I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 48 -- I'm Your Way Home



BOLEH!


Bisa-bisanya Kak Tristan bilang boleh dengan entengnya. Dasar menyebalkan! Tak punya perasaan! Apa Kak Tristan nggak bener-bener suka sama aku?"


Crystal mengomel-ngomel dalam hati, wajahnya dilipat-lipat tak karuan. Tangannya sibuk menepis tangan Tristan yang berusaha menyentuh lengannya untuk menenangkan hati Crystal.


"Jangan pegang-pegang!" Sergah Crystal galak.


Crystal jadi merasa kalau dirinya tak berarti apa-apa bagi Tristan. Buktinya, Tristan dengan mudah melepasnya untuk belajar di luar negeri. Dan yang paling parah, Tristan tidak cemburu! Kenapa disini hanya dia yang merasa sedih dan takut kehilangan? Benar-benar tidak adil!


"Crystal... " Panggil Tristan dengan sabar, dia tau kalau sebenarnya Crystal sedih karena akan berpisah dengannya. Hanya saja dia melampiaskan dengan marah-marah.


Crystal melengos. "Iya, iya! Aku berangkat ke London. Disana aku bakal cari pacar banyak-banyak. Kencan setiap hari, trus aku bakal lupain Kak Tristan!"


"Awas ya, kalau Kak Tristan sampai kangen sama aku!" Kali ini Crystal berkacak pinggang, matanya melirik sinis.


"Biar tau rasa, aku nggak mau lagi sama Kak Tristan." Crystal terus saja uring-uringan.


Tristan hanya bisa menghembuskan napas, ingin sekali dia berkata, "I feel you, Babe. Actually, your feeling is same as mine."


(Aku ngerti perasaanmu, Babe. Sebenarnya, perasaanmu sama denganku)


Sayangnya, dia tak bisa. Bagaimana jadinya kalau dia lemah? Tidak. Tristan harus kuat untuk bisa terus mensupport Crystal. Lagipula, masuk sekolah design di London sudah menjadi cita-cita Crystal sejak dia kecil. Jangan hanya karena dirinya, Crystal membuang mimpinya.


Bukankah mensupport orang yang kita sayang hingga meraih mimpi juga termasuk salah satu cara terbaik untuk mencintai?


"Crystal, dengerin aku dulu." kata Tristan.


"NGGAK MAU! NGGAK MAU! NGGAK MAUUU!!" teriak Crystal sambil menutup kedua telinganya. Kepalanya digeleng-gelengkan.


Dia berdiri dan lari menuju pintu keluar. Tristan mengejar dan memeluknya dari belakang. Crystal berontak, kakinya menendang ke segala arah. Tristan tetap memeluknya erat. Semakin Crystal berontak, Tristan memeluknya semakin erat.


"Kak Tristan mau buang aku kan? Iya kan?" Crystal terus meronta dan mulai menangis.


"Nggak, bukan gitu."


"Kak Tristan udah nggak sayang aku."


"I love you the most." kata Tristan sambil menahan segenap perasaan.


"BOHONG!" teriak Crystal, tak mau mendengarkan sedikit pun kata-kata Tristan.


"Aku sayang kamu, Crystal." Bisik Tristan di telinga Crystal sambil terus memeluknya erat-erat.


"Aku nggak percaya." Crystal malah menangis semakin tersedu-sedu.


"Aku sayang kamu." Bisik Tristan lagi, dan lagi.


"Aku sayang kamu."


Tristan membisikkan kata-kata itu berulang kali di telinga Crystal seolah memberinya mantra hingga Crystal tak lagi meronta.


Capek berontak dan menangis, Crystal terduduk di lantai, lemas. Air mata masih terus meleleh. Tristan menggendongnya dan mendudukkan gadis remaja yang sedang sedih itu diatas kursi.


Tristan berlutut, lalu menyeka air mata Crystal dengan tissue. Tristan berdiri menuju mini dispenser di kamar Crystal, menuang air dan menyodorkannya.


"Minum dulu." kata Tristan.


Crystal diam saja, tangannya tak bergerak dan diam di pangkuannya sendiri. Matanya tak mau melihat ke arah Tristan.


Sesekali masih terdengar sisa-sisa sesenggukan, di dalam ruangan yang mendadak terasa sunyi setelah kegaduhan Crystal tadi.


