
"Kenapa? Kamu nggak suka?" tanya Tristan saat mendapati reaksi Crystal tak seperti yang dia harapkan.
Sebuah penthouse mewah dengan design minimalis rancangan design interior terkenal. Perabot dan dinding terkombinasi rancangan dalam warna coklat gelap, putih dan hitam menambah kesan mahal.
Di dalam kamar ada sebuah kasur besar dengan tiang di masing-masing sudut, kemudian kelambu putih menjuntai, seolah-olah di design untuk seorang tuan putri. Di seberang tempat tidur itu juga ada sebuah meja rias model classy dan berkelas.
"Hei... , kamu bisa melihat laut dari sini." Tristan berjalan kearah jendela sambil menggandeng Crystal.
"Kenapa apartment?" Crystal akhirnya mengeluarkan suara setelah dari tadi diam. Dalam pikirannya, sebuah penthouse artinya sebentar lagi dia harus mandiri dan hidup terpisah dengan Tristan. Mungkinkah karena Tristan sebentar lagi menikah?
"Kenapa?" Tristan malah balik bertanya. Dia tak memiliki alasan lain selain untuk investasi dan memang saat itu hanya sebuah penthouse yang ada dipikirannya.
Crystal tak menjawab, dia malah meminta pulang. Terpaksa Tristan membawa Crystal pulang dengan mood yang memburuk.
Sampai dirumah, Crystal langsung mengurung diri di kamar hingga MUA datang. Tristan yang awalnya ingin merayu, terpaksa menunda karena EO, cathering dan beberapa telepon dari rekan bisnis sudah menunggunya.
"Crystal masih dikamar Sus?" tanya Tristan setelah menyelesaikan segala macam urusannya.
"Lagi di dandani, Tuan. Pasti bakal cakep banget deh, Tuan." Seperti biasa Suster Anna selalu bangga pada anak asuhnya.
Tristan manggut-manggut.
"Nggak kerasa dia sudah delapan belas tahun ya Sus?"
"Iya, Tuan. Kalau di kampung, usia segitu sudah boleh nikah lho Tuan."
Nikah? Yang benar saja! Seumur-umur Tristan belum pernah membayangkan Crystal menikah dan hidup berjauhan dengannya.
"Memangnya Crystal pernah cerita kalau dekat sama cowok?" Tristan mendadak kepo karena setaunya Crystal tak pernah dekat dengan laki-laki mana pun.
"Hehe... kayanya sama Sky, Sky itu Tuan. Anaknya baik dan ganteng lho Tuan. Kalau Sus seumuran Nona, mau deh sama dia." Suster Anna tersenyum-senyum.
"Memangnya Suster Anna pernah ketemu?"
"Nggak pernah sih, Tuan. Tapi Nona suka cerita trus pernah kasih lihat foto Sky di HPnya. Ganteng, kaya bule lho Tuan."
Hmmm... Tristan tak suka Crystal menyebut nama laki-laki lain, apalagi memujinya. Apalagi Sky, Tristan terlanjur mencatatnya sebagai rival.
***
Sore hari, para undangan mulai berdatangan. Lampu-lampu dekorasi dinyalakan, dan musik mulai dimainkan.
Sesuai perintah Tristan, security memastikan kalau tidak boleh ada satu pun alkohol dan benda terlarang yang dibawa masuk ke dalam lokasi pesta. Kemudian mereka mengatur penempatan parkir mobil-mobil mewah itu.
Teman-teman Crystal berdecak kagum melihat dekorasi pesta dan lokasinya. Di pinggir kolam juga disediakan kursi-kursi kayu dan bantal-bantal supaya para ABG bisa duduk dan bersantai. Toples-toples snack digantung di tiang-tiang dekorasi diantara bunga dan balon. Nampak colorful tapi tidak terkesan norak.
Tristan memandang berkeliling dan tersenyum puas. David dan Santy membantunya untuk memastikan semua pekerjaan cathering dan event organizer berjalan sebagaimana mestinya.
Suare musik sudah semakin riuh dan teriakan memenuhi udara tapi yang ditunggu masih belum turun.
"Excuse me, kenapa dia?" tanya Tristan pada MUA dan salah seorang anggota EO yang meminta Crystal segera turun ke lokasi pesta.
"Nggak apa-apa, Tuan. Nona bilang dia cuma nervous." Suster Anna tersenyum sambil mengelus Crystal penuh sayang.
