I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 97 -- I'm Gonna Love You All



Tristan menahan diri untuk tidak mengangkat ponselnya yang terus menerus bergetar di sakunya. Dia sedang meeting.


'Oh, please. Stop sending me messages.' keluh Tristan dalam hati.


Satu jam kemudian, meeting selesai. Tristan menjabat tangan orang - orang itu dan mengantarkannya hingga ke pintu ruang meeting. Begitu ucapan selamat tinggal terucap, Tristan langsung ngeloyor masuk ke ruang kerjanya dan mengeluarkan ponselnya.


Nomer rumah dan pesan beruntun dari suster Anna. Dan juga miscall dari suster Anna.


Ada apa?


Tristan langsung memencet tombol call. Baru saja nada sambung berbunyi.


"TUAN!"


Aduh! Tristan sampai menjauhkan ponsel dari telinganya begitu mendengar suara Suster Anna yang memekakkan telinga.


"Sus, apaan sih? Aku lagi meeting tadi. Jangan teriak - teriak, pusing akunya." protes Tristan.


"Maaf, Tuan. Ini penting soalnya." jawab Suster Anna, merasa bersalah.


Alisnya berkerut, tangannya memijit pangkal hidungnya. Perasaan tak enak mulai menyergap. Suster Anna bukan orang yang suka mengganggunya saat kerja kalau bukan karena hal yang benar - benar penting.


Tristan menghembuskan napasnya, dia membetulkan posisi duduknya dan bersiap menerima apa pun yang akan di dengarnya.


"Nona Crystal hamil, Tuan."


Kaki Tristan serasa tak menjejak bumi, tubuhnya melambung ke angkasa.


"A-apa? Once again, please."


Suster Anna mengulanginya lambat - lambat supaya bisa terdengar jelas di telinga Tuan Muda kesayangannya.


"Nona. Crsytal. Hamil. Tuan."


WOW!!


"David postpone semua schedule hari ini." katanya langsung melesat menuju parkir mobil VIPnya.


Layaknya seorang pembalap, Tristan melajukan mobilnya meliuk - liuk menembus jalanan ramai.


**


Bunyi kunci digital menandakan pintu dibuka. Crystal buru - buru meletakkan ponselnya dan meloncat ke atas tempat tidur. Kemudian menutupi seluruh tubuhnya dengan bed cover, bersembunyi. Mendadak saja dia canggung bertemu dengan Tristan.


Crystal mendengus kesal dari bawah bed cover. Dia merutuki Suster Anna yang baginya seperti ember bocor, semua - semua langsung sampai ke Kak Tristannya. Kebiasaan!


"Sayang."


Suara Tristan diiringi langkah kakinya terdengar mendekat. Kemudian selimut disingkapnya.


Eits!


Ada sesuatu yang berat membuat selimut itu tak bisa dibuka. Tangan Crystal menggenggam erat selimut itu, dia tak mau menunjukkan dirinya.


"Crystal?" panggil Tristan lagi, dengan nada heran. Aneh - aneh saja istrinya ini.


Sesuatu dibawah selimut itu bergerak - gerak, bentuknya berubah seperti bola. Crystal meringkuk. Lutut dan sikunya menjepit bed cover supaya Tristan tak bisa membuka.


Hmm...


Tristan mengambil ancang - ancang, kedua telunjuknya sudah siap menyerang.


"Keluar atau jangan salahkan aku!" bisiknya di dekat gulungan bed cover berisi Crystal.


Crystal mengintip dari bawah bed cover, dia melihat kedua telunjuk Tristan bersiap menggelitik tubuhnya. Haduh! Crystal paling tak tahan kalau digelitik.


"One... " nada suara Tristan terdengar penuh ancaman.


"Two... " lanjut Tristan sebagai peringatan keras.


"Th... --"


"Hiiih... aku benci Kak Tristan."


Tristan tersenyum lebar.


"Nah, gitu dong. Bener nggak yang suster Anna bilang?"


Crystal memajukan bibirnya, matanya menatap ke bawah. Kemudian mengangguk - angguk pelan.


"Katanya suster Anna sih iya." Crystal menunjuk tumpukan test pack di atas nakas dengan matanya.


Tristan berdiri dan mengambil hasil test Crystal, matanya berbinar - binar.


"Ayo cek ke dokter."


"What's for?"


"Aku pengen tau berapa weeks." jawab Tristan, matanya belum mau lepas dari test pack yang ada ditangannya.


"Aarrrrgghh.... Ogaaah." erang Crystal sambil membanting tubuhnya ke kasur.


"Hey, be careful!" refleks Tristan melempae testpack ditangannya dan hendak menangkap Crystal.


