
"Istri anda akan dioperasi siang ini juga, Tuan Tristan." kata suster yang menangani Crystal.
"Ini dokumen yang perlu ditanda tangani." lanjutnya lagi.
Tristan hanya membacanya sekilas, kemudian menanda tangani semuanya. Setelah itu, dia bergegas menemani Crystal melakukan serangkaian pemeriksaan.
Siapa sangka Crystal yang biasanya manja dan suka merengek, kali ini nampak tenang dan tangguh menghadapi berberapa macam tusukan jarum suntik. Diam - diam Tristan curiga, jangan - jangan selama ini Crystal hanya pura - pura manja. Mungkin saja Crystal hanya ingin menarik perhatiannya.
"Aku takut." ucap Crystal setelah selesai berganti baju operasi.
"Jangan pikirkan operasinya, pikirkan saja si kembar yang akan segera kita peluk." hibur Tristan sambil mengusap - usap kepala Crystal.
"Tetap saja aku takut. There're scary stories about operation." bisik Crystal dengan suara sok misterius.
(Ada banyak cerita seram soal operasi.)
"Hah? Scary stories kaya gimana?" Tristan jadi ikutan merasa seram gara - gara Crystal.
"Seperti, guntingnya nanti ketinggalan diperut karena dokter lupa ambil."
"Hah? Masa sih?"
"Hm-hm." Crystal mengangguk yakin. "Trus ada lagi nih, katanya obat biusnya cuma bertahan nggak ada lima menit. Kalau sampai kejadian di aku nih, aku mau pingsan aja!"
Melihat Tristan yang serius mendengarkan, Crystal melanjutkan cerita tentang kisah seramnya. Wajahnya dibuat berkerut - kerut, supaya semakin meyakinkan kalau dia takut. Dan juga, cerita itu nyata.
"Ngaco kamu ah. Aku kok nggak pernah baca tuh cerita kaya begitu."
"Ish... kak Tristan kan bacanya berita bisnis, mana tau beginian." bantah Crystal tak mau kalah.
"Kak Tristan sih nggak pernah nonton video, kalau orang operasi caesar itu darahnya banyak, Kak. Banyaaaaaak banget. Trus selesai operasi, katanya nih ya... , perutnya ditusuk - tusuk jarum gitu biar nutup lagi." kata Crystal lagi sambil mengulum senyum.
"O'ya?" Wajah Tristan benar - benar terkejut. "Aku bakal bilang dokter supaya... ---" Tristan menghentikan kalimatnya saat menangkap kilatan jahil dimata Crystal.
"Eh, kamu ya! Sebentar lagi jadi Mommy kok masih nakal aja!" Tristan menyentil dahi Crystal pelan. "Dimana - mana operasi itu darahnya banyak!" dengus Tristan kesal.
Istrinya ini benar - benar tak punya perasaan. Sudah tau suami lagi tegang to the max begini, eh malah dikerjain.
Melihat wajah suaminya yang tegang bercampur kesal, Crystal tak bisa lagi menahan tawanya. Dia terbahak sampai wajahnya memerah. Tristan sampai heran, bagaimana bisa Crystal begitu santai.
"Kak Tristan udah ngomong ke Papa sama Mama atau belum?" tanyanya setelah selesai tertawa.
"Oh, My God." keluh Tristan. "Ya udah, nanti aku telepon waktu kamu sudah masuk ruang operasi saja."
"Hmmm... " Crystal bersedekap dengan tatapan membunuh.
"What?" tanya Tristan.
"Jadi Kak Tristan nggak nemenin aku di dalam? You let me be alone?"
(Kamu biarkan aku sendiri?)
DIENG!
Serasa ada sebuah gong besar berdentam di jantung Tristan.
"Hufff... , eh jadi maunya bagaimana?" Tristan menggaruk kepalanya, wajahnya memucat. Bayangan Crystal bersimbah darah sudah melayang - layang di kepalanya. Hhhh... , ini gara - gara Crystal sendiri kan? Kenapa tadi pakai cerita scary stories segala.
CENUUT!!!
"Haduh!!" pekik Tristan.
"Jadi Kak Tristan mau tungguin aku atau nggak?" tanya Crystal, tangannya masih setia mencubit suaminya.
