
Tristan sudah menunggu di depan pintu kamar begitu Crystal membuka pintu.
"Kak Tristan?" sapa Crystal kaget.
"Morning." sapa Tristan.
Dia terlihat sudah segar dan juga... ehm, tampan memakai kaos putih dan celana training warna hitam. Rambutnya ditata dan janggutnya dicukur bersih. Matanya memandang penampilan Crystal pagi ini.
"You're cute."
Pipi Crystal memerah. "Aku belum mandi. Menghina ya?"
"Nggak apa. Nanti juga keringetan lagi." kata Tristan sambil terkekeh.
"Mau ngapain memangnya?"
"Hiking, liat air terjun."
"Jauh nggak?" tanya Crystal ragu.
"Mmm... tiga puluh menit mungkin?"
"Kita pergi berdua aja?"
"Yup, time for our date." jawab Tristan dengan sumringah.
Ha? Nge-date?
"Gimana kalau kita berangkatnya setengah jam lagi?" Tanya Crystal.
Mendengar kata nge-date, dia mencoba mencari peluang untuk sedikit berdandan. Crystal melirik pakaiannya yang hanya memakai pakaian tidur.
"Halaaah... nggak usah dandan." tolak Tristan mentah - mentah. Dia bisa membaca gelagat Crystal. "Ganti celana training sama kaos aja gih. Aku siapin barang - barang yang mau dibawa. Nanti keburu siang, panas." perintah Tristan.
Suasana villa masih sepi, Tristan dengan cekatan menyiapkan air minum, bekal, handuk dan baju ganti.
"I'm ready." ujar Crystal yang muncul dari dalam kamar setelah selesai cuci muka, gosok gigi memakai deodorant dan sunblock.
Tristan yang sedang mengemas barang - barang mereka menoleh, dia tersenyum melihat penampilan Crystal yang sporty tapi tetap manis. Dia memakai legging hitam dipadu dengan kaos oversized warna putih dan sepatu keds. Rambutnya digelung dan diselipkan ke dalam topi.
"All right. Kamu bawa yang ini, Sayang." Tristan mengangkat ransel kecil yang lebih ringan dan membantu memasangkannya ke punggung Crystal.
"Let's go."
Kedua orang itu keluar dari villa lewat pintu samping. Ternyata Suster Anna sudah ada di dapur yang letaknya disamping villa, bersama istri mandor proyek.
"Selamat pagi, Tuan, Nona." sapa Bu Sari. "Hari ini mau dimasakkan apa?" tanyanya sambil menunjuk counter dapur yang berisi tumpukan sayur dan ikan.
"Ini juga ada roti baru mateng, Suster Anna yang bikin."
"Wanginya.... " komentar Tristan, mendadak perutnya keroncongan.
"Tuan mau sandwich? Ada telor, smoke beef dan keju, juga selada sama tomat." Suster Anna menawarkan saat mengamati sayur - sayuran segar di hadapannya.
"Wow, sounds so yummy." Crystal menoleh dengan mata berbinar - binar.
"Tuan sama Nona mau kemana?" tanya Bu Sari ketika sadar kalau Tristan dan Crystal menggendong ransel.
"Mau jalan - jalan sambil pacaran, Bu. Biasa namanya anak muda." Suster Anna menjawab duluan sambil terkekeh.
"Kalau gitu mau bawa roti, Tuan?" Bu Sari dengan sigap menyiapkan makanan - makanan yang bisa mereka bawa.
"Kalau gitu sandwich aja kaya Suster Anna bilang tadi." Tangannya mencomot roti buatan Suster Anna yang baru matang.
Bu Sari pun dengan sigap menyiapkan bekal mereka.
**
"Kak Tristan masih jauh nggak?" rengek Crystal.
Perasaan mereka sudah berjalan lama, tapi tak juga sampai ditujuan.
"Kamu capek? Mau istirahat dulu?" tanya Tristan.
Crystal mengangguk - angguk, napasnya terengah - engah dan jantungnya berdegup kencang.
"Oke." Tristan menggandeng Crystal menuju sebuah batu panjang yang dibuat seperti bangku taman. Tapi Crystal sudah tak mau lagi berjalan. Dia merosot dan duduk berselonjor di jalan setapak.
"Aku lapar." rengek Crystal lagi.
Tristan membuka ranselnya mengeluarkan perbekalan mereka, sandwich, potongan apel, cokelat, dan minuman.
"Nih. Kamu paling suka cokelat kan?"
Crystal tertawa senang, dan tak lama mulutnya langsung sibuk mengunyah makanannya. Selama beberapa saat, suasana hening. Crystal mendongak memandang pemandangan disekeliling mereka. Pohon - pohon yang tinggi dan rindang, kicau burung bersahutan.
Setelah menghabiskan potongan terakhir sandwichnya, Crystal menoleh kearah Tristan.
