I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 79 -- Table Mountain



Jam empat pagi, Afrika Selatan, tepatnya di Cape Town.


"Mmmmm... "


Crystal masih memejamkan matanya dan hanya merubah posisi tidurnya, memunggungi Tristan. Tangan Tristan menepuk pelan bahu Crystal.


"Hey, four o'clock already. Kita harus berangkat sekarang kalau tak mau terlambat."


(Udah jam empat.)


"Aku masih ngantuuuuk!" keluh Crystal. Dia menggeliat, kali ini merubah posisi tidurnya menghadap Tristan tanpa membuka matanya.


Tristan menghembuskan napas, dia maklum kalau Crystal masih lelah dan ngantuk saat ini. Dari Indonesia ke Afrika Selatan, bisa dibilang perjalanan mereka itu dari benua ke benua dan setidaknya membutuhkan durasi perjalanan paling sedikit dua puluh dua jam. Dan konyolnya, begitu acara pernikahan selesai mereka langsung terbang menuju Africa untuk honeymoon, kemudian Tristan berjanji akan mengajak Crystal melihat sunset di table mountain.


"Katanya mau naik gunung? Bangun dong." Tristan berusaha membangunkan Crystal dengan menciumi pipinya. Wanita yang sudah menjadi istrinya itu malah masuk ke dalam pelukannya, mencari nyaman.


"Aku masih ngantuk, nanti saja." gumam Crystal, tanpa melepaskan pelukannya ke Tristan.


"Katamu ingin melihat sunrise, kalau kesiangan bisa lewat dong sunrise-nya. Iya kan?" Tristan mencoba membujuk wanita yang sudah menjadi istrinya itu sambil mengangkatnya dari tempat tidur.


"Tapi aku masih ngantuk, Kak Tristaaaaaan."


"Hadeh, kamu ini."


"Kenapa Kak Tristan tetep maksa aku bangun?" protes Crystal yang sudah diangkat di atas dua tangan Tristan menuju kamar mandi.


"Lah, kemarin ribut mau lihat sunrise. Kalau batal, nanti kamu juga yang kecewa kan?" Jawab Tristan sambil mendudukkan Crystal di kloset.


Kemudian dia ke wastafel dan mengambil sabun wajah dan washlap. Tristan mengusap wajah Crystal dengan air dan sabun wajah lalu membersihkannya dengan washlap. Berulang kali, dia melakukannya hingga wajah Crystal benar - benar bersih. Mau tak mau mata Crystal pun terbuka, dia memajukan bibirnya. Rasa ngantuknya hilang.


Tristan tersenyum. "Anything else to do?" tanyanya menawarkan bantuan.


(Ada yang lain?)


Crystal menggeleng.


"Ok. I leave you alone. You can pee or do something. Ingat cuma lima menit atau kita akan terlambat." Tristan meninggalkan Crystal sendiri untuk memberinya privacy.


(Aku tinggalin kamu dulu. Kamu bisa kencing atau melakukan sesuatu.)


Begitu Crystal selesai dengan urusannya, Tristan segera menyeret Crystal menuju sebuah mobil yang sudah menunggu di lobby.


"Please, be hurry!" Perintah Tristan tegas pada supir yang sudah disewanya untuk mengantar mereka selama berada di Afrika.


"All right, Sir."


BRUUUUMmmm...


"Uwoooow... kenapa ngebut banget?" pekik Crystal kaget. Pohon - pohon diluar jendela berkejaran begitu cepat hingga terlihat seperti bayangan - bayangan berkelebat.


"Kita nggak boleh ketinggalan sunrise, Sayang. Kamu nggak bakal nyesel." Tristan berbicara sambil mengecup tangan Crystal.


"Dih... bilang aja yang mau lihat sunrise itu Kak Tristan. Not me." kata Crystal sebal. Dia masih kesal karena tidurnya terganggu.


Tristan tertawa pelan. "You can sleep. Nanti aku bangunin kalau sudah sampai."


Tristan menarik Crystal ke dalam pelukannya. Mobil yang mereka pakai adalah mobil yang bagus sehingga tak terasa guncangannya, nyaman dan tidak mengganggu aktivitaa di dalam meski kecepatannya luar biasa.


Hhhh... mau bagaimana lagi, mau membantah pun percuma. Mereka sudah di dalam mobil dan menuju ke Table Mountain.


*


"Sayang, wake up. Kita sudah sampai." ucap Tristan pelan.


"Mmmm... "


Perlahan Crystal bangun karena mendapat kecupan di bibir dari suami tercintanya.


"Woaaah... kita harus berjalan sampai summit point?" tanya Crystal.


Tristan mengangguk. "Nggak susah kok. Let's go." Tristan mengulurkan tangannya. Mereka sudah menggunakan sepatu keds yang nyaman dan pakaian yang simple tapi hangat supaya tidak mengganggu aktivitas mereka.