"Ssssh... iya. Iya deh. Aku tungguin. Bukannya dari tadi kamu keliatan strong gitu." omel Tristan. Jantungnya berdebar keras, dia takut bercampur tak tega melihat tubuh istrinya di atas meja operasi."
Tepat saat itu, suster datang dan mendorong brankar tempat Crystal berbaring. Tangan Crystal masih mencubit lengan Tristan, memaksa suaminya masuk ke ruang operasi.
Tristan ada di persimpangan takut darah dan ingin hadir dalam spesial moment kelahiran anaknya. Dengan sedikit ragu, dia ikut istrinya masuk ke dalam. Tristan menghembuskan napas lega saat melihat ada sekat tinggi yang dipasang untuk membatasi.
I will always love you
I will always stay true
TheRe's no one who love
You like I do
Berulang - ulang Tristan menyanyikan lagu itu dengan penuh perasaan, tangannya mengusap - usap rambut Crystal sambil berulang kalo mencium keningnya.
Crystal terharu, dia tertawa sambil meneteskan air mata. Tristan yang melihat air mata itu menciumnya. Sementara dokter dan suster tetap sibuk dengan pekerjaan mereka.
"Ya ampun. Mereka so sweet banget." ucap dokter kandungan sambil berusaha mengeluarkan bayi yang pertama.
"Haiz... mereka mah pasangan yang menggebu - gebu has-ratnya. Bisa - bisanya berciuman di saat kita sedang berjuang seperti ini." keluh dokter anestesi yang masih jomblo.
Para suster tersenyum - senyum mendengar obrolan kedua dokter.
Tak lama terdengar tangisan kencang membahana.
"My first one." kata Tristan sedikit lega.
Crystal tersenyum lemah, tubuhnya terasa diobrak abrik dan di goyang - goyang.
"Selamat, Mommy. Baby girl." ucap Suster sambil meletakkan bayi di dada Crystal.
Belum puas Tristan mengagumi bayi mungil, yang mengingatkannya pada Crystal kecil. Suara tangisan kedua sudah pecah. Tangisannya lebih keras dari yang pertama.
Suster membawa bayi itu dan juga meletakkannya di dada Crystal.
"Here is the second one, baby girl." ucap Tristan mendahului suster.
"Lah, bukan baby boy Sus?" tanya Crystal.
Suster menggeleng, "Tidak, Mommy. Mereka cantik - cantik seperti Mommy. Dan mereka kembar identik."
"Tak apa. Malah bagus cewek semua, apalagi identik, pasti seru waktu membedakan mereka nanti." ucap Tristan supaya Crystal tak kecewa. Masalahnya Crystal ingin sepasang, cowok dan cewek.
"Iya, tapi kita nggak boleh beda - bedain perlakuan terhadap mereka." sahut Crystal.
"Aku bakal dandanin mereka kaya kamu waktu kecil dulu, pasti cantik dan lucu." Tristan terus memandangi kedua bayinya dengan tatapan penuh kasih. Matanya berbinar - binar bahagia.
Crystal memutar bola matanya, yang melahirkan dia tapi kenapa tatapan penuh cinta itu hanya ditujukan kepada kedua babynya?
Saat kedua bayi dibawa oleh suster, Crystal langsung protes. "Kalau Kak Tristan sudah sibuk dengan mereka, apa Kak Tristan bakal lupa sama aku?"
He? Lagi? Kemana Crystal yang tadi begitu strong? Tristan benar - benar heran dibuatnya.
"Hey, kamu jangan insecure. Kedua baby itu buah cinta kita, bagaimana mungkin aku nggak sayang sama mereka?"
"Tapi jangan cuekin aku kalau Kak Tristan lagi main sama mereka." Crystal mulai merajuk.
"Kalau gitu, kamu harus bantuin aku buat ngurus mereka supaya waktuku bisa lebih luang untukmu. Bagaimana?" ucap Tristan lembut.
Crystal merasa lega mendengar suara lembut Tristan. Kak Tristannya stays the same.
Crystal mengangguk dan tersenyum, tangannya terentang minta dipeluk oleh suaminya. Tristan langsung mendekap erat dan mencium kening Crystal.
"Thank you for giving me two lovely daughters." bisik Tristan.