I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 95 -- Short Story 1 : Home Sweet Home



Seindah - indahnya negara lain, semewah - mewahnya resort yang disewa, tetap saja yang ternyaman adalah rumah sendiri. Crystal juga merindukan Suster Anna dan rumah tempatnya dibesarkan.


Selesai honeymoon, Tristan mengajaknya pulang ke rumah Harrison yang sudah dibelinya dari Tuan Harrison dan menghadiahkannya untuk Crystal. Ya, rumah lama mereka. Tristan tahu benar kalau Crystal sangat menyukai rumah itu.


"Suuuuus... !" pekik Crystal. Belum juga mobil berhenti sempurna, dia sudah membuka pintu dan meloncat keluar. Pak Supri yang ternyata masih bekerja di rumah itu hanya bisa geleng - geleng kepala melihat tingkah Nyonya Muda mereka yang tak pernah berubah.


Seperti biasa, Suster Anna menyambutnya dengan senyum lebar sambil merentangkan tangan.


"Nona!"


Seperti di drama korea yang sering ditonton Crystal, mereka berpelukan erat. Seolah mereka sudah lama tak berjumpa dan terpisah puluhan tahun.


"Sudah jadi istri orang, jaga sikapnya ya Nona. Jangan petakilan lagi." kata Suster Anna pelan sambil mengelus - elus rambut Crystal dengan sayang.


Crystal melerai pelukannya dengan suster Anna. Dia hanya meringis, tak mau berjanji apa pun. Tristan menggelengkan kepala, gemas dengan tingkah Crystal yang tetap kekanakan.


"Sus punya surprise." ucapnya sambil tersenyum penuh arti. Tangannya yang sudah mulai keriput, menyelipkan seberkas rambut ke telinga Crystal.


"Yuk, masuk."


Crystal menurut.


Wah! Apa itu? Suster Anna mengajaknya ke salah satu sudut rumah.


"Lift? Sekarang kita punya lift?" Matanya membelalak.


Dia masih tercengang saat tangan Suster Anna sudah memencet tombol. Lift model Stiltz Trio+ yang mampu menampung tiga orang itu terbuka.


Tristan tertawa, "Aku merenovasi beberapa bagian rumah ini."


"What?" Alis Crystal berkerut - kerut. "Why don't you tell me?" protesnya kesal.


(Kenapa nggak kasih tau aku?)


"Let's see then." Tristan mendorong punggung Crytsal lembut supaya istrinya masuk ke dalam lift yang setipe dengan yang di pasang di balmoral retreat, tempat favorit Ratu Elizabeth II.


"Tuan Tristan pasang lift katanya spesial buat Sus. Supaya Sus nggak capek naik turun tangga. Lututnya yang sudah nggak kuat, Non. Maklum sudah tua." ucap Suster Anna sambil tersenyum.


"Halaaah... Suster masih muda gitu, masih cantik." goda Crystal sambil mencolek pinggang suster Anna. "Aku liburan, sus pergi nyalon sendiri ya?"


"Hush! Apaan sih, Non? Gimana mau liburan? Wong ada tukang dirumah." protes Suster Anna.


"Memangnya kenapa kalau ada tukang, sus?" tanya Tristan heran.


"Ya kan harus diliatin tukangnya, Tuan." jawab suster Anna kalem.


"Yaelah, Sus... Ngapain diliatin? Kan sudah ada mandornya. Ada Karina juga kan?" ucap Tristan tak habis pikir.


"Tapi kan tetap saja Sus merasa bertanggung jawa, Tuan... "


Tristan mengedikkan bahunya, dia paham betul dengan sikap suster Anna yang bertanggung jawab. Biarlah, apa pun asal suster Anna senang. Tristan memilih untuk mengalah.


TING!


Bunyinya nyaring mengingatkan pada suara lift di hotel - hotel. Mereka sudah sampai di lantai dua. Suster Anna berjalan mendahului, menuju kamar Tristan. Crystal sudah bersemangat sekali menyusul suster Anna. Namun Tristan menangkap pinggangnya dan menyuruhnya berjalan bersamanya.


Pipi Crystal merona, dia merasa sungkan bermesra - mesra di hadapan Suster Anna. Meski sering kali Crystal 'menggoda' Tristan, tapi dia tak berani melakukannya di depan Suster Anna.


Tristan pura - pura tak tahu reaksi Crystal, dia malah mengecup pipi istrinya dengan mesra sambil tertawa.


