I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 86 -- A Pleasure



Kicauan burung dan secercah cahaya menyusup masuk ke dalam kamar mereka, membangunkan Crystal dari tidur nyenyaknya. Perlahan matanya terbuka, sejenak dia lupa dimana dia berada.


Napas pelan terdengar dari balik punggungnya, tangan Tristan yang berat melingkar di pinggangnya yang polos. Kejadian semalam kembali berputar dalam ingatannya.


*


Setelah goal pertama yang dilakukan oleh Tristan, dia beristirahat sejenak. Tristan tersenyum melihat warna merah nan indah di atas sprei putih tempat tidur mereka. Sebuah kenyataan yang membuat Tristan bahagia, dan juga bangga pada Crystal.


'She's a virgin. What an honour.'


(Dia masih virgin. Sebuah kehormatan.)


"Kenapa tersenyum seperti itu?" tanya Crystal.


Tristan menggelengkan kepalanya.


"Apa ada yang salah?" Crystal memandangi tubuhnya yang masih polos, lalu menarik bed cover untuk menutupinya.


"Thank you to give it to me. The color makes me very happy."


(Terima kasih sudah memberikannya padaku. Warnanya membuatku sangat bahagia.)


Mata Crystal langsung menuju ke sprei berwarna putih dengan noda darah yang berasal dari selaput daranya, segel terpenting bagi seorang wanita.


"Kak Tristan, apa akan keluar terus darahnya?"


Tristan menggelengkan kepalanya.


"Seharusnya cuma sedikit saja."


"Berapa lama?"


"Menurut yang aku baca, seharusnya only for one or two days." Tristan menjelaskan, kali ini sambil mendekap tubuh Crystal.


"Tapi apa kamu merasa sakit?" tanya Tristan kemudian.


"Ehm... , aku tidak merasakan sakit apapun." jawabnya sambil menunduk malu - malu. Pipinya merona memikirkan apa yang baru saja dilakukannya.


Sejak mendapatkan tamu bulanannya yang pertama, Suster Anna sudah wanti - wanti untuk menjaga kebersihan dirinya supaya bersih dan kesat. Dia senang saat Tristan memujinya tadi.


Ah, jantungnya kembali berdetak kencang hanya dengan mengingat bagaimana tampan dan lembutnya perlakuan Tristan padanya.


"Hmmm... apa yang kamu pikirkan sampai wajahmu memerah seperti itu?" celetuk Tristan.


"I'm very happy." jawab Crystal jujur.


"Do you like it?"


"More."


"What?"


"I want more."


"Are you sure?" tanya Tristan pelan, sikapnya begitu penuh perhatian.


Memahami betul bagaimana hati - hatinya Tristan memperlakukan dirinya, Crystal mengangguk yakin. "Don't hesitate."


(Jangan ragu.)


"Will do, Mam."


Tangan Tristan langsung bergerak menuju tubuh Crystal, seolah wanita itu tercipta hanya untuknya.


Tristan menyentuhnya begitu tepat, di setiap titik - titik terbaiknya. Seketika pikiran Crystal berantakan. She doesn't want to stop.


Dia ingin Tristan mencintainya terus sampai pagi, ingin memeluknya lagi dan lagi. And also, she wants to love him. Dan dia akan mencintai suaminya. Bahkan tanpa diminta dan berapa banyak pun yang dia mau. Take and give!


(Dia juga ingin mencintainya. Memberi dan menerima!)


Keduanya memejamkan mata, menikmati eks-tasi yang melingkupi mereka. Terus bergerak bersama, lagi dan lagi. Hingga berkali - kali terbang ke atas langit dan bermain bersama bintang - bintang.


*


Crystal tersenyum - senyum. Malam pertama mereka tak akan pernah terlupakan. Dia pernah membaca banyak cerita tentang malam pertama di novel - novel yang dia punya. Kadang kala terbersit bagaimana malam pertamanya kelak.


Pernah juga dia membayangkan honeymoon di sebuah pulau terpencil. And... , ehm no one there. Enjoy the beautiful nights with her husband. Ah, tapi tiap cerita di novel mempunyai kisah romantisnya masing - masing.


(Tak seorang pun disana. Menikmati malam yang indah bersama suaminya.)


Yang pasti, tidak satu pun cerita yang dibacanya mengalahkan sensasi pengalaman pertamanya bersama Tristan.


"Morning, sayang.... " sapa Tristan dengan suara seraknya yang terdengar seksi.


Crystal menoleh dan tersenyum, "Morning, My Tristan."


