I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 98 -- Fight Between Lovers 1



"Hai, Sayang." sapa Tristan saat melihat Crystal datang menghampirinya di meja makan.


Crystal menghampiri Tristan dan hendak menciumnya. Tiba - tiba dia mencium aroma parfum mahal yang disemprotkan Tristan tadi pagi. Baunya terasa menusuk di hidung. Refleks Crystal menutup mulutnya, berlari ke wastafel terdekat dan muntah - muntah disana.


"Crystal." Tristan meloncat kaget.


Suster Anna lebih sigap dan memberi kode kalau semua baik - baik saja.


"Nggak apa - apa, Non. Namanya morning sick. Wajar kok buat orang hamil." ucap Suster Anna dengan suara keibuan. Suster Anna menuangkan segelas teh hangat untuk Crystal.


Crystal memutar keran air dan menyiram sisa - sisa muntahannya. Kemudian mengelap mulutnya dengan tissue dan langsung menatap tajam kepada Tristan.


"Aku nggak tahan baunya Kak Tristan! Bikin aku mual aja!"


Heh?!


Tristan shock. Dia langsung menghirup lipatan lengannya, perasaan tidak bau ketiak sama sekali. Selama ini dia tak punya masalah dengan bau badan. Lalu, Tristan mengendus pakaian yang dipakainya.


'Hmmm... , harum.'


Crystal menggeleng - gelengkan kepala melihat kelakuan suaminya.


"Pasti pakai parfum baru ya?" tuduh Crystal semena - mena.


"Lho, ini kan parfumku biasanya. Bolak balik kamu bilang suka sama baunya. Aku nggak pernah ganti - ganti." katanya sambil melirik suster Anna dengan tatapan serba salah.


Suster Anna hanya tersenyum kecil melihat pertengkaran mereka.


"Udah! Pokoknya Kak Tristan jangan deket - deket aku kalau belum ganti baju." titah sang ratu, tak bisa dibantah.


Hah?!


Tristan mendengus kesal, hanya bisa pasrah dan ngeloyor naik ke lantai dua untuk berganti pakaian.


'Sabar, sabar, ini bini lu lagi kagak bener hormonnya. Ganti baju juga nggak sampai lima menit kan? Iya nggak sih?'


"Ingat ya! Mandi dulu, baru kesini lagi. Jangan dekat - dekat aku kalau belum mandi dan ganti baju."


"Hah? Mandi lagi?" tanya Tristan tak percaya. Baru saja dia selesai mandi dan berganti baju karena mereka akan pergi check up ke Obgyn.


"Yes." jawab Crystal, tangannya melambai membuat gerakan mengusir.


Tristan hanya bisa menghela napas dan naik keatas.


Suster Anna menyenggol pinggang Crystal supaya Nonanya tidak bertingkah semakin menjadi - jadi.


Crystal menoleh.


Suster Anna memandang nonanya dengan tatapan sakit hati. "Jangan gitu toh Non, Tuan Tristan dari dulu udah pakai parfum kan? Masa baru sekarang komplain, mana pakai usir - usir segala. Nanti kuwalat, Non."


"Habisnya, aku mau Kak Tristan baunya yang natural aja. Kayanya segeran bau sabun mandinya Kak Tristan deh, Sus."


"Ya udah, bilangnya gitu aja ke suami. Jangan bilang yang lain - lain. Sus nggak tega lihat wajah Tuan tadi."


Duh! Crystal jadi merasa bersalah.


***


"Bagus. Detak jantung, air ketuban semua oke. Apa ada keluhan?"


Suara dokter mengalihkan perhatian Tristan dari layar yang ada di depannya kepada wanita muda yang sudah menjadi istrinya. Perutnya sudah diolesi gel.


"Kaki saya bengkak, Dok." jawab Crystal yang sedang berbaring di atas tempat tidur.


