
"Only one word to answer?"
(Cuma satu kata jawaban?")
"Yeah. One single word." Kata Tristan lagi mengingatkan.
"By the way, simple-nya ini kaya permainan menemukan kotak harta karun kan? Kalau kita bisa jawab pertanyaan, kita bisa terus maju sampai dapat box-nya ya?" Tanya Crystal penasaran.
Matanya berbinar - binar, pikirannya sudah kembali ke film masa kecil dimana ada seorang gadis kecil menemukan sebuah kendi berisi harta karun dibawah air terjun.
Tristan geleng - geleng kepala melihat kelakuan Crystal. "Nggak gitu juga. Di hutan ini ditempel papan - papan pertanyaan gitu. Jadi jalannya jangan buru - buru. Aku cuma pengen denger apa jawaban kamu."
"Tapi jangan susah - susah nanyanya."
"Gampang kok. Kamu tinggal baca tulisan along the way to waterfall. Trus jawab. That's it."
Oke! Papan pertama, Tristan membacakan pertanyaan untuk Crystal.
"DESCRIBE YOUR FEELING!"
"LOVE." Kata Crystal sambil menjentikkan jarinya.
Let's go to the next board, then. Papan kedua bertuliskan. THE BEST PERSON IN LIFE.
CUP! Sebuah ciuman mendarat cepat di pipi Tristan. Lalu dia berteriak "TRISTAN!" sebagai jawaban untuk pertanyaan kedua. Kemudian langsung berlari menuju ke papan berikutnya.
Tanpa disadari, perlahan Tristan sudah meninggalkannya dan terus berjalan naik ke atas air terjun.
HOW? Tulisan di papan yang ketiga.
"THE MOST." Pekik Crystal kegirangan, sambil menggosokkan kedua telapak tangannya. Dia asyik sendiri bermain - main.
"Love. Tristan. The Most." Crystal terkikik sendiri saat merangkai kata - kata tersebut menjadi sebuah kalimat.
Lho? Kak Tristan? Crystal celingukan mencari - cari Tristan yang sudah menghilang.
"I'm here." Suara Tristan menggema. Ternyata yang dicarinya sudah ada diatas air terjun.
"Ngapain?" dengus Crystal kesal, merasa dikerjain. Tadi dibilang mau kasih surprise, sekarang malah ditinggal sendiri.
"Sini deh. Bagus banget kalau dari sini. Lewat situ." Kata Tristan, tangannya menunjuk pada tangga buatan dari batu - batuan.
"Licin nggak?" Tanya Crystal, tangannya membentuk corong. Padahal di hutan yang sepi begini, sudah pasti suaranya akan terdengar sampai keatas.
"Cuma lembab aja, aman kok."
Hanya membutuhkan lima menit, Crystal berhasil menyusul Tristan. Sekarang mereka ada dipuncak air terjun, melihat derasnya air turun dari atas.
Aliran air yang kencang membuat deru yang memekakkan telinga sekaligus menyenangkan dan adrenalin Crystal kian terpacu. "Aku mau ke sana." katanya sambil menunjuk ke bagian tengah air terjun.
Tanpa menunggu lagi, dilepasnya sepatu dan kakinya langsung melangkah masuk ke air. Cipratan - cipratan air mengenai wajahnya, tapi dia tak peduli. Dia terus berusaha menapaki bebatuan satu demi satu.
"Hey, hati - hati." Tristan segera menyusulnya karena kuatir.
Ups! Kaki Crystal yang tak memakai alas kaki sedikit tergelincir, Tristan berhasil menangkapnya. Namun Crystal melepaskan tangan Tristan dan berjalan semakin ke tengah.
Dia terus melangkah, tak mau tahu seberapa tinggi air terjun ini. Tak peduli bagaimana deras alirannya. Pokoknya dia senang, happy, EXCITED!
Ditariknya Tristan semakin ketengah. Peringatan Tristan seakan menguap bersama kebahagiaannya. Didorongnya Tristan ke tengah - tengah aliran sungai.
"Let me take your picture." katanya sambil berbalik hendak mengambil ponselnya yang tadi diletakkan didekat semak - semak.
"Haduuh... licin banget!" kata Tristan, jalannya terpeleset - peleset.
"WOW! WOW!
"KYAAAA... "
BYUUURRR!!
Permukaan danau mendadak buyar dan riuh dengan jatuhnya sesosok manusia yang terjun dari ketinggian.
"KAK TRISTAAAN!!"
Tak ada sahutan dan Tristan tak juga muncul dari air. Sunyi. Deru air terjun terdengar semakin jelas. Crystal mulai panik dan berlari kembali ke tepian sambil memanggil - manggil nama Tristan.
