I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 35 -- Kejadian Tak Terduga



"Tristan... "


Tristan menoleh kearah sumber suara, sungguh seseorang yang tak disangka-sangka. Seorang wanita tampak berdiri tak jauh darinya, bibirnya mengulas senyum yang menyiratkan kelegaan berhasil menemukan Tristan.


Wanita itu berjalan perlahan mendekati Tristan. Sedangkan Tristan hanya bisa menghela napas tak percaya. Bibirnya pun bergumam,


"Bianca... ?"


Tristan seakan tak mau percaya saat Bianca berdiri di hadapannya. Bagaimana bisa wanita ini tiba-tiba muncul disini?


Hey! Ini bukan monas di Jakarta atau Tugu Pahlawan di Surabaya. Mereka sekarang sedang berada di Menara Eiffel, Paris! Sudah pasti ada seseorang yang memberitahu Bianca kalau dirinya sedang berada di Paris.


"Ngapain disini?" Tanya Tristan.


Raut wajah Bianca langsung berubah.


"Sepertinya kedatanganku tak diharapkan."


Tristan tak menjawab. Dia membuang pandangannya ke arah Crystal yang belum menyadari kehadiran seorang tamu tak diundang.


"Aku sedang berlibur bersama kedua orang tuaku. Mereka disana sedang foto-foto." Bianca menunjuk kearah sepasang suami istri paruh baya yang berada tak jauh dari mereka.


"O'ya?"


Dalam sekali lihat, Tristan langsung mengenali pasangan paruh baya itu. Tuan dan Nyonya Hartono, rekan bisnis VVIP Papanya sekaligus teman dekat Mamanya.


Tapi benarkah ada kebetulan yang sangat "kebetulan" seperti ini? No! Tristan tak mempercayainya.


Belum sempat Tristan berpikir lebih jauh, seseorang sudah bergelanyut di bahunya.


"Kak Tristan... "


Tristan menoleh, tampak Crystal tersenyum manis padanya. Tristan mengusap kepala Crystal dan mengecup keningnya.


Astaga! Bianca membelalakkan matanya, lagi-lagi merasa seperti obat nyamuk. Dia ini yang katanya calon tunangan Tristan, boro-boro disenyumi. Tristan mau menyapa saja sudah merupakan keajaiban dunia.


Tapi apa ini? Lihatlah! Ternyata Tristan bisa bersikap lembut.


"Kami lagi liburan. Tante Bianca ngapain disini?" Tanpa ditanya, Crystal langsung menjelaskan sekaligus menyapa.


Bianca mengangguk, mulutnya tersenyum tapi matanya terasa tajam menghunus.


Dasar bocah kurang ajar! Beraninya dia memanggil Tante, Bianca benar-benar tak suka.


"Kak Tristan, aku lapar." Rengek Crystal tepat saat Tristan hendak membuka mulut dan menyudahi pertemuan yang tak menyenangkan ini.


Good job, Crystal! Tristan tersenyum dalam hati. Ternyata Crystal masih tetap partner in crime terbaik Tristan. Tanpa komando, Crystal selalu berhasil mencarikan alasan terbaik setiap kali Tristan dihadapkan situasi sulit bersama para wanita.


"Sepertinya adikku sudah lapar, kami mau makan siang sekarang." Tristan beralasan pada Bianca, dia bahkan tak mau berbasa basi menawarkan lunch bersama.


"Kamu mau makan apa, Sayang?" Tanya Tristan dengan lembut, membuat bara di hati Bianca semakin menyala.


"Apapun asal sama Kak Tristan." Crystal mengedipkan sebelah mata.


Tristan tertawa, Bianca makin terpana.


"Tristan, kebetulan orang tuaku juga mau makan. Bagaimana kalau kita makan bersama?" Bianca memutuskan berinisiatif.


"Hellooo... Tuan Tristan."


Pucuk dicinta ulam tiba, suara Tuan Hartono menggelegar, saat Bianca hendak mulai membujuk Tristan.


