
Demi menghilangkan bayangan Crystal yang timbul tenggelam di otaknya, Tristan menyibukkan diri dengan tumpukan pekerjaan. Tangannya memegang dokumen dan matanya tertuju pada layar laptop.
Drrrrrtttt... drrrtttt....
Padahal baru saja dia berhasil fokus pada pekerjaan, getaran ponsel diatas meja kerja sudah mengganggu fokusnya. Tangannya menggapai ponsel yang tak jauh darinya, lalu dia membaca nama yang tertera di layar.
"Ya Ma?" tanya Tristan begitu menempelkan ponsel ditelinganya, suaranya terdengar tak bersemangat.
"Kamu sakit?" tanya Nyonya Harrison dengan nada kuatir.
"Aku sehat, Ma. Tapi, aku sedang sibuk."
"Nanti malam kamu dan Crystal ada acara? Mama dirumah sekarang."
Ha? Mamanya ada dirumah saat ini?
"Nanti malam kita dinner yuk!" Suara Mamanya terdengar bersemangat dan ceria.
"Eehm... tapi, besok Crystal sekolah Ma."
Tristan begitu disiplin dengan jadwal Crystal sehingga dia tak pernah mengijinkan adiknya keluar malam hari, apalagi di hari-hari sekolah. Lain halnya kalau weekend, Tristan sedikit memberi kebebasan pada Crystal meski tetap ada jam malam
"Sekali-kali nggak apa keluar untuk makan malam, toh perginya sama kita. Kamu nggak sibuk kan, Kak?"
Hmmm... , Mamanya ini pintar sekali mempengaruhi orang. Sama pintar dengan dirinya. Dan untuk kali ini, Tristan paham kalau Mamanya tidak sedang menanyakan kesediaannya. Tapi, ini adalah sebuah perintah untuk dinner.
"Baiklah. Aku akan pulang cepat hari ini."
"Bagus! Apa ada menu tertentu yang ingin kamu makan, Kak? Biar Mama suruh orang booking resto sesuai keinginan kamu."
"Aku makan apa saja, tidak pilih-pilih."
Percakapan yang canggung antara ibu dan anak itu berlangsung cepat.
Tristan mengacak rambut tebalnya dengan kasar. Hanya karena Mamanya menyebut nama Crystal, lagi-lagi siluet Crystal tadi pagi muncul dihadapannya.
Ya ampun! Apakah dirinya sekarang me---sum?
"Sadar Tristan! Sadar!!!! Dia adikmu!" Tristan mengomeli dirinya sendiri.
"But, she is not my sister."
"Yes, she is!"
"No, she is not."
"She is!"
ARRGGHHH... !
Tristan meraih mouse menggeser-geser kursor tak tentu arah. Pikirannya kacau. Apalagi ditambah rasa penasaran, siapa remaja cowok yang akrab dengan Crystal.
Jam belum juga menunjukkan tengah hari, tapi kepala Tristan rasanya berat.
Dan, semua itu gara-gara Crystal tumbuh dewasa dan cantik!
***
Crystal selalu merasa tak nyaman setiap kali Mamanya ada dirumah. Kalau boleh memilih, dia lebih senang mengurung diri dikamar setiap kali Mama pulang.
Bahkan seingat Crystal, rasa-rasanya Mamanya itu tidak mengharapkan kehadirannya. Memang Mama tak pernah berlaku kasar, tapi dia juga tak pernah menunjukkan kasih sayang pada Crystal.
Tapi, Tristan dan Suster Anna selalu mengajarinya bagaimana bersopan santun saat berhadapan dengan orang yang lebih tua atau pun dengan relasi Harrison.
Mau bagaimana lagi, yang bisa dilakukan oleh Crystal hanyalah menurut pada Mamanya. Bahkan saat ini, Crystal sedang didandani oleh Mamanya.
"Nah, sekarang kamu cantik!" kata Mamanya setelah selesai mengeriting rambut Crystal dan tak lupa memberi lipstick warna merah terang.
Crystal menahan ekspresinya supaya tak menangis.
Ya ampun! Wajahnya penuh make up sehingga nampak lebih tua sepuluh tahun, ditambah lagi gaun terbuka. Crystal tak menyukainya.
"Ma.... !" Suara Tristan menyelamatkan Crystal dari rasa tak nyaman.
"Kak Tristan!!" Crystal memekik, lega bercampur bahagia.
Tristan tertegun menatap Crystal dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.
"Kamu... "
"Apa-apaan ini?" desis Tristan tak percaya.
"Cepat ganti baju dan hapus make up-nya!" perintah Tristan kemudian.
