I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 71 -- Test Drive



"Heh, yang bener? Jadi maksudnya Tristan itu pengen 'ML' sama kamu atau gimana?" tanya Karina to the point. Di dalam pikirannya, Tristan adalah perfect. The best role model of a man.


Crystal berguling - guling di tempat tidur ukuran king size, malam ini dia minta tidur satu kamar dengan Karina karena mau curhat. Crystal terlentang dan menatap langit - langit kamar dan mendesah keras.


"Menurutmu kenapa Kak Tristan tiba - tiba ngomongin soal anak?"


"Lha?! Jadi Tristan ngomongin soal anak atau mau 'ML' sih?" tanya Karina sekali lagi.


Dia sering tak habis pikir dengan cara berpikir Crystal yang suka 'out of the box'. Dari tadi dia cerita berputar - putar tak jelas, bahkan tadi sempat ngomong kalau Tristan minta anak.


"Ya dia nggak minta secara terang - terangan, tapi kan nyebut - nyebut soal anak. Sama aja kan?"


"Trus memangnya kamu mau kalau Tristan ngajakin kamu test drive?"


Crystal menghembuskan napas. "Aku udah pernah nawarin Kak Tristan, tapi dia nolak terang - terangan."


"WHAT?!" Mata Karina sampe melotot saking kagetnya. Ternyata tak cuma pola pikir Crystal tapi tingkahnya luar biasa random. Dengan entengnya ngomong 'menawarkan' seolah sedang menawari seseorang mencicip sebuah masakan. Astaga! Astaga!


"Hm-hm. Dia bilang belum waktunya karena he'll love me for the whole night of his life. Not only for one night stand." lanjut Crystal lagi.


(Dia akan mencintaiku setiap malam di sepanjang hidupnya. Bukan cuma untuk semalam.)


Karina menghela napas lega. "Lucky you! Bayangin aja kalau kamu pacarannya nggak sama Tristan. Misalnya sama temen sekelas kamu. Baru sebulan pacaran bisa - bisa jebol duluan hahaha...!"


Crystal membelalak dan langsung tengkurap. Dia mendekatkan wajahnya ke Karina yang rebahan di sebelahnya. "Memangnya cowok - cowok suka begitu ke cewek?"


"Hare gene banyakan yang suka test drive, Crystal. Apalagi kalau ceweknya model kaya kamu gini. Dijamin langsung habis." ucap Karina. Dia mendorong kepala Crystal supaya menjauh darinya.


Hm... ya, ya. Benar juga. Siapa yang tahu apa yang ada di dalam pikiran kaum pria. Kali ini Crystal setuju dengan pernyataan Karina.


"By the way, bisa aja itu sign mau ajakin kamu nikah. Dasar kamunya aja yang nggak peka." cibir Karina.


Crystal langsung duduk dan meraih bantal yang ada didekatnya, kedua sikunya bertumpu diatas bantal. "Nggak mungkinlah Kak Tristan mikir sampai sono. Aku baru aja selesai study, officially lulusnya baru next week. Bisa - bisa aku nikah nanti sekitar twenty six or twenty seven gitu."


Dan sekali lagi kata - kata yang keluar dari mulut Crystal berhasil mengejutkan Karina. Dia langsung berguling dan duduk dihadapan Crystal, kemudian menatapnya dengan kedua alis terangkat, pandangannya menunjukkan tatapan 'what you said? Please, repeat.'


(Apa kau bilang? Coba ulang.)


Menerima tatapan aneh dari Karina, Crystal terdiam. "What's up?" tanyanya sedikit terbata. Mendadak saja Crystal merasa dihakimi karena telah melakukan sebuah kesalahan besar.


Karina menarik napas dalam - dalam. "Listen to me!" kadang Karina sering tak habis pikir dengan pola pikir Crystal yang terlalu polos.


"What?"


"Kamu sadar nggak sih kalau umur Tristan is already thirty something? Waktu kamu masih baby, dia udah teenager. Selisih umur kalian itu dua belas tahun. Dia itu jauh lebih dewasa dari kamu. Dan kalau sekarang dia udah mikirin nikah itu adalah hal yang wajar!" omel Karina menggebu - gebu saking gemasnya dengan kepolosan Crystal.