"Tapi sekarang waktunya dia tampil." kata orang EO tersebut.
"Kak Jingga, boleh kasih waktunya sebentar? Please, lima menit aja. Aku pastikan Crystal turun."
Jingga yang terpesona dengan penampilan Tristan malam ini, langsung mengangguk cepat.
"Eh? I.. iya, siap."
Tristan memegang bahu Crystal, mengajaknya sedikit menyingkir kemudian dia sedikit menunduk.
"Ready for the party?" tanyanya lembut.
Crystal mendongak, wajahnya cantik bersinar dengan polesan make up MUA terkenal.
"As usual, you're pretty. You can go, girl." Tristan mengecup kening Crystal.
Dan akhirnya Crystal turun sambil tersenyum. Semua mata tertuju pada sesosok gadis yang berjalan dengan sorotan lampu menuju panggung. Beberapa dancers dengan kostum seperti malaikat-malaikat cantik mengiringi Crystal.
"So, here is Our Princess. Crystallin Harrison!"
Tristan menahan napas melihat penampilan Crystal yang luar biasa. Berapa kali pun dia melihat Crystal, tetap saja dirinya terpesona.
"BRAVO!! Crystal!" David bertepuk tangan keras.
"EHEM!" MC berdehem menarik perhatian para tamu undangan.
"Ada special request dari special person untuk Princess Crystalin. Penasaran?"
Orang-orang semua bersorak dan bertepuk tangan.
"Suiit... Suiiit... "
"Come on!"
"OK!!! KITA PANGGILKAN... ONE... TWO... THREE!" teriak MC.
Bunyi drum mengiringi langkah seorang pemuda yang muncul dari balik panggung, Sky muncul dengan buket bunga yang sangat besar. Dia tersenyum pada MC dan menunduk pada Crystal.
"Wow!"
"Keren banget sih dia."
"The real gentleman."
"Cool, Man!"
Sky menyodorkan bunganya dengan muka sedikit memerah sambil berkata, "Happy birthday, Crystal. Wish you all the best."
"WOOOOoo.... " para penonton nampak bersemangat menyaksikan dua remaja sedang malu-malu di depan panggung.
Senyum Tristan membeku di wajahnya yang tampan.
Melihat kesempatan untuk membuat acara semakin meriah, MC semakin bersemangat untuk mendekatkan Sky dan Crystal.
"SKY, ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada Crystal malam ini?" tanya MC.
Sky mengangguk mantap, dia mengambil mic dan berbicara sambil menghadap ke Crystal.
"Ehem... " Sky berdehem dan diam sesaat.
"Aku cuma berharap dia nerima pernyataan cintaku."
WHATT????
Tristan membelalakkan matanya, banyak yang ingin dia katakan tapi lidahnya kelu, tak mampu berkata-kata. Telinganya terasa berdenging entah apa yang dikatakan oleh MC selanjutnya, Tristan tak mendengar apa pun.
Tahu-tahu, kru acara mendorong kue ulang tahun cantik yang khusus dipesan Tristan untuk Crystal. Musik dan lagu happy birthday pun mengiringi proses pemotongan kue.
Crystal tersenyum lebar saat berhasil memotong kue ulang tahunnya. Dia tertawa lepas dan terlihat relax dan hanyut dalam acara ulang tahunnya.
"Well, potongan kue pertama biasanya untuk special person. Kira-kira Princess kita akan memberikannya kepada siapa ya?"
Suara drum kembali berbunyi.
"SKY SKY SKY" teriak teman-teman Crystal berirama.
Saat itu juga Tristan ingin mencekik teman-teman Crystal satu per satu. Tidak pernah jantung Tristan berdebar sekeras ini hanya karena menunggu jawaban seorang gadis.
"GO--SH!" Tristan memaki sekaligus berdoa dalam hati.
"Aku mau kasih kue ini ke... "
Suara Crystal membuat degup jantung Tristan semakin bertalu-talu.
Tristan menahan napas.
"SKY."
Mati! Selesai sudah.
Tristan menyelinap keluar dari pesta, dia tak mau melihat Crystal menyuapkan potongan kuenya pada Sky. Hingar bingar pesta yang seharusnya menyenangkan malah membuatnya sesak. Tristan pun memilih menjauh, menyusuri halaman belakang rumahnya.
Bersambung ya....
Duuh... kalau jadi Tristan enaknya gimana ya?
Sebenernya Crystal suka nggak sih sama Tristan? 😔😞