
"Matahari sudah mulai naik, kamu mau turun sekarang atau nanti?"
Setelah menikmati pemandangan, berbincang dan... ehm, do ki -- ssing scene, Tristan akhirnya bertanya pada Crystal.
Crystal menganggukkan kepala. "Gendong lagi ya? Kan jalannya turun, jadi lebih ringan." pinta Crystal, ngelunjak.
Tristan menggelengkan kepalanya dan merangkul bahu Crystal, mengajaknya berjalan menuju ke tempat cable car.
"Lho? Kita turun naik cable car?"
Tristan mengacungkan jempolnya.
"Hah? Kenapa dari tadi nggak naik cable car aja? Bukannya lebih enak daripada jalan kaki?" protes Crystal sambil bersedekap.
Kemudian dia melirik ke arah Tristan dengan tatapan menghakimi. "Haiz... ternyata suamiku tak sepintar yang aku pikirkan."
"Maksudmu aku bodoh?"
"Nggak bodoh sih, tapi kurang cerdas." jawab Crystal sambil memutar bola matanya. "Kalau ada cable car, ngapain aku capek - capek jalan tadi? Trus ngapain Kak Tristan gendong aku? Buang - buang tenaga saja, nggak efisien."
Crystal mengomel panjang lebar. Yang diomeli dengan sabar mendengarkan sambil tersenyum. Untunglah, Tristan tipe pria yang paham kalau wanita sehari bisa mengeluarkan 20.000 kata, atau bisa dibilang lebih banyak 13.000 kata dari pria yang hanya mengucapkan 7000 kata per hari. Dia hanya mendengarkan dan tak membantah mau pun menyela sedikit pun, menunggu hingga Crystal selesai mengeluarkan isi kepalanya.
Begitu sampai di cable car, Tristan segera membukakan pintu untuk Crystal dan mempersilahkan masuk.
"Hmmm... jangan - jangan Kak Tristan nggak mau naik cable car karena pengen romantis - romantisan aja. Iya kan?" tuduhnya semena - mena.
Crystal tidak langsung masuk ke cable car yang bisa muat hingga 65 orang. Dia masih tak puas karena Tristan belum merespon protesnya.
Tristan terbahak, gemas melihat kelakuan Crystal.
"Itulah sebabnya kamu ditakdirkan untuk menikah denganku. Orang yang nggak teliti kaya kamu, paling cocok denganku yang penuh persiapan." jawab Tristan kemudian.
Seperti biasa, Tristan lebih memilih kosakata yang halus untuk menegur Crystal. Dia lebih memilih istilah tidak teliti, sebagai ganti kata bodoh.
"Apa maksudnya?" tanya Crystal sambil mengernyitkan dahi tak paham.
"Look at the board! Coba perhatikan lagi dengan lebih teliti."
(Lihat ke papan kayu itu.)
Ha?
"Baca baik - baik tulisan yang ada disana." lanjut Tristan lagi, tangannya menunjuk ke arah loket.
Pandangan Crystal mengikuti arah jari telunjuk Tristan.
'WHAT?'
Hmm... seketika wajah Crystal memerah karena malu, setelah membaca tulisan yang terpampang jelas dengan huruf yang lumayan besar hingga dari kejauhan pun bisa dibaca.
"Kenapa diam?" goda Tristan sambil mengulum senyum.
"Sorry, aku nggak tau tadi." lirih Crystal, mengakui kesalahannya.
"Jadi menurutmu, aku pintar atau bodoh?" tanya Tristan lagi sambil melengos, berpura - pura sakit hati dan tersinggung.
"Iya, maaf. Aku kan nggak tau kalau cable car baru start operasional jam delapan pagi. Ini kan pertama kalinya kita kesini."
Crystal sekali lagi meminta maaf, tapi tetap tak mau di salahkan. Dia masih mencoba membela dirinya sendiri.
"Makanya, lain kali kalau mau kemana - mana cari tau dulu infonya yang lengkap. Dan jangan suka ngomong sembarangan ke orang lain."
Tristan berbicara sambil berdiri dengan tangan bersedekap di dada. Matanya menatap tajam pada Crystal, sementara hatinya setengah mati menahan tawa melihat ekspresi Crystal yang lucu.
Crystal menunduk, bibirnya mengerucut. So cute.
