
The easiest way to shut up an angry girl is a kiss.
Melihat Crystal marah karena Bianca, senyum Tristan makin melebar. Ada rasa bahagia menyeruak. Lagipula, Tristan juga tahu kalau Crystal sedang salah paham dengan pernyataannya tadi.
"Oke! Oke! Dengerin dulu."
"Nggak! Nggak mau! Aku benci Kak Tristan... ENGG... --"
"Hmph...!"
Tristan menutup mulut Crystal dengan mulutnya. Napas Crystal tercekat, jantungnya serasa berhenti berdetak. Crystal memang ingin adegan romantis, tapi bukan begini caranya dan tidak disini tempatnya. Crystal melirik kearah pintu. Dan, tertutup! Ya, Tuhan.
Merasakan Crystal diam tak bergerak, Tristan melepaskan bibirnya dari bibir Crystal. Entahlah gadis itu tak mematung karena takut ada yang datang, atau shock akibat serangan dadakan dari Tristan.
"Aku nggak mungkin ninggalin the best gift in my life. My precious one." bisik Tristan, tangannya mengelus lembut pipi Crystal.
Crystal tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Aku ingin berhenti menjadi Kakakmu suatu hari nanti karena ini."
Cup!
Sekali lagi Tristan mengecup Crystal.
"Akan sangat berdosa kalau aku menciummu, padahal aku adalah Kakakmu."
Bibir Crystal bergetar, Tristan menciumnya. Lagi? Dan ini terasa jauh lebih nyata dari pada saat hujan waktu itu. Tapi hatinya tak menolak. Menyukai kakakmu sendiri, bukankah itu dosa?
"Sekarang kamu belum ngerti. Tapi, suatu hari, aku akan berhenti menjadi kakakmu dan akan menjadi kekasihmu." Mata Tristan menatap Crystal, lembut dan bersungguh-sungguh.
Crystal membuang pandangannya ke lantai, tak sanggup lagi menghadapi pesona Tristan yang luar biasa.
Tristan mengangkat dagu Crystal, mengecupnya sekali lagi untuk meredakan ketegangan.
"Apa ini first kiss-mu? Aku ingin selalu menjadi yang pertama bagimu."
Ya ampun! Pertanyaan dan pernyataan apa lagi ini? Crystal mendorong Tristan menjauh, merasa sesak dengan kondisi yang tercipta saat ini. Tak bisa dipungkiri, hatinya berdebar dan yang paling parah adalah dia menyukai cara Tristan menc-ium-nya. Terasa lembut dan sayang. Tidak! Tidak! Ini semua tak boleh.
TOK TOK TOK!
"Ada orang didalam?"
Mati! Crystal panik, mereka berduaan di kamar mandi. Bisa-bisa ada gosip kalau mereka ngapa-ngapain di kamar mandi.
Sebaliknya Tristan dengan tenang menarik lengan gadis itu supaya melingkar ke pinggangnya. Sementara tangannya merengkuh Crystal masuk ke dalam pelukannya.
"Ready?" tangan Tristan sudah siap di kenop pintu.
Crystal mengangguk.
"Go!" Tristan membuka pintu dan mereka berdua langsung melesat keluar.
"Hey! Ngapain kalian?" teriak seorang ibu yang sudah menunggu di depan pintu.
"Sorry, adikku sakit banget perutnya sampai susah jalan!" balas Tristan sambil melangkah lebar-lebar bersama Crystal dipelukannya.
"Go! Go! Kita hampir sampai mobil." kata Tristan pelan sambil mengulum senyum.
"Tristan!"
Tristan menoleh sekilas dan melambai pada Bianca yang ternyata ada didekat situ.
"Oh, Bianca. Hai! Sorry, Crystal sakit perut. Bye... "
Bianca tercengang melihat kelakuan Tristan yang tak ada sopan-sopannya. Kalau saja dia tak tahu siapa Tristan, bisa-bisa sepatunya sudah melayang ke kepala laki-laki itu.
***
Begitu sampai dirumah, Crystal segera masuk kamar, menghapus make up dan berganti baju. Kemudian berbaring memandang langit-langit kamar, memikirkan 'kejutan' dan kalimat-kalimat ajaib Tristan.