(sudah menginjak tiga puluh sekian.)


Ha? Really?


Mendengar kata - kata Karina, pipi Crystal malah semburat warna pink. Dia membayangkan dirinya berjalan dengan gaun putih berdampingan dengan pangeran tampan seperti di film - film kartun yang pernah ditontonnya semasa masih kecil.


Crystal bahkan memejamkan mata sambil membayangkan wedding kiss nan romantis bersama Tristan.


'Finally, the prince and princess were happily ever after.'


Demikian Crystal menutup dongeng dalam khayalannya dengan mata berbinar - binar.


"HEY! HEY!" Karina melambaikan tangannya di depan wajah Crystal yang sedang senyum - senyum sendiri dengan pipi bersemu merah.


Crystal menarik bantal di pangkuannya, menempelkan wajahnya ke benda empuk itu dan menjerit bahagia. Bergulingan kesana kemari dan tertawa - tawa. Ah, rasanya berteriak di bantal terasa kurang. Crystal ingin berteriak di atas gunung yang tinggi, meluapkan semua perasaannya dan mengatakan pada dunia betapa bahagianya dia bersama Tristan.


"Kamu beneran suka dia ya?"


"Hu-um."


"Bisa nggak perasaanmu di reset ulang?"


"Nope. And never."


"Are you sure?"


"Aku pikir to be with him is enough, tapi ternyata aku nggak puas, Karin." kata Crystal, senyumnya kembali mengembang.


"Aku ingin terus bersama dengannya day and night, sad and happy, rich or poor, taking and giving. I wanna give my all to him. Aku ingin kasih tau Kak Tristan kalau aku bener - bener... " Crystal menghentikan kalimatnya. Dia tak tahu ungkapan apa yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya.


(Aku pikir bersamanya saja sudah cukup.)


(siang dan malam, susah maupun senang, kaya atau pun miskin, memberi dan menerima. Aku ingin memberikan segala yang kumiliki untuknya.)


"Love him?" Karina mencoba menterjemahkan perasaan Crystal dengan sebuah kata. Cinta.


Crystal menatap Karina. "I do." jawabnya mantap.


"Love him as...?" Karina mencoba memastikan dan menyelami perasaan terdalam wanita muda di hadapannya.


(Mencintainya sebagai...?)


"As a couple, as a lover, as a woman and a man. No more brother and sister. Sebut aja aku cinta buta. I don't mind."


(Sebagai pasangan, kekasih, sebagai seorang wanita dan pria. Tak lagi kakak beradik.)


Mata Crystal menerawang memasukkan siluet - siluet Tristan ke dalam pikirannya.


"The way he calls my name, how he walks, his body and soul. All! Aku memang serakah. I want him. All of him, nothing left."


(Caranya memanggil namaku, bagaimana dia berjalan, tubuh dan jiwanya. Semua! Aku menginginkannya. Semuanya, tak ada yang tersisa.)


Kedua wanita muda itu terdiam, sama - sama meresapi kata - kata yang diucapkan oleh Crystal. Membiarkannya masuk hingga ke dalam hati dan pikiran mereka.


"You're addicted, girl." bisik Karina.


(Kamu kecanduan.)


"Never get enough."


Crystal menelan ludahnya. Ada sebuah perasaan membuncah dan menggebu - gebu didalam hatinya. Seperti ingin melambung tinggi tapi dia tak mau meloncat terlalu tinggi, ada rasa takut kalau - kalau terjatuh nantinya. Adrenaline-nya seperti terpacu setiap kali memikirkan Tristan.


"You really are in love with him." ucap Karina lagi.


"Yeah, truly madly deeply love him." gumam Crystal.


Bersambung ya....


Note :


Truly madly deeply love arti gampangannya tu


mencintai sampai tergila - gila.


Sorry, aku bingung cari terjemahannya. Nggak bisa nemuin istilah yang pas.😄