"Kak Tristan mau bikin apaan disini?"
Tristan membersihkan mulutnya dengan tissue, lalu menjawab. "Sebenernya aku cuma mau bikin a path from a river to the sea." Tristan berhenti sejenak, menatap teduh kepada Crystal. "Just like our love, it'll go to a marriage."
(Sebuah jalan setapak, dari sungai yang bermuara ke laut. Seperti cinta kita, bakal menuju ke pernikahan.)
Mendengar sebuah kata nan sakral itu, Crystal mengerjap. Jantungnya berdegup kencang saat merasakan tatapan Tristan yang dalam dan bersungguh - sungguh, seolah memberitahunya kalau omongannya tidak main - main.
Tanpa sadar pipi Crystal merona.
"Hey! Kenapa?" Tristan mencubit hidung Crystal gemas. "Yuk." Tristan menepuk celananya dan berdiri. Tangannya terulur bersiap membantu Crystal berdiri.
OKE!
Crystal meraih tangan Tristan, melompat dan langsung merangkulkan kedua tangannya di leher pria itu. Dia memandang wajah laki - laki dihadapannya dengan penuh perasaan.
"Thanks for all of the effort to make me happy." bisik Crystal.
(Makasih untuk semua usaha membahagiakanku.)
Tristan memandang wajah yang hanya berada beberapa inchi dihadapannya. Satu - satunya wanita yang selalu berhasil membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi.
Ah, he can't hold it anymore!
Perlahan Tristan mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibir mereka. Mengecupnya pelan dan lembut, penuh perasaan.
Crystal memejamkan matanya, she feels the love. Dia membalasnya dengan perasaan penuh. Yes. They take and give. Suasana alam yang teduh ditambah kicau burung membuat perasaan kian membuncah di dalam dada. Makin lama ciuman itu makin dalam. Tristan bisa merasakan napasnya yang mulai tak beraturan.
'D- A -M- N! It's so hot and sensual.' maki Tristan dalam hati.
"Sayang, kalau begini, kita nggak bakal sampai-sampai." bisik Tristan sambil menahan gejolak yang mulai merasuk ke dalam tubuh dan jiwanya.
"Hm?"
Tristan mengusap bibir merah muda itu dengan jarinya, mengecupnya sekali lagi. Kemudian dengan berat hati, dia menyudahinya. He should stop now atau mereka akan melakukan 'sesuatu' disana. No! Tristan tak mau itu. Ada tujuan lain yang lebih indah yang ingin dicapainya.
Tristan membenahi barang bawaan mereka. Tak sampai satu menit mereka sudah melanjutkan perjalanannya.
"Bener ya bentar lagi sampai?"
"Iya, iya. "
Bergandengan tangan mereka melanjutkan perjalanan.
Tempat yang mereka tuju adalah sebuah sungai dan air terjun yang pernah diceritakan oleh Tristan sepanjang jalan tadi. Mereka harus melalui perjalanan yang lumayan panjang. Saat sudah dekat di tujuan, Crystal mendengar deru air yang jatuh dari ketinggian.
Gadis itu celingukan mencari - cari sumber suara, rasa lelahnya berubah menjadi perasaan excited. Tristan menggamit tangannya dan menariknya ke sebuah deretan pepohonan yang lebih rapat.
"Here we are."
Crystal tercengang, memandang takjub pemandangan di sekelilingnya.
"Wow! Wow!" pekiknya bahagia. Tak ada kata - kata yang bisa melukiskan betapa indahnya pemandangan dihadapannya. Sebuah air terjun terlihat jatuh dari atas sana dengan warna hijau di sekelilingnya. Dibawahnya ada sebuah sungai yang lebih mirip dengan palung raksasa.
"This is heaven, right?" Tangannya terbentang seolah ingin memeluk alam yang ada di hadapannya.
"Welcome to our Heaven Paradise."
"Jadi nama tempat ini Heaven Paradise?"
"Yup." Tristan mengacungkan jempolnya. "Kamu mau ke air terjunnnya?"
"Mau. Mau." pekik Crystal antusias.
"But I have the rule now." Tristan memulai permainannya.
(Tapi ada aturannya.)
"Hah? Game apaan?" Crystal mulai merajuk, dia tak sabar ingin bermain air.
"Ayolah..., you'll enjoy the game."
"Hmm..."
"Follow the path, find the sign and answer or comment it in one word. Aku janji ada surprise nanti."
(Ikuti jalannya, temukan sign dan jawab atau komen dalam satu kata.)
"Surprise?"
"Hm-hm." Tristan mengacungkan jempolnya."
"Let's start then."
"Remember? Only one word."
"I know."
Bersambung ya....
Sorry for late update.
Authornya lagi mikir the best ending for Tristan Crystal.
Any idea, Gaes?