"KAK TRISTAN!"
Crystal terus berlari menuruni anak tangga. Jantungnya berdegup kencang, memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Jatuh dari ketinggian entah berapa meter.
Cedera?
Tenggelam?
Patah tulang? Lagi?!?
"KAK TRISTAN! KAAAAK!" teriak Crystal frustasi. Suaranya bergetar, hampir menangis. Matanya liar mencari - cari sosok Tristan di danau dan sekitarnya. Tak ada siapa pun.
BYUUR!!!
Crystal nekat berenang, dia berusaha terus mengambang supaya bisa mencari keberadaan Tristan. Air mata mulai meleleh, perasaan takut kehilangan semakin menyergapnya.
OUCH!
Sesuatu melilit pergelangan kakinya. Refleks Crystal menarik kakinya kaget dan berusaha keras untuk bergerak ke tepian. Tapi, tak bisa. Ada sesuatu yang menahan tubuhnya untuk bergerak. Haduh!
"TOLOOOOONG!" Crystal berteriak panik. Bersamaan dengan kepala Tristan menyembul keluar. "HUAAAAH!"
Laki - laki itu menarik napas dan tersenyum jahil. "Kamu mencariku?"
Crystal membelalak. "GOSH! You're crazy." maki Crystal kesal luar biasa.
Tawa Tristan membahana, ditariknya Crystal ke dalam pelukannya. Dan membimbingnya ke pinggir dan menyuruhnya duduk diatas sebuah batu besar. Tristan bisa merasakan gadis itu gemetar karena ketakutan.
Tristan melepaskan rangkulannya. "I'm okay. Aku cuma latihan pernapasan." katanya sambil mengulum senyum.
BUGH!
HADOH!
Crystal memukul bahu Tristan sekuat yang dia bisa. "Hhhh... aku tadi beneran ketakutan. Aku pikir Kak Tristan hilang, tenggelam atau... atau.... " Ya ampun, menyebutnya saja Crystal tak sanggup. Crystal menunduk, air mata meleleh, raut wajahnya begitu sedih.
Oh, Tristan jadi semakin merasa bersalah. Dielusnya pipi Crystal lembut. "Maaf." jawabnya juga sambil berbisik. Dia tak bermaksud membuat perempuan ini sedih.
"I love you, Kak." bisik Crystal. Kedua tangannya membelai wajah Tristan lembut seolah takut menghancurkan sesuatu yang rapuh dan mudah pecah. Sentuhan penuh cinta.
"Living life without you is more than I can bear." lirih Crystal.
(Aku nggak bisa hidup tanpa kamu.)
"Are you sure?" (Yakin?)
"Of course, I am." (Tentu saja.)
"Forever with me?" (Selamanya bersamaku?)
"All that I want." (Yang aku inginkan.)
"Will you?"
"I will."
"Marry Me?"
"Yes!"
Ha?
Crystal menelan ludahnya, matanya terbelalak. Dia terkejut sendiri untuk dua alasan, yaitu apa yang didengarnya dan jawaban yang keluar dari mulutnya.
"Pardon me?" gumamnya seakan shock.
Tristan tersenyum, berjalan sedikit ke samping batu besar yang di duduki oleh Crystal. Dia mengambil sebuah kotak kecil terbuat dari kaca dari atas batu. Crystal berulang kali menoleh ke Tristan dan kotak kaca tadi. Sejak kapan benda itu ada di belakangnya?
A ring? Crystal menutup mulutnya, tak percaya akan apa yang dilihatnya. Mungkinkah? Tidak! Tidak! Dia tak berani memikirkan apa pun saat ini.
"Crystal? Crystalin?" panggil Tristan saat menyadari kalau Crystal hanya terbengong - bengong.
"Ehm... ya?"
"Your hand, please."
Crystal menyodorkan tangannya, Tristan memasang cincin tunangan itu di jari Crystal.
"My fiancee." bisik Tristan sambil mengecup tangan Crystal lembut.
'Fiancee'
Rasanya suara air terjun pun tak dapat mengalahkan gemuruh perasaan bahagia di hati Crystal yang begitu meletup - letup. Dadanya serasa ingin meledak tapi dia hanya bisa memandang Tristan dengan mata berkaca - kaca.
Tristan mengusap lembut rambut Crystal, "Kenapa?"
"Is it real?"
"Yes." Tristan mengangguk mantap. "I love you as a lover, a man to a woman, no more sister. I want you to be my wife. Will you marry me?"
Setetes air mata mengalir saat Crystal mengangguk. "Yes, I will."
Bersambung ya...