan terbesarnya sekarang adalah dia harus bersikap bagaimana menghadapi Kak Tristannya nanti?


"Crystal, are you okay?" Tristan mengetuk pintu kamar mandi setengah jam kemudian, saat dirasa Crystal sudah terlalu lama di dalam kamar mandi.


Crystal gelagapan.


"A MINUTE!" Teriak Crystal dari dalam kamar mandi dan buru-buru menyelesaikan acara berendamnya.


"Aku tunggu di ruang makan." Suara Tristan terdengar lagi dari balik pintu kamar mandi.


***


Perlahan Crystal menyeberangi ruangan dan melihat sosok Tristan yang tinggi menjulang sedang menghadap kompor.


"Kak Tristan... " panggilnya ragu-ragu, sambil mulai mendekat.


Perasaannya campur aduk. Takut dimarahi, malu dengan tingkahnya yang kekanak-kanakan, dan juga kagum pada Tristan yang selalu berhasil menemukannya. Benar kata Sky, Tristan is her guardian angel.


Tristan menoleh, "Hungry?' tanyanya sambil melempar senyum termanisnya.


"Hm-hm." Crystal mengangguk canggung dan serba salah. Tak berani menatap mata Tristan.


Sungguh! Rasanya benar-benar tak enak. Saat kamu melakukan kesalahan, tapi orang yang seharusnya marah padamu malah memperlakukanmu dengan sangat manis. Dampaknya benar-benar dua kali lipat lebih besar bagi Crystal.


"Sabar ya. Sit down, please." Tristan sibuk menuangkan makanan ke dalam piring.


Perasaan bersalah terus mengusiknya. Akhirnya Crystal hanya mampu melirik berkali-kali ke arah Tristan. Dia tak berani bertanya masakan apa yang sedang dimasak oleh Tristan. Harumnya membuat perut Crystal makin keroncongan.


"Here you go." Tristan meletakkan piring dihadapan Crystal.


Dia tersenyum melihat Crystal membelalak saat masakan siap dihadapannya. Spaghetty carbonara favorite Crystal.


"Let's eat." kata Tristan lagi saat melihat reaksi Crystal tak seperti biasanya.


Biasanya Crystal akan bersorak dan langsung melahapnya tanpa basa basi.


Crystal mengangguk-angguk. Tangannya mengambil sendok, memandang spaghetty nan lezat dengan perasaan terharu biru.


"Kenapa? Nggak suka?" tanya Tristan saat melihat Crystal tak langsung makan.


"Suka kok. Aku suka."


Sial! Suaranya terdengar lemah seperti sedang mencicit. Crystal memaki dirinya sendiri.


Tenggorokannya tercekat saat mengeluarkan suara tadi. Matanya terasa panas. Berkali-kali, dia mengerjapkan mata. Menahan air mata yang sudah mengambang di pelupuk mata.


Tristan pindah tempat duduk ke sebelah Crystal, mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.


"Apa kabar? Apa kamu baik-baik saja?"


WOAH!


Ambyar!


Dinding hati Crystal runtuh seketika, porak poranda dengan segala perhatian Tristan. Air mata semakin membanjir di matanya. Buru-buru tangannya menyendok spaghetti di piring dan langsung memasukkannya banyak-banyak ke dalam mulut.


Masakan yang dimasak dengan cinta, hangatnya terasa hingga ke dalam hati. Crystal terus melahap makanannya dengan kecepatan tinggi sambil berlelehan air mata.


"Hey, pelan-pelan." Tristan menggeser gelas berisi air putih ke dekat Crystal.


Crystal malah menangis terisak-isak dengan mulut penuh spaghetty. Perasaan berdosa kian menumpuk. Tak ada kata lain lagi yang bisa diucapkan selain ---


"Maa... maaaf." katanya sambil sesenggukan dengan mulut masih menggembung penuh dengan spaghetty.


"It's okay. It's okay." jawab Tristan kalem.


Tangannya mengusap air mata Crystal yang terus meleleh dengan tissue.


Bersambung ya...


Author Special Note:


I dedicate Bab 57-58 for My Sky.


😊 A best friend of mine


🥰 My four year brother and family when I was in University.


😅 Shoulder to cry on kalau lagi tengkar sama pacar


🤗 A place to go waktu lagi LDR


😝 The one I forgot kalau lagi happy


Haha... Thanks for the memory, one of the best treasures in my life.


Seharusnya nulis ini di Bab 57 tapi space udah ga cukup. ☝😁😞