"Wajar, kok. Banyak - banyak minum air putih dan kurangi garam. Kompres atau rendam kakinya dengan air hangat ya. Usahakan posisi kaki lebih tinggi dari kepala saat berbaring supaya peredaran darah lancar."


Tristan manggut - manggut. Matanya kembali melihat layar USG. "Dok, bagaimana jenis kelaminnya?"


Crystal melirik kearah Tristan, dahinya berkerut. Tristan membalasnya dengan tatapan penuh tanya.


'What's up?' tanya Tristan tanpa bersuara. Hanya menggerakkan bibir.


"Nggak, Dok."


"Iya, Dok."


Jawab Tristan dan Crystal bersamaan.


Eh?


Tristan dan Crystal saling berpandangan. Tristan dengan pandangan tanpa dosanya, sedangkan Crystal sudah melotot seolah suaminya kedapatan tengah melakukan dosa besar.


"Kita sudah pernah bahas kalau bakal surprise aja jenis kelaminnya."


"Kapan?" tanya Tristan heran. Dia benar - benar lupa.


"Waktu itu kan? Habis Kak Tristan balik dari rumah Papa. Aku bilang kalau gendernya later aja. Tunggu hari H. Kak Tristan manggut - manggut gitu." sahut Crystal berapi - api.


Tristan mencoba mengingat - ingat, dia benar - benar lupa. Sejak hamil, Crystal bawel luar biasa, gayanya sudah mirip sama emak - emak tukang ngomel.


"Nah! Ketahuan kan? Cuma manggut - manggut tapi nggak dengerin istri lagi cerita."


Duh!


Bahaya - bahaya, sepertinya setelah ini nuklir dan rudal bakal dilontarkan dari kubu Crystal. Gawat - gawat efeknya bakal merambat kemana - mana.


"O'ya yang waktu itu kamu ngerengek minta ice cream kan?"


"Nah, itu inget!" ucap Crystal penuh kemenangan.


Tristan mengelus dada. Lega karena perang nuklir tak jadi meletus.


Dokter tertawa pelan sambil menggelengkan kepala melihat perdebatan pasangan suami istri di hadapannya. Dia tak berkomentar apa pun. Just wait and see.


"Jadi Kak Tristan tahu kan? Nggak usah nanya - nanya lagi apa jenis kelaminnya." omelan Crystal kembali terdengar.


Tristan meringis. "Habis penasaran, nggak tahan lagi. Gimana nih?"


"Gimana Dok? Cowok apa cewek?"


Dokter mengulum senyum. "Maunya apa?"


"Jangan dikasih tau, Dok!" protes Crystal. Dia mencubit lengan Tristan. "Udah ya. Dibilangin nanti ya nanti. Kepo amat sih." ucapnya galak.


"Tapi we need to prepare everything." sahut Tristan sambil mengusap bekas cubitan yang kerasa panas.


"Prepare apaan?"


"Lah kan katanya kamu mau design dulu interior kamarnya. Jadi harus tau boy or girl. Trus baby stuff-nya juga supaya match. Iya nggak sih?"


"Dih! Kenapa ribet banget ya? Pilih warna netral aja kenapa?"


"Tapi tiap jalan ke mall, kamu mampir ke baby shop trus sukanya bilang 'lucccuuuuu!'" Tristan menirukan gaya Crystal saat di baby shop.


"Dan semua yang kamu bilang lucu itu warnanya pink. Kalau boy gimana? Masa jadi pinky boy? No way, Babe."


Crystal memutar kedua bola matanya, kesal luar biasa pada suaminya.


"Jadi gimana nih? Mau dikasih tau atau nggak gender baby-nya?" tanya Dokter berusaha menyudahi perdebatan receh suami istri di hadapannya. Pasiennya sudah mengantri di ruang tunggu.


"MAU!"


"NGGAK!"


Baik Crystal mau pun Tristan menatap dokter itu dengan tatapan mengintimidasi.


Oh, MY. GOD!


Dokter menepuk jidatnya. Pusing.