
Hanya dalam beberapa hari, Tristan berhasil merubah pola pikir Crystal dan mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Kawin lari. Astaga!
Karina dan Suster Anna berhasil membimbing Crystal yang masih gugup untuk turun dari lantai dua. Mereka berempat naik sebuah mobil mewah yang entah datang dari mana datangnya, menuju ke area pernikahan yang tak jauh dari pantai.
Tristan meraih tangan Crystal yang sejak tadi tak bisa diam, terus mere ---mas - re --mas gaun yang sudah melekat cantik di tubuhnya. Begitu merasakan genggaman tangan Tristan yang hangat, Crystal langsung merasa tenang. Dia menatap keluar jendela.
"You look gorgeous." bisik Tristan di dekat telinga Crystal.
Crystal mengulum senyum tanpa menoleh pada calon suaminya.
"It's an extraordinary wedding, right?" tanya Karina sambil memandang ketiga orang yang ada di dalam mobil itu.
(Pernikahan yang luar biasa kan?)
"Gini ini yang namanya kawin lari. Nggak ada kehebohan emak - emak dan event organizer dimana - mana." gumam Karina pada dirinya sendiri. "ASTAGA!" pekiknya kemudian.
'Kenapa?'
Serempak semua menoleh ke arah Karina yang memekik. "Aku bahkan nggak kasih tau ke Papa kalau kalian nikah." Keluh Karina merasa bersalah pada Papanya, Ben.
"Kamu boleh kasih tau mereka nanti malam." jawab Tristan santai.
"After the wedding vow?"
(Setelah janji nikah?)
"Yup."
Karina memutar bola matanya, setelah wedding vow tak ada seorang pun bisa mencegah mereka karena mereka sudah sah menjadi suami istri. Hmm....
"Kenapa? Kamu pengen ikutan kawin lari juga?" Goda Tristan.
Karina mencibir. "Bolehlah dicoba, kayanya oke juga nikah model beginian. No ribet. No stress."
Crystal mendengus dalam hati. Dasar Karina! Sembarangan ngomong saja. Siapa bilang no stress? Padahal dari tadi dirinya diam saja karena gugup setengah mati. Jantungnya terus berdegup tak beraturan dan tangannya terus berkeringat, rasanya seperti mau pingsan. Bisa masuk ke dalam mobil aja sudah bersyukur banget.
"Kalau Crystal mau, nanti kita tetep adain pesta kok. Setelah Papa Mama tau dan kita kembali ke kota." ucap Tristan sambil mengelus punggung tangan Crystal lembut. "Yang penting hari ini kita resmi nikah dulu."
Suster Anna dan Karina memandang penuh haru pada pasangan itu, mereka tidak mau bertanya lebih jauh. Tugas mereka hanyalah percaya pada Tristan, menjadi saksi pernikahan dan mendoakan kebahagiaan dua orang yang berbeda usia ini.
Lokasi yang dijadikan tempat pernikahan adalah sebuah bangunan serba guna di pulau itu. Bangunan yang lebih mirip dengan rumah yang di desain elegan dengan gazebo, kolam air laut outdoor, lapangan, rumah tamu lengkap dengan boathouse.
"My God."
Crystal memandang kagum pemandangan indah yang akan menjadi background acara pernikahannya. Dia menoleh kepada Tristan yang ternyata sedang memperhatikan setiap micro ekspresi di wajahnya.
"It's amazed me." Nada suaranya terdengar begitu bahagia.
(Ini membuatku kagum.)
Tristan tertawa dan mengangguk. "Anything for you, sayang. Nyesel nggak nikah sama aku?"
(Apa pun untukmu, Sayang.)
Jelas - jelas BIG NO! Siapa yang akan menyesal menikah dengan seorang Tristan Harrison? Perempuan mana pun rela bertukar tempat dengan Crystal, bahkan kalau bisa mereka rela bersaing untuk mendapatkan hati lelaki itu.
Orang - orang suruhan Tristan benar - benar profesional dalam bekerja. Gazebo yang akan menjadi tempat Tristan dan Crystal mengikat janji sudah di hias penuh dengan bunga - bunga yang dirangkai sedemikian rupa sehingga terlihat cantik dan mewah. Makanan dan minuman pun tersedia, termasuk wedding cake dan pernak pernik pernikahan lain. Waktu yang terbilang singkat tak menghalangi mereka untuk menciptakan sebuah pernikahan impian.
