
Dari tadi Crystal hanya berguling-guling diatas tempat tidurnya, dia memikirkan kata-kata Tuan Harrison.
"Crystal!" Suara berat Tuan Harrison memecah sunyi.
HUA! Crystal hampir saja melonjak karena kaget, rasanya seperti mau mendengar vonis hukuman mati. Bagaimana ini? Kak Tristannya sedang keluar bersama Om Ben entah kemana dan sekarang dia terjebak di ruang keluarga bersama Papa angkatnya. Crystal menyesal sekali kenapa dari tadi malah bengong dan tidak langsung pergi saja dari ruangan ini saat Tristan menyuruhnya menemui Suster Anna.
"Ya, Papa?" Lirihnya.
Perlahan Crystal memutar tubuhnya, supaya tepat berhadapan dengan Tuan Harrison. Matanya takut-takut mendongak, menatap seraut wajah yang begitu mirip dengan Tristan. Usianya yang sudah melewati setengah abad tidak bisa menghilangkan sisa-sisa ketampanannya begitu saja.
"Dengarkan Papa." Tuan Harrison berhenti sejenak, suaranya melembut.
"Selama ini aku tidak pernah berperan sebagai Papa yang baik bagimu dan juga Tristan. Untuk kali ini saja, biarkan aku memikirkan dan memberikan yang terbaik untuk anak gadisku." Tuan Harrison berjalan mendekat ke arah Crystal.
Crystal tak tahu harus merespons apa, dia hanya bisa diam.
"Apa kamu mencintai kakakmu?" Tanya Tuan Harrison.
Crystal mengangguk pelan, dan Tuan Harrison juga ikut manggut-manggut. Entah apa yang dipikirkannya.
"Apa kamu tau kalau dia seorang Harrison?"
Lagi-lagi Crystal hanya mengangguk meski pikirannya mulai blank.
Mata Tuan Harrison menyipit, "Apa kamu mau terus bersama Tristan dengan segala resikonya?"
Crystal membelalakkan matanya. Gawat, dia tak tahu apa maksud pertanyaan ini. Crystal memberanikan diri menatap mata Tuan Harrison, mencoba memahami apa maksud semua perkataannya.
Tuan Harrison menepuk-nepuk bahu Crystal pelan. "Tak usah dijawab, renungkan baik-baik kata-kataku dan jawablah dalam hatimu sendiri. Kemudian beritahu aku keputusanmu."
"Apa kamu sanggup hidup dengan dipandang sebelah mata oleh semua orang? Dan itu akan berlangsung seumur hidup kalau kamu menikah dengan anakku!"
"Pernikahan bukan satu atau dua tahun. Apa semangatmu akan terus menyala ketika setiap kali orang menghinamu? Tidakkah lama kelamaan rasa percaya dirimu terkikis kalau terus menerus dibandingkan dengan kehebatan Tristan?"
"Pergilah. Ambil bea siswamu di London. Aku akan mengurus sisanya hingga kamu lulus. Pikirkanlah! Kalau sudah ada jawabannya, kamu bisa memberitahuku." Tuan Harrison menutup pembicaraan.
Pandangannya kini menerawang jauh, mengingat bagaimana pernikahannya bertahun-tahun. Ada saat dimana kita sudah tak sanggup untuk tetap tinggal didalamnya, tapi mau tak mau harus tetap bertahan demi sebuah komitment.
"Nona!" Tepukan di bahu membuatnya melonjak kaget.
Dia menoleh. Tampak Tristan sedang berdiri sambil cengengesan disamping tempat tidurnya.
"Haduh! Kirain siapa!" Crystal cemberut.
"Nona lagi mikirin apa? Kok dipanggil-panggil diam saja dari tadi?" Tanya Tristan sambil mencubit hidung Crystal.
"Nona... Nona.... " Crystal bergumam, bibirnya mencebik lucu.
"Ayo cerita!" Perintah Tristan, tangannya menarik Crystal supaya duduk.
"Ehm... Itu..." Crystal nampak gugup.
Tristan nampak menatap dan menunggu jawaban.
"Nggak, nggak ada apa-apa." Jawab Crystal akhirnya. Dia menarik bibirnya keatas, berusaha tersenyum untuk menutupi apa yang ada di dalam pikirannya dari tadi.
Tristan masih menatap Crystal beberapa saat, sebelum akhirnya duduk di samping Crystal.
"Kenapa Sayang? Apa ada hubungannya sama Papa?" Tristan kembali bertanya.
Spontan mata Crystal melebar. Dia menatap Tristan dengan pandangan penuh selidik. Bagaimana Tristan bisa menebak dengan benar?
"Kak Tristan kok tau?" Crystal balik bertanya.
Tristan mengulum senyum mendengar pertanyaan konyol yang keluar dari mulut Tristan. Gemas!
