
Suster Anna masuk ke kamar Crystal bersama dua orang asisten rumah tangga. Mereka membawa kotak-kotak yang baru saja diantar oleh kurir.
"Non, ini baju sama sepatunya." ujar Suster Anna sambil mengeluarkan beberapa barang dari kotak.
Crystal menoleh sekilas, dia sedang asyik dengan laptopnya. "Ok, Sus."
"Dilihat dulu, Non. Tuan Tristan bilang suruh ambil yang Nona mau, kalau nggak suka atau nggak cukup bisa langsung ditukar sekarang." Suster Anna memberi kode kepada para asisten untuk mengambil kotak-kotak lain yang masih ditinggal di tangga.
Jadwal yang padat dua hari ini, membuat Tristan tak sempat mengantar Crystal berbelanja. Itulah sebabnya, Tristan meminta butik untuk mengirimkan koleksinya ke rumah.
Crystal bangkit dari duduknya dan menghampiri kotak-kotak itu dan membukanya.
"Cakeeeeeep... " tanpa sadar Suster Anna dan para asisten rumah tangga bergumam. Sebuah dress off shoulder dengan bunga-bunga kecil warna soft pink. Model baju yang tak pernah gagal untuk menampilkan sosok seorang gadis yang manis.
Crytstal menarik dress itu dan menempelkannya di depan tubuh. "Gimana? Cocok nggak?"
"Cocooook." Paduan suara dari Suster Anna dan asisten rumah tangga.
"Ayo kita pilih lagi yang lainnya!" Crystal jadi bersemangat mendengar kekompakan Suster Anna dan para asistennya.
Siang itu mereka habiskan dengan memilih-milih baju yang akan Crystal bawa untuk liburan. Ruffle mini dress, cardigan floral beach, outer bohemian, kaos lengan panjang, celana, sepatu, sandal semua dipilih dengan unsur effortless dan simply feminin tapi elegan.
"Hellooo... "
Crystal dan Suster Anna serentak menoleh.
Tristan berdiri di pintu sambil memandang mereka. Penampilannya menjelang sore masih nampak sempurna, di dukung oleh garis wajah yang tampan. Crystal terpesona untuk kesekian kalinya.
"Udah selesai pilih bajunya?" Tristan mendekat.
"Kak Tristan kok sudah pulang?" Crytsal bergelanyut di lengan Tristan.
"Iya. Kita kan harus packing sekarang. Flight kita malam ini."
"Hah?" Crystal dan Suster Anna kaget, baru saja mereka selesai memilih-milih baju. Bukannya rencana penerbangan mereka besok?
Tristan mengangguk. "Mendadak aku mau ketemu orang dulu, jadi aku majuin aja flight-nya malam ini." Matanya melirik ke arloji keren ditangannya.
Crystal memandang Suster Anna dengan tatapan panik.
"Kenapa?" Tristan dengan tampang tak berdosa.
"Haaaa? Aku kan belum packing apa-apa. Kenapa nggak ngomong dulu sih? Ayo Sus... Buruan!" Crystal bergegas ke walk in closet.
Tristan mendongak heran, "Lha ini aku pulang cepat karena mau kasih tau kan?"
"Baju Tuan sudah Suster siapin tadi pagi. Tinggal punya Nona." kata Suster Anna sambil mondar mandir.
"Makasih, Sus. Nanti aku aja yang sortir."
***
Malamnya Tristan mengajak Suster Anna makan bersama. Dipandangnya Tuan Muda yang suka naik darah kalau ada pekerjaan yang tak beres tapi selalu perhatian kalau soal kesejahteraan pekerjanya.
"Sus, saya sama Crystal mau liburan. Suster boleh pulang kampung, tolong atur piket aja yang jaga rumah dan yang penting rumah tetep bersih waktu saya pulang."
Suster Anna mengangguk, sudah paham kebiasaan Tristan.
"Jangan kuatir, Sus. Meski libur semua tetap dibayar kok.
"Terima kasih, Tuan."
Crystal tersenyum, terkagum-kagum melihat cara Tristan mengkoordinasi semuanya. Dia selalu terlihat keras dan dingin di depan karyawannya, tapi begitu lembut saat memperlakukan orang-orang yang didekatnya. Kak Tristannya punya hati yang hangat.
"Kenapa?" tanya Tristan saat menyadari Crystal bukannya makan malah memandangnya dengan pandangan memuja.
"Nggak, nggak apa-apa kok." Crystal buru-buru mengembalikan ekspresi wajahnya dan menikmati makanannya.
Suster Anna melirik Tristan penuh arti, "Habis Kak Tristannya ganteng sih. Iya nggak Non?"
Crystal sok cuek, dia mengisi mulutnya dengan makanan sebanyak-banyaknya supaya tak perlu menjawab. Dasar Suster Anna! Bikin orang salah tingkah aja.
