
"Crystal.... "
Crystal mendongak dan seketika pertahanan Tristan runtuh. Wajah cantik dan polos itu menggugah sesuatu yang terpendam di dalam diri Tristan.
Tristan menyentuh dagu Crystal supaya lebih mendekat padanya, kemudian dia menunduk semakin mendekat kepada Crystal.
CUP!
Tristan benar-benar menutup jarak diantara mereka. Semua terjadi begitu saja, tanpa bisa ditahan. Singkat, mendebarkan, dan juga mengejutkan!
Mata Crystal terbelalak lebar, dia tak percaya. Tak mungkin Kakaknya mencium dirinya.
CETAAARRR!!!!
Petir dan guntur kembali menyambar, suaranya menggelegar lebih kuat membuat Tristan tersadar atas apa yang dilakukannya.
Refleks dia meraih kepala gadis itu, menutup telinganya dengan sikap protektif.
"Aaaaah.... " pekik Crystal.
"Sssttt... It's okay! It's Okay!" bisik Tristan menenangkan Crystal yang panik dan bingung.
Panik karena bunyi guntur yang tak kunjung usai, bercampur bingung atas apa yang dilakukan Tristan padanya barusan.
Tristan meraih Crystal kedalam pelukannya erat, memangku dan melingkupinya dengan kedua lengannya yang besar dan hangat. Tristan menggoyangkan tubuhnya seolah mereka sedang duduk di kursi goyang, mengamankan hatinya dan juga menenangkan perasaan Crystal.
"Maafkan Kakak, Sayang... Maaf... " bisik Tristan.
Crystal bisa merasakan degup jantung Tristan yang bertalu-talu. Dipejamkannya mata erat-erat, mencoba mengenyahkan kejadian barusan dari pikirannya.
Oh!! Tak mungkin! Tak mungkin Tristan menciumnya. Meski sangat cepat, tapi semua itu nyata. Crystal menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa tertekan dengan situasi dan perasaannya sendiri.
"Crystal."
Suara Tristan lembut dan tenang, menarik kembali pada kenyataan. Mata Crystal terbuka dan menoleh kearah Tristan.
Sejenak mereka bertatapan.
"Maaf." Tristan menyentuh pipi Crystal lembut, ujung jempolnya menyentuh bibir Crystal yang merah alami. Cantik alami.
Ya Tuhan, seumur hidup Tristan belum pernah merasakan perasaan seperti ini terhadap seorang wanita. Entah apa sebutan yang cocok untuk perasaannya saat ini.
"Maaf, Kakak tak bisa menahannya... "
***
Kata -kata Tristan terus terngiang-ngiang di telinga Crystal dan berputar-putar di otaknya membuatnya tak bisa tidur nyenyak dan makan enak.
Dari pagi kerjaannya hanya melamun, tak bisa menghentikan pikirannya. Perasaan asing menyelinap ke dalam hatinya.
"Maaf, Kakak tak bisa menahannya... "
Apa maksud Kak Tristan mengucapkan kalimat itu?
Kenapa dia menciumku?
Bagaimana mungkin ini terjadi?
Memang Crystal belum pernah berpacaran, apalagi berciuman. Tapi, dia tidaklah sepolos itu. Usianya saja sudah hampir delapan belas tahun, dia sangat mengerti apa artinya jatuh cinta dan ciuman.
Percayalah, Crystal suka sekali menonton drama Korea yang romantis. Bahkan, dia juga mengkoleksi novel-novel genre romance modern. Kelakuan sejoli yang sedang mabuk asmara bukanlah hal yang asing baginya. Bahkan Crystal sendiri mendambakan kisah cinta yang luar biasa, mendebarkan dan romantis.
Seorang lelaki tampan yang mencintai, memperhatikan, memahami, romantis dan berkorban untuknya.
Hmmm... tapi Tristan?
Iya sih, dia tampan, baik, memahami dan menyayanginya. Dan yang terpenting adalah Tristan selalu menjaganya.
Oh sayangnya, Tristan adalah Kakaknya. Bagaimana mungkin mereka saling mencintai? Tidakkah ini adalah incest? Dan juga, tabu....
Apa kata dunia?
"Crystal... " sayup-sayup terdengar panggilan dari seseorang, tapi Crystal masih saja melamun. Memutar kembali ingatannya bagaimana dekatnya wajah Tristan dan wajahnya.
Ya ampun! Kalau boleh jujur, mengingatnya saja sudah membuat jantungnya berdebar.
Tidak... Tidak... Jelas-jelas Tristan adalah Kakaknya. Tak mungkin Tristan menyukainya kan? Apakah sebaiknya, dia menganggap kejadian semalam adalah sebuah kecelakaan?