"Next time, aku nggak akan ulangi lagi. Aku bakal lebih teliti."
Tristan tak tahan lagi, dia tertawa sambil menggeleng - gelengkan kepala. Dimatanya wajah Crystal yang malu bercampur sungkan, tampak begitu menggemaskan.
"Aku menyukaimu yang lucu seperti itu so that I can be your super hero."
CUP
Tristan langsung mengecup bibir Crystal dengan cepat. Tubuhnya tak bergerak hanya kepalanya saja yang maju, dan langsung kembali mundur seolah tak terjadi apa - apa.
"Hhhh... ini kan curang namanya! You stole a kiss from me."
(Kamu sudah mencuri ciuman dariku.)
"Sekarang posisi kita satu sama." Tristan mengedipkan sebelah matanya.
"Lagipula kamu sekarang adalah istriku, aku berhak melakukan apa pun dan kapan pun terhadapmu." lanjutnya lagi seolah tak peduli pada perasaan Crystal.
Hhhh... kalimat terakhir Tristan malah membuat Crystal salah tingkah, pikirannya travelling kemana - mana. Untunglah, sebelum Crystal sempat melanjutkan angan - angannya, Tristan sudah menarik Crystal masuk ke dalam cable car yang akan membawa mereka turun. Kemudian dia menyuruh Crystal untuk melihat pemandangan di sekeliling mereka.
Saat Cable car berjalan, dia bisa berputar 360° sehingga mereka bisa melihat pemandangan indah di sekitar Table Mountain itu. Pemandangan dari atas membuat kota ini seperti terpisah dengan kota lainnya dengan Table Mountain sebagai pembatasnya. Kota - kota nampak dari kejauhan dan Cape Town begitu cantik dengan lautnya yang luas.
Sayangnya, pemandangan indah itu hanya bisa dinikmati selama kurang lebih lima menit perjalanan saja.
"Kok cepet banget sih?" protes Crystal saat mereka sudah sampai di stasiun bawah. Padahal dia merasa belum puas menikmati pemandangan disana.
"Iya, kan cuma lima menit perjalanan."
"Gimana kalau kita kesini lagi nanti malam?"
Tristan menggelengkan kepala.
"It's dangerous. Lagipula cable car ini nggak beroperasi kalau cuaca berkabut, hujan dan malam hari. Dia nggak akan jalan kalau nggak ada cahaya." Tristan menjelaskan dengan sabar.
Crystal mengangguk - angguk, dan meraih tangan Tristan yang sudah terulur untuk membantunya turun dari cable car.
"Ehm... apa kita akan langsung kembali ke hotel?" tanya Crystal ketika Tristan menariknya mendekat dalam rangkulannya.
Pertanyaan itu sebenarnya tak ingin dilontarkannya. Namun seharian ini Tristan begitu romantis, hanya saja semua tak seperti yang dia bayangkan. Kenapa mereka hanya jalan - jalan bukan honeymoon seperti yang Karin bilang padanya?
Tristan menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Crystal.
"Kita tidak kembali ke resort, hari ini aku ingin mengajakmu jalan - jalan."
Oh... , Crystal menghembuskan napas.
"Kenapa?" tanya Tristan heran.
"Nothing." jawabnya canggung, malu dengan pikirannya sendiri yang kemana - mana.
"Apa ada yang kamu sembunyikan?" Tristan menyipitkan matanya, curiga dengan sikap Crystal.
"Hah? Nggak, aku nggak lagi mikir aneh - aneh kok." jawab Crystal gelagapan.
"Memang siapa yang ngomong kamu lagi mikir aneh - aneh?"
Woah! Bagaimana ini? Crystal mengutuk dirinya yang salah ngomong.
"Kita ke Cape of Good Hope. Setelah itu kita kembali ke resort dan melakukan apa pun yang ada di dalam pikiranmu."
WHAT!?
Mata Crystal terbelalak, mukanya merah padam. Rasanya seperti tertangkap basah sedang mencuri. Perasaannya campur aduk antara takut dan penasaran.
"I don't want to rush anything, sayang. I'm ready whenever you want me." kata Tristan sambil tersenyum penuh arti.
(Aku nggak mau terburu - buru.)
Bersambung ya....
Kita jalan - jalan ke Afrika dulu ya, Gaes. 😜