Tristan memandangnya dengan sedih. "Ayo, minum!" katanya lagi. Tangannya satunya mengusap kepala Crystal.


Tristan mendekatkan gelas ke mulut Crystal dan menunggunya hingga gadis itu mau minum. Crystal melirik kesal, tapi diminumnya juga air dari Tristan.


Dalam sekejap air di dalam gelas itu habis. Lehernya terasa lebih enak sekarang. Ternyata Tristan benar, dirinya haus.


Ah, Crystal jadi semakin kesal karena Tristan ternyata tahu apa yang dibutuhkannya lebih dari pada dirinya sendiri.


Crystal menundukkan kepalanya, tapi Tristan menahan dagunya. Kemudian berjongkok dihadapan Crystal hingga tingginya sejajar dengan Crystal. Matanya menatap mata Crystal, menunjukkan kesungguhan hatinya.


"Di masa mendatang hubunganku dan Hartono murni bisnis, dan akan selalu begitu. Nggak akan ada Bianca, dan juga wanita lain. You're the one for me." Suaranya pelan tapi meyakinkan.


"Kamu tadi tanya, gimana kalau kamu jatuh cinta lagi sama cowok lain? Itu kan hanya kalimat pengandaian dan belum tentu kejadian. Jadi aku jawab saja boleh." Tristan berhenti sejenak.


"Kalau pun itu terjadi, aku janji bakal ngejar dan merebutmu kembali dari laki-laki itu. Gimana menurutmu?"


Bibir Crystal bergetar, menahan tangis.


"Kamu tau? Aku nggak akan pernah melepaskan milikku. You're mine, Crystal. Kalau kamu lupa, the day you came to my house... you're mine." lanjut Tristan.


Dia mengulang kembali kata-kata yang pernah diucapkannya dulu. Tangannya menyisir rambut Crystal yang berantakan dengan jari-jarinya.


"Kalau ada banyak pemuda yang menyukaimu, aku bisa apa? Bagiku yang penting adalah perasaanmu ke aku. Biarkan mereka menyukaimu. Lebih baik banyak yang menyukaimu, dari pada banyak yang membencimu supaya semua mudah untukmu di luar sana."


"Kak Tristan nggak takut aku suka sama orang lain?" Mata Crystal membulat.


"Bertemanlah dengan pria mana pun, sebanyak yang kamu mau. Buka mata lebar-lebar, dan pakai logikamu. One day, you'll know that no one loves you like I do." kata Tristan memasang senyum terbaiknya.


(Suatu hari, kamu bakal tau kalau nggak ada orang yang mencintaimu seperti aku.)


Melihat Crystal nampak sudah tenang, Tristan merentangkan tangannya, "Come to me, please."


Oh! Crystal tak bisa mengungkapkan perasaannya. Dia menghambur ke pelukan Tristan.


"You're my brother, my parents, my best friend, my hero, my enemy, my partner in crime, my home, my love... my everything." bisik hati Crystal.


Air mata haru kembali meleleh.


Tristan mengecup kening Crystal lama sambil memejamkan matanya.


"You can go anywhere. However, don't forget I'm your way home." balas hati Tristan.


(Kamu bisa pergi kemanapun. Tapi, jangan lupa akulah jalanmu pulang.)


Crystal diam merasakan hangatnya kecupan Tristan di dahi sambil meresapi perasaannya yang bercampur aduk.


***


Tanpa sadar kegaduhan Crystal mengundang sepasang mata menyaksikan bagaimana kedekatan "kakak beradik" itu.


Tuan Harrison tertegun. Pertama kali dalam hidupnya melihat berbagai macam ekspresi Tristan dalam satu waktu. Sedih, kuatir, cemas, sekaligus penuh cinta.


Speechless, itulah yang dirasakan Tuan Harrison.


Bersambung ya...


NOTE :


Apa beda home dan house?


House : rumah, mengacu pada bangunan fisik (bangunan)


Home : "rumah" yang mengacu pada perasaan / emosional, seperti tempat dimana anda merasa nyaman.


Kurang lebih begitulah, Man Teman 🀭


Yes! Last one for today.


Akhirnya bisa triple up nih ✌πŸ₯ΆπŸ₯΅πŸ₯ΆπŸ₯΅πŸ˜…πŸ˜…


Buat para Readers yang dermawan, Author tetep OPEN DONATION Vote, like dan gift ya... πŸ₯°


Thanks before πŸ™