Perasaannya seperti sedang naik rollercoaster, tegang bercampur takut, tapi juga menyenangkan.
"Sayang!" suara Tristan diiring bunyi pintu terbuka.
Crystal langsung terduduk, sudah cukup hari ini. Jantungnya tak akan kuat untuk kejutan lainnya.
"Nggak lapar?"
Tristan muncul dengan baki ditangannya, kakinya mendorong pintu supaya tertutup. Bau harum makanan mengingatkan Crystal pada perutnya yang keroncongan.
"Bawa apa?"
"Di dapur cuma ada ini, tapi kamu pasti suka." Tristan meletakkan baki diatas pangkuan Crystal.
"Waaah... Kak Tristan the best!" Crystal mengacungkan jempol, wajahnya ceria. Tanpa basa basi, langsung menyerbu makanan dihadapannya.
"Nih, incip!" Crystal menyodorkan garpu dengan ayam diujungnya untuk Tristan.
Tristan membuka mulut dan mengunyah perlahan.
"Hmmm... enak juga. Mau lagi dong."
"Nggak! Nggak boleh!" Crystal menyingkirkan piringnya.
"Tapi itu kan banyak, aku ambil untuk berdua."
"Nggak. Ini buat aku semua. Kak Tristan ambil lagi saja dibawah."
Tristan tertawa, seperti biasa dia mengalah. Dia berdiri sambil memandangi Crystal, Tristan sudah merelakan dirinya untuk terus dijajah oleh Crystal. Hanya demi melihat wajah ceria Crystal.
"Hmmmm... kenyang." Crystal menyodorkan baki yang sudah kosong pada Tristan. Lalu menepuk perutnya dengan wajah puas. Perut kenyang, hati pun senang.
Tiba-tiba Crystal ingat akan sesuatu, ditatapnya Tristan dengan pandangan membunuh.
"Kenapa kamu mencuri ciuman pertamaku?"
Duh! Tristan tak bisa mengelak lagi, kepalang tanggung.
"Karena kamu mencuri hatiku." jawab Tristan lugas.
Ha? Jawaban macam apa itu? Sepertinya Kak Tristannya sudah gila.
Tristan tertawa melihat ekspresi Crystal yang menggemaskan.
"Crystal." kali ini suara Tristan terdengar berat dan serius.
"Eh?"
"The day I chose you is the day I fell in you. Since that day, you're mine and always be."
(Hari dimana aku memilihmu adalah hari dimana aku jatuh cinta padamu. Sejak hari itu, kamu milikku dan akan selalu milikku.)
Tristan menangkap kebingungan di mata Crystal.
"Kasih waktu aku untuk membereskan semuanya, nanti aku jelaskan padamu." Tristan mengusap kepala Crystal.
"Kamu percaya aku kan?"
Crystal mengangguk-angguk antara bingung dan terpesona pada Tristan.
"Sudahlah. Sebaiknya kamu istirahat." Tristan mengatur suhu ruang, dan menutupi tubuh Crystal dengan selimut.
Crystal menahan napas, tak berani bergerak.
"Good night." Tristan mencium kening Crystal.
"Good... night." lirih Crystal.
"I love you, Crystal."
"I love you, Kak Tristan-ku."
Hoah! Crystal malu. Dia langsung masuk ke dalam selimut, menutupi wajahnya yang merah padam.
Tristan tertawa kecil melihat tingkah Crystal yang menggemaskan.
Bersambung ya....
🌹🌹🌹🌹
Sanggupnya double up ya Readers.
Setiap kali tau ada yang nunggu up, rasanya semangat nulis hehehe...
Thanks buat cinta kalian untuk Tristan dan Crystal.
Sebenernya pengen double up terus, tapi kerangka untuk karya ini pendek banget. Dan aku enjoy banget nulis karya ini, belum pengen say good bye ke Tristan. 😞
Maaf ya Crystal, Author jatuh cinta sama Tristan.
😅
Selamat hari minggu, bahagia selalu. 😇