"Suster Anna mau oleh-oleh apa? Nanti aku suruh Kak Tristan beli yang banyak." kata Crystal kemudian, mencoba mengalihkan perhatian.
Suster Anna memandang lembut pada Crystal seperti seorang ibu yang memandang anaknya.
"Sus nggak minta apa-apa. Sus cuma pesen Nona yang nurut sama Tuan. Jangan kabur-kaburan lagi. Kasian Tuan Tristan."
"Jangan kuatir Sus. Aku pasti jagain Crystal. Selalu." Tristan mengulurkan tangannya dan menyentuh bahu Crystal lembut.
"Lho, katanya hari ini si Crystal party ke delapan belas tahun?" tanya Tuan Harrison heran. Tumben-tumben anak satu-satunya ini mau meninggalkan acara penting adik angkatnya.
"Party-nya sudah selesai, jadi aku bisa mampir kesini sebentar." jawab Tristan seolah tahu apa yang ada di pikiran Tuan Harrison.
Mampir kata Tristan? Tuan Harrison mengernyitkan kepalanya. Terbang ke Singapore malam begini dibilang mampir.
"Lagipula, aku kemari karena Mama memanggilku." lanjut Tristan.
Nyonya Harrison menoleh pada Tristan. "Sudah kamu siapkan dokumennya?"
"Dokumen apa?" Tristan mengerutkan keningnya.
"Crystal sudah delapan belas tahun, sudah bisa hidup mandiri." jawab Nyonya Harrison tenang.
"Aku mau keluarkan dia dari kartu keluarga kita."
Serentak Tristan dan Tuan Harrison menoleh pada sang Nyonya. Masih dengan raut tenang dan gayanya yang khas, Nyonya Harrison berkata, "Mau tunggu apa lagi? Secara hukum, syaratnya sudah bisa dipenuhi."
"Tapi Ma, baru saja hari ini delapan belas tahun. Masa langsung dicoret dari KK?" Tuan Harrison sedikit berbaik hati.
"No problem, Pa. Malah memudahkan kalau nanti ada laki-laki yang melamar trus nikah. Kan sudah nggak ada hubungannya sama kita."
Tristan hanya diam mendengarkan pembicaraan kedua orang tuanya. Otaknya berpikir cepat. Mengeluarkan Crystal dari kartu keluarga memang bisa menjadi jalan terbaik bagi hubungannya dan Crystal kelak.
Tristan berdehem, menyela pembicaraan antara Tuan dan Nyonya Harrison.
"Baiklah. Nanti saya suruh David urus soal surat kartu keluarganya Crystal."
Tuan Harrison sedikit terkejut, dia tahu bagaimana sayangnya Tristan pada Crystal. Bahkan kalau diberi pilihan Tristan jelas-jelas memilih adiknya itu dari pada Mama atau Papanya. Berbeda lagi reaksi Nyonya Harrison, dia tersenyum puas. Keinginannya untuk menyingkirkan Crystal berjalan dengan baik.
"Kamu yakin dengan keputusanmu?" Tuan Harrison menatap Tristan lekat-lekat.
Tristan mengangguk, "Ya, Pa."
Nyonya Harrison menepuk bahu Tristan, "Kamu terlalu lama bertanggung jawab sama anak yang tak jelas asal usulnya itu. Sudah waktunya kamu memikirkan dirimu sendiri. Menikahlah dengan Bianca. Dan jodohkan saja anak itu dengan salah satu temanmu." Mamanya tersenyum.
"Aku tak mau menikah dengan Bianca." jawab Tristan tak suka dengan topik yang sedang dibicarakan.
***
"Ngantuk?" bisik Tristan sambil menggandeng Crystal masuk dalam pesawat pribadinya.
"Aku ngantuk tapi nggak bisa tidur karena saking senangnya." Crystal menghempaskan tubuhnya ke kursi.
Tristan tertawa kecil, lalu mengeluarkan laptopnya. "Loh, kok kerja?" Crystal cemberut.
"Besok kan aku ketemu orang dulu, jadi harus review laporan. Apa kamu mau tidur? Aku temeni kamu sambil kerja."
"Aku bantuin Kak Tristan aja biar cepet selesai trus kita ngobrol."
"Silahkan." Tristan menunjuk ke layar laptop yang berisi tabel-tabel. Mata Crystal langsung pusing melihatnya.
"Nggak jadi ah, aku tidur aja di kamar." Crystal bangkit dari duduknya tapi Tristan menahannya, "Wait."
Lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari jaketnya, sebuah kotak beludru.
Bersambung ya....
Sudah 1000 kata lebih Gaes 😆
Sambung besok ya, Crystal mau bubuk. 😘 Kita nggak boleh berisik. 😅