Crystal mencondongkan tubuhnya ke Tristan.


"O... We are in trouble, Sir." desisnya pelan tapi cukup bisa didengar oleh Tristan.


Tuan Hartono dan Nyonya Hartono menjabat tangan Tristan erat.


"Dan... gadis manis ini pasti... " Tuan Hartono mengingat-ingat.


"Crystalin." Jawab Tristan, sengaja tanpa menyebut embel-embel Harrison dibelakangnya.


"His sister, Mam, Dad." Bianca menjelaskan sekaligus menekankan kata sister untuk memberi batasan kepada Crystal.


Tristan tak merespons.


"Let's have lunch. Makin banyak orang pasti makin seru." Ajak Tuan Harrison.


Dan, ide makan siang itu benar-benat terlaksana. Mereka duduk berlima di meja bundar besar dalam sebuah restaurant mewah. Tuan dan Nyonya Hartono, Bianca, Tristan dan Crystal.


Kedua orang tua Bianca memperlakukan Crystal dan Tristan dengan ramah. Mereka tak hanya mengagumi Tristan sebagai pengusaha muda yang sukses, tapi juga memuji bagaimana cara Tristan begitu perhatian pada Crystal.


"Kalau dilihat dari caranya bertanggung jawab pada adik perempuannya, aku percaya kelak Tuan Tristan akan menjadi suami yang penyayang dan bertanggung jawab." Nyonya Hartono terang-terangan memuji Tristan.


Tristan hanya tersenyum tipis.


Waktu makan siang yang tak bisa dibilang sebentar itu membuat Bianca berpamitan ke toilet, sedangkan Tuan Hartono permisi sebentar untuk melakukan hal lain. Sekarang sisa Tristan, Crystal dan Nyonya Hartono.


Suasana terasa canggung, Tristan tak berniat membuka percakapan. Terlebih lagi Crystal yang merasa kalau dirinya hanya an outsider di meja bundar itu.


"Tadinya aku heran, kenapa mendadak Bianca memaksa kami berangkat ke Paris bersamanya. Biasanya dia bilang bosan pergi ke Paris karena sudah terlalu sering kesini." Mama Bianca membuka pembicaraan.


"Tapi aku tau sekarang, ternyata alasan sebenarnya adalah seseorang yang sedang duduk di hadapanku." Tambah Nyonya Harrison sambil tertawa kecil.


Nah! Apa kata Tristan tadi. Tak ada kebetulan yang sebagus ini di dalam dunia. Terlalu kebetulan. Crystal diam-diam melirik ke Tristan, mencoba membaca pikiran laki-laki yang duduk disampingnya.


Hasilnya nihil, Crystal tak bisa menebak apa pun dari wajah Tristan. Hanya ada satu ekspresi di wajah Tristan, yaitu ekspresi yang sering ditunjukkannya kepada rekan bisnis atau pun karyawannya. Ekspresi dingin.


"Beberapa bulan terakhir ini, sejak Mamamu menjodohkannya denganmu, Bianca menjadi begitu bersemangat. Setiap hari yang diceritakan hanyalah kamu, kamu dan kamu." Mama Bianca berhenti sejenak, menghela napas dan tersenyum hangat.


"Sebelumnya Bianca belum pernah sekali pun mau menerima perjodohan dengan anak-anak kenalan Papanya maupun kenalanku. Bahkan cuma sekedar bertemu dan berkenalan saja, Bianca menolak. Hanya denganmu saja dia akhirnya mau dijodohkan."


"Dan hari ini aku menyadari kalau dia sangat menyukaimu, Tuan Tristan. Aku bersyukur Mamamu bermaksud menjodohkan kalian."


Crystal tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya, dia tak suka. Benar-benar situasi yang sangat tak menyenangkan baginya. Bagaimana bisa Tristan tetap berekspresi setenang itu.


Bersambung ya...