"CRYSTAL!"
Seruan itu disusul dengan bunyi BRAKK yang menyentakkannya dari lamunan.
"Sky?"
"Kamu lagi mikirin apa sih?" Wajah Sky menunduk mendekat ke wajah Crystal. Dekat sekali, hingga Crystal mundur menjaga jarak dengan hidung mancung Sky.
"Nggg... Nggak, bukan apa-apa."
Sky menyipitkan matanya, ada semburat pink di pipi Crystal.
"Ada apa?" Crystal bertanya untuk menutupi salah tingkahnya karena takut ketahuan sedang melamun tentang ci-um- an-nya dengan Tristan semalam.
"Yuk join acara term break."
"Acara apa?" Crystal menghembuskan napas lega, untunglah Sky tidak kepo karena dia melamun.
"No!" tolak Crystal karena merasa akan terseret kegilaan teman-temannya.
"Cristine sama Wenas sponsornya, dan nggak sembarang orang diajak."
"Trus aku dipilih?"
"Iya, dong. Masak seorang Harrison nggak diajak?" Sky mencubit pipi Crystal gemas.
"Oh... , jadi kalau aku bukan Harrison, aku nggak diajak?"
"Tapi ke Bali? Berarti kita nginep?"
"Of course. Kira-kira tiga hari."
"Maksudmu kita bolos tiga hari?" serunya tertahan.
Sky tertawa.
Crystal menggelengkan kepala.
"Nggak deh. Aku nggak ikut."
"Lho? Kenapa?" raut wajah Sky nampak kecewa.
"Jelas nggak mungkin diijinkan sama Kak Tristan. Apalagi itu hari sekolah." Crystal mencebik.
"Ayolaaah... please!" bujuk Sky, memasang puppy eyes.
"Jangan pasang tampang kaya gitu!" Crystal mendorong wajah Sky menjauh.
"Ayolaah... kapan lagi kita jalan-jalan bareng? Aku jamin semua aman." Sky tak mau menyerah.
Tak lama, Cristine dan squad-nya datang.
"Hellooo, Crystal... " sapa Cristine ramah.
Crystal tercengang, sebelumnya tak pernah Cristine and squad beramah tamah padanya.
"Kamu sama Sky ikut?" tanyanya sambil mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.
"Hmmm... " Crystal ragu-ragu.
"Pasti. Kami ikut!" jawab Sky mantap.
Hah??
Crystal melotot.
Sky mengedipkan sebelah mata dan tersenyum puas.
***
Aaaargh!!! Bagaimana caranya memperoleh ijin dari Tristan? Mendadak otak Crystal penuh dengan skenario, bagaimana caranya meminta ijin untuk bolos.
"Ayolah... Kapanlagi kita bolos" pesan dari Cristine di grup chat muncul.
"Aman! Nggak mungkin sekolah keluarin kita, secara tinggal beberapa bulan kita lulus." Angel merespons chat Cristine.
"Santai, Beb. Nggak bakal ada pihak sekolah yang tahu kalau kita disana. Mereka nggak bakal mikir kalau kita bolos rame-rame." Wenas mengompori.
Rasa penasaran mulai muncul, Crystal belum pernah membolos. Dia ingin tahu bagaimana rasanya membolos.
"Jadi Crystal cancel nih?" tanya Cristine.
"Jaman now, masih ada anak polos kaya dia... " sahut Betty.
"Naive!" tulis Cindy.
Crystal menggigit bibirnya sambil terus berpikir.
"You only live once, Dear." lagi-lagi Cristine berkomentar.
"Yes! JANGAN SIA-SIAKAN!!" Wenas menulis dengan huruf kapital.
"OK!!! Aku ikut!"
Merasa gerah dengan komentar teman-temannya di grup chat, jari tangan Crystal lancang menulis dan mengirimkan pesan tanpa sempat berpikir untuk kesekian kalinya.
"Good girl!" Sky langsung menjawab dengan menambahkan emoticon cium dan jempol.
Baiklah, kali ini Crystal bertekad merasakan bolos sekolah sebelum lulus SMA.
Yes! Dia tak akan dicap sebagai naive girl lagi.
"I'm comiiiiing.... ! Crystaaaaal... !"
Astaga! Tristan sudah pulang. Refleks Crystal menghapus chat grup dan melesat keluar kamar. Kemudian menyongsong Tristan dengan sikap semanis mungkin.
"Kak Tristaaaaan....!"
Bersambung ya...
Hmmm.... kayanya aku harus hati-hati kalau mendadak anakku manis. Jangan-jangan dia mau bolos kaya Crystal. 🤔🤔