
"Yeah, aku sudah resign."
"APAAAAAA?" Pekik Crystal terkejut. "RESIGN?"
"Yup!" Tristan mengangguk dengan wajah tersenyum lebar. "Hidup itu mengenai keputusan. Let's grab our dream."
"Tapi gimana dengan Harrison group?" Crystal tahu kalau Tristan adalah ujung tombak Harrison.
"Everything's gonna be okay. Mereka nggak bakal ambruk meski aku nggak ada."
"Hah? Trus gimana Papa?"
"Dia menerima keputusanku." jawab Tristan kalem.
"Mama?"
"Biarkan dia bahagia dengan kehidupannya seperti biasa." Tristan tersenyum getir.
Crystal termangu.
"Hey, sayang. Kamu inget nggak dulu pernah nonton film Winnie The Pooh sama aku?" Tanya Tristan.
Ha? Random banget sih. Mau ngomong apa lagi Kak Tristannya ini.
Crystal mengerutkan alisnya, "Yang mana?" Ada banyak film yang ditontonnya bersama Tristan selama ini.
"Waktu itu Pooh ngomong gini ke Piglet --"
"Ngomong apa?"
"Because love is a verb, Piglet." Tristan menirukan suara tokoh kartun berkarakter beruang madu.
(Karena cinta adalah sebuah kata kerja, Piglet.)
"Jadi?"
"Karena cinta itu sebuah kata kerja. Yeah, lakukan sesuatu untuk cinta itu. Jangan omong doang." Tristan tertawa pelan. "And, that's what I'm doing now."
"Kak Tristan... Aku bener-bener nggak ngerti." rengek Crystal. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan ingin melemparkan semua isi kepalanya keluar.
Tristan memegang kepala Crystal supaya tidak terus bergoyang-goyang. "Pertama tetapkan tujuan kita, and then focus on it. Kamu sekolah aja yang bener, belajar yang rajin dan cepet lulus. Dan aku? Aku juga harus menata kembali karirku. We'll meet again in the end of the maze."
(Kita akan bertemu lagi di ujung labirin.)
"Trus memangnya Kak Tristan mau kerja apa kalau nggak di Harrison?"
TUK!
Tristan kembali menyentil pelan jidat Crystal karena gemas. Menghina sekali dia, seolah-olah dia tak akan bisa survive tanpa Harrison. Sungguh terlalu!
"Hey, I'm smarter than you think." Kata Tristan tak terima.
"Iiish... " Crystal mencebik.
"Hm-hm." Tristan mengangguk. "Aku sudah membuat a very big plan. Sebenarnya sudah berjalan beberapa waktu, tapi aku butuh waktu lagi untuk go to the top. Itu sebabnya aku nggak janji bakal visit kamu. Aku harus fokus dulu."
Tristan sekali lagi membuka tabletnya, dan menunjukkan mega proyek rancangannya.
"We're in a modern world. Aku nggak perlu kantor tetap, dan bisa pakai sekretaris virtual sekarang. Yang aku butuhkan hanyalah investor-investor besar." Tristan menjelaskan.
Crystal menatap takjub setiap detail tulisan yang ada di ponsel Tristan. Meski baru lulus SMA, dia sudah paham apa yang tertulis didalam sana. Tristan sering menunjukkan pekerjaannya pada Crystal dan tak pernah bosan menjelaskan setiap kali Crystal bertanya. Salah satu keuntungannya punya Kakak yang pintar dan sabar.
Tristan selalu memfasilitasi rasa ingin tahu Crystal. Bahkan tak tanggung-tanggung, pernah suatu kali Tristan memanggil private teacher untuk Crystal supaya bisa mendalami design tata ruang dan letak. Hanya karena Crystal ingin membuat design kamar tidurnya sendiri. And, she did it.
"So? Are you ready, Sayang?" Tanya Tristan lembut.
"For what?"
"Kita berpisah dulu disini. Mundur satu langkah, untuk meloncat lebih jauh. How?"
"Yeah... I got the point." Crystal mengangguk pelan. Ada sedih menelusup di hati, tapi dia mengerti Tristan sedang mengusahakan yang terbaik untuk mereka.
"Come to me, Sayang... " Tangan Tristan terentang, bersiap menyambut Crystal, love in his life.