BRUK!


Gagal, Crystal sudah ambruk duluan di kasur.


Tristan melotot.


"Apaan?" tanya Crystal heran. Tak biasanya Kak Tristan marah - marah tanpa sebab.


"Kamu kan lagi hamil. Jangan sembarangan loncat atau banting - banting badan dong, Sayaaaang." seru Tristan kesal.


Wow! Amazing.


Sementara Crystal dihadapannya juga bergidik saat mendengar kata hamil. Ya Tuhan! Hamil? Oh yeah, they're husband and wife right now.


Tapi tetap saja, kesannya so weird di telinga.


"Tapi aku belum mau hamil." katanya sambil menepuk - nepuk perut.


"HEY." pekik Tristan.


Dia menarik tangan istrinya. "Hati - hati."


"Aaaarrrgh!" Crystal menjerit frustasi, sedangkan Tristan menangkup wajah Crystal dengan kedua tangannya yang besar dan menghujaninya dengan ciuman. Ekspresi Tristan benar - benar sumringah.


***


Ternyata kabar kehamilan yang dianggap membahagiakan bagi semua orang ternyata dianggap hal menakutkan bagi Crystal. Seharian dia diam seribu bahasa.


"Crystal." suara Tristan bergema di kamar mereka yang sudah redup.


Tristan bermaksud menyelesaikan masalah mereka sebelum tidur. Saat ini mereka sama - sama tidur terlentang. Crystal memejamkan matanya, berpura - pura tidur.


"Crystal. Let's talk." bujuk Tristan.


"Hm."


Good! Istrinya belum tidur. Jawaban hm sudah awal yang bagus untuk membuka pembicaraan mereka.


"Tell me. Kenapa?" Tristan melipat tangannya di belakang kepala dan melanjutkan. "Kenapa kamu keliatannya nggak happy dengan kehamilan kamu."


Terdengar hembusan napas Crystal di tengah cahaya yang redup.


"Aku belum siap."


"Karena?"


"Aku takut."


"Takut apa?"


"Umurku masih terlalu muda."


"Jaman dulu banyak yang hamil dibawah dua puluh tahun. You're twenty something already. Sudah lulus dan punya pekerjaan yang bagus. So, what's the problem?"


(Kamu sudah dua puluh tahun sekian. Jadi apa masalahnya?)


Meski mulutnya bicara demikian tapi hati Tristan didera rasa bersalah. Dia yang lebih dewasa, kenapa bisa lupa membicarakan masalah anak dengan istrinya. Apakah dia tanpa sadar membuat posisi Crystal menjadi tak menguntungkan.


"Tapi aku masih pengen kerja dan jalan - jalan sama kak Tristan."


Diam - diam Tristan tersenyum mendengar keluhan Crystal.


"Tapi kamu harusnya tahu konsekuensi nikah kan? Hamil dan punya anak. Aku nikahin kamu supaya kita bisa membentuk sebuah keluarga."


Crystal mendengus. "Nggak usah ngomong itu. Aku sudah tau."


"Lha terus?"


"Aku takut nggak bisa jadi a good mommy."


"Ada aku." Tristan mencium kening Crystal. "Kita belajar sama - sama."


"Tapi Kak Tristan sibuk kerja, aku juga bakal sibuk."


"Kan bisa diatur, Sayang. Kalau kamu mau tetep kerja, ya kita atur kerja dari rumah. Kalau kamu mau fokus urus anak, aku lebih seneng lagi. Ada suster Anna dan kita bakal panggil satu orang nanny lagi buat bantuin suster Anna."


"Any other objection? Let's find a solution."


(Ada keberatan lain? Mari kita cari solusinya."


Sekali lagi, Crystal menghembuskan napas.


"Tapi aku takut."


"Apa lagi?"


"Nanti Kak Tristan lebih sayang sama baby... " lirih Crystal.


Tristan setengah mati menahan tawa. Jadi ini toh? Yang bikin istrinya cemberut terus dari tadi?


"Aku bakal sayang kalian semua, sama banyaknya."


"Lah? Nggak boleh!"


"Hah?"


"Pokoknya aku tetep yang nomer satu."


Tristan terbahak, "Kamu nggak boleh cemburu sama anakmu sendiri. Bagaimana pun dia kan buah hatimu sendiri."


Crystal mencibirkan bibirnya. "Tapi aku tetep mau diperhatiin terus."


"Kamu nggak percaya kalau I love you so much?"


"Jangan gombal! Mana buktinya?"


"Let me love you, then."


Tristan mengecup bibir Crystal yang dari tadi manyun menggemaskan. Selanjutnya, dia membuktikan cinta pada istrinya.


The one and only love in his life.