"Baiklah, bisa kita mulai?" Tanya seorang pria bernama Mr. John. Pria berperawakan sedang dan berkumis tipis namun terlihat ramah dan baik hati.
Tristan dan Crystal berdiri berhadapan di depan Mr. John disaksikan oleh Suster Anna, David, Karina, Sky, beberapa anak buah Tristan di pulau ini dan juga rekan - rekan bisnis Tristan yang bekerja sama dalam proyek ini.
Tristan menggenggam tangan Crystal, memandang wajah cantiknya dan mendengarkan dengan seksama kata per kata yang mengalun lembut dari bibir manis itu. Suaranya terdengar bergetar dan sarat akan emosi. Tristan tersenyum lembut dan mengangguk, seolah memberi support bagi wanita muda di hadapannya untuk mengucapkan sumpah yang sudah ditulisnya semalaman.
"I, Crystalin, take you Tristan to be my husband. The one and only partner in my life. I promise to be true to you in good times and in bad, in sickness and health. I will love you and honor you all the days of all my life, until death do us apart."
(Saya, Crystalin, mengambilmu Tristan sebagai suamiku, satu - satunya pasangan dalam hidupku. Saya berjanji untuk setia padamu di waktu bahagia mau pun sedih, sakit atau pun sehat. Saya akan mencintai dan menghormatimu setiap hari di dalam hidupku, hingga maut memisahkan kita.)
Crystal meremas tangan Tristan yang bertautan dengannya saat selesai mengucapkan kata terakhirnya, perlahan dia menghembuskan napas pelan dari mulutnya dan menatap Tristan sambil berkaca - kaca.
Sekarang saatnya, Tristan mengucapkan janji di hadapan Tuhan dan juga para saksi. Tristan berdiri tegap dan memandang lurus ke dalam manik mata wanita yang dicintainya saat suaranya yang dalam dan tegas mengucapkan kata demi kata.
(Saya, Tristan, mengambilmu Crystalin sebagai istriku tercinta, teman dalam hidupku, kekasihku dan ibu anak - anakku, untuk saling memiliki dan menjaga mulai hari ini dan seterusnya, dalam susah mau pun senang, saat berkelimpahan mau pun kekurangan, sakit atau pun sehat, mencintai dan menyayangi hingga maut memisahkan kita. Dan disinilah, saya berjanji akan selalu setia.)
Sejenak suasana hening di dalam gazebo mungil itu, angin berhembus menyibakkan veil tipis di kepala Crystal. Mereka berpandangan dan kemudian dengan penuh perasaan bersama - sama mengucapkan.
In your eyes, I have found my home.
(Di matamu, aku menemukan rumahku.)
In your heart, I have found my love.
(Di hatimu, aku menemukan cintaku.)
In your soul, I have found my mate.
(Di dalam jiwamu, aku menemukan pasanganku.)
With you, I am whole, full and alive.
(Bersamamu, aku utuh, penuh dan hidup.)
You make me laugh.
(Kamu membuatku tertawa.)
You let me cry.
(Kamu membiarkanku menangis.)
You are my breath, my every heartbeat.
(Kamu adalah napasku, dan detak jantungku.)
I am yours. You are mine.
(Aku milikmu. Kamu milikku.)
Of this we are certain.
(Kami meyakini.)
You are lodged in my heart.
(Kamu telah bersarang / menetap di dalam hatiku.)
The small key is lost.
(Kuncinya hilang.)
You must stay there forever.
(Jadi kamu harus tinggal di sana (hati) selamanya.)
Finally, they become one.
Suster Anna dan Karina meneteskan air mata haru, sedangkan yang lain terdiam. Mereka meresapi janji suci yang diucapkan sepasang manusia yang saling mencintai.
Tristan dan Crystal menghembuskan napas bersamaan, tanpa sadar mereka menahan napas saat mengucapkan janji pernikahan mereka. Wajah bahagia mereka terlihat makin berkilau ditimpa oleh cahaya matahari yang memantul dari permukaan laut.
Bersambung ya....
Note : Author nulis janji nikah sampai ikutan nahan napas. 😅😅
By the way, sorry 🙏
Janji nikahnya pakai bahasa inggris karena kok rasanya lebih indah dan pas aja. 🥰