"Ya taulah. Apalagi yang bikin kamu cembetut kaya kentut begini?" Tristan menggoda Crystal.
Kalau sudah begini, biasanya Crystal pasti marah atau melotot. Tapi kali ini Crystal cuma manggut-manggut, bibirnya mengerucut.
Melihat Tristan menaikkan alisnya, buru-buru Crystal menggeleng. "Nggak sih. Nggak kok. Nggak ada apa-apa." Crystal meringis.
Percuma, Tristan tak percaya
"Nggak mau cerita?" Tanya Tristan.
"Hah? Cerita apa?" Crystal jadi gugup, dia membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Let's share your problem. Kita janji kalau bakal walk together kan? Kamu percaya aku kan?"
Crystal menggigit-gigit bibirnya, galau.
"Papa mau aku kuliah di luar negeri." Akhirnya Crystal berkata pelan, dia menundukkan kepalanya.
"I know." Kata Tristan dalam hati.
"Trus?"
Ha? Crystal menautkan kedua alisnya, dia tak suka melihat ekspresi Tristan yang nampak santai.
"Apa maksud Kak Tristan dengan bilang TRUS?"
"Papa suruh kamu buat sekolah di luar negeri, lalu apa masalahnya?" Tristan balik bertanya dengan wajah tanpa dosa.
Arrgggh! Wajah Tristan saat itu benar-benar menyulut emosi yang dari tadi dipendamnya. Sangat menyebalkan!
BUKK!! Sebuah bantal mendarat sempurna di wajah Tristan.
"Apa-apaan ini?" Tristan kaget dan tak sempat mengelak.
Crystal tak peduli.
BUKK!! Tanpa perasaan sekarang bantal itu kembali melayang, kali ini mendarat di punggung Tristan.
Posisinya Tristan duduk dan Crystal berdiri diatas tempat tidur sambil memegang bantal. Matanya melotot.
"Hey! Hey!" pekik Tristan.
Kedua tangannya terangkat, bersiap melindungi kepalanya yang akan menjadi sasaran berikutnya.
Ups! Tristan salah perkiraan.
BRUK! Tanpa aba-aba Crystal meloncat ke arah Tristan. Sekuat tenaga dia mendorong Tristan hingga jatuh tengkurap.
Berikutnya CEO muda dan tampan yang biasa dihormati ribuan karyawan Harrison group itu, menjadi samsak seorang gadis remaja. Dia telungkup diatas kasur dengan serangan bantal yang bertubi-tubi di atasnya.
"STOP! STOP!" Teriak Tristan mengangkat tangan.
Tristan kewalahan menghadapi Crystal yang sudah naik diatas punggungnya.
BUK!
"HADOOOH!" Pekik Tristan sekuat yang dia bisa.
Pekikan itu hanya sesaat, kemudian Tristan diam dan tak bergerak. Telungkup dengan posisi tangan terentang dan mata terpejam.
Crystal melongo. Ya ampun! Kenapa bisa begini? Lawannya berhenti melawan, terkapar tak berdaya di atas tempat tidur.
"Kak Tristan... " Crystal menepuk-nepuk pelan bahu Tristan.
Tak ada reaksi.
"Kak?" Suara Crystal berubah jadi cemas.
Crystal turun dari atas punggung Tristan. Perlahan berjalan mendekat, diintipnya wajah Tristan yang hanya nampak separo karena posisinya telungkup. Rasa bersalah mulai menyelusup, menyesal sudah memukuli Tristan.
"Kak Tristan... " Rengek Crystal sambil menggoncang-goncang bahu Tristan.
Tristan terus memejamkan matanya. Setengah mati menahan tawa, perutnya seperti digelitik saat mendengarkan nada suara Crystal yang mulai berubah-ubah karena cemas. Untung posisi telungkup ini menyelamatkannya.
"Kak... KAAAK Trist.... Kak TRISTAAAN!"
Suara Crystal tersendat dan mulai serak menahan tangis antara bingung dan juga tak percaya. Apakah mungkin ada orang bisa pingsan hanya karena dipukul bantal?
Tristan masih tetap di posisinya semula. Wajah Crystal mulai panik.
Satu menit...
Dua menit...
Lima menit...
Tak ada pergerakan.
"SUUUUUUUSSSSSS!!" Crystal berteriak, tangannya membentuk corong dan bersiap lari keluar kamar.
Nah ini! Bisanya cuma minta tolong ke Suster Anna.
Buru-buru Tristan bangun, menarik tangan Crystal dan mendekap mulutnya.
"Pssst... ada Papa sama Mama. Jangan teriak!"
"LHO!?!" Crystal menepis tangan Tristan dan menghentakkan kaki ke lantai.
"Hmmmpff... Bua hahaha.... "
Tawa Tristan membahana. Wajah Crystal merah padam, dia kesal sekesal-kesalnya.
Bersambung ya....