
"Your body look so se -xy, My Tristan. I want to enjoy it soon."
Kalimat yang diucapkan dengan wajah yang polos tanpa dosa terasa begitu seduktif di telinga Tristan. Mendadak saja udara di sekitarnya terasa panas, dan dia seperti kehabisan napas. Chill, Tristan! She is a first timer, so make it special. Tristan berusaha menenangkan dirinya sendiri.
(Santai, Tristan! Ini pertama kalinya, jadi jadikanlah istimewa.)
"Hey, tapi seharusnya aku yang ngomong gitu kan? I am a man. And you are a woman." sahutnya di tengah suara gemuruh yang memenuhi dadanya.
"Hmm... aku kan cuma mau jujur." Crystal mencebikkan bibirnya.
STRIKE!
Pertahanannya runtuh, kalimat itu mendarat manis di jiwanya dan melambungkan gai rah yang selama ini dipendamnya.
"I gave up." Tristan menyerah.
"Let's do it now."
Tristan sudah bersiap membawa Crystal ke kamar tidur utama.
"A minute, Kak Tristan." Crystal berusaha menahan Tristan. Dan Tristan pun hanya bisa menghela napas.
'Nah! Gini ini yang namanya Crystal. That's why I don't want to rush anything.' keluh Tristan dalam hati.
(Itulah kenapa aku nggak mau buru - buru.)
"Bukannya tadi kamu yang minta buru - buru?" protes Tristan lagi. Meski begitu dia tetap berusaha memahami jalan pikiran wanita dihadapannya.
"Tapi air mandinya sayang kalau dibuang." Crystal menunjuk air yang ada di jacuzzi dengan dagunya.
"Jadi kamu mau berendam?" Tanya Tristan hati - hati. He doesn't want to put his hope high in the sky.
(Dia tak mau menaruh harapan setinggi langit.)
"Of course I want. Tadi kan aku udah ngomong kalau mau mandi sama Kak Tristan. Mandi dulu, baru itu... " kalimat terakhir diucapkan Crystal sambil tersipu. Bulu Tristan sampai meremang mendengarnya.
Tristan menarik napas dan menghembuskannya perlahan, tangannya mengusap lembut rambut Crystal. "Do you want me to take off your clothes? Or do it by yourself?" tanyanya lembut.
(Kamu mau aku membantumu melepas pakaianmu? Atau melakukannya sendiri?)
Mengingat bagaimana labilnya Crystal, Tristan sengaja bertanya, karena dia tak mau di tolak.
"You do."
SECOND STRIKE!
Tristan melepaskan katup gai- rahnya saat itu juga. Menci -um Crystal lembut dan dalam. Kemudian tangannya dengan lincah membuka satu per satu kancing blouse yang dipakai Crystal. Sekarang di tubuh Crystal hanya tersisa bra dan under---wear.
"Beautiful." bisik Tristan saat dia melepas bibir mereka untuk menarik napas. Dia memegang wajah Crystal dan memandangnya dengan penuh cinta. "You're perfect for me."
Crystal memalingkan wajahnya, tak berani menatap Tristan. Dia sibuk mengatur degup jantungnya yang benar tak terkontrol. Panik, nervous, grogi dan juga takut, semua menjadi satu. Apalagi saat menyadari tubuhnya yang hampir polos, Crystal merasa malu luar biasa dan juga tegang.
Menyadari kegugupan istrinya, Tristan menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Diangkatnya tubuh Crystal dengan kedua tangannya lalu mendekat ke jacuzzi dan meletakkan Crystal ke dalam bathtub. Tristan masih memakai box-- ernya, dia tak mau membuat Crystal semakin panik dan tegang melihatnya langsung polos.
Perlahan dikecupnya dahi Crystal "Nikmati saja! Letakkan kedua tanganmu disini." katanya sambil meletakkan tangan Crystal di pinggiran jacuzzi dan mengambil bubble bath.
Tristan membiarkan riak air di jacuzzi membuat busa semakin lama semakin banyak sambil tangannya mulai bergerak seperti gerakan menggosok badan dengan sabun. Mulai dari leher hingga turun ke bawah memberikan pijatan - pijatan pada titik - titik sensitif sambil terus menyabuni.