"Biasalah Tristan, namanya gadis remaja. Maunya tampak cantik, jadi dia dandan buat dinner nanti." kata Mama Tristan.
"Tapi aku didandani, Kak." Crystal mencoba membantah.
"Ayo, Crystal. Nurut sama Kakakmu. Sana ganti baju, setelah itu kita berangkat dinner." suara Nyonya Harrison terdengar lembut, tapi ada tersirat sebuah perintah untuk tutup mulut
Meski kesal, Crystal menahan diri untuk tidak kembali membantah. Tristan melirik kearah adiknya.
"Ayo, buruan!" perintah Tristan halus.
Crystal mengangguk dan buru-buru ke kamarnya. Dia menghapus make up dan mengganti bajunya dengan yang sudah disiapkan oleh Suster Anna.
Make up tebal yang semula menempel diwajahnya, kini berganti dengan polesan bedak tipis, maskara bening dan lipstick warna peach. Crystal menatap bayangannya dicermin dan menghembuskan napas lega. Puas dengan penampilannya sendiri.
***
"Jadi gimana, Kak? Semua lancar? Tidak ada tender yang lost kan?" tanya Mama pada Tristan.
Setiap kali Tristan bertemu dengan Papa atau pun Mamanya, pembicaraan mereka tak pernah sekali pun lepas dari pembahasan soal bisnis dan perusahaan.
"Semua lancar, Ma." Tristan menjawab diplomatis.
Crystal menunduk, pura-pura sibuk dengan makanannya yang sama sekali belum tersentuh.
"Lama nggak ketemu, Crystal sudah besar ya? Umur berapa tahun ini?" kali ini pertanyaan itu ditujukan kepada Crystal.
"Bulan depan delapan belas tahun, Ma." jawab Crystal sambil bersungut-sungut dalam hati.
"Mama macam apa yang lupa umur anak sendiri."
"Naaah... berarti waktunya kamu mandiri. Jangan nempel terus sama Kakakmu!" nasehat Nyonya Harrison.
"It's okay, Ma. Aku senang dia dekat denganku, dari pada dekat sama orang lain dan salah pergaulan." Tristan seperti biasa membela adiknya.
Crystal cuma meringis, tak tahu harus berkata apa.
"Setidaknya kasih waktu Kakakmu buat pacaran dan mencari jodoh. Apa kamu nggak kasihan sama Kakakmu? Teman-temannya sudah menikah dan punya anak lho."
Ada rasa tak enak menyelip di hati Crystal. Dia semakin menundukkan kepalanya. Tangannya terus mengaduk-aduk makanan. Tak tahu harus bersikap bagaimana. Entah kenapa, ada rasa tak nyaman saat mendengar Tristan akan pacaran.
"Aku sibuk, Ma. Nggak sempat mikirin gitu-gituan."
"Lalu kapan? Tahun ini kamu sudah tiga puluh tahun, dan teman-teman Mama sudah pada punya cucu. Mama juga mau punya cucu."
Tristan ingin tertawa tapi takut dosa. Selama ini yang mengurus Tristan dan Crystal adalah Suster Anna. Bagaimana mungkin Mamanya menginginkan seorang cucu.
Boro-boro menimang cucu, pertemuan Tristan dengan Mamanya dalam setahun saja bisa dihitung jari.
Ah, mungkin yang dimaksud Mamanya adalah seorang penerus Harrison Group.
"Nanti akan aku pikirkan, Ma." lagi-lagi jawaban Tristan tak memuaskan Mamanya.
"O'ya... Mama mau kenalkan kamu sama seorang gadis. Papanya seorang importir logam terbesar. Dia sendiri ada bisnis hotel dan kuliner."
WHAT???
Tristan merasakan aroma-aroma perjodohan bisnis disini. Dan sejak dulu, dia tak pernah menyukainya. Belum sempat Tristan menolak.
"Tante.... " terdengar suara merdu seorang wanita.
Crystal menoleh. Seorang wanita cantik dengan rambut panjang kecoklatan, tinggi dan langsing sedang tersenyum pada Mama.
Serta merta Nyonya Harrison berdiri dan memeluk hangat wanita cantik itu.
"Tristan, ini Bianca. Yang tadi Mama ceritakan padamu."
Bianca tersenyum. Tristan berdiri, menganggukkan kepalanya dan kemball duduk tanpa mengucap sepatah kata pun.
"Jadi, kapan kalian akan mulai berkencan?" tanya Nyonya Harrison.
HAH?!?
Bersambung besok ya Gaes...