Makin keatas udara semakin dingin, langkah kaki Crystal mulai melambat. Napasnya mulai tak beraturan. Tristan jadi iba melihatnya, tujuan sudah sisa kurang dari setengah perjalanan mereka.


"Capek?"


Crystal mengangguk..


Tristan membalikkan badan lalu berjongkok, dia menepuk punggungnya menyuruh wanita itu naik.


Ha? Ngapain?


"Cepat naik. Kalau terlalu banyak berhenti, sunrise-nya bisa terlewat." perintah Tristan.


"Kak Tristan mau menggendongku sampai atas?" tanya Crystal tak percaya.


"Crystalin!" ucap Tristan lembut tapi tegas, sorot matanya menunjukkan dia tak dibantah.


Crystal tahu kapan waktunya harus menurut dan melakukan perintah Tristan tanpa banyak bicara. Dan Tristan benar - benar menggendongnya.


"Kak Tristan, tapi aku berat." ucap Crystal kuatir.


"Hm."


"Hm."


"Turunin aja. Ya?"


"Hm."


"Aku jalan sendiri, okay?"


Silent, tak ada respons dan Crystal semakin tak tega.


"Gimana bisa Kak Tristan gendong aku sampai atas?"


"Hm."


"Kenapa jawabnya cuma ham hem sih?" tanya Crystal sewot.


"Keep silent or I will die."


(Diamlah atau aku akan mati.)


"Hah?"


"Don't talk. Aku harus simpan energy-ku." katanya sambil terus melangkah.


Ya ampun! Crystal tak tahu harus bagaimana. Di satu sisi dia lelah, tapi di sisi lain dia tak tega Tristan menggendongnya sampai atas. Minta diturunkan, Tristan terang - terangan menolak. Mau tetap di gendongan Tristan, Crystal merasakan tatapan pendaki lain yang memandang ke arah mereka.


Astaga! Crystal benar - benar malu tapi ada terselip rasa senang saat mendengar seseorang berkata kalau Tristan sangat romantis dan wanita itu iri padanya.


Punggung Tristan yang hangat membuat Crystal merasa nyaman di tengah dinginnya cuaca. Dan sekarang dia diam menikmati detak jantung suaminya yang berpacu cukup keras saat Crystal menempelkan kepalanya di punggung Tristan. Lama kelamaan dia merasa relax dan tak lagi berusaha berbicara pada Tristan setelah beberapa kali mengajaknya bicara tapi no respon.


"Sayang, kita sudah sampai."


Crystal tak merespons.


"Crystal.... "


Tristan kembali mengulang panggilannya dengan posisi mereka masih berdiri di summit point.


"Hm?"


"Kamu tidur?" tanya Tristan sambil sedikit menengok ke belakang.


Tristan tercengang, bagaimana bisa Crystal tertidur sementara dirinya susah payah menggendong.


"HOAH!"


Crystal buru - buru melorot. "Sorry." Wajahnya penuh penyesalan dan malu karena merasa tak tahu diri, enak - enak tidur di punggung Tristan.


Tristan terbahak. "Aku menyesal memberimu nama Crystalin, seharusnya namamu Sleeping Beauty." katanya sambil mengacak rambut Crystal dengan sayang.


"Tunggu disini."


Tristan menyuruh Crystal duduk di sebuah bangku dan berjalan menjauh, kemudian kembali lagi dengan membawa sandwich dan susu hangat.


"Silahkan, Mrs. Tristan." katanya sambil tetap berdiri.


"Kenapa nggak duduk?" tanya Crystal saat melihat Tristan masih berdiri di sebelah tempatnya duduk.


"Sebentar, aku nggak boleh duduk dengan posisi terlipat kaya gitu setelah berjalan jauh." jawab Tristan sambil tersenyum.


Hmmm... Crystal jadi semakin bersalah.


"Dari dulu aku selalu ngerepotin Kak Tristan." katanya sambil menunduk.


"It's okay." Tristan menggelengkan kepalanya, mendekat kepada Crystal. "Dari dulu, sekarang atau pun masa yang akan datang, kamu adalah tanggung jawabku."


Oh, hati Crystal terasa meleleh.


"Lagipula, kamu harus menyimpan energy-mu untuk tugas yang lebih penting nanti malam."


'What?'


Tristan mengulum senyum dan memandangnya penuh arti. Kemudian dengan santai dia duduk ditanah sambil meluruskan kakinya dan menyandarkan tubuhnya di kaki Crystal.


'OH MY GOD!'


Pipi Crystal merona merah, dia tak berani menoleh ke arah Tristan. Jantungnya berdegup seperti orang baru mendaki gunung.


Bersambung ya....


Saya sisipkan foto wedding Tristan dan Crystal di Bab 77 ya... Just check it out, Gaes. Thank you.


Note:


Table Mountain adalah gunung yang puncaknya datar seperti meja, merupakan salah satu obyek wisata unggulan di Cape Town, Afrika Selatan.