Crystal mulai merasa relax, dia menyukai semua pijatan yang diberikan oleh suaminya dan menikmati tangan Tristan membersihkan tubuhnya. Otot - ototnya tak lagi terasa tegang, semakin lama semakin nyaman.
"Hmmm... aku nggak tau. Yang pasti I can't hold it any more."
Tristan tertawa kecil, fokusnya kembali beralih pada pijatannya. Otaknya membuka lagi file - file di pikirannya yang berisi berbagai ilmu yang sengaja disiapkannya untuk malam ini. Dia membaca buku ka ma su tra, literatur sansekerta dan banyak artikel di internet untuk di praktekkan pada tubuh wanita yang dicintainya.
Hasilnya? Tristan benar - benar bahagia melihat tatapan sayu Crystal, setiap pijatannya berhasil menyentuh saraf - saraf sensitif istrinya, membangkitkan adrenalin dan melepaskan hormon kewanitaan wanita yang sudah menjadi istrinya.
Beberapa kali tangan Crystal reflex ingin menggapai tubuh Tristan, tapi Tristan tak mengijinkannya. Tristan mengecupnya dan selalu mengembalikan tangan Crystal kembali ke tempat semula setiap kali Crystal ingin menyentuhnya.
"Chill, Babe. This gonna be a long and beautiful night." bisiknya sen sual.
(Santai, sayang. Malam ini akan menjadi malam yang panjang dan indah.)
Crystal tak sanggup lagi, di hanya bisa bersandar di sandaran bathtub dan menatap Tristan. Pijatan e ro tis di setiap titik sarafnya dipadukan dengan tatapan mata Tristan bercampur dengan sen -sua -li-tas Tristan membuat wanita itu benar - benar kelimpungan.
Jantungnya berdebar semakin kencang, setiap sarafnya terasa dua kali lipat lebih sensitif dari biasanya. Tanpa disadari oleh Crystal, mereka berdua sudah sama - sama polos.
Tristan memajukan duduknya, membuat lutut Crystal bertumpu dibahunya dan memijat lembut di belakang lutut Crystal. Tempat dimana saraf - saraf sen - sual seorang wanita lebih sensitif, bahkan lebih kuat dari pada rasa yang ditimbulkan dengan sentuhan di tengkuk leher maupun dua gunung indah dihadapannya.
Wanita di hadapannya terlihat semakin lemah dan menyerah pasrah apa pun yang akan dilakukannya. Tristan berhasil menggodanya tanpa sekali pun menyentuh 'mainan kembar' yang dari tadi terpampang jelas di hadapannya.
Pijatan - pijatan lembut itu membuat Crystal relax dan di serang oleh gelombang ga-i-rah yang tak berkesudahan. Ada rasa 'ingin' yang tak bisa lagi di tahannya. Mulutnya mengeluarkan suara - suara yang terdengar begitu memuaskan di telinga Tristan.
"Mmmm... Kak Tristan.... " panggilnya dengan suara yang lebih mirip dengan de- sah- an.
"Yes baby?" tanya Tristan, sambil menatap ke manik mata istrinya.
G o s h!
Suara Tristan yang lebih mirip bisikan benar - benar membuatnya mabuk kepayang. Ditambah lagi, tatapan memuja dan penuh cinta dari Tristan membuat level percaya dirinya meningkat drastis untuk meminta lebih.
"Ma-ke lo-ve to me, Tristan." bisik Crystal.
Tristan tersenyum lembut, mengecup kening Crystal dengan penuh perasaan. Sejenak menikmati 'moment' mereka.
"What do you want me to do, My Queen?"
(Kamu mau ingin aku ngapain, My Queen?)"
Crystal tersenyum kecil. "I want you to do all." Jarinya berjalan - jalan di dada bidang Tristan.
"Fly me to the sky, till I touch the stars." bisiknya di dekat telinga Tristan, menghembuskan napas yang menyalakan api di dalam diri laki - laki itu.
(Terbangkan aku ke langit, hingga menyentuh bintang - bintang.)
"Your wish is my command, sayang."
(Keinginanmu adalah perintah bagiku.)
Bersambung ya....
Sorry late update, this part is really scared me. Butuh banyak keberanian buat nulis dan update. Deep down in my heart, I really want to write it as beautiful as my Tristan.
Semoga aku nggak nulis ini as 'a dirty things' 🙏
(Update sambil doa banyak- banyak) 😫