
"I saw a baby Crystal years ago, and suddenly I found her as a girl. Dan sekarang aku bersama seorang wanita muda, Crystalin yang sama. Nothing's changed." Tristan menarik napas dan menghembuskannya pelan. Matanya menerawang.
(Aku melihat Crystal yang masih bayi bertahun - tahun silam dan tiba - tiba saja aku menemukannya telah menjadi seorang gadis.)
"Di masa mendatang, aku ingin melihat seorang Crystalin yang berambut putih, berkulit keriput dan menua bersamaku." Tristan menoleh dan menatap dengan pandangan memuja. "Pasti tetap cantik."
Crystal menunduk, pandangannya tertuju pada cincin yang melingkar di jarinya. Together and forever. Tristan jelas - jelas menyatakan keinginannya dan siap menghadapi resiko apa pun. Sebenarnya apa lagi yang masih membuatnya ragu?
Crystal mengangkat pandangannya dari cincin yang berkilauan, beralih kepada laki - laki yang telah memberinya kehidupan dan cinta terbaik padanya selama ini. Salah satu alasan, kenapa dia cinta dan stuck with Tristan.
Lelaki yang jauh lebih dewasa ini, pasti bisa melindungi, menjaga dan membimbingnya dalam mengarungi kehidupan. Selama ini, Tristan tak pernah gagal menunjukkan cintanya pada Crystal.
Crystal tersenyum bahagia sambil berkaca - kaca. "Tapi, menurutku keinginanmu itu agak sulit terwujud." kata Crystal.
Tristan memiringkan wajahnya berusaha menangkap maksud dari kata - kata wanita muda di hadapannya. "Kenapa? Aku akan memenuhi semua term and condition-nya."
(situasi dan kondisinya.)
"It takes a long time for me to grow old. I'm too young and pretty." kata Crystal percaya diri.
(Tapi aku kan masih lama tuanya. Aku terlalu muda dan cantik.)
"So?"
Melihat ekspresi 'tak mengerti' di wajah Tristan, Crystal tertawa pelan. Kalau sudah begitu, wajah Tristan jadi menggemaskan sampai - sampai Crystal harus menahan diri sekuat tenaga untuk tak mencium tunangannya itu.
"Kak Tristan should be with me for a long time to see my grey hair." jawab Crystal sambil mengulum senyum.
(Kak Tristan harus bersamaku untuk waktu yang lama kalau mau lihat rambutku memutih.)
'Thanks, God.'
Senyum Tristan mengembang, "Let's do it." katanya. Dadanya terasa hampir meledak, lega bercampur bahagia. Menunggu 'Yes' dari Crystal rasanya lebih mendebarkan dari pada menanda tangani perjanjian kontrak kerja sama dengan investor besar.
"Baiklah. Tell me your plan about the wedding." kata Crystal sambil menggenggam tangan Tristan.
"All right."
***
Sampai di villa, Crystal begitu heboh bercerita pada Karina di kamar mereka.
"He's crazy." seru Crystal pada Karina.
Lagi - lagi crazy menjadi kata pertama yang diucapkan Crystal saat menggambarkan Tristan hari ini. Kelakuan Tristan yang berhasil membuatnya terkejut - kejut hari ini membuatnya tak bisa menemukan kata - kata yang lebih tepat selain crazy.
Karina mengangguk, "Aku udah duluan bilang kalau dia gila, waktu dia ngomong mau ngelamar dan nikah sama kamu disini."
Crystal membelalak, "Ha? Jadi kamu udah tau dari awal kenapa dia ngajak kita kesini?"
"Bukan cuma aku, tapi Suster Anna dan juga David." Karina membantu Crystal mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
"Jadi semua pada tau?" tanya Crystal.
"Yup! Dan aku nggak nyangka aja kalau Tristan sampai punya ide kawin lari begini. Nggak tau deh, kali ini dia gila atau kepintaran? Hhh... nggak tau aku, nggak tau." ucap Karina lagi sambil menggelengkan kepalanya.
"Kawin lari?"
Crystal terkesiap. Benar juga, bukankah ini sama saja dengan kawin lari? Duh! Kenapa Crystal baru menyadari mengenai konsep kawin lari sekarang ini? Bagaimana reaksi Papa dan Mama Harrison? Lalu apa kata keluarga besar Tristan?
"Kamu tau? Tristan kuatir, begitu kamu kembali Mamanya akan kembali mengganggu dia. Jadi dia mutusin untuk nikah aja sekalian sama kamu."
"Always. Dan Tristan tak pernah menggubrisnya, dia selalu menghindari Mamanya selama ini. Itulah sebabnya, kenapa dia memilih bekerja mobile."
(mobile -- bekerja tak terikat waktu dan tempat.)
"Begitu kamu bertemu Nyonya Harrison, pasti kamu akan berpikir ulang mengenai pernikahan kalian. Jadi Tristan pikir, the sooner the better."
Hmmm... semua yang dikatakan Karina masuk akal, tapi konsep kawin lari belum pernah ada di angan - angannya. Terkesan begitu radikal.
"He's crazy. Beyond imagination." gumam Crystal.
(Melampaui batas imajinasi.)
"Both of you are crazy, Darling." sahut Karina, tangannya merapikan rambut Crystal. "Kamu juga udah jawab iya gitu. Sama kan? Sama gilanya."
"Oh, ya ampun!" Crystal menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. "Jadi aku dilamar dan bakal langsung nikah?"
"Iyes! Kalian cocok, sama - sama ---- " Karina membuat gerakan miring dengan jari telunjuknya di dahi."
Kemudian Karina menatap Crystal lekat - lekat. "Are you sure for your decision? Jangan sampai kamu mutusin nikah cuma karena perasaan yang menggebu - gebu saat ini."
Crystal tersenyum dan menggeleng. "I'm sure dan nggak bakal nyesel."
Hati Karina bisa menangkap kalau Crystal serius dengan ucapannya dan dia sudah tahu konsekuensi serta resiko dari keputusannya.
"Sorry, aku tadi ngomong gitu karena aku kuatir sama kamu. This is a life time decision."
(Keputusan seumur hidup.)
"I know you want the best for me, Karin."
"Terlepas dari semuanya, I'm really happy for both of you." Karina mengulurkan tangannya dan memeluk Crystal. "Yuk, keluar. Aku harus bantu Tristan prepare many things. Kita cuma punya waktu beberapa hari."
"Prepare untuk?"
"Your wedding kan?"
"Ha? Bukannya belum ditentukan waktunya?"
"CRYSTALIN!!!" geram Karina, gemas. "Jadi dari tadi itu kamu belum tau kalau next week is your wedding?"
'WHAT?!?' Crystal lagi - lagi shock dibuat oleh Tristan.
Astaga! Ternyata Tristan benar - benar sudah mempersiapkan segalanya dengan teliti. Pertanyaan Crystal mengenai wedding dianggapnya sebagai sebuah persetujuan untuk menikah.
Begitu sampai di villa, Tristan langsung menghubungi beberapa orang yang sudah dia siapkan sebelum dia melamar Crystal. Dan, saat itu juga dia memutuskan kalau pernikahan mereka akan diadakan minggu depan.
Bersambung ya....
Note :
"Aku ingin melihat seorang Crystalin yang berambut putih, berkulit keriput dan menua bersamaku."
Terinspirasi dari dialog Kapten Ri dan Yoon Seri di drakor Crash Landing On You (episode 12).
You can check it out if you want to. ☺
That's my favorite line. Just imagine that a man told you like what Kapten Ri said. 😍😍😍
OMO 😍😍