I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 53 -- Important People In My Life



"You have my words. My heart. My Life. And, then my future."


"It scared me. BUT I HAVE TO."


"The first I want to see when I go out from this maze is .... YOU"


Otak Tristan sekali lagi memutar ulang kalimat-kalimat Crystal.


Tristan meremas surat itu. Dia memejamkan mata


"This is the answer." tanpa sadar Tristan menggertakkan giginya. " .... and also the clues."


"Tuan... " Suara pelan Suster Anna mengagetkan Tristan. Dia mendongak.


Ada satu tetes air mata lolos dari matanya tanpa bisa dicegah. Benar-benar memalukan! Buru-buru Tristan mengerjapkan matanya. No! A man doesn't cry.


"Sus."


Sial! Lidah dan tenggorokannya pun tak bisa bekerja sama dengan baik. Tenggorokannya tercekat, suaranya serak.


Suster Anna terlihat kuatir. Dia turun dari kursinya dan melangkah mendekat.


"Tuan Tristan nggak apa-apa?"


Tristan tertunduk. Dia menutup wajahnya, sikunya bertumpu pada counter dapur.


"Crystal beneran pergi, Sus." lirih Tristan.


"Maksudnya Tuan?"


"Sus... "


Dalam sekali langkah, Tristan sudah menghampiri Suster Anna dan memeluknya erat.


Suster Anna tahu ada sesak di dada Tristan. Terasa dari cara Tristan yang berkali-kali menghela napas sambil memeluknya.


Batin Suster Anna makin nelangsa. Perpisahan itu hal yang biasa, tapi yang menyesakkan adalah perpisahan tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.


Akhirnya, Suster Anna hanya bisa menepuk-nepuk bahu Tristan. Berharap bisa menanggung kesusahan Tuan Mudanya meski hanya setengahnya.


"TRISTAN!"


Nyonya Harrison, matanya menatap tajam pada Tristan dan Suster Anna dengan pandangan jijik, seolah-olah melihat pasangan yang tengah berselingkuh.


"Mama baru pulang?" Tanya Tristan. Matanya melirik arloji di tangannya, sudah lewat tengah malam.


Wanita, yang disebut Mama olehnya, sedang menunjukkan rasa tak sukanya. Berdiri anggun dengan dress cantik melekat di tubuhnya yang masih proporsional meski usianya sudah lima puluh tahun. Tangannya bersedekap di depan dada dengan dagu sedikit terangkat.


"Ngapain malam-malam pelukan sama pembantu?"


Tristan melepaskan pelukannya dan melayangkan pandangan kepada Suster Anna untuk meminta maaf atas perlakuan Mamanya yang tak sopan. Kadang manusia hanya melihat kulit luar, tak melihat apa yang ada di hati.


Suster Anna menepuk-nepuk lengan Tristan, memberi kode kalau dia mengerti dan maklum. "Sus pamit saja ya, Tuan. Sus mau tidur dulu."


Kemudian Suster Anna merendahkan suaranya, supaya hanya Tristan yang mendengar. "Tolong kasih tau Sus, kalau ada kabar soal Nona."


"Permisi, Nyonya." Pamitnya sebelum meninggalkan dapur.


Tristan mengangguk samar. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.


"Dia itu Suster Anna. Bukan pembantu, Ma." kata Tristan dengan suara rendah.


"Sama saja! Suster itu ya pembantu! Bedanya dia pakai seragam!" ketus Nyonya Harrison.


Ini yang Tristan paling tidak disukai Tristan dari Mamanya, suka merendahkan orang lain. Apa dia lupa kalau anak kandungnya sudah dirawat dengan sangat baik oleh 'seorang pembantu'?


Tristan memandang tajam Mamanya, menahan diri untuk tidak berkata kasar.


Melihat sorot mata Tristan, harga diri Nyonya Harrison tersakiti. "Kamu itu selalu membela orang-orang yang nggak jelas dari pada membela orang tuamu sendiri."


"Orang-orang yang Mama sebut nggak jelas itu, mereka yang selalu ada di masa-masa sulitku, Mama. Suster Anna dan juga Crystal adalah orang-orang penting dalam hidupku." Tristan berkata pelan, dia mencoba untuk tidak bertengkar dengan Mamanya.


Nyonya Harrison mendengus begitu mendengar nama Crystal disebut dengan penuh perasaan oleh Tristan.