Suster Anna membuka pintu ganda yang ada di ruangan paling ujung. Crystal mengerutkan keningnya. Meski sudah empat tahun tak pernah datang ke rumah ini, dia masih hafal ruang - ruang apa saja dan dimana letaknya.


Ini kamar Tristan, tampilan luarnya benar - benar sudah berubah. Pintunya berubah menjadi pintu ganda.


Tristan tersenyum geli. "Kamar kita, sayang."


"Ha?"


Crystal melongo. Begitu dia masuk, baru dia tahu kalau ada banyak yang berubah di kamar Tristan.


"Sekarang ini bukan kamar Tuan Tristan lagi, Nona. Ini kamar pengantin baru." ucap suster Anna sambil mengedipkan sebelah matanya.


Crystal tercengang, matanya memandang seluruh ruangan. Dia berputar mengelilingi kamar, tak ada lagi kesan kamar seorang bujangan. Dan kamar ini sudah diubah menjadi kamar pasangan masa kini dengan tekhnologi terbaru.


"Kamu tau apa yang paling keren dari kamar ini?"


"What!?"


"It's sound proof." jawab Tristan sambil tersenyum penuh arti. Alisnya dinaik turunkan.


WOAAH!


Kenapa Kak Tristannya ini bisa tak tahu malu begini ya?


"Ada suster Anna. Gimana sih?" protes Crystal sambil mencubit Tristan. "Nggak tau malu."


"Loh, kan suster Anna yang minta!" ganti Tristan yang protes, dia tak terima dikatakan tak tahu malu.


"Hahaha... Iya, Non. Sus nggak mau denger yang suara - suara misterius, nanti sus jadi kepikiran yang enggak - enggak. Bisa gawat!"


Tristan terbahak, "Kok enggak - enggak sih Sus? Iya-iya dong. Kan kita officially married." ucapnya tanpa sensor, dia memang terbiasa bercerita banyak hal pada Suster Anna.


"Yo wes. Terserah kalian yang muda - muda ini mau ngapain. Yang penting Sus udah punya lift sekarang." Suster Anna mengibaskan tangannya. "Sus mau bantuin Mbak Tari masak. Kalian mau makan apa?"


"Aku mau bobok aja, sus." Crystal menguap.


"Ngantuk banget?" tanya Tristan lembut. "Biarin aja, sus. Mungkin dia masih jetlag."


"Hm-hm." Crystal mengangguk. Selama beberapa hari ini, mereka tidak cukup tidur. Honeymoon yang melelahkan sekaligus menyenangkan.


"Okay." ucap Tristan bersemangat. Tangannya dengan lincah membuka kancing - kancing kemeja dan celana jins istrinya.


"Kak Tristan ngapain sih?" tanya Crystal bingung. Jangan - jangan...


"Ganti baju, supaya tidurmu enak." kata Tristan tanpa dosa.


"Oh... " Wajah Crystal merah padam.


"Hey! Apa yang kamu pikirkan? Kamu mikir aneh - aneh ya?" Tristan mengangkat tangannya seperti orang menyerah, heran dengan isi pikiran Crystal yang kesitu - situ terus. Padahal niatnya hanya ingin membantu istrinya berganti pakaian.


Crystal langsung kabur dan masuk ke dalam bed cover hanya mengenakan b-ra dan under--wear. Tristan mengikutinya, dia mengganti pakaiannya dan menyusul rebah disamping istrinya. Dia merentangkan tangan kemudian menarik Crystal agar tidur diatas lengannya, memeluknya dibawah selimut.


Crystal memejamkan matanya. Tidur berpelukan seperti ini pun rasanya nyaman dan in--tim. Bisa merasakan kehangatan suaminya dan napasnya yang teratur.


"Oh." Tristan teringat sesuatu. Dia membuka matanya.


"What?"


"Besok kita harus menemui Papa, Sayang." ucap Tristan.


"He-em." sahut Crystal sambil lalu, matanya lengket tidak bisa dibuka lagi. Efek jetlag mengalahkan segalanya. Biarlah yang terjadi besok, biar terjadi. Yang diinginkannya sekarang hanyalah... tidur dipelukan suaminya.


Note :


Start from here. Ceritanya bisa aja putus - putus atau nggak nyambung satu sama lain ya, readers. Karena hanya brainstorming / coret - coretan sebelum nulis. Mau dihapus dari words tapi kok sayang.