Crystal mendekat dan langsung mengalungkan kedua lengannya ke pinggang Tristan, memeluknya erat.
Tristan menghembuskan napas, kedua lengannya balas memeluk erat-erat. Kepala gadis itu menyelusup di dadanya. Biarkan waktu berhenti sesaat sebelum berlari kencang menuju masa depan.
"I'll always love you. Always will." Bisik Tristan.
***
Crystal tidak merespons hanya memandangi kartu-kartu ditangannya dengan penuh tanya.
"Kamu bisa pakai kartu-kartu ini untuk bayar kebutuhan kuliah, biaya hidup sehari-hari dan juga bayar gaji Suster Anna." Kata Tristan sebelum Crystal masuk ke dalam pesawat pribadi yang sudah disiapkan olehnya.
Crystal menarik napasnya, dia tahu ada kerja keras Tristan di dalam kartu itu. Ada rasa tak tega setiap kali mengingat Tristan sudah tak lagi di Harrison. Dia tak pernah tahu kesulitan apa yang akan di hadapi Tristan kelak. Bisa saja Tristan juga membutuhkan kartu-kartu itu.
"Tabunganku yang dari Kak Tristan masih cukup untuk satu tahun ke depan. Aku juga bisa kerja part time disana, Kak." Tolak Crystal.
Tristan mengacak rambut Crystal, terharu. Crystal yang biasanya suka minta duit dan doyan belanja, mendadak pengertian.
"Nggak usah mikirin aku, uang itu sudah aku persiapkan sejak kamu SMP. Pakai aja, oke?"
Hhhh... Kalau sudah begini, Crystal tak bisa lagi menolak.
"Baiklah. Terima kasih, Kak. I owe you."
(Aku berhutang padamu.)
Tristan mengangguk, matanya sendu. Crystal mendekat, lalu dia berjinjit. Tristan sedikit menunduk dan membiarkan Crystal mencium pipi kiri dan kanannya. "Aku pergi, Kak." Katanya berpura-pura tegar.
Takut air matanya tumpah, Crystal buru-buru membalikkan badan dan berjalan menuju ke pesawat.
Hey, apa ini?
Dua buah lengan merangkul bahunya, menariknya mendekat dan menutup jarak diantara mereka.
"A minute, please. I need a last hug before good bye." Suara Tristan seperti memohon.
(Aku butuh pelukan terakhir sebelum berpisah.)
Crystal mengerjap berulang kali, menahan air matanya supaya tak tumpah. Tangannya memegang lengan Tristan yang melingkar di bahu dan lehernya. Dia tak mau menambah beban pikiran Tristan dengan terlihat menangis.
Tristan menyurukkan kepalanya di lekukan bahu Crystal, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Crystal dan menyimpannya baik-baik di dalam hati dan ingatannya. Setetes air mata mengalir dan dia membiarkannya saja. Tak perlu lagi berpura-pura baik-baik saja, biarkan sekali saja orang tahu apa yang dirasakannya hari ini.
Bibir Crystal bergetar, matanya kembali memanas, dia menahan kesedihan yang menggelegak di dalam dada.
"Nona, silahkan masuk ke pesawat." Sapa seorang petugas bandara.
Crystal hanya sanggup mengangguk, dia merasakan getaran dari tubuh yang ada dibelakangnya. Kak Tristan menangis.
"I love you, Kak Tristanku." Ucap Crystal tanpa berani menoleh. Suaranya serak menahan tangis.
Crystal mulai melangkah pelan, kian lama langkahnya kian cepat. Dia tak mau menoleh lagi. Sekali saja menoleh, maka dia tak akan sanggup pergi.
Tristan terpaku di tempatnya memandang sinar matahari keemasan jatuh menimpa punggung Crystal yang berjalan menjauh menuju pesawat yang akan dinaikinya. Membuat Tristan merasa sendu, entah kapan lagi dia akan berjumpa dengan gadis badung dan ceria yang selalu mengisi hari-harinya.
"Masa kecil dan masa remajaku tak akan pernah kembali. Tapi hari-hari yang kita lalui bersama akan tetap bersinar di hati. Aku percaya, kenangan itu pula yang akan membawamu terus kembali padaku. Ayahku, Kakakku, kekasihku, temanku dan belahan jiwaku. See you again."
Bersambung ya....
Ya ampun, please deh! Jadi ikut nangis kan...
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