"Kamu itu masih saja belain anak yatim piatu itu."


Alis Tristan terangkat mendengar kalimat Mamanya. It's so rude!


"Jadi begitu pikiran Mama selama ini?"


Nyonya Harrison gugup, dia kelepasan omong. Sayangnya gengsi yang setinggi langit, membuatnya semakin defensive.


"Yah, sebenarnya dari awal aku nggak mau anak itu masuk ke dalam keluarga kita. Gara-gara kamu terus mendesak, dan Papamu menyetujuinya. Aku bisa apa? Lebih baik aku menganggapnya tak ada!"


"Apa Mama tau kenapa aku minta adik waktu itu?"


Tristan berhenti sejenak, matanya menatap lekat kepada wanita yang sudah melahirkannya.


"Because I felt so lonely. There's no one walked beside me!" Tristan menjawab sendiri pertanyaannya.


(Karena aku merasa kesepian. Tak ada seorang pun yang berjalan di sampingku.)


"Dimana Mama? Dimana Papa? Alasan kalian sungguh mulia yaitu memberikan segala yang terbaik untuk anak." Tristan tertawa getir.


"Mencari nafkah! Itulah yang kalian jadikan pembenaran untuk tidak memberiku kasih sayang."


"Lho kok malah ngomongnya kearah situ? It's out of context, Tristan." Mamanya mulai melotot, semua pernyataan Tristan menohoknya tepat di ulu hati.


"Ada hubungannya, Ma. Kalau dulu Mama dan Papa ada untukku, aku nggak bakal minta adik. Dan aku nggak bakal sedekat ini sama Suster Anna. Both of you did a bad parenting!"


(Kalian berdua menerapkan pola asuh yang buruk.)


Tristan menembak Nyonya Harrison bertubi-tubi, mengeluarkan semua unek-unek yang disimpannya selama ini. Perasaan yang tidak pernah dia utarakan pada siapa pun, tersembunyi di balik topeng CEO hebat dan dingin.


Nyonya Harrison tersinggung, dia tak pernah dikonfrontasi terang-terangan selama ini. Selama ini posisinya superior. Begitu tinggi dan tak tergoyahkan. Dan kini anak, yang selama ini patuh dan diam saja, memaksanya keluar dari posisi nyamannya.


Tristan sendiri sudah tak peduli apakah Mamanya akan memahami maksudnya atau tidak. Toh selama ini, beliau juga tak pernah mengerti anaknya sendiri.


Beruntung dia masih mempunyai Suster Anna yang menyayanginya seperti anak sendiri. Dan dengan adanya Crystal, dia merasa mempunyai sebuah tanggung jawab. Dia terus berusaha membentuk karakter dirinya menjadi seperti saat ini.


Kalau boleh sombong, Tristan akan berkata kalau karakter dan attitude-nya sama sekali bukan berasal dari kedua orang tuanya. Baginya, mereka tidak berperan apa pun selain materi.


They only gave him a name with many burden and pressure.


(Mereka hanya memberinya nama dengan banyak beban dan tekanan.)


Nyonya Harrison menghembuskan napas, dia terpojok. Semua yang dikatakan Tristan benar.


"Sudahlah, jangan mengungkit-ungkit masa lalu. Yang penting bagaimana kehidupanmu setelah ini. Kamu bisa lebih fokus pada masa depan dan pernikahanmu." Nyonya Harrison menurunkan nada suaranya.


"Maafkan aku, Mama." kata Tristan, sorot matanya dingin. "Aku benar-benar berharap kalau Mama tidak ada hubungannya dengan kepergian Crystal." Tristan menarik napas. "Begitu Crystal lulus kuliah, siapa pun nggak ada yang bisa menghalangi kami, termasuk Mama.


"TRISTAN!"


"Thanks for the time. Thanks for listening, Mama." Tristan sedikit membungkukkan badan dan beranjak pergi.


Cukup sudah hari ini! Setidaknya Mamanya tahu apa yang ada dipikirannya selama ini mengenai peran mereka sebagai orang tua.


Bersambung ya...


Curhat Author


Just feel free kalau mau koreksi ya. Mungkin aja Authornya lagi mabuk kepayang sama Tristan sampai apa yang di otak beda sama yang di tulis. 🤭🤭


Thanks before buat koreksinya. 😊😘