I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 57 -- Already Miss Him



Malam itu, Crystal berusaha menerima kenyataan dan menguatkan dirinya sendiri. Bertekad menjadi wanita mandiri seperti yang sering disebut-sebut oleh Tristan. Dan yang paling penting adalah dia tidak akan pernah mempermalukan Tristan.


Lagipula, cepat atau lambat dia harus dewasa. Dan harus bisa berdiri di kakinya sendiri.


Hal pertama yang dilakukannya adalah mengambil laptopnya kemudian membuka-buka lagi file-file di sana dan mengirimkan portfolio design miliknya melalui email ke beberapa perusahaan yang memiliki kredibilitas bagus.


Terakhir, dia menghubungi seseorang. Besok sore atau malam, mereka harus bertemu demi memulai eksistensi dirinya.


****


"CRYSTAL! I'm here."


Sky melambai, tersenyum lebar pada Crystal. Hampir sebulan tidak bertemu, penampilan Sky tampak sedikit berubah. Tubuhnya lebih berisi dan berotot dibanding terakhir kali mereka bertemu. Kulitnya juga tampak lebih gelap karena terlalu sering berpanas-panas demi membuat content akun you tube miliknya.


HEGH!


Sapaan dan pelukan hangat Sky membuat Crystal hampir tak bisa bernapas.


"How are you Babe?" Sky menepuk-nepuk punggung Crystal dengan perasaan bahagia.


Crystal sedikit terhuyung saat akhirnya Sky melepaskan pelukannya.


"Good." jawab Crystal singkat.


Sky memandang Crystal dari atas ke bawah. "Pretty as always." decaknya kagum pada wanita muda nan modis dihadapannya.


(Cantik seperti biasanya.)


Terbiasa dengan gombalan Sky, Crystal hanya menanggapinya dengan senyum.


Kedua sahabat itu saling mengamati, melepas rindu.


Sky lebih mirip seperti petualang dari pada anak orang kaya. Diam-diam Crystal kagum pada keberanian Sky untuk pergi ke kota-kota asing sendirian. Setidaknya, dia punya nyali pergi tanpa dukungan keluarganya.


Satu hal yang tidak pernah berani dilakukannya. Lagipula, Kak Tristan tak pernah mengijinkannya pergi sendiri. Ah, kenapa pikirannya malah kembali ke Kak Tristannya.


Crystal berusaha mengenyahkan pikirannya mengenai Tristan. Otaknya harus kembali fokus kepada Sky yang sedang berdiri dihadapannya.


Alis Sky terangkat keatas, saat dia berbicara kalimat berikutnya.


"By the way, kamu membuatku bertanya-tanya Babe."


Sky menangkap ada yang berbeda pada gadis di hadapannya. Hmm... penampilannya bisa dibilang perfect, blouse putih dan celana biru dipadukan dengan sepasang skechers.


Nope! Sky menyadari ada yang berbeda di dalam sorot gadis pujaannya itu. Sorot matanya menyiratkan kesedihan.


"Ah, kamu memang selalu banyak pertanyaan Sky." Crystal mengalihkan pandangannya, tak mau Sky membaca apa sebenarnya yang ada di dalam hati dan pikirannya.


"Aku penasaran." Sky mengikuti langkah Crystal yang berjalan keluar dari area kedatangan Changi Airport.


Crystal mencoba acuh tak acuh dengan pertanyaan Sky, kakinya terus melangkah. Tanpa sedikit pun mengurangi kecepatannya.


"Come on! Say something for me." Sky terus mengejarnya.


(Ayolah katakan sesuatu padaku.)


Crystal berhenti sejenak, menoleh, kemudian memutar bola matanya.


"SOMETHING!" seru Crystal.


Ha?


Sky mendengus. Wajahnya kesal dan dia tertawa tanpa humor saat mendengar 'something' dari Crystal.


Tunggu! Ternyata Crystal datang tanpa membawa apa pun, berjalan melenggang di depannya hanya dengan sebuah tas cangklong dan tas laptop.


"Stop! Stop! Dengerin dulu." Sky menarik lengan Crystal.


"Aku penasaran. Aku mau tau kenapa kamu mendadak kesini?" Sky mengulang kata-katanya.


Tak ada jawaban, langkah Crystal melambat.


"Serius? Mau ikut aku backpacker?" Sky memandang ke arah mata yang selalu membuatnya resah.


Crystal mengangguk pelan. "Yeah."


"Are you sure? Where's the luggage?"


Ups! Sky benar sekali.


"You told me to say something right? And I already did it. I said 'something'." Crystal mengangkat alisnya "That's it." Kata Crystal sambil mengangkat bahunya. Ekspresinya menunjukkan please jangan nanya-nanya dulu, beri aku waktu.


(Kamu bilang aku suruh ngomong something kan? Aku kan sudah ngomong 'something'. Ya udah.)


Crystal berbalik dan melanjutkan langkahnya, meski tak secepat tadi. Perasaannya yang sudah susah payah ditata semalaman mulai kacau.


Sky tak menyerah. Dia memaksa dirinya sendiri untuk berpikir dengan cepat. Sudah jelas ada sesuatu yang terjadi pada gadis dihadapannya.


"AHA!" seru Sky sambil menjentikkan jarinya. Wajahnya tampak senang dan puas dengan apa yang mendadak terlintas di otaknya.


"Apaan?" Crystal ikut kaget dengan AHA si Sky. "Ada apa?" tanyanya lagi.


"Dimana your guardian angel?"


APA?!


"Our Princess went out from her sanctuary. Tumben Kak Tristan-mu bolehin." tanya Sky dengan wajahnya yang kepo maksimal.


(Tuan Puteri kota keluar dari sanctuary-nya)


Exactly! Nama Tristan dan dikombinasikan dengan satu suku kata MU. It hit Crystal deep into his heart.


(Menusuk jauh ke dalam hati Crystal.)


Seakan ada yang menekan tombol pause, langkah Crystal berhenti seketika. Dia berhenti tegak, mematung dan matanya menatap lurus ke satu titik nun jauh disana.


Kak Tristan-mu, dua kata yang berhasil menyenggol sisi sensitif Crystal. Membuka aliran air mata yang telah susah payah dibendung sedari tadi atau mungkin saja dari semalam.


Satu tetes air lolos dari matanya. Crystal mengerjap, mencoba menahan air matanya meluncur. Dia tak mau terlihat lemah di depan Sky.


Ah, sia-sia! Tetesan-tetesan air matanya mengalir tanpa bisa dibendung dan semakin deras.


Sky melongo, wajahnya mulai bingung dan panik.


"Lho, lho, kok nangis?"


Niat hati hanya ingin memancing Crystal untuk bercerita, siapa sangka dia malah menangis. Buru-buru Sky merangkulnya.


SRET! Tangannya hanya merangkul angin. Crystal sudah merosot, jongkok sambil menelungkupkan wajahnya di lutut. Bahunya terguncang hebat, tersedu-sedu. Tas cangklongnya melorot dari bahu dan jatuh ke lantai.


Crystal menangis sejadi-jadinya. Tak peduli pada orang-orang yang berlalu lalang. Mereka mulai mengarahkan matanya kepada kedua anak muda itu dengan pandangan bertanya-tanya.


"Hey... What's up Babe?" Sky mengacak rambutnya sendiri.


"HU.... HU.... I... allh reah... di... msiiss... hhiimm." kata Crystal terbata-bata di sela-sela tangisnya. Rasa sesak di dadanya tumpah ruah bersama air mata.


GOSH!


Already. Miss. Him?


Who?


Tristan?


"Ak... akkhu... mau sama... kkaak Triissst Tristtaa... an." tambahnya sambil sesenggukan. "But, I can't." Crystal mendongak, mata dan hidungnya merah, wajahnya basah karena air mata.


HAH!


I knew it.


What a hell.


Sky meraup wajahnya kasar. Bahkan sebelum Crystal menyadari perasaanya sendiri, Sky sudah tahu lebih dahulu kemana hati Crystal tertuju. Dari awal, cintanya bertepuk sebelah tangan. Ada getir dihati Sky, saat melihat gadis yang disukainya malah menangisi pria lain.


Sky menertawakan dirinya sendiri, menyadari kalau hatinya sekali lagi patah.


Yeah, setelah sebulan lamanya tak bertemu, ternyata hari ini mereka bertemu untuk menangis bersama dengan alasan yang berbeda.


Sore itu, warna jingga yang biasanya indah terasa sendu seperti hati Crystal.


Sky terduduk di sebelah Crystal, merangkul bahunya dan menepuk-nepuknya dengan lembut.


"Menangislah, menangislah. Setelah itu kembalilah tersenyum dan bersinar. Everything's gonna be fine, Princess."


Bersambung ya....