"Lapar." kata Crystal. Dia jadi ikutan menyangga kepalanya dengan tangan. Posisi mereka saling berhadapan dan sama - sama menyangga kepala dengan tangan.


"Let's have breakfast." Tristan melempar bed cover dan berdiri dengan tubuh yang masih polos. Kemudian menghadap ke arah Crystal.


"Berdiri dan berjalan kearahku." perintah Tristan lembut.


"All right." Crystal mengangguk dan langsung berdiri.


Tapi,


"Ssssh.... " Wanita itu meringis merasakan sedikit perih di bagian pribadinya.


"Fiuuuh... , sudah kuduga." kata Tristan, mengingat bagaimana mereka berkali - kali melakukannya semalam.


"Does it hurt?" tanya Tristan lagi sambil menatap wajah Crystal. Sekarang tangannya sudah memegang tangan Crystal dan membantunya berjalan.


"Ehm... little bit."


Tanpa banyak bicara, Tristan menggendong istrinya ke kamar mandi dan meletakkan di atas closet.


"Kosongkan kandung kemihmu. Ini bisa mencegah infeksi saluran kencing dan membuang bakteri."


Sembari menunggu Crystal menyelesaikan urusannya, Tristan menyalakan kran air untuk mengisi bathtub dengan air hangat. Setelah itu, dia membantu Crystal membersihkan 'diri', kemudian memasukkannya ke bathtub.


"Aku bisa membersihkan diriku dan mandi sendiri, Kak Tristan." protes Crystal malu karena dari tadi Tristan terus membantunya membersihkan tubuhnya.


"Nggak apa - apa. I make a mess on you. Biarkan aku membantu merapikannya lagi."


(Aku membuatmu berantakan.)


"Tapi aku kan malu."


Tristan hanya mendengus sebagai jawaban. Sekarang baru malu, semalam ngapain saja si Crystal ini? She always wants more and more.


Crystal paham arti dengusan Tristan. Dia menunduk, tak berani menatap suaminya. Astaga! Tak sengaja matanya menatap bagian bawah tubuh suaminya, pipinya kembali merona dan matanya kembali menatap Tristan.


"Hey, jaga pandanganmu. Jangan memandangku dengan tatapan seperti itu. Atau kamu akan benar - benar tak bisa berjalan."


Crystal menggigit bibirnya, lalu kembali menunduk. Dan, matanya tak sengaja kembali menatap ke arah yang sama. LAGI!


"Hhhh... kamu ini! Tunggu sebentar, I'll be back soon." Buru - buru Tristan membersihkan dirinya sendiri dan mengenakan jubah mandi, kemudian membuka lemari pakaian untuk mencari pakaian Crystal.


***


Setelah seharian menghabiskan waktu lebih banyak di hotel dan sekitarnya, malam ini Restaurant Embers at Bushmans Kloof menjadi pilihan Tristan untuk dinner romantis mereka.


Sebuah restaurant yang tersohor dengan hidangan lokal dari cape. Tristan yakin kalau Crystal akan menyukai pengalaman makan beratapkan langit di amphietheatre batu alam natural.


Percikan bara api yang dramatis dan pemandangan lembah yang indah disisi bawah. Penerangannya menggunakan api unggun dan lilin - lilin serta lentera yang begitu banyak. Membuat siapa pun merasa seperti sedang berada di sebuah dongeng.




"Aku belum pernah coba boerewors." ucap Crystal saat duduk sambil menatap langit berharap bisa melihat galaxy bima sakti.


"Kamu pasti suka." sahut Tristan sambil membantu mendorong kursi supaya istrinya itu bisa duduk dengan nyaman.


"Sebenarnya boerewors apa sih?"


"Itu sejenis sosis khas Afrika Selatan."




Tristan memandang langit mencoba mencari rasi bintang yang sering kali bisa dilihat dari sana. Crystal menangkap gurat kekuatiran di wajah lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.


"Ada apa?" tanyanya sambil menyentuh tangan Tristan.


Tristan menghembuskan napas. "Maaf, karena setelah pulang dari sini. Kita akan langsung menemui Papa." Tristan berhenti sejenak, lalu menatap mata Crystal dengan raut kuatir. "Dan juga... , Mama."


Bersambung ya....


Note :


Suddenly, I wanna shake your mind, Readers. The evil side of mine say so.


However, the angel side of mine told me not to do that. 😂😂


I hardly decided that 'the bad thing' was enough. 😝😝😝😝


Akhirnya closing bab ini dinner aja deh ya, dari pada 'bad thing' lagi. 😜