
"Ayo pulang!"
Crystal terkejut, kenapa Tristan ada disini? Tristan sudah menunggunya di ruang tamu rumah Sky.
Sky mengangguk dan tersenyum manis.
"Silahkan, Om!" kata Sky sopan.
Hmmm... , Crystal langsung tahu siapa biang kerok yang membocorkan keberadaannya.
"WHAT? JADI TRISTAN ITU BUKAN KAKAKMU?" tanya Sky spontan.
"Psssst... duh berisik banget sih kamu!" Crystal menatap sebal.
Crystal sengaja ke rumah Sky untuk curhat. Terlepas dari masalah perasaan, Sky masih tetap menjadi satu-satunya sahabat yang mengerti dirinya.
"Ups! Sorry, sorry, aku kaget banget soalnya."
Sky mengetuk-ketukkan tangannya ke meja sambil sesekali berkomentar saat mendengarkan cerita Crystal soal Tristan.
"Trus kamu kesini mau apa? Mau nginep gitu?" tanya Sky heran.
"No! No! Bisa disembelih aku sama Om Tristanmu itu!" Sky menggelengkan kepalanya cepat-cepat sebelum Crystal menjawab.
"Aku pulang aja deh!" Crystal menghembuskan napasnya. Ya. Dia akan pulang ke rumah dan minta maaf karena sudah membuat Kakaknya kuatir. Sebenarnya dirinya hanya butuh waktu untuk menata hati dan pikirannya, bukan kabur.
Oh! Tapi realita yang dihadapinya saat ini sungguh berbeda dari apa yang diangan-angankannya. Susunan permintaan maaf yang sudah disusunnya mendadak lenyap berganti dengan rasa canggung.
"Take your time, Crystal." Sky mengedipkan matanya. Lalu berpamitan pada Tristan. "Saya masuk dulu, Om."
"Thank you for helping me, Boy."
Pertama kalinya Tristan bersikap baik dan tersenyum pada Sky. Biar bagaimana pun, Sky sudah berbaik hati mengirim orang untuk memberitahu Suster Anna kalau Crystal sedang main dirumahnya.
"Ayo." Tristan merangkul bahu Crystal dan mengajaknya ke mobil.
Crystal hanya mengangguk dan membiarkan dirinya dibimbing masuk oleh Tristan ke dalam mobil.
Di dalam mobil, kecanggungan kembali terasa. Crystal melirik ke arah Tristan sedang fokus menyetir. Melihat Tristan dari samping begini membuat jantung Crystal berdebar.
Selama ini dia mengganggap Tristan out of her limits.
Tampan, kaya dan pintar? Jelas!
Care dan romantis? Bolehlah kalau mau diadu.
"Iiiish... Kok manggilnya Om sih? Dia nggak setua itu!" protes Crystal pada Sky.
"Udah kerja, tiga puluh tahun... Bapak-bapak dia tuh, Om-Om!" ledek Sky sambil terkekeh.
BUGH!
HADUUH!! Sky mengaduh saat bogem Crysal. mendarat di bahunya.
"Awas ya kalau sebut Kak Tristanku pakai Om lagi." Crystal tak terima.
Kak... TRISTAN-KU??
Kedengarannya posesif sekali, Sky mengerutkan kening. "Jangan bilang kamu naksir sama kakak angkatmu." Matanya menyipit, menyelidik.
Muka Crystal merah padam.
"Sembarangan kamu!" bantah Crystal dengan nada tak meyakinkan.
"Ada apa?" Tristan mengusap kepala Crystal yang sedang melamun.
Crystal terjengit, rasanya seperti kesetrum. Astaga! Jantungnya pun semakin banyak tingkah, membuat dirinya makin serba salah.
"Hmmm... Kenapa rasanya kita jadi canggung ya Kak?" Crystal menunduk, tak berani memandang kearah Tristan kuatir kalau-kalau jantungnya semakin berontak.
Tristan tersenyum, "Aku nggak merasa canggung tuh, mungkin kamu saja yang sedang banyak pikiran."
Dengan satu tangan, Tristan menggenggam tangan Crystal sehingga adiknya merasa sedikit nyaman. Kemudian Crystal menyandarkan punggungnya dan berusaha bersikap sesantai mungkin.
***
"Non... " Suster Anna trenyuh melihat perubahan sikap Crystal.
"Aku mau ngomong dulu sama Crystal, Sus." ucap Tristan sambil merangkulkan tangannya ke bahu Crystal.
"Aku sudah tau semua dari Suster Anna." kata Tristan begitu mereka sampai dikamar Crystal.
Crystal menunduk, kemudian berjalan ke tempat tidur dan duduk.
"Memangnya kenapa kalau kamu anak angkat? Siapa pun kamu. Darimana pun kamu berasal." Tristan berhenti sejenak.
"Namamu Crystal, Crystalin atau kah Crystalin Harrison. Bagiku, kamu adalah kamu."
Crystal menelan ludah, teringat kembali semua kata-kata Mamanya.
"Mengenai kartu keluarga? Nggak masalah kalau Mama mengeluarkanmu dari keluarga Harrison karena aku akan membuat kartu keluarga kita sendiri."
Ha? Crystal tak paham maksud Tristan.
"Aku tau kamu nggak siap mendengar semua ini. Tapi cepat atau lambat, kamu tetap bakal tau kan?" Tristan merubah posisinya, sekarang dia berlutut di hadapan Crystal.
"Aku membesarkanmu untuk menjadi seorang wanita yang mandiri dan pemberani, Sayang." Tristan menatap lembut, tangannya menggenggam tangan Crystal.
"Takut itu normal. Tapi kamu harus menghadapinya. You told to your friend we're ready to face the world. Dan sekarang, this is the world for you, Crystal." lanjut Tristan.
Tristan menarik napas dalam-dalam, dipandangnya Crystal yang nampak berusaha memahami situasi ini. Dalam hati Tristan bersyukur, Crystal tidak pergi jauh. Itu saja sudah cukup membuat Tristan lega.
"Kalau ada masalah, let's talk. Jangan pernah lupa, kalau kamu punya aku. Jangan ngilang atau pergi nggak ngomong, kabur dari masalah. You're not a coward."
Air mata Crystal meleleh tanpa bisa ditahan. Tristan begitu memahaminya, bahkan sangat memahaminya. Bahkan di saat dia sendiri tidak mengerti apa mau dirinya sendiri.
"Kak... " Bibir Crystal bergetar berusaha menahan tangis.
Tristan merentangkan tangannya, "Need a hug?"
Crystal menghambur ke Tristan. Seketika semua emosi yang disimpannya meluap. Rasa takut, kuatir dan cemas ditumpahkannya dalam bentuk tangisan di dekapan hangat seorang Tristan.
Ah, Crystal merasa lega dan aman bersama Tristan, orang yang paling dia sayangi.
"Hari itu seorang baby mungil menggenggam erat jariku, dan aku bersyukur atas pertemuan kita. Rasa syukur itu memberiku pilihan untuk bertanggung jawab, melindungi dan menyayangi dia selamanya." bisik Tristan sambil mengelus punggung Crystal.
Perlahan tangis Crystal mereda.
"How about a vacation?" Tanya Tristan sambil mengusap sisa-sisa air mata Crystal.
"Apa?" Crystal membelalak kaget.
"Hadiah kelulusanmu. Gimana kalau kita pergi liburan?" tanya Tristan lembut.
"Tapi Kak Tristan kan sibuk banget. Lagian mendadak, aku kan belum prepare."
"Kasih waktu dua hari, aku beresin semua kerjaan. Habis itu kita liburan. Gimana?" Tristan mengecup punggung tangan Crystal dan menatapnya begitu dalam.
Ya Tuhan! Bagaimana Crystal bisa menolak kalau sudah begini?
"Sebutin aja kamu pengen apa." Tristan membetulkan anak-anak rambut Crystal.
"Aku tuh serakah, maunya banyak. Lagian mana bisa nolak kalau mau disenengin begini." Crystal tertawa pelan, dan Tristan pun senang melihat Crystal sudah mulai ngelunjak. Itu baru Crystal-nya.
"Apapun! Sebutkan saja!" Tristan merasa tertantang.
"Aku mau lihat hewan-hewan, main pasir, diving sama surfing. Main sama lumba-lumba. Hmmm... apa lagi ya?" Crystal tampak berpikir.
"No! No! Masih kurang banyak." Crystal mengerutkan kening. "Gimana kalau besok aku bikin list yang banyak?"
Tristan tertawa melihat Crystal yang sudah kembali bersemangat.
"Oke. Sekarang istirahat dulu." Tristan mencondongkan tubuhnya ke Crystal dan mencium kening Crystal, lama dan hangat.
"I love you, My Crystal."
Bersambung ya....
Hari ini up satu bab aja ya, Man Teman karena Crystal belum kasih list liburan kemana. Authornya bingung mau cerita apa soal